
"ARGGGHHHHHHH...."
Kembali terdengar beberapa suara cambukan yang sangat keras, yang selalu diikuti teriakan seseorang.
Terikat 6 orang dengan baju yang sudah sobek dimana-mana, dengan bercampur darah yang masih segar. Wajah mereka ber 6 pun sangat memprihatinkan, dengan banyak memar dimana-mana.
Puluhan orang menonton mereka. Dan 3 algojo dengan tubuh yang besar sedang menggenggam cambuk dimasing-masing tangan mereka.
"CEPAT KATAKAN! APA RENCANA DARI KALIAN UNTUK MELAWAN KAMI!" teriak seseorang dengan hanfunya yang berwarna emas, dengan aksen berlian ditepi lehernya, juga sebuah mahkota yang penuh dengan kerlap-kerlip berlian yang menggoda, berada diatas kepalanya.
Ia beberapa kali mondar-mandir, berjalan ke kanan ke kiri menunggu jawaban dari ke 6 orang yang merupakan para pengintai Kerajaan Saharan yang telah tertangkap.
"Kami lebih baik mati dari pada harus mengatakan semuanya" seru salah satu pengintai Kerajaan Saharan.
Pria dengan hanfunya yang berwarna emas yang merupakan Wu Zheng menggeram kesal. "Potong tubuh mereka menjadi beberapa potongan, lalu berikan potongan tubuh mereka pada siluman-siluman peliharaanku!", tutur Wu Zheng sebelum ia memutuskan untuk pergi ruangan yang menjadi tempat penyiksaan bagi para pengkhianat.
Ia kembali keruangannya yang diikuti 9 kasim lainnya. Dengan amarah yang masih memuncak ia menduduki takhtanya. Tidak ada kasim yang berani berbicara sepatah katapun. Karena kaisar mereka sedang termakan emosi, dan jika mereka berkata salah dihadapan Wu Zheng mereka semua akan kehilangan nyawa mereka.
"Jangan biarkan kejadian ini terulang kembali. Aku tidak ingin ada pengkhianat di Kerajaanku lagi!" seru Wu Zheng.
"Baik Yang Mulia!" ucap para kasim secara bersamaan.
"Aku ingin semua pasukan yang kuminta selesai lebih cepat. Aku tidak akan membiarkan Kerajaan Wei tenang lebih lama lagi!", tiba-tiba Wu Zheng tersenyum dan tertawa lantang membayangkan jika Pedang Goujian dan Naga milik Xu Lian, berada ditangannya.
"Aku akan menjadi penguasa dunia!".
-
-
-
Tubuh Zhang Xiuhuan makin kehari lebih membaik. Bahkan lukanya yang terbuka akibat tusukan pedang, kini telah tertutup kembali. Dengan ketekunan Alkemis Kerajaan Wei yang selalu mengontrol keadaannya.
Xu Lian terduduk ditempatnya seraya meremas-remas kedua tangannya. Dihadapannya terbaring Zhang Xiuhuan yang kini tengah diobati oleh Alkemis yang biasa mengobatinya. Ia sungguh khawatir jika Zhang Xiuhuan tidak akan lagi membuka matanya.
"Luka jaitannya sudah mengering, ia akan segera pulih dalam beberapa hari kedepan" seru Alkemis tersebut, seraya ia kembali meletak-letakkan botol ramuan yang telah ia gunakan kedalam sebuah box kayu.
"Kapan ia akan siuman?" tanya Xu Lian.
"Jika pengaruh obatku tidak terlalu kuat ia akan pulih esok atau lusa", Alkemis tersebut bangkit dari duduknya dengan membawa box kayu yang kini ia genggam dikedua tangannya. Ia menghela nafas berat, pekerjaannya akhir-akhir ini sangat berat. Apalagi bukan hanya mengobati Zhang Xiuhuan, ia juga harus turun tangan untuk mengobati para prajurit yang terluka akibat perang yang terjadi kemarin. Alkemis menggerutu kesal dalam hatinya, tatkala Xu Lian menghalangi langkahnya.
"Bagaimana jika ia tidak siuman dalam beberapa hari kedepan?" seru Xu Lian.
"Baiklah", Xu Lian menyingkirkan tubuhnya kesamping untuk memberi jalan bagi Alkemis tersebut untuk keluar.
Sebelum Xu Lian duduk kembali ditempatnya semula. Ia mendengar suara bising dari luar kamarnya. Ia segara berjalan kearah luar untuk melihat siapa yang menjadi suara keributan tersebut.
"Bisakah kalian tidak latihan didepan kamarku!" seru Xu Lian. Ia menatap dengan kesal Xu Li yang kini tengah berlatih dengan Zhang Bing. Mereka berdua hanya menyengir kuda melihat Xu Lian menegurnya.
"Kau ini kami hanya sedang berlatih. Ayo ikutlah berlatih dengan kami, lagi pula sejak pagi kau didalam kamar terus" ucap Xu Li dengan nada menyindir.
"Karena aku sudah menikah, tidak seperti kau!" Xu Lian tak kalah ingin menyindir kakak keduanya itu.
"Haiya, haiya, wanita memang menyebalkan seperti ini. Untunglah aku belum memiliki pasangan hahah!", Xu Li tertawa dengan lantang. Tetapi tawanya terhenti tatkala sebuah ranting pohon yang telah dialiri tenaga dalam bergerak cepat kearah Xu Li. Sebelum ranting pohon itu menembus pada tubuh, Xu Li sudah lebih dulu melompat keudara dengan cara memutar tubuhnya, lalu ia segera menangkap ranting yang tadi bergerak menyerang kearahnya.
Ia menatap kearah Xu Lian yang rupanya dalang dari penyerangan tersebut.
"Kau ingin menantangku?" tanya Xu Li.
"Boleh juga. Lagi pula aku ingin mengasah kemampuanku lagi!", Xu Lian segera berjalan ke halaman dekat dengan kamarnya. Ia melirik kearah Zhang Bing untuk meminta, Zhang Bing lebih menjauh. Zhang Bing hanya menggerutu kesal, ia berjalan kearah gazebo dipinggir kamar ibunya dengan menghentak-hentakkan kakinya ketanah.
"Bing kecil, kita akan melanjutkan latihan kita nanti oke!" ucap Xu Li untukmenghibur Zhang Bing. Anak itu memang penggila latihan, pikirnya.
Zhang Bing tersenyum mendengar ucapan Xu Li. Ia dengan semangat berlari kearah gazebo dan duduk disebuah kursi kayu. Ia dengan tenang menonton pertarungan ibunya dan pamannya yang akan berlangsung.
"Gunakan semua kekuatan yang kau miliki!" Xu Lian mengambil salah satu pedang yang berjejer rapih disamping Xu Li. Ia memilih pedang dengan pegangan yang berwarna merah.
"Kau meremehkanku?"
"Kau bisa menyebutnya seperti itu" Xu Lian memain-mainkan pedangnya. Ini pertama kalinya ia menggunakan pedang asli selain Pedang Goujian. Biasanya ia menggunakan pedang dari tenaga dalamnya.
Xu Lian bergerak terlebih dahulu menyerang Xu Li. Ia mengarahkan pedanganya kearah Xu Li, namun berhasil ditangkis oleh kakaknya tersebut. Mereka kembali bergerak saling menyerang satu sama lain.
Xu Li memutar tubuhnya kesamping kanan tatkala pedang Xu Lian hampir mengenainya. Kini gilirannya untuk menyerang. Xu Li memutar-mutar pedangnya dengan cepat. Sedang Xu Lian menggerutu kesal karena ia tidak bisa menangkap permainan pedang Xu Li.
Xu Lian beberapa kali termundur kebelakang, seraya ia menangkis semua serangan Xu Li yang cukup rumit. Kini Xu Lian hanya bisa dalam posisi bertahan tanpa bisa menyerang. Serangan Xu Li selalu memaksa Xu Lian terdorong kebelakang.
Disisi lain, Zhang Bing terkagum-kagum dengan jurus pamannya. Ia sangat menyukai ilmu pedang dan sering berlatih dengan ayahnya. Dan kini ia melihat ilmu pedang yang sangat unik dari pamannya itu.
TRENGG!!!...
Xu Lian maupun Xu Li menghentikan pertarungan mereka, tatkala pendengaran mereka menangkap sebuah benda terjatuh dari arah kamar Xu Lian. Tanpa banyak bicara Xu Lian segera melemparkan pedang yang ia genggam ke sembarang arah. Ia segera berjalan cepat kearah kamarnya dengan tergesa-gesa.
***