
"Cepat kita harus menemukan dimana sekiranya pedang 'itu' akan muncul, kalau tidak Tuan Muda akan menghabisi kita!" teriak salah seorang yang berjalan dibarisan paling depan. Mereka semua terus menelusuri hutan yang ada di Daratan Timur, hingga kepulan asap yang cukup tebal menarik perhatian mereka. "Sepertinya ada orang lain disekitar sini, sebaiknya kita habisi mereka sebelum mereka mendapatkan pedang yang dicari oleh Tuan Muda" serunya kembali.
Mereka semua memilih untuk pergi menghampiri asal muasal kepulan asap yang menarik perhatian mereka. Sampai ketika mereka melihat kehadiran seorang wanita dengan seorang kakek-kakek yang sedang menggendong seorang anak ditepi pantai.
"Kru pemanah, siapkan serangan kalian!" perintah seseorang yang tadi berjalan dibarisan paling depan.
Kru pemanah menempatkan posisi mereka dibalik pepohonan untuk melepaskan serangan. "Pada hitungan ketiga lepas anak panah kalian! satu___dua____tiga!"
*Woshhh....
Woshhh*....
Puluhan panah melesat dengan cepat menyerang kearah orang-orang yang kini berada ditepi pantai.
Tanpa diduga, salju disekitarnya tiba-tiba membentuk sebuah tameng persegi yang cukup besar, sehingga orang-orang yang ada dibalik tameng es tersebut tidak mendapat serangan anak panah.
"Sial, salah satu dari mereka rupanya berelemen es!" gerutu salah satu kru pemanah.
"KALIAN SEMUA CEPAT KELUAR! SEBELUM AKU AKAN MENGHABISI KALIAN SEMUA DENGAN CARAKU!!!" teriak Xu Lian. Ia sedikit lega karena ia berada ditempat yang dipenuhi es, jadi ia lebih leluasa untuk menggunakan kekuatan elemennya.
Semua orang yang semulanya bersembunyi dibalik pepohonan, kini mulai saling menampakan diri mereka masing-masing. Xu Lian menggertakkan giginya melihat segerombolan orang yang memakai seragam yang sama, yang Xu Lian thu pasti mereka bukan hanya ada disini saja tetapi sudah menyebar di daerah Daratan Timur. Apalagi Xu Lian tidak bisa meminta bantuan Nang'er untuk melawan mereka, karena Xu Lian tidak ingin membuat keributan yang besar sehingga mengundang kelompok lain untuk datang.
"Biar aku yang menghadapi mereka!" Tetua Gu meletakkan tubuh Zhang Bing ditanah yang dilapisi es. Sudah puluhan tahun lamanya ia tidak keluar dari persembunyiannya, apalagi ia jarang sekali mengolah kekuatan kultivasinya. Xu Lian menatap kearah Tetua Gu untuk membenarkan ucapannya, ia kurang yakin karena sekelompok pendekar itu bukan hanya berjumlah banyak tetapi beberapa dari mereka memiliki kultivasi yang cukup tinggi. "Tidak usah khawatir denganku! aku tidak selemah yang kau pikirkan, walaupun usiaku sudah sangat tua!" serunya tatkala memahami apa arti pandangan Xu Lian kepadanya.
Tetua Gu mulai berjalan kearah depan, agar pandangannya bisa lebih jelas memperhatikan sekelompok pendekar atau bisa disebut sebagai prajurit karena berseragam yang sama. "Hey kalian! ada gerangan apa kalian menyerang kami?" tanyanya terlebih dahulu. Tetua Gu tidak menghentikan langkahnya walaupun para prajurit mulai mengangkat senjata mereka kearahnya.
"Kami semua diperintahkan untuk menghabisi semua orang yang kami temui di daerah ini!" seru salah satu dari mereka. Tetua Gu tersenyum mengejek, sungguh serakah pimpinan mereka pikirnya.
Disisi lain Xu Lian memperhatikan aksi Tetua Gu dari jarak yang cukup jauh, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh kakek tua itu.
"Habisi kakek tua itu!!" seru salah satu dari mereka kembali.
Para pemanah bersiap-siap melepaskan serangan secara bersamaan dengan cara berjongkok dan yang lainnya bersiap untuk menyerang secara langsung.
*Wushhh....
Wushhh*....
Puluhan panah melesat dengan cepat kearah Tetua Gu, tetapi tatkala beberapa panah akan mengenai tubuh Tetua Gu, anak-anak panah tersebut berbelok arah seperti ada sesuatu yang menghalanginya sehingga tidak ada satupun panah yang berhasil melukai tubuh Tetua Gu. Disisi lain, Xu Lian segera memasang kembali tameng persegi dari es, ketika puluhan panah yang tidak mengenai Tetua Gu terus bergerak menuju kearah Xu Lian.
Para pendekar memilih untuk menyerang secara langsung karena serangan lewat kru pemanah tidak menghasilkan apapun. Mereka semua menyerang secara bersamaan tanpa menggunakan sebuah formasi.
Dengan pergerakan yang sama, Tetua Gu menghempaskan tangan kanannya kearah depan secara bersamaan dengan tiga buah pedang yang menyerang kearah tiga bagian pada tubuhnya. Dari hempasan angin yang dilakukan oleh Tetua Gu yang tanpa disadari oleh siapapun mengandung puluhan jarum akupuntur yang mengandung sebuah racun yang telah disiapkan oleh Tetua Gu, jarum-jarum tersebut melesat dengan cepat pada para pendekar yang tidak menyadarinya. Sehingga banyak pendekar yang langsung jatuh terjerembat tatkala jarum tersebut menusuk pada tubuhnya. Pada waktu yang bersamaan, Tetua Gu melakukan gerakan berputar tatkala ketiga pendekar yang berada lebih dekat dengannya melepaskan serangan tebasan, sehingga mengharuskan ia langsung melawan setelah melepaskan serangan. Tubuh Tetua Gu yang berputar tiba-tiba menciptakan pusaran angin yang mengikuti pergerakan tubuhnya, tatkala pedang dari ketiga pendekar tersebut menghantam tubuh Tetua Gu, pedang tersebut terpental karena dorongan yang hebat.
Xu Lian terus memperhatikan aksi Tetua Gu, sesekali ia menutup hidungnya dengan salah satu tangannya ketika ia tidak sengaja mencium aroma busuk kembali yang belum menghilang. Ada gunanya juga si kakek gila itu! pikirnya. Sesekali matanya melirik kearah tepi pantai untuk memastikan Zhang Xiuhuan telah kembali atau tidak. Sedang apa dia didalam laut lama sekali, oh mungkin dia tenggelam dan mati! pikirnya kembali.
Beberapa pendekar terhempas mundur kearah belakang tatkala Tetua Gu mengeluarkan sebuah kipas dari balik bajunya. Ia tidak berhenti disitu, ia kembali memutar kipasnya yang mengarah keatas sehingga membentuk gelombang angin yang berbentuk seperti ular.
Disisi lawan, mereka semua menghela nafas berat karena kini mereka menyadari jika lawan yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan. Apalagi di tim mereka kebanyakan pendekar bayangan dan hanya seorang tetua tim mereka yang berelemen tanah.
Tanah bergetar sesaat sebelum salju dibawah kaki mereka menyurut kebawah karena tanah yang mulai meninggi. Dengan tenang dan tetap menjaga keseimbangan tubuhnya, Tetua Gu tetap meneruskan aksinya tanpa berniat menghentikannya sedikitpun.
"Tanah Besi Pelindung!"
"Seribu Serangan Ular!"
Tiba-tiba tanah dihadapan para pendekar bergerak keatas sehingga menciptakan sebuah pelindung bagi mereka, sama halnya seperti Xu Lian tetapi tanah pelindung ini memiliki ukuran yang lebih besar. Ratusan bayangan ular yang tercipta dari pusaran angin bergerak cepat menyerang kearah para pendekar.
*Doarr....
Doarr....
Doarr*....
Ratusan bayangan ular terus satu persatu menghantam tanah yang melindungi para pendekar, sehingga menciptakan suara ledakan yang tanpa henti.
Dari hasil ledakan-ledakan tersebut menimbulkan retakan-retakan pada tameng tanah para pendekar, sehingga membuat Tetua Gu terus untuk menyerangnya.
Tanpa diduga dari serpihan tameng tanah tersebut membentuk sebuah persegi bulat, dan langsung bergerak menyerang kearah Tetua Gu dengan cepat.
Sial, sudah terlalu lama aku bersembunyi dari dunia pendekar dan bisa selengah ini! gerutu Tetua Gu. Karena serangan dari serpihan tanah yang sangat tiba-tiba, Tetua Gu memilih untuk menghindar dengan cara melompat setinggi-tingginya sehingga serangan tersebut tidak melukainya. Tetapi tanpa disadarinya, serangan serpihan tanah yang akan menyerangnya terus saja bergerak sehingga kini serpihan tanah tersebut menyerang kearah Xu Lian yang memang berada dibelakang Tetua Gu.
"KAKEK TUA SIALAN!!!"
***