
Ditengah malam gelap gulita terdengar suara tapak kaki kuda yang bersahutan. Mereka berjumlah sekitar 50 lebih orang, dengan menggunakan baju yang seragam juga terdapat lambang elang pada bahu kanan mereka masing-masing.
Mereka menghentikan laju kuda tatkala segerombolan pejalan kaki menghalangi mereka.
"Bunuh mereka semua!" seru salah satu dari para pejalan kaki.
"Kami tidak memiliki masalah dengan kalian, kenapa kalian menyerang kami?" seru seseorang dari atas kuda.
"Setiap orang yang berada di Daratan Timur harus kami bunuh!" Sautnya. Para pejalan kaki mulai mengeluarkan senjata mereka masing-masing, dan langsung menyerang sekelompok pengemudi kuda tersebut.
Pertempuranpun tidak bisa dihindarkan, semua orang menjadi gelap mata. Mereka tidak akan membiarkan ada satupun orang untuk mencari keberadaan pedang yang mereka incar selama ini. Dunia ini menjadi kacau, selalu ada kata pertengkaran.
Para kuda terjatuh ketanah tatkala mereka menjadi tempat serangan bagi para orang-orang yang kini sedang melakukan pertempuran.
Dari arah sebuah bangunan tua keluar dua orang, yang satu sudah berumur tua dan satu lagi masih berumur muda. Mereka berdua terlihat sedang berpikir seraya menonton pertarungan antar kelompok yang terjadi dihadapan mereka.
"Apa yang akan kita lakukan Tetua" seru Zhang Xiuhuan.
"Kita tunggu saja. Jika ada dari mereka yang menyerang kita berarti kita akan menyerang mereka balik!" baru saja Tetua Gu berkata seperti itu dari dua belah pihak menyadari kehadiran dua orang yang kini sedang menonton pertarungan mereka. Kedua belah pihak tersebut beralih untuk menyerang Zhang Xiuhuan dan Tetua Gu karena mereka bisa merasakan jika aura yang dikeluarkan oleh mereka berdua sangat kuat.
"Apa-apaan mereka ini! tadi mereka saling bertempur dan kini saling bekerja sama untuk menyerang kita!" gerutu Zhang Xiuhuan. Tetua Gu hanya terkekeh menanggapinya.
Zhang Xiuhuan menyerang maju tatkala para pendekar yang lain menyerangnya dan Tetua Gu secara bersamaan. Ia menyerang menggunakan tangan kosong agar tidak membuat keributan yang besar.
Disisi lain, Tetua Gu pun harus menerima serangan-serangan yang datang kepadanya. Ia tidak habis pikir ada apa dengan pikiran mereka semua, jika melihat orang asing mereka akan langsung membunuhnya seperti alasan.
Zhang Xiuhuan melepaskan serangan tapaknya pada salah satu anggota pejalan kaki sehingga tubuhnya langsung terlempar dan terkapar ketanah tanpa bergerak. Ia memutarkan tubuhnya kearah kanan ketika tiga orang penunggang kuda yang akan menyerangnya secara bersamaan. Zhang Xiuhuan mengungpulkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya yang berniat untuk menyerang ketiga penunggang tersebut. Tapi karena ketiga penunggang tersebut lebih dulu menyadari serangan Zhang Xiuhuan mereka dengan cepat menghindari serangan Zhang Xiuhuan sehingga serangannya terus melaju dan menghantam tembok bangunan dan hancur seketika.
"SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU ISTIRAHATKU!!!" Keluar seorang wanita dari puing-puing pecahan bangunan yang hancur. Matanya menatap tajam kearah semua orang yang kini menghentikan pertarungan mereka.
Tubuh Zhang Xiuhuan membeku sesaat ia mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Tenang ia tidak akan tahu jika serangan tadi berasal dariku, pikir Zhang Xiuhuan.
Zhang Xiuhuan mengumpat dalam hatinya tatkala para pendekar yang berada didekatnya menunjuk kearahnya. Ia meneguk ludahnya tatkala pandangan tajam Xu Lian kini mengarah padanya. Mati aku!.
Keluar aura yang sangat kuat dari tubuh Xu Lian. Semua pendekar banyak yang berniat untuk melarikan diri tapi ketika mereka akan beranjak pergi, kaki mereka tidak bisa digerakan karena membeku. Zhang Xiuhuan mengumpat mereka semua karena kini mereka semua akan mendapat imbasnya.
Xu Lian membentuk sebuah pola pada kedua tangannya dan menciptakan puluhan es yang berbentuk segitiga bulat. Ia arahkan semua serangan pada semua orang tidak terkecuali.
Bongkahan-bongkahan es itu bergerak dengan cepat menyerang semua orang. Mereka semua mencoba menangkis serangan yang datang kepada mereka dengan senjata masing-masing.
Zhang Xiuhuan maupun berdecak karena mereka juga mendapat imbasnya dari serangan Xu Lian. Tetua Gu memilih menghindari semua serangan yang datang dari Xu Lian. Sedangkan Zhang Xiuhuan menahan serangan Xu Lian dengan tangan kosong, sehingga setiap serangan Xu Lian yang datang ia akan menyerang balik sehingga bongkahan-bongkahan es tersebut menjadi cair seketika.
Disisi lain, para pendekar yang kewalahan, mereka tidak bisa menghindarkan serangan Xu Lian yang datang terus menerus. Banyak dari mereka yang yang terkena serangan Xu Lian hingga mati tatkala serangan tersebut mengenai alat vital seperti kepala, leher dan jantung.
Zhang Bing terbangun karena keributan yang terjadi. I mengerutkan keningnya, baru saja ia bangun dari tidurnya dan harus menyaksikan pemandangan yang ada dihadapannya sekarang.
Setelah dirasa tidak ada yang tersisa dari para pendekar yang lain Xu Lian menghentikan serangannya. Zhang Xiuhuan dan Tetua Gu menghela nafas lega.
"Aku juga tidak tahu". Zhang Xiuhuan mencoba membuat pertahan dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Xu Lian melepaskan serangannya kearah sebuah pepohon yang berada tepat dibelakang Zhang Xiuhuan dan Tetua Gu.
DDOOUUURRRRRR.......
"KELUAR KAU! MAU SAMPAI KAPAN KAU MENONTON DISANA SEPERTI PENGECUT!!!" teriak Xu Lian.
Tetua Gu dan Zhang Xiuhuan saling melirik satu sama lain. Mereka sedikit lega karena serangan tadi bukan tertuju padanya tapi kepada siapa?.
Dari balik pepohonan yang menjadi tempat serangan Xu Lian keluar seorang pria dengan hanfu berwarna birunya, yang diikuti puluhan prajurit yang sama digunakan oleh para pendekar ketika ditepi pantai.
Pria itu berjalan perlahan menghampiri semua orang dengan bibir yang selalu terulas senyuman.
"Apa benar wanita itu yang kalian maksud?" serunya pada anak buahnya.
"Iya benar Tuan Muda, wanita itu yang memiliki Naga!" seru pendekar tersebut.
Xu lian mengerutkan keningnya ketika ia mendengar mereka membicarakan seekor Naga. Ia menghela nafas berat kenapa masalah selalu datang.
"Apa yang kalian inginkan?" seru Xu Lian.
"Aku menginginkan Naga milikmu gadis cantik!" sautnya.
"Apa imbalan yang akan kudapat jika aku memberikan Nagaku kepadamu?" Xu Lian mencoba berpikir untuk menghadapi pria dihadapannya, pria ini memiliki aura yang sangat kuat tetapi ia menghela nafas kecewa karena dia bukan orang yang ia cari.
"Aku akan mendapatkan Pedang Goujian yang akan muncul di Daratan ini. Jika aku sudah menemukannya kau bisa memiliki pedang tersebut dan jika kau ingin kau juga bisa menjadi wanitaku!" serunya seraya tersenyum gatal.
Zhang Xiuhuan meremas kedua tangannya ingin sekali ia langsung menghajar wajah pria itu jika Tetua Gu tidak menghalanginya.
Xu Lian tertawa dalam hatinya, pria ini walaupun kuat tetapi sangat bodoh. Sampai kapanpun ia akan menunggu kemunculan Pedang Goujian pedang tersebut tidak akan muncul. "Apa kau yakin akan mendapatkan Pedang tersebut" tantang Xu Lian.
"Tentu saja. Bahkan aku sudah melenyapkan kakek tua itu yang selalu menjaga Daratan ini!" serunya bangga.
Xu Lian mengerutkan dahinya, siapa yang pria itu maksud. "Kakek tua?" tanya Xu Lian ingin memastikan.
"Ya, kakek tua yang satu-satunya dari Kerajaan Shangri-La yang selamat. Aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri!" ucapnya.
Xu Lian mengepalkan kedua tangannya, amarahnya memuncak. Matanya memerah tatkala ia mencoba menahan amarahnya. Jadi selama ini yang telah membunuh kakeknya adalah pria yang ada dihadapannya ini.
"Kau berani sekali telah membunuh Kakekku!"
***