DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Masalah Baru



Disebuah ruangan yang sangat besar. Berjejer rapih orang-orang dengan pakaian formalnya. Didepan ruangan tersebut terdapat sebuah singgasana seorang kaisar, yang kini tengah ditempati oleh seseorang yang berumuran 70 tahunan. Ia melipat kedua tangannya kebelakang tubuhnya seraya matanya menatap tajam kearah orang-orang yang kini tengah bersujud dihadapannya.


"Siapa yang bertanggung jawab untuk semua ini!" seru pria yang diyakini seorang Kaisar tersebut.


"Yang Mulia,menurut laporan dari prajurit yang selamat Tuan Muda dibunuh oleh seseorang pria dan wanita yang sepertinya mereka adalah pasutri" seru salah satu kasim seraya ia mengangkat tubuh bagian depannya.


"Siapa mereka? berani sekali mereka membunuh putraku!" geram pria yang dipanggil Yang Mulia.


"Kami tidak mengetahuinya. Tetapi yang pasti mereka berdua pasti masih berada di Daerah Timur. Dan untuk itu kami sudah mengirim seseorang untuk mengawasi mereka" seru kasim kembali.


"Cari mereka secepatnya dan jangan pernah biarkan mereka untuk hidup!" seru Kaisar.


Kerajaan San adalah kerajaan yang berada di Daratan Selatan. Kerajaan ini menjadi sebagai kerajaan terkuat dan terbesar di Daerah Selatan, dibuktikan dengan banyaknya kerajaan yang berada di Daerah Selatan berada dibawah pimpinan Kerajaan San. Kaisar Kerajaan San yang bernama Wu Zheng memiliki seorang putra yang akan menjadi pewaris dari Kerajaan San. Dan pada bulan-bulan lalu, putranya yang bernama Wu Zetian pergi ke Daerah Timur untuk mencari Pedang Goujian. Tetapi setelah lama Kaisar menunggu kepulangan putranya, ia malah mendapat kabar jika putranya sudah terbunuh.


Kerajaan San menjadi gempar dengan berita tersebut. Bahkan kini Kaisar mengeluarkan semua para pendekar kepercayaannya untuk mencari siapa dalang dari terbunuhnya putra satu-satunya tersebut.


-


-


-


Terlihat tiga orang berjalan melewati tanah salju. Zhang Xiuhuan melirik kearah Xu Lian yang sampai saat ini menekuk wajahnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Matanya melirik kearah belakang tubuhnya yang kini tersampir sebuah pedang yang menyebabkan segalanya. Ia berpikir untuk apa menciptakan sesuatu yang sangat hebat hanya untuk membuat kerusuhan didunia. Ini hanya benda tetapi kenapa lebih istimewa dari sebuah nyawa seseorang. Ia sangat muak dengan kehidupan, kalau bukan saja karena ia takut jika pedang ini jatuh ketangan orang yang salah. Ia pasti sudah tidak akan membiarkan Xu Lian untuk mencarinya.


Mereka berdua keluar dari balik hutan yang bersalju, kini mereka berjalan mengarah ke tepi pantai. Dalam perjalan mereka sering bertemu dengan pendekar lain baik berkelompok ataupun sendirian. Para pendekar itu tidak ada yang mencoba berkutik ataupun mencoba merebut pedang yang kini telah didapatkan oleh Xu Lian. Karena mereka tahu, mereka hanya akan mengantarkan nyawa mereka saja. Begitupun Xu Lian yang tidak perduli dengan pendekar lain yang ia temui. Ia tidak akan menyerang terlebih dahulu, jika mereka mengusik hidupnya.


Xu Lian lebih memilih menaiki Nang'er daripada jika ia harus menunggu kapal pengangkut datang. Kini mereka akan kembali kekerajaan Wei. Tapi entahlah ini baik atau tidak bagi kerajaannya.


Berita tentang munculnya Pedang Goujian yang telah didapatkan oleh Xu Lian langsung menyebar kepenjuru dunia. Ada yang bersyukur karena Pedang Goujian tidak jatuh pada orang yang salah. Begitu juga banyak yang iri kepada Xu Lian bahkan mereka ingin merencanakan mengambil alih Pedang Goujian tersebut.


Nama Kerajaan Wei seketika meningkat drastis tatkala nama putri dari kerajaan tersebut telah berhasil mendapatkan Pedang Goujian. Kebahagianpun terlihat dari semua keluarga istana dan juga penduduk Kerajaan Wei. Tapi ingatlah tidak ada kebahagiaan yang abadi didunia ini.


Setelah beberapa lama, Xu Lian dan Zhang Xiuhuan memilih untuk beristirahat kembali dikota Tibet. Seperti biasa, sebelum mereka bertiga sampai digerbang kota mereka akan turun dari Nang'er dan mulai berjalan kaki. Zhang Xiuhuan menghela nafas berat, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan sedikitpun. Xu Lian juga terlihat enggan untuk memulai percakapan. Sedangkan Zhang Bing kini terlihat masa bodo.


Setelah melewati antrian yang cukup panjang untuk memasuki Kota Tibet, akhinya mereka bisa memasuki Kota Tibet. Tanpa bertanya Zhang Xiuhuan lebih memilih langsung mencari penginapan tanpa meminta saran kepada Xu Lian.


Xu Lian merasa tidak enak ketika semua pandangan mengarah padanya dan juga Zhang Xiuhuan. Ia tidak tahu apa maksud pandangan mereka. Tapi tidak mungkin juga mereka memandangnya seperti itu karena ia telah berhasil mendapatkan Pedang Goujian. Tetapi mereka bisa tahu dari mana.


"Ayo aku sudah mendapatkan penginapan untuk kita", Zhang Xiuhuan menepuk bahu Xu Lian pelan. Xu Lian melirik kearah Zhang Xiuhuan dan menganggukkan kepalanya. Tanpa memperdulikan tatapan para penduduk Zhang Xiuhuan mengajak Xu Lian dan Zhang Bing memasuki penginapan.


Malam mulai menyambut Kota Tibet. Orang-orang mulai meninggalkan kegiatannya. Jalananpun sudah dipenuhi lentera-lentera yang menjadi penerangan Kota Tibet. Dara arah selatan gerbang Kota Tibet, terdengar suara riuh yang disebabkan oleh suara tapakan kuda yang saling bersahutan. Para penunggang kuda memakai pakaian yang senada yaitu berwarna hitam dan memakai armor dari besi, mereka juga membawa sebuah bendera yang bergambar abstrak yang berwarna perak dengan sebuah gambar kilatan yang berwarna emas.


Rombongan kuda tersebut memasuki gerbang Kota Tibet. Para penjaga Gerbang langsung menerima pasukan kuda tersebut untuk memasuki Kota Tibet tanpa harus meminta identitas mereka seperti biasanya. Karena bendera yang mereka bawa juga sudah menjadi sebagai identitas mereka. Setelah itu, rombongan kuda tersebut memasuki Kota Tibet dengan cara berjajar rapih diakibatkan jalanan Kota Tibet yang tidak terlalu besar untuk para penunggang kuda seperti mereka.


"Mereka berjumlah bertiga yang satunya anak seumuran 6 tahunan. Sekarang mereka sedang berada di Penginapan Shangqi" seru salah satu pria berpakain hitam tersebut.


"Kerja bagus! sisanya biar kami yang urus" saut seseorang yang berada dibarisan paling depan.


Keempat orang berpakaian hitam mulai menghilang dalam kegelapan malam. Begitupan para penunggang kuda mulai bergerak kearah yang mereka tuju saat ini. Para penduduk terheran-heran dengan kedatangan para prajurit yang mereka sangat kenali, apalagi jika bukan para prajurit Kerajaan San. Mereka tidak ingin tahu banyak tentang alasan apa mereka datang ke Kota Tibet karena para penduduk hanya ingin mencari tempat yang aman.


-


-


-


Setelah hari-hari yang sangat lelah Xu Lian dan yang lainnya hanya ingin meristirahatkan tubuh mereka. Setelah makan malam mereka tidak berniat untuk kultivasi ataupun hal semacamnya. Karena sudah beberapa belakangan hari ini, Xu Lian maupun Zhang Xiuhuan sangat kekurangan istirahat.


Tatkala Xu Lian ingin merebahkan tubuhnya, suara keributan mulai terdengar dari bawah. Ia mengerutkan keningnya bingung tatkala suara bantingan meja mulai terdengar. Begitu juga dengan Zhang Xiuhuan yang merasakan aneh.


"Bing Bing cepat turun kembali!" seru Xu Lian. Zhang Bing berdecak kesal baru beberapa menit ia merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Waspadalah kemungkinan terbesar mereka mengincar kita" Zhang Xiuhuan meraih kembali Pedang Goujian yang tadi ia taruh ditembok pojok. "Ayo kita keluar!" Zhang Xiuhuan keluar dari kamarnya yang diikuti semua orang.


*Bruaakk...


Bruaakk*...


"CEPAT KATAKAN DIMANA PASUTRI YANG KAMI CARI ITU!!!" teriak seorang pria dengan pakaian armor besinya seraya mengacungkan pedangnya kearah pelayan.


"Pasutri mana yang kalian maksud. Disini banyak sekali pasutri yang menginap disini" seru seorang wanita dengan gemetar yang menjadi pelayan dipenginapan tersebut. Karena kesal dengan jawaban pelayan penginapan tersebut yang tidak memuaskannya, ia mulai mengangkat pedangnya untuk menebas kepala wanita tersebut.


"Hentikan! ada apa kalian mencari kami!"


-


-


-


Baru dapat ide lagi:v


Oke kita bertemu lagi 😅😅