
Teratai Darah Salju adalah salah satu tanaman obat yang langka, tanaman ini berwarna merah darah karena itu ada kata 'darah' dalam tanaman tersebut. Teratai ini biasanya tumbuh di laut yang menjadi perbatasan Daratan Timur. Berbeda dengan teratai lain yang biasanya hidup didanau ataupun dirawa, tetapi teratai ini hidup didalam laut.
Pandangan Zhang Xiuhuan menatap kearah depan, pendengarannya mendengarkan perjelasan Tetua Gu dengan serius. "Daratan timur, aku juga sedang menuju kesana saat ini!" serunya.
Tetua Gu terdiam sejenak lalu menatap Zhang Xiuhuan dengan serius. "Apa kau juga datang untuk mencari sebuah pedang", Semua khalayak masyarakat sudah mengetahui tentang kemunculan Pedang Goujian, jadi tidak dihiraukan orang seperti Shang Gu pun juga mengetahuinya.
"Iyaa, aku datang kesana memang karena Pedang Goujian", saut Zhang Xiuhuan.
"Lalu kau membawa putramu?" Tetua Gu menatap tidak percaya kearah Zhang Xiuhuan, ia tidak habis pikir mereka membawa putra mereka yang masih belia tanpa tahu menahu musuh apa yang akan mereka hadapi.
Zhang Xiuhuan melirik kearah Tetua Gu lalu ia menganggukkan kepalanya lemah. "Aku tidak punya pilihan lagi" ucapnya.
"Tapi apa kau tidak pernah berfikir tentang keselamatan putramu? kau tidak akan tahu musuh apa yang akan kau hadapi nanti", Tetua Gu menghela nafas yang tertahan, "Aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri tetapi apakah putramu bisa?" tanya Tetua Gu.
Zhang Xiuhuan diam sesaat, apa yang dikatakan oleh Tetua Gu memang ada benarnya, tetapi ia juga tidak mempunyai pilihan lain.
"Tapi___" ucapan Zhang Xiuhuan terpotong tatkala Tetua Gu lebih dulu menyauti perkataannya.
"Sudahlah, kita tidak mempunyai waktu yang banyak. Sebaiknya kita harus pergi secepatnya untuk mencari Teratai Darah Salju" seru Tetua Gu, raut wajahnya menyiratkan keseriusan.
"Kita?" Zhang Xiuhuan mengerutkan keningnya bingung.
"Heheh aku juga akan ikut dengan kalian. Tenang saja, dari awal aku tidak berminat dengan Pedang Gounjang itu" seru Tetua Gu diselingi kekehannya.
"Pedang Goujian" seru Zhang Xiuhuan membenarkan ucapan Tetua Gu.
"Pedang apa? Gujin Gou-gu-jin hah Pedang Jin?" ucap Tetua Gu terbata ketika mengeja nama Pedang Goujian.
Zhang Xiuhuan tidak berniat untuk menimpali ucapan Tetua Gu, ia lebih memilih untuk memasuki gua untuk menemui istri dan putranya dari pada ia harus meladeni kakek tua gila.
***
Tubuh Zhang Bing mulai membaik, tetapi ia tetap belum sadarkan diri padahal ia hanya mengalami patah tulang belakang.
"Karena patah tulang belakang, dentian pada tubuh putramu sedikit terhalang hingga tenaga dalam pada tubuh putramu tidak mengalir dengan normal. Karena itu putramu belum sadarkan diri" ucap Tetua Gu tatkala pandangannya menangkap ekspresi Xu Lian yang sangat khawatir dengan keadaan putranya.
Tidak ada halangan ataupun rintangan apapun dalam perjalanan mereka saat ini. Hanya ada suara angin yang menderu dalam perjalanan, tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Keadaan sangat hening.
Butuh waktu cukup lama untuk mereka sampai di Daratan Timur, tetapi sudah beberapa kali mereka melihat rombongan yang menuju Daratan Timur, baik itu dari kerajaan ataupun sekte. Tetua Gu menghela nafas berat, peperangan besar akan terjadi kembali. Bedanya kali ini bukan peperangan antar aliran yang berbeda tetapi kali ini hanya karena sebuah pedang. Bahkan dalam peperangan kali ini, walaupun sesama aliran ataupun kerajaan bahkan keluarga mereka akan saling membunuh hanya untuk mendapatkan sebuah pedang. Sungguh dunia yang kejam.
Disisi lain, Xu Lian bernafas lega pasalnya tidak ada satupun orang yang berasal dari keluarganya ataupun kerajaannya yang ikut andil dalam perebutan Pedang Goujian selain dirinya, karena Xu Lian tahu ini adalah perebutan darah antar manusia bukan antar sekte atau kerajaan. Yang berarti semua orang akan ikut bertempur demi memperebutkan Pedang Goujian. Tetapi disisi lain, Xu Lian mulai gundah dengan keselamatan putranya.
Mereka semua sampai diperbatasan Daratan Timur tatkala matahari mulai tenggelam. Pemandangan yang pertama kali menyambut mereka, bukanlah pemandangan dimana ombak yang menyambar permukaan es, ataupun daerah yang turun salju setiap saat. Kini tergantikan denga tumpukan mayat manusia yang baru beberapa hari yang berceceran ditepi pantai, bahkan daratan yang semula berwarna putih bersih kini bercampur satu dengan darah.
Zhang Xiuhuan maupun Xu Lian, membulatkan matanya lebar. Pasalnya keadaan Daratan Timur ketika terakhir kali mereka kesini sangat berbeda dengan keadaan saat ini. Apalagi Xu Lian sangat terkejut, rumah esnya yang dulu kini telah hancur kembali. Sesaat bayangan Danzi terlewat dipikirannya, apakah kakeknya tersebut terbunuh juga dalam pertempuran disini?, ia berjanji dalam hatinya akan mencari siapa gerangan yang menjadi dalang kakeknya. Tetapi Xu Lian juga sadar jika orang yang telah membunuh kakeknya tersebut bukanlah orang yang biasa.
Nang'er mendaratkan tubuhnya pada tepi pantai, semua orang mulai turun dari tubuh Nang'er. Aroma bau amis mulai tercium pada penciuman mereka, bahkan Xu Lian menutup hidungnya dengan kedua tangannya tatkala ia tidak tahan dengan bau amis yang sangat menyengat.
"Sepertinya aku harus mengurus mayat-mayat ini terlebih dahulu!", Zhang Xiuhuan memberikan tubuh Zhang Bing kepada Tetua Gu, "Aku titip terlebih dahulu, terimakasih tetua!" Tetua Gu dengan senang hati menerima Zhang Bing. Zhang Xiuhuan tidak yakin jika ia harus menitipkan Zhang Bing kepada Xu Lian.
Zhang Xiuhuan mulai mengumpulkan satu persatu mayat yang berserakan, mayat-mayat tersebut ada yang berasal dari kerajaan, sekte aliran putih ataupun aliran hitam dilihat dari pakaian yang mereka gunakan. Setelah itu, Zhang Xiuhuan membakar semua mayat tersebut dengan kekuatan elemennya sehingga meninggalkan kepulan asap yang sangat tebal.
"Kau harus cepat mencari Teratai Darah Salju tersebut, perasaanku sangat tidak enak jika kita terus berada disini" seru Tetua Gu ketika Zhang Xiuhuan mulai berjalan menghampirinya.
"Baiklah" Zhang Xiuhuan berjalan ketepi pantai yang terdapat sebuah batu yang sangat besar, ia melompat hingga tubuhnya berada diatas batu besar itu. Matanya menatap kearah ombak yang cukup besar, ia mengambil nafas dengan dalam sebelum tubuhnya melompat kedalam air.
Tetua Gu tetap memperhatikan batu tempat Zhang Xiuhuan, matanya melirik kearah Xu Lian yang saat ini tengah mencoba mengeluarkan isi perutnya, mungkin ia tidak tahan dengan bau amis yang sangat menyengat. Matanya berpindah kepada Nang'er yang sudah kembali pada posisi tubuh kecilnya, tidak ada yang dilakukan oleh naga tersebut, ia hanya terbang didekat Xu Lian. Sekarang Tetua Gu baru mengingatnya, ia pernah mendengar tentang seseorang yang memiliki seekor naga yang disebut Summonster dari Daratan Timur tepatnya dari Kerajaan Shangri-La. Rupanya mereka tidak sampai punah! pikirnya.
Xu Lian membungkukkan tubuhnya supaya ia lebih mudah memuntahkan semua isi perutnya. Ia sungguh tidak tahan dengan bau busuk yang dikeluarkan dari mayat-mayat tersebut. Walaupun mayat-mayat tersebut telah dibakar oleh Zhang Xiuhuan, tetapi baunya tidak menghilang.
Wushhh....
Xu Lian mengangkat tubuh atasnya kembali ketika sebuah panah yang ingin mengenai kepalanya. Matanya mulai waspada kearah dalam hutan dekat tepi pantai, walaupun dirinya masih mual ketika ia kembali menghirup aroma yang tidak sedap. Begitu juga dengan Tetua Gu, ia mulai mendekat kearah Xu Lian,dan mulai mengelilingi pandangannya.
Ratusan panah muncul dari dalam hutan yang berada ditepi pantai yang mengarah kepada Xu Lian dan Tetua Gu.
"Sial!" gerutu Xu Lian
***