DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Menghancurkan?



Para masyarakat disekitar Penginapan Shangqi membantu para pelayan penginapan untuk membersihkan mayat-mayat yang bergeletakkan dihalaman penginapan.


Beberapa kali Zhang Xiuhuan meminta maaf kepada pemilik penginapan, karena kekacauan yang terjadi. Pemilik penginapan tidak berberat hati atau bahkan meminta imbalan, ia malahan berterima kasih kepada Zhang Xiuhuan.


Aku tahu ia takut kepadaku, seseram itukah aku?. Setelah kejadian malam kemarin Zhang Xiuhuan dan Xu Lian memilih untuk segera meninggalkan Kota Tibet secepatnya. Mereka takut akan ada serangan yang lebih besar datang lagi.


Pagi ini, Zhang Xiuhuan dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Ia tidak ingin untuk terus berdiam diri karena itu bisa membahayakan bagi mereka. Apalagi saat ini nyawa Zhang Xiuhuan dan Xu Lian sedang diincar. Mereka bertiga berjalan melewati jalanan Kota Tibet yang mulai ramai oleh para penduduk.


Zhang Xiuhuan mengelilingi pandangannya. Ketika ia melihat kearah sebuah bangunan pandai besi. Matanya tidak sengaja beradu pandang dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan Zhang Xiuhuan. Tidak lama mereka beradu pandang, pria itu terus menatap pedang yang berada dipunggung Zhang Xiuhuan. Zhang Xiuhuan menghela nafas berat. Pedang Goujian memang selalu membawa masalah. Ingin sekali ia membuangnya jauh-jauh.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka bertiga sampai di gerbang istana.


"Apa yang akan kita lakukan dengan pedang ini?" tanya Zhang Xiuhuan setelah mereka berhasil keluar dari Kota Tibet.


"Ya kita gunakan sebagai pedanglah" saut Xu Lian.


"Kenapa kita tidak hancurkan pedang ini saja" saran Zhang Xiuhuan. Ia tidak ingin kehidupannya akan penuh perseteruan hanya karena Pedang Goujian.


"Yang benar saja kita hancurkan Pedang Goujian. Kita sudah susah payah mendapatkannya!" gerutu Xu Lian kesal. Ia tidak tahu dengan jalan pikir Zhang Xiuhuan, hampir saja ia kehilangan nyawanya hanya untuk mengambil alih Pedang Goujian. Dan sekarang dengan seenaknya Zhang Xiuhuan menyuruhnya untuk menghancurkan Pedang Goujian.


"Tapi kau taukan jika kita selalu membawa Pedang ini. Akan selalu datang masalah" Zhang Xiuhuan tidak ingin kalah berdebat.


"Aku tidak akan menghancurkan Pedang Goujian" seru Xu Lian tegas. Lalu ia segera memanggil Nang'er. Zhang Xiuhuan hanya menghela nafas berat, Xu Lian sangat keras kepala. Tanpa banyak berucap Zhang Xiuhuan mengikuti istri dan anaknya untuk menaiki Nang'er.


-


-


-


"Apa-apain kenapa ini semua bisa terjadi!" seru seseorang dengan bajunya yang kebesaran dengan warna emas yang mencolok. Ia terlihat berjalan bolak-balik dengan kedua tangan dilipat kebelakang. Raut wajahnya sangat gelap, terdapat kerutan-kerutan diwajahnya yang menandakan jika kini ia tengah menahan amarah.


"Maaf yang mulia. Mereka berdua rupanya sangat kuat, bahkan mereka mengalahkan kami hanya dengan tangan kosong" ucap salah seorang prajurit dari 6 prajurit yang kini duduk bersujud dihadapan Kaisar.


Prangg...


Pot tanaman yang berada di kedua samping singgasana Kaisar terjatuh hingga pecah, tatkala Kaisar sendiri yang menendangnya.


"Mereka yang kuat apa kalian yang lemah? kalian ini sangat tidak becus dalam melakukan tugas" teriak Wu Zheng marah. Ia sudah mengerahkan pasukan yang cukup besar, tetapi mereka pulang hanya tersisa beberapa orang. Bahkan ketua mereka pulang dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Apalagi dengan pesan yang mereka bawa dari orang yang telah membunuh putranya. Mereka sangat berani karena telah menantangnya. Wu Zheng berjanji ia akan menghabisi mereka berdua dengan secepatnya.


"Jendral. Cepat adakan rapat penting dengan kerajaan lainnya!" seru Wu Zheng kepada pria yang memiliki tubuh tinggi tegap yang selalu berada disampingnya, jika ia kemana-mana.


"Baik yang mulia!"


-


-


-


Zhang Xiuhuan tidak tahu harus membujuk Xu Lian bagaimana lagi. Walaupun ia sudah tidak membahas lagi, perihal penghancuran Pedang Goujian. Tetapi ia tetap akan membujuk Xu Lian agar ia setuju menghancurkan Pedang Goujian. Memiliki kekuatan yang berlebihan itu bisa membuat bahaya bagi diri sendiri. Apalagi musuh yang kini ia hadapi memiliki kekuasaan yang sangat besar. Dan ini baru satu orang yang membuat masalah dengannya perihal Pedang Goujian, belum yang lainnya. Apalagi Zhang Xiuhuan sangat curiga dengan pria yang tadi tidak sengaja beradu pandang dengannya. Ada ambisi yang sangat besar dari pandangan matanya.


Zhang Bing beberapa kali menguap. Ia sangat kelelahan, sejak tadi pagi sampai sore hari ia terbang tanpa melakukan apapun, ia sangat bosan.


Sore hari menjelang malam Nang'er mendaratkan tubuhnya digerbang Kerajaan Wei. Ia cukup kehilangan tenaga dalam yang banyak karena seharian ia harus terbang dengan kecepatan yang tinggi.


"Aku akan memulihkan tubuhku beberapa hari kedepan. Jadi kau tidak bisa memanggilku dalam beberapa hari kedepan!" seru Nang'er kepada Xu Lian setelah Xu Lian turun dari atas tubuhnya.


"Beristirahatlah! maafkan aku juga yang telah memaksamu untuk terus melanjutkan perjalanan ini" seru Xu Lian merasa bersalah.


Mereka bertiga kembali melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Ketika ia sampai digerbang Kerajaan Wei, mereka disambut dengan baik oleh para penjaga yang mengawasi gerbang Kerajaan Wei. Bahkan mereka menyiapkan kereta kuda untuk Xu Lian dan yang lainnya menuju Ke Istana.


"Ibu aku ingin mempelajari semua ilmu yang ada didalam buku ibu" seru Zhang Bing tatkala mereka semua sudah berada didalam kereta kuda.


"Kau bisa mempelajarinya. Tetapi tidak semuanya karena ini hanya untuk seorang Summonster" jelas Xu Lian.


"Summonster? apa aku juga bisa jadi Summonster?" seru Zhang Bing bingung baru kali ini ia mendengar nama itu.


"Tidak sayang. Yang bisa menjadi Summonster hanya seorang wanita saja" Zhang Bing mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Tenang saja, ayah akan mengajari semua jurus rahasia yang ayah miliki, bagaimana?" tawar Zhang Xiuhuan yang mendapat balasan anggukan Zhang Bing yang antusias.


Kereta kuda membawa mereka bertiga untuk memasuki Kerajaan Wei. Lentera-lentera yang dipasang disetiap luar rumah warga menjadi penerangan untuk orang yang melintasi jalanan Kerajaan Wei. Hingga kereta tersebut berhenti digerbang Istana Wei.


"Aku pulang!"


-


-


-


Angin berhembus dengan kencang ditengahnya malam. Dedaunan pun ikut terbawa oleh angin. Angin menerpa seseorang yang kini tengah duduk merenung disebuah depan bangunan. Tangannya mengelus-elus sebuah pedang yang kini berada dipangkuannya. Pedang itu berkilau digelapnya malam dengan hiasan permata dipinggir genggamannya. Seseorang tersebut tersenyum kecil seraya menatap pedang yang berada ditangannya.


"Pedang itu lebih bagus dari pada pedang milikku. Apa jadinya jika sekarang pedang itu berada ditanganku" ia mulai tertawa memikirkan apa yang ia ucapkan tadi.


***