DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Menghilang



Xu Lian segera bangkit berdiri untuk menghindari serangan yang datang lagi dari pendekar aliran hitam lainnya. Bukan hanya Xu Lian yang terkejut dengan kematian pendekar aliran hitam secara tiba-tiba tadi bahkan semua orang pun ikut terkejut, tetapi bedanya mereka tidak merasakan dan melihat keberadaan seseorang dengan rambut warna putihnya.


Xu Lian menahan serangan yang datang kepadanya, dalam posisi yang masih sama ia melepaskan serangan tendangan pada pemilik pedang yang kini menyerangnya sehingga tubuhnya terlempar dan menubruk rekan-rekannya.


Disisi lain, Zhang Xiuhuan menggunakan kedua pedangnya untuk melawan pendekar aliran hitam, kini hatinya sangat gelisah. Tadi ia sempat melihat ketika Xu Lian yang akan sedikit lagi terkena serangan dan ada sesuatu yang sangat misterius yang menolongnya tadi, tapi yang membuatnya gelisah adalah siapa orang tersebut, musuh atau teman?.


Sebuah kapak melayang menyerang Zhang Xiuhuan, tetapi dengan cepat ia menghindari kampak tersebut dengan melompat kearah belakang. Tapi sialnya, dari arah belakang terdapat dua pendekar aliran hitam yang siap menebaskan pedangnya masing-masing kearah Zhang Xiuhuan.


Wushh...


Wushh...


Sebelum kedua pendekar tersebut menyerang Zhang Xiuhuan, beberapa jarum menusuk pada lehernya yang membuat tubuh mereka mati rasa dengan tiba-tiba. Zhang Xiuhuan melirik kearah Tetua Gu seraya menundukan kepalanya sebagai tanda terima kasih.


Dilain posisi, Tetua Lee atau pemimpin dari Sekte Aliran Hitam Kalajengking hanya menonton ketika semua anak buahnya dibantai. Ia beberapa kali merubah ekspresi wajahnya ketika menyaksikan kekuatan Xu Lian dan Zhang Xiuhuan.


Tetua Gu menggertakan giginya tatakala 6 orang pendekar aliran hitam menyerangnya secara bersamaan, salah satunya adalah anak buah yang diperintahkan oleh Tetua Lee untuk menangkap Zhang Bing.


"Sibukkan kakek tua ini! agar aku bisa langsung menangkap bocah ingusan itu" ucapnya pada kelima rekannya yang lain.


Zhang Bing memundurkan tubuhnya tatkala Tetua memerintahkannya untuk menjauh. Zhang Bing sebenarnya kasian dengan Tetua Gu, tapi apa daya dia tidak ingin memecah konsentrasi Tetua Gu begitu juga dengan orang tuanya.


Tetua Gu membentuk sebuh bola dari angin, ia melepaskan serangannya pada para pendekar yang kini tengah menyerangnya. Ia sedikit kewalahan, bukan hanya faktor usia yang membuatnya cepat lelah tetapi ia juga tidak pandai dalam pertarungan pedang.


Zhang Bing tersenyum senang tatkala salah satu pendekar aliran hitam mendekat kearahnya.


"Ikut denganku!" seru pendekar aliran hitam tersebut seraya tangannya bergerak untuk meraih baju Zhang Bing bagian depan. Tetapi gerakannya kalah cepat, sebelum ia berhasil menggapai baju Zhang Bing, Zhang Bing sudah terlebih dahulu menggenggam tangan pendekar aliran hitam tersebut, lalu ia memelintirkan tangan pendekar tersebut.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana paman?" seru Zhang Bing.


Pedekar tersebut mengumpat dalam hatinya, kenapa bocah sepertinya memiliki kekuatan yang beser bahkan ia merasakan tangannya seperti patah. "Kau bocah jangan macam-macam!" seru pendekar tersebut.


"Paman dulukan yang pertama berniat macam-macam denganku?" saut Zhang Bing. Zhang Bing mengepalkan tangannya terlebih dahulu sebelum ia melepaskan sebuah pukulan pada perut pendekar tersebut sehingga membuat tubuhnya terpental cukup jauh. Para pendekar yang lain, yang kini tengah menghadapi Tetua Gu, melirik kearah Zhang Bing yang telah membuat rekannya terluka parah hanya dengan satu pukulan. Zhang Bing hanya tersenyum kecil ketika pandangannya bertemu dengan para pendekar yang lain.


"Boleh aku maju kek?" seru Zhang Bing pada Tetua Gu. Ia sungguh bosan jika harus menonton pertarungan tanpa ikut andil, apalagi ia telah memulihkan kekuatannya.


"Baiklah, lagi pula aku sudah banyak kehilangan tenaga dalam" saut Tetua Gu.


Zhang Bing langsung berlari setelah Tetua Gu mengijinkannya, dalam waktu bersamaan ia mengaliri kedua tangannya dan kakinya dengan kekuatan elemennya. Ia tidak memilih bertarung dengan menggunakan pedang dikarenakan ia juga belum sepenuhnya memahami pertarungan dengan pedang. Dan juga ia ingin menguji seberapa kuat kekuatan elemennya.


*Bughh....


Bughh....


Bughh*....


Tetua Lee yang merasa jika anak buahnya tinggal sedikit, ia mulai turun tangan dan mulai menyerang Zhang Xiuhuan. Ia menggunakan sebuah pedang yang berbentuk melengkung seperti sabit. Zhang Xiuhuan menerima semua serangan Tetua Lee dengan senang hati. Ia sedikit memberi jarak dengan Tetua Lee karena ia tahu jika orang yang kini tengah ia hadapi adalah ahli racun.


Disisi lain, Xu Lian kembali menebas kepala pendekar aliran hitam yang terakhir. Matanya melirik kearah Zhang Xiuhuan yang kini tengah menghadapi pimpinan sekte aliran hitam tersebut. Lalu matanya berpindah pada Zhang Bing yang kini tengah menghadapi beberapa pendekar aliran hitam yang lainnya. Setelah ia memastikan semuanya baik-baik saja ia melesat dengan cepat kearah seseorang dengan rambut warna putihnya.


Xu Lian melepaskan beberapa serangannya pada orang berambut putih tersebut. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Xu Lian.


"Aku? kau tidak mengenali dengan pamanmu ini!" serunya seraya tersenyum licik. Xu Lian membulatkan matanya tidak percaya, ia akan mengatakan sesuatu tetapi sebelum ia berhasil berbicara pandangannya menjadi gelap. Bahkan Nang'er yang kini berada didalam jiwanya pun ikut tidak berdaya.


Zhang Xiuhuan menambahkan kekuatanya lagi sehingga kini pedangnya terselimuti api yang berkobar-kobar. Zhang Xiuhuan menatap kearah pedang milik Tetua Lee, ia tahu jika pedang tersebut sangat beracun maka dari itu, ia tidak boleh terkena dengan goresan pedang tersebut. Ia kembali menyerang Tetua Lee, mereka berdua bertukar hingga pulahan jurus.


Tetua Lee menjauh dari Zhang Xiuhuan, ia menatap jubahnya yang kini banyak yang hangus karena terbakar. Ia mendengkus kesal, sedari tadi ia belum berhasil melukai Zhang Xiuhuan sedikitpun. Sebelum ia banyak berpikir lagi, Zhang Xiuhuan sudah bergerak untuk kembali menyerang Tetua Lee.


Zhang Bing menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkannya. Ia tersenyum puas sudah menglahkan semua pendekar aliran hitam yang tersisa. Ia mengelilingi pandangannya ke sekitar. Ia mengerutkan keningnya heran, seperti ada yang aneh.


"Ibu!" ucap Zhang Bing. Ia baru menyadari keanehan yang ia rasa adalah karena ia tidak mendapati keberadaan Xu Lian.


"IBUUU KAUU DIMANAA??" teriaknya seraya mengelilingi pandangannya kesekitar.


Zhang Xiuhuan langsung melirik kearah Zhang Bing yang kini sedang berteriak menganggil-manggil ibunya. Fokusnya terpecah sehingga ia tidak menyadari serangan Tetua Lee yang datang. Punggungnya terluka parah karena pedang milik Tetua Gu.


"Sial!"


Tetua Gu yang melihat Zhang Xiuhuan terkena pedang milik Tetua Lee langsung mengeluarkan sebuah botol yang berisi beberapa pil miliknya dari cincin ruangnya. Ia langsung melemparkan botol tersebut kearah Zhang Xiuhuan.


"MINUMLAH! ITU ADALAH OBAT PENANGKAL RACUN. FOKUSLAH TERLEBIH DAHULU DENGAN LAWANMU!" teriak Tetua Gu.


Zhang Xiuhuan langsung menangkap obat yang diberikan oleh Tetua Gu dan langsung ia meminumnya. Amarahnya menjadi tinggi, ia sangat murka ketika menyadari jika Xu Lian telah menghilang.


"AKU TIDAK BISA FOKUS JIKA ISTRIKU MENGHILANG!!! INI SEMUA KARENA KAU!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU SAAT INI JUGA!!!" Teriak Zhang Xiuhuan seraya menatap tajam kearah Tetua Lee.


Tubuhnya tiba-tiba terselimuti api yang menyala, mata sebelah kirinya kembali terlihat sebuah garis berwarna merah darah. Aura iblis yang sangat pekat keluar dari tubuh Zhang Xiuhuan. Disisi lain, Tetua Lee sangat terkejut dengan perubahan Zhang Xiuhuan yang terjadi.


Zhang Xiuhuan bergerak dengan cepat kearah Tetua Lee. Ia menyerang Tetua Lee seperti kesetanan, emang iyakan. Tetua Lee kewalahan ketika ia harus menangkis setiap serangan Zhang Xiuhuan yang sangat cepat. Ia tahu ini bukanlah kekuatan Zhang Xiuhuan yang sebenarnya, maka dari itu ia hanya bisa terima jika ia harus kehilangan nyawanya.


Tubuh Tetua Lee terlempar jauh karena ia tidak mampu lagi menahan semua serangan Zhang Xiuhuan. Tanpa ampun Zhang Xiuhuan ikut bergerak kearah tubuh Tetua Lee yang terlempar dan ia langsung menusukkan kedua pedangnya pada dada Tetua Lee.


Amarahnya semakin menjadi-jadi, ketika ia tidak bisa mendeteksi keberadaan Xu Lian. Apalagi ia tidak tahu kemana Xu Lian pergi atau siapakah yang menculik Xu Lian. Kini yang ia tahu, Xu Lian telah menghilang.


"AAAARRRRRRRKKKKKKHHHHHHHHHH!!!!"


***