
Xu Kong beberapa kali mengetuk-ngetukkan jarinya tepat diatas meja kerjanya. Ia mencoba memutar otaknya, bagaimana caranya ia bisa menghentikan Xu Lian. Keadaan ini sangat membingungkan baginya. Apalagi keadaan Kerajaan yang masih belum stabil. Sejak kemarin Xu Lian meminta peta padanya ia sudah mencoba untuk membujuk Xu Lian agar tidak pergi terlalu cepat. Tapi hasilnya hanya sia-sia, karena Xu Lian tetap menolak sarannya.
Dari arah pintu ruangan terbuka dengan lebar dan menampakan Xu Lian yang berjalan menghampiri Xu Kong. Ia sudah menggunakan pakaian biasa dan tersampir Pedang Goujian tepat dibelakang punggungnya.
Melihat putrinya yang memasuki ruangannya, Xu Kong segera bangkit dan menghampiri Xu Lian.
"Kenapa kau ini terlalu terburu-buru?" seru Xu Kong.
"Aku tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi ayah. Secepatnya aku harus menghancurkan Pedang Goujian ini" saut Xu Lian.
"Tapi tidakkah kau menunggu keadaan diluar kerajaan sedikit membaik"
"Aku tidak bisa. Aku hanya kesini ingin berpamitan padamu ayah" Xu Lian membungkukkan tubuhnya sebelum ia kembali keluar dari ruangan ayahnya.
Xu kong yang tidak ingin menyerah membujuk putrinya untuk tetap tinggal, mencoba mengejarnya yang mulai menjauh darinya.
"Putriku tunggulah sebentar!" seru Xu Kong yang tak diindahkan sama sekali oleh Xu Lian. "Dia sangat keras kepala" gerutunya.
Xu Lian berjalan cepat menuju keluar istana. Ia juga berpura-pura tidak mendengar seruan Xu Kong yang selalu memanggil namanya. Sampai Xu Lian tiba dihalaman istananya, tubuhnya remang-remang merasakan sesuatu yang sangat besar sedang menuju kearahnya.
Dari gerbang istana terlihat seorang prajurit yang memukul Gong tatkala ia melihat titik api menyala dari tempat wilayah Kerajaan Wei dijaga.
Angin tiba-tiba menambah kencang, dedaunan pun ikut berterbangan bersamanya. Beberapa kali Xu Lian menepis daun yang menghalangi pandangannya. Sedangkan, para prajurit mulai berlalu lalang untuk menyiapkan diri. Xu Lian tetap berdiam di tengah halaman istana. Ia tidak bisa meninggalkan semua orang pada waktu sekarang.
Xu Kong berlari keluar istananya. Ia pun merasakan kekuatan yang besar sedang menuju kearahnya. Ia menghampiri Xu Lian yang masih berdiam diri.
"Ini tidak baik" Xu Lian melirik kearah Xu Kong yang kini wajahnya mengguratkan kekhawatiran yang besar.
Dari arah gerbang istana muncul seorang prajurit yang menunggangi kudanya. Ia segera turun tatkala pandangannya menangkap sosok Xu Kong.
"Yang Mulia saya ingin melapor. Diketahui ada dua kubu yang menyerang kerajaan. Satu dari arah barat dan satunya dari arah selatan. Mereka masing-masing berasal dari Sekte Aliran Hitam yang sepertinya mereka bekerja sama untuk menyerang kerajaan." jelas prajurit tersebut.
Xu Kong berdecak kesal. "Sekte Aliran Hitam bergerak sangat cepat", gerutunya. Mereka pasti sudah tahu tentang kekalahan Sekte Lembah Tengkorak. Jadi mereka lebih memilih menggabungkan kekuatan.
"Kita hadapi mereka dengan sisa kekuatan kita yang ada" seru Xu Kong.
Semua prajurit yang menjaga perbatasan Kerajaan Wei segera mundur. Mereka semua berkumpul diarea istana. Pasukan mereka dibagi menjadi dua, yaitu pasukan penyerang dan pasukan pengintai. Pasukan penyerang akan terjun langsung dalam pertempuran, sedangkan pasukan pengintai akan membantu pasukan penyerang dari jarak jauh. Biasanya mereka akan melempar dengan cakram ataupun terdiri dari para pemanah. Zhang Bing pun juga ikut serta, awalnya ia ingin bergabung dengan pasukan penyerang tetapi ibunya malah menolaknya. Dan menempatkannya di pasukan pengintai.
Xu Lian bersama Xu Kong berada dibarisan paling depan. Kini Xu Lian tidak akan menggunakan Pedang Goujian lagi. Mereka semua menunggu di tengah wilayah Kerajaan Wei, sedikt jauh dari istana.
Xu Lian memanggil Nang'er untuk membantunya. Untung saja Nang'er telah selesai memulihkan dirinya. Ia naik keatas tubuh naganya. Tidak lama kemudian Nang'er terbang keatas dan menembus awan.
Dari arah barat perbatasan dan arah selatan perbatasan terlihat ribuan orang berjalan dengan tertib. Mereka semua menggunakan baju yang berbeda 4 macam. Sepertinya mereka gabungan 4 sekte yang berbeda.
Xu Kong memperhatikan pakaian yang mereka gunakan. Baju hitam dengan aksen gambar dua buah pedang yang disilangkan, menandakan mereka berasal dari Sekte Pedang Kembar. Baju ungu tua dengan aksen tiga garis, menandakan mereka berasal dari Sekte Awan Darah. Baju hijau dengan aksen bunga mawar, menandakan mereka dari Sekte Bunga Darah dan terakhir dan yang paling mencolok karena mereka menggunkan baju berwarna biru, dengan aksen bola berwarna-warni, menandakan mereka dari Sekte Lembah api.
Xu Kong mengigit bibir bawahnya. Semuanya berasal dari Sekte yang sangat terkenal. Bahkan ia sudah kalah dalam jumlah pasukan.
"Lihatlah rupanya mereka sudah menunggu kita" seru seorang wanita paruh baya yang merupakan Tetua dari Sekte Bunga Darah.
"Mereka sangat percaya diri untuk melawan kita" timpal seorang pria dengan wajah feminim dengan baju kuningnya.
"Yang Mulia! aku ingin membuat penawaran denganmu. Kami tidak akan menghancurkan Kerajaanmu asalkan biarkan kami menangkap dua buronan itu!" seru wanita paruh baya itu kembali.
"Aku tidak akan membiarkan kalian untuk menangkap putriku!" seru Kong dengan mengangkat pedangnya.
Wanita paruh baya itu tertawa kecil. "Kau sungguh percaya diri. Baiklah jika itu maumu kami semua akan meratakan kerajaanmu ini!" ucap wanita paruh baya yang dibalas sorakan yang lainnya.
Dari Kubu Sekte Aliran Hitam mereka semua mulai bergerak untuk terlebih dahulu menyerang Kerajaan Wei.
Tiba-tiba dari atas langit terlihat bola-bola cahaya yang bergerak sangat cepat jatuh kebawah.
*DDOOAAARRRRRR...
DDOOOAARRRRRR...
DDDOOOOAAARRR*...
Beberapa ledakan terjadi tatkala cahaya yang keluar dari langit tersebut, menghantap para pasukan Sekte Aliran Hitam. 20% pasukan Sekte Alirah Hitam meledak seketika.
"SERANG!!!" dari arah paling belakang pasukan Kerajaan Wei. Para pemanah bersiap untuk melepaskan serangannya. Sedangkan Zhang Bing berulang kali membentuk sebuah tombak dari kekuatan elemennya. Dan ia lempar dengan kuat kearah para pasukan Sekte Aliran Hitam.
Puluhan panah mulai berjatuhan menyerang kearah pasukan Sekte Aliran Hitam setelah ledakan usai terjadi. Para Tetua Sekte Aliran Hitam menggeram kesal, karena pasukannya kini kembali berjatuhan karena serangan panah yang datang.
Tanpa memperdulikan bawahannya, para Tetua Sekte bergerak langsung untuk menyerang. Tetapi dengan tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya. Semua pandangan Tetua Sekte begitupun para pasukannya mengarah pada langit, yang kini menampakan seekor Naga yang merupakan hewan ilahi.
Mereka semua terkagum-kagum. Bahkan ambisi para Tetua Sekte semakin besar. Mereka kini bukan hanya ingin menangkap Xu Lian dan Zhang Xiuhuan tetapi juga merebut Naga Xu Lian.
***