DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"

DEWI NAGA TIMUR II "The Enternal Love"
Kembali



Xu Lian segera membuka pintu kamarnya. Alangkah ia sangat terkejut melihat Zhang Xiuhuan yang sedang berusaha menggapai gelas yang terjatuh. Dengan cepat Xu Lian berlari kearah Zhang Xiuhuan. Ia membantu mengambilnkan air minum yang baru untuk Zhang Xiuhuan. Dengan pelan Xu Lian membantu Zhang Xiuhuan untuk meminumnya.


Zhang Bing dan Xu Li pun menyusul ke kamar Xu Lian. Xu Li memilih untuk memanggilkan Alkemis untuk memeriksa keadaan Zhang Xiuhuan saat ini. Zhang Bing sangat senang ketika ia melihat ayahnya yang sudah siuman. Dengan cepat ia berlari kearah Zhang Xiuhuan dan hendak ingin memeluknya. Tapi langkahnya dihentikan oleh Xu Lian. Ia hanya bisa cemberut seraya ikut duduk disamping ibunya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Xu Lian.


"Aku baik" terdengar suara Zhang Xiuhuan yang serak. Xu Lian tak tega jika ia harus bertanya banyak pada Zhang Xiuhuan.


"Sebaiknya kau istirahat saja. Untuk saat ini kau jangan banyak berbicara. Dengar Zhang Bing" Xu Lian menatap kearah putranya. Zhang Bing hanya menaruh kedua tangannya pada daun telinganya.


Tidak lama kemudian Alkemis datang kembali. Ia segera memeriksa seluruh tubuh Zhang Xiuhuan. "Semuanya baik-baik saja. Hanya saja kekuatan tubuhnya belum pulih total", Alakemis tersebut mengeluarkan sebuah botol ramuan dari kotak kayunya, lalu ia minumkan kepada Zhang Xiuhuan dengan perlahan.


"Biarkan dia untuk istirahat. Untuk saat ini jangan ada yang menganggunya!", Xu Lian mengangguk paham dengan ucapan Alkemis tersebut.


Setelah semuanya selesai. Xu Lian lebih memilih membiarkan Zhang Xiuhuan untuk istirahat. Ia dan kakak keduanya memilih pergi menuju ruangan Xu Kong.


Setelah sampai Xu Li mengetuk beberapa kali ruangan ayahnya sebelum ia memasuki ruangan ayahnya. Tidak seperti Xu Lian yang selalu nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Tidak lama kemudian seorang prajurit membukakan pintunya. Didalam ruangan terdapat Xu Kong bersama Xu Yong dan Jenderal Lee yang tengah membahas strategi perang mereka.


Xu Lian dan Xu Li ikut duduk bergabung dengan yang lainnya.


"Kalian berdua ada apa datang kesini dengan tiba-tiba?" tanya Xu Kong.


"Ayah aku hanya ingin memberitahumu jika Zhang Xiuhuan telah siuman!" seru Xu Lian.


Semuanya terlihat tersenyum bahagia mendengar ucapan Xu Lian.


"Bagaimana keadaannya? aku ingin melihatnya!" seru Xu Kong.


"Dia baik-baik saja dan sekarang ia sedang istirahat" tutur Xu Lian.


"Syukurlah. Ini membuat rencana kita semakin matang!" ucap Xu Yong.


"Bukannya rencana kita masih agak terlalu lama untuk dilakukan?" tanya Xu Lian heran. Ia merasa aneh, bukankah serangan yang akan datang masih butuh waktu yang cukup lama, sehingga rencana mereka untuk kepergian Xu Lian secara diam-diam masih butuh waktu yang lama.


"Memang awalnya mereka akan bergerak dalam beberapa bulan kedepan. Tetapi setelah insiden penangkapan para pengintai Kerajaan Saharan. Kerajaan San mempercepat serangan mereka!" jelas Xu Yong.


"Sebesar apa pasukan mereka?" tanya Xu Li.


"Aku tidak tahu" Xu Yong meremas kedua tangannya. Ia tidak tahu berapa jumlah pasukan yang akan datang menyerang. Karena jumlah pasukan Kerajaan San saja sudah sangat besar. Apalagi jika harus ditambah dengan kerajaan lainnya.


"Bagaimana dengan Zhang Bing?" seru Xu Lian.


"Kau bawalah dia! karena jika ia disini aku tidak tahu, aku atau yang lain bisa memantau keadaannya atau tidak" ujar Xu Yong.


"Itu benar. Menurutku Zhang Bing lebih baik ikut bersamamu" saut Xu Li. Begitu juga dengan Xu Kong yang menganggukkan kepalanya. Karena mereka tidak tahu sebesar apa musuh yang mereka hadapi, mereka takut jika nyawa Zhang Bing akan terancam jika ia masih berada di istana.


"Baiklah, aku akan membawanya bersamaku!"


Setelah perundingan perihal penyerangan dari kerajaan San selesai. Xu Lian memilih untuk kembali kekamarnya. Didalam kamarnya ada Zhang Bing yang sedang menemani ayahnya.


Xu Lian berjalan perlahan kearah mereka berdua. Ketika Xu Lian duduk disamping Zhang Bing, kedua mata Zhang Xiuhuan terbuka dan melirik kearah Xu Lian.


Xu Lian bisa membaca pandangan Zhang Xiuhuan padanya yang bertanya 'Ada apa?'. Xu Lian mengambil nafasnya berat dan mulai menceritakan semuanya yang telah terjadi tatkala Zhang Xiuhuan belum terbangun. Dengan baik Zhang Xiuhuan mendengarkan semua cerita dari istrinya. Ia juga beberapa kali merubah raut wajahnya ketika mendengar kejadian-kejadian yang diceritakan oleh Xu Lian. Ia juga sangat bahagia mendengar jika Xu Lian memilih untuk menghancurkan Pedang Goujian.


"Mereka ingin kita pergi meninggalkan istana ketika Kerajaan lain datang menyerang" ada nada tidak berdaya dalam ucapan Xu Lian. Zhang Xiuhuan bisa mengetahuinya. Ini memang bukan permasalahan mudah, mereka harus memilih keselamatan keluarga atau keselamatan semuanya.


Zhang Xiuhuan mencoba untuk bangkit. Ia mendudukkan tubuhnya menghadap Xu Lian.


"Percayalah semuanya akan baik-baik saja!" ucapnya serak menyemangati Xu Lian.


"Tapi apakah aku akan kembali kehilangan seseorang dalam hidupku?". Jujur Xu Lian tidak ingin meninggalkan semua orang dalam keadaan seperti ini. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain.


"Kau tahu, semua perjuangan dalam mendapatkan sesuatu pasti ada hal yang harus dikorbankan. Jangan salahkan takdir, karena takdir bukan hanya memberi kesedihan bagi kita tetapi juga kesenangan. Kau hanya kurang bersyukur atas semuanya" Xu Lian hanya bisa diam. Hatinya sangat sulit untuk menerima semuanya.


"Karena kau akan ikut bersama kami. Aku ingin kau terus melatih kekuatanmu" Zhang Xiuhuan menatap putra satu-satunya ini. Sebenarnya ia tidak tega membawa lagi putranya untuk sebuah misi. Tetapi ia juga tidak akan meninggalkannya diistana yang akan berperang.


"Tenang saja ayah. Aku sekarang sering berlatih bersama paman Xu Li" ucap Zhang Bing.


"Baguslah. Aku harap kau bisa menjaga dirimu sendiri jika dalam keadaan tertentu, ayah atau ibumu tidak bisa menjagamu!" ujar Zhang Xiuhuan.


Dari permasalahan kecil, semuanya menjadi kacau dan rumit. Bahkan tidak ada yang tahu bagaimana permasalahan ini bisa selesai. Semuanya hancur karena ketamakan manusia yang sudah mendarah daging. Bahkan apakah semuanya akan tiba-tiba selesai setelah kehancuran Pedang Goujian, atau malah sebaliknya. Masih ada ratusan musuh yang harus mereka hadapi diluaran sana. Semuanya menjadi abu-abu.


Hari ini mungkin mereka semua bisa bersama, tapi entah dengan esok. Tidak ada dunia yang jauh dari kata kedamaian. Xu Lian menggeleng-gelengkan kepalanya, ini yang sebenarnya dinamakan dunia!, pikirnya.


***