
Xu Lian bergerak dengan cepat kearah Tetua Sekte Awan Darah untuk menyerangnya. Tetapi pergerakannya dihentikan oleh Tetua Sekte Bunga Darah.
"Kau masih punya nyali untuk melawanku", seru Xu Lian. Ia menyerang dengan serangan tapaknya kearah Tetua Sekte Bunga Darah. Tangan Xu Lian dan pedang Tetua Sekte Bunga Darah saling bertemu hingga mereka berdua terdorong kebelakang.
Xu Lian kembali menetralkan kekuatannya sebelum bergerak kembali. Tangannya membentuk sebuah pola yang menciptakan puluhan belati es yang kini mengelilingi tubuhnya. Xu Lian kembali bergerak menyerang kearah Tetua Sekte Bunga Darah, seraya ia mengarahkan setiap belati es untuk menyerang Tetua Sekte Bunga Darah.
Setiap belati es yang melesat dengan cepat kearah Tetua Sekte Bunga Darah, hancur seketika tatkala menghantam pedang Tetua Sekte Bunga Darah.
Xu Lian terus melepaskan serangan belatinya. Ia mencoba mencari celah serangan Tetua Sekte Bunga Darah, agar ia bisa dengan mudah menyerang Tetua Sekte Bunga Darah.
"Kena kau!" Xu Lian menyerang Tetua Sekte Bunga Darah secara bersamaan dengan meluncurnya belati-belati esnya, agar konsentrasi Tetua Sekte Bunga Darah terpecah. Xu Lian memukul bagian atas dada Tetua Sekte Bunga Darah, hingga tubuhnya terlempar cukup jauh dan menghantam tanah yang membeku cukup keras.
Setelah tubuh Tetua Sekte Bunga Darah menghantam tanah yang membeku, tiba-tiba es disekitarnya menyelimuti tubuhnya. Mata melotot Tetua Sekte Bunga Darah kearah Xu Lian yang kini tengah mengontrol es miliknya untuk melilit tubuh Tetua Sekte Bunga Darah.
Sedangkan pria paruh baya yang merupakan Tetua Sekte Awan Darah, kini hanya terduduk melihat tubuh rekan wanitanya mulai terselimuti oleh es. Ia bahkan masih belum memulihkan tubuhnya yang terluka, maka dari itu ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong rekannya.
Tubuh Tetua Sekte Bunga Darah seluruhnya terselimuti oleh es. Hingga membuat tubuh Tetua Bunga Darah membeku, Xu Lian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan seketika tubuh Tetua Sekte Bunga Darah hancur seketika.
Disisi lain, Nang'er beberapa kali melepaskan serangan apinya. Bahkan kedua Tetua Sekte Aliran Hitam yang kini tengah menghadapinya terluka parah. Bagaimana mungkin mereka bisa mengambil alih naga Xu Lian, sedangkan mereka sendiri tidak bisa mengalahkan naga milik Xu Lian.
Sekali lagi, Nang'er membawa salah satu Tetua Sekte Aliran Hitam yang menggunakan baju berwarna kuning terbang keatas, dengan meraih tubuhnya menggunakan cakarnya. Setelah dirasa terbang cukup jauh, lalu ia menjatuhkan tubuh pria tersebut hingga jatuh dan menghantam tanah.
Seorang pria berdiri menyaksikan rekannya dikalahkan oleh naga tersebut dengan sangat mudah. Hanfu hitamnya dengan aksen gambar dua buah pedang yang saling bersilangan, berterbangan tatkala tubuh rekannya menghantam dengan keras ketanah sehingga menciptakan gelombang angin yang cukup besar. Matanya beralih kearah naga yang kini juga menatapnya. Ia menggenggam kedua buah pedangnya, sebelum naga dihadapannya mulai bergerak menyerangnya.
Pria tersebut yang merupakan Tetua Sekte Pedang Kembar, melompat tinggi tatkala sebuah ekor raksasa mencoba menghantam tubuhnya. Dengan waktu bersamaan ia mencoba menyerang naga tersebut dengan pedangnya. Tetapi tatkala kedua pedangnya menghantam bagian tubuh naga tersebut, ia terpental cukup jauh karena tekanan yang terjadi.
"Sial kulitnya terlalu kuat!" ia meraih kembali pedangnya yang sempat terjatuh. Tanpa pantang menyerah ia kembali bergerak untuk menyerang.
Nang'er mencoba meraih tubuh Tetua Sekte Pedang Kembar dengan cakarnya. Tetapi pergerakannya kalah cepat. Tetua Sekte Pedang Kembar melompat keatas tubuh Nang'er. Ia mencoba berlari kearah bagian kepala Nang'er.
Nang'er sendiri mencoba mengeliat-liatkan tubuhnya dengan harapan Tetua Sekte Pedang Kembar terjatuh. Tetua Sekte Pedang Kembar mencoba menyeimbangkan tubuhnya tatkala beberapa kali Nang'er membuat pergerakan. Tubuhnya terus tergoncang sampai ketika ia kehilangan keseimbangan sehingga tubuhnya ikut terlempar keatas. Dalam kesempatan tersebut, Nang'er membuka mulutnya lebar-lebar hingga tubuh Tetua Sekte Pedang Kembar lenyap dimakan olehnya.
Pria dengan hanfunya berwarna kuning yang menandakan ia sebagai Tetua Sekte Lembah Api membulatakan matanya. Melihat tubuh rekannya dimakan langsung oleh naga tersebut. Tubuhnya yang masih sekarat akibat ia terjatuh cukup tinggi, membuatnya tidak bisa kabur.
"Jangan mendekat kearahku!" teriak Tetua Sekte Lembah Api tatkala Nang'er mulai mendekatinya.
"Jangan makan aku!" teriaknya histeris. Ia takut jika nasibnya akan sama dengan rekannya tersebut.
DDOOOUUUAAARRRR...
Tubuh Tetua Sekte Lembah Api hancur seketika. Tanpa memperdulikan sekitarnya yang sudah hancur Nang'er pergi mencari Xu Lian.
Nang'er menghampiri Xu Lian yang kini tengah berjalan kearah Tetua Sekte Awan Darah yang sedang sekarat. Ia lebih memilih untuk kembali mengecilkan tubuhnya, karena sudah tidak ada lagi yang perlu ia lawan.
"Ini sudah berakhir!" Xu Lian berdiri dihadapan Tetua Sekte Awan Darah. Ia menciptakan sebuah pedang dari kekuatan elemennya. Dan tanpa banyak berbicara ia menebaskan pedangnya tepat dileher Tetua Sekte Awan Darah.
-
-
-
Xu Kong diam berdiri mematung. Ia tidak percaya jika kini Kerajaan-kerajaan lain yang berada di Daerah Barat membantunya. Ribuan pasukan berkuda yang memasuki Kerajaan Wei rupanya mereka berniat untuk membantu Kerajaan Wei.
Xu Kong menghela nafasnya berat. Beban yang ada didalam tubuhnya menghilang tiba-tiba. Entah kenapa ia menjadi semangat kembali untuk terus bertempur.
Pasukan Sekte Aliran Hitam gabungan mulai berjatuhan semenjak datangnya bantuan dari kerajaan lain. Bahkan kini semua Pasukan Sekte Aliran Hitam telah terkalahkan semuanya. Begitupan ke empat Tetua sudah terkalahkan oleh Xu Lian dan Nang'er.
"Maafkan kami yang terlambat" seru Xiao Tian. Xu Kong tersenyum kecil menanggapinya.
"Kebanyakan bantuan pasti datangnya terakhir" seru Xu Kong.
"Kami semua sudah memutuskan untuk berada dipihakmu dan melawan Kerajaan San. Tetapi jika kerajaan kami juga ikut hancur seperti kerajaanmu, aku akan menyalahkanmu!" seru Xiao Tian kembali. Semuanya hanya terkekeh menanggapi ucapan Kaisar Xiao Tian yang merupakan kaisar termuda diantara yang lainnya.
Seluruh pasukan yang bergabung antara kerajaan lainnya banting tulang untuk membereskan semua kerusakan yang terjadi. Mereka semua juga membersihkan semua mayat yang berserakan dimana-mana.
Xu Lian menatap semua kerusakan yang telah terjadi. Hatinya cukup bimbang jika ia harus meninggalkan Kerajaan Wei. Tetapi bagimanapun yang mereka incar adalah dirinya sendiri. Bahkan ia tidak tahu bagaimana? dengan cara apa? semuanya berakhir.
"Berpikirlah dengan pikiran yang dingin. Jangan membuat keputusan ketika emosimu sedang naik. Karena itu akan membuatmu menyesal. Tariklah nafasmu dengan tenang dan nikmati semua hembusan yang keluar. Karena kita harus menikmati hidup walaupun menyakitkan seperti ini." Xu Lian melongo tiba-tiba, sejak kapan Paman Xiao Tian kini berdiri disampingnya dan berkata panjang lebar yang tentu tidak dimengerti oleh Xu Lian.
***
🙃🙃🙃