Dear Happiness

Dear Happiness
Chapt 61



Rania Duduk di dalam kamarnya sambil melamun, dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi hari ini. Baik itu tentang kelas olimpiade atau tentang Adlan yang membelanya di depan guru itu. Dia tak bisa berhenti memikirkan semua. Padahal dia juga merasa tidak perlu terlalu memikirkannya, namun entah kenapa semua itu mengganjal di hatinya.


"Ah,gue selalu memikirkan sesuatu yang gak perlu dan malah bikin semua tambah ribet. Males banget ah, Kalau gue gak bisa berhenti mikirin hal yang gak perlu. Gak tahu ah gak tahu, gue gak mau ribet," ujar Rania yang langsung memejamkan matanya. Namun saat dia sedang memejamkan mata, tiba tiba saja ponselnya berbunyi, dia melihat ke ponsel itu dan langsung mengangkatnya.


"Rania! Rania tolong gue,gue ada di depan, gila ya pengawal lo banyak banget. Gue dikira maling, gue gak boleh masuk padahal udah ada di sini dari tadi dan sudah bilang kalau gue kenal Lo, keluar dong, tolongin gue," ujar suara itu yang membuat Rania langsung bangun dari kasur dan berlari dari kamarnya menuju ke gerbang.


"Anak gila emang, ngapain juga Lo malam malam ada di rumah gue sih? Lo gila ya? Kalau Lo dikira maling Lo bisa aja hilang tahu gak, gila ya Lo," ujar Rania tak menyangka. Dia berlari secepat yang dia bisa dan langsung pergi ke arah penjaga depan. Dia melihat seorang pria muda tampak sibuk berdebat dengan pengawal yang ada di rumahnya.


"Adlan, Lo ngapain sih bikin keributan begini di rumah orang? Lo gila ya?" Tanya Rania yang membuat lelaki itu berhenti berdebat dan menyengir ke arahnya. Rania memicingkan mata dan tak mengerti arti senyuman itu. Dia hanya terdiam sampai Adlan mengatakan kenapa lelaki itu sampai datang ke tempatnya.


"Gue tahu Lo lagi banyak pikiran, dan Lo gak bisa tidur, jadi gue ke sini buat menghibur dan tentu saja bikin Lo bisa tidur nyenyak. Tapi nih pengawal bahkan gak bolehin gue masuk, padahal gue mau kasih kejutan, terpaksa deh gue telpon Lo, jadi ya, gak kejutan lagi tapi gak papa, gue masih bisa hibur Lo, ayo ijinkan gue masuk dulu, ini dingin banget di sini," ujar Adlan yang membuat Rania meringis tak menyangka, Adlan memang selalu nekat dan melakukan apa yang dia anggqp benar.


"Terus kalau lo udah di dalam, lo mau apa?" Tanya Rania yang bingung juga. Adlan langsung menggandeng tangan Rania dan pergi ke dalam rumahnya. Dia mengajak Rania pergi ke dalam lift menuju rooftop. Rania diam saja digeret oleh Adlan seperti itu, namun saat di dalam lift, dia merasa aneh.


"Dlan, ini kan rumah gue, kok malah lo yang nuntun gue sih? Lo emang tahu di rooftop ada apaan? Lo emang emang mau ngapain bawa gue ke sana?" Tanya Rania heran. Adlan tertawa dan tidak menjawab, dia seperti tahu apa yang akan dia lakukan.


Adlan membawa Rania keluar dari dalam lift dan membuka pintu rooftop. Rania melihat pemandangan dari dalam rumah kaca itu. Dia merasa itu pemandangan yang indah, namun saat Adlan mematikan lampu dan entah menyalakan saklar apa, pemandangan berubah jadi galaksi yang sangat indah. Rania bahkan tak tahu ada tempat seperti ini di rumahnya.


"Gue kan penggemar setia novel Hopeless, jadi gue tahu seluk beluk rumah ini termasuk rooftop ini, di sini kan bokap sama nyokap lo sering berdua, jadi ya wajar banget lah kalau gue tahu," ujar Adlan bangga, namun membuat Rania mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh dengan pernyataan itu, namun tak mau mengambil pusing dan hanya mengedikkan bahunya.


"Kalau di sini sebenarnya kita bisa lakuin apapun dan gak akan ada yang tahu, karna ini benar benar private room, tapi karna gue sayang sama lo, gue gak akan macam macam atau melakukan sesuatu yang buruk ke lo, gue memilih buat jagain dan selalu ada buat lo kayak sekarang ini. Gue harap lo bisa selalu lihat itu dalam diri gue."


"Gue gak ngerti kenapa lo mau sama gue Dlan, sedangkan gue malah takut sama lo, gue takut jatuh cinta sama lo, jadi malah gue pengen minta ke lo jangan pernah selalu ada buat gue, jangan lasih apapun dan jangan pedulikan gue, gue gak mau buat suka sama lo Dlan," ujar Rania yang sontak membuat Adlan terkejut.


"Maksudnya apa? Kenapa lo ngomong gitu? Lo kan tahu kalau gue gak qkan bikin lo kecewa, apalagi selingkuh. Gue bahkan rela glow up setinggi tingginya biar lo bisa lihat gue, gue gak peduli kalau lo mandang fisik. Kalau lo suka cowok ganteng, gue bakal jadi cowok ganteng biar disuka sama lo," ujar Adlan dengan sungguh sungguh.


"Ya, gue tahu Lo akan lakukan itu, tapi masalahnya bukan hanya di sana Dlan, lo tahu, ada tembok besar yang gak bisa kita robohkan. Lo tahu kalau tembok besar itu bikin gue dan lo gak pernah bisa bersatu, apalagi lo anak yang taat, keluarga gue juga taat, gak akan ada yang bisa pindah," ujar Rania yang masih tak dimengerti oleh lelaki itu, namun seketika lelaki itu sadar kemana arah Rania, dia langsung terdiam.


"Gue, gue masih belum mikir sampai ke sana. Tapi, yang gue tahu, gue sayang banget sama lo Ran, dan gue gak tahu gimana caranya bikin lo yakin kalau gue beneran sayang sama lo. Kalaupun suatu hari nanti Tuhan ijinkan kita buat bersama, pasti ada kok caranya," ujar Adlan dengan yakin.


"Ada? Lo mau pindah? Atau lo akan paksa gue pindah? Atau lo ngajak plural? Terus gimana nasib anaknya? Pertumbuhan iman anaknya? Gue tahu lo gak mikir ke sana karna lo masih pengen pacaran dan senang senang aja, tapi terus gimana? Apa lanjutannya?" Tanya Rania yang tidak bisa dijawab oleh Adlan.


"Gue, gue gak tahu Ran, gue gak bisa jawabnya. Tapi kalau boleh gue tanya, lo juga suka kah sama gue? Lo masih anggap gue lebih dari teman kan? Lo nyaman kan sama gue?" Tanya Adlan yang membuat Rania terdiam. Adlan meminta Rania untuk jujur, dan gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.