Dear Happiness

Dear Happiness
Chapter 11



Luna melihat perkembangan anak – anaknya yang semakin hari semakin baik. Mereka juga sudah bisa berbicara cukup lancar untuk anak seusianya. Kini Luna mulai memikirkan tentang sekolah anaknya jika mereka sudah masuk ke Taman Kanak – Kanan ataupun Sekolah Dasar. Luna tak bisa mendaftarkan mereka sembarangan karna kondisi Rania, dia juga tak bisa membiarkan mereka sekolah terpisah.


"Gak mungkin kita sekolahin mereka ke sekolah negeri sih. Tapi kalau di sekolah yang terlalu berat juga gak boleh, menurut kamu kita harus sekolahin mereka dimana?" tanya Luna pada Darrel yang sibuk menonton film di depannya. Darrel langsung menengok ke arah Luna yaang bersandar di pundaknya.


"Mereka bahkan masih umur tiga tahun sayang, kamu udah mikir mereka mau lanjut sekolah dimana? Kalau TK nya gak usah begitu di pikir, nyari yang deket sini aja," ujar Darrel yang membuat Luna merasa kesal. Luna langsung menyingkir dari Darrel, membuat lelaki itu memandang Luna dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Ya gak bisa kayak gitu dong, masak gak ada rencana ke depan mau gimana. Mereka udah tiga tahun, harus dicariin sekolah yang bagus tapi gak berat buat Rania. Emang di sekitar sini ada sekolah yang bagus?" tanya Luna dengan ngegas. Darrel sampai harus menutup sebelah matanya agar telinganya tak terlalu sakit.


"Teriak lagi coba, biar bangun semua tuh anak kita, sekalian bangunin tetangga," ujar Darrel menyindir namun dengan nada yang halus. Luna mengerucutkan bibirnya saat menyadari kesalahannya. Bagaimanapun Luna sedang berhadapan dengan suaminya, dia tak bisa membentak suaminya itu. untung saja Darrel tidak pernah kasar padanya apapun yang dia lakukan.


"Maafin Luna, habisnya Luna kesal karna Kamu kayak menyepelekan gitu, kan pendidikan anak – anak kita yang paling utama, kenapa Kamu nyantai aja sih?" tanya Luna dengan nada bergetar, dia merasa bersalah karna berteriak pada suaminya, namun dia juga tak suka melihat suaminya yang begitu santai. Darrel sendiri mengusap kepala Luna pelan agar istrinya itu tidak menangis.


"Aku tahu pendidikan anak kita itu penting, tapi yang utama adalah bagaimana mereka berkembang ke jalan yang mereka pilih. Tugas kita Cuma memfasilitasi selama itu hal baik. Kapasitas berpikir setiap anak itu berbeda sayang, kalau kamu paksa anak kita masuk ke sekolah favorit dan ternyata bakat mereka bukan di akademik gimana?" tanya Darrel yang membuat Luna terdiam.


"Tapi kan pendidikan dasar yaang paling penting buat didik mereka, pendidikan dasar yang baik nanti anak – anak kita jadi baik," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel. Lelaki itu memang menyadari karakter mereka harus dibentuk sedini mungkin, tapi bukan berarti meraka harus dipaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka suka.


"Untuk TK, kenapa aku mau yang dekat – dekat sini aja? Pertama, biar nanti kamu gak kerepotan kalau harus jemput mereka, kan gak mungkin aku kalau aku lagi kerja. Kedua, dekat sini bukan berarti gak bagus, gak mungkin aku kasih sekolah ke anak kita yang gak berkualitas," ujar Darrel yang masih tak dijawab oleh Luna.


"Nah buat SDnya, aku udah kepikiran baal masukin mereka ke yayasan Sanjaya, yang punya kan juga temennya bang Jordan, kamu ingat gak sama cowok yang namanya Johan? Mantannya kak Keysha? Nanti aku bakal minta ke gurunya buat gak terlalu ketat sama Rania karna kesehatannya."


"Aku udah pikirin itu dari lama, dan aku minta kamu snatai tuh bukan berarti aku gak mikirin mereka, aku udah ada rencana mau ngomongin ini sama kamu, tapi nanti aja kalau mereka udah di TK tahap akhir, masih dua tahun lagi kan? Siapa tahu aku atau kamu nemu alternatif lain."


"Kamu sayang sama mereka, aku sayang sama mereka. Tapi wlaau kita sayang dan mau yang terbaik, bukan berarti kira buru – buru nentuin mereka harus ke A, harus ke B, gak bisa sayang, prosesnya tetap harus pelan – pelan. Ini masalah masa depan anak kita lho, sekali slaah masukin, kita udah bikin rumyam sebagian kecil dari masa depan mereka."


Luna langsung berdiri dari duduknya dan berlari ke dalam kamar. Darrel menghela napasnya karna Luna pasti merasa disalahkan dan Darrel memarahi Luna. Padahal lelaki itu tak marah sama sekali, Darrel paham perasaan dan pikiran Luna sebagai Ibu.


"Padahal Gue ngomong juga udah lembut banget, sleembut sutra, masih aja baper. Untung istri gue Cuma satu, coba kalau lima gitu semua, rontok nih kepala," ujar Darrel yang mematikan televisi meski film yang dia tonton belum selesai. Lelaki itu berjalan ke arah kamarnya yang sudah pasti terkunci.


"Sayang, kamu tahu kan pintu I ni bukanya pakai sidik jari kita? Aku masuk boleh gak nih? Atau kamu mau aku tidur di sofa? Kamu minta aku tidur di dapur juga boleh sambil ngemil," ujar Darrel di lubang kecil yang ada di pintu. Darrel mendesain kamarnya kedap suara dengan lubang kecil untuk orang luar agar suaranya terdengar sampai ke dalam.


Luna tak menjawab, membuat Darrel langsung membuka pintu kamar itu dan mendapati Luna yang beridir di balkon, pantas saja Luna tak mendengar suaranya. Setelah memastikan kamar terkunci, Darrel berjalan tanpa suara ke arah Luna. Istrinya itu masih tak menyadari keberadaannya.


Secara tiba – tiba Darrel memeluk Luna dari belakang dan meletakkan dagunya ke pundak Luna, menghangatkan tubuh istrinya dari terpaan angin malam yang tak begitu baik untuknya. Luna sendiri tak menolak, namun dia juga tak menyambut kehadiran Darrel, Luna hanya diam dan tetap melihat ke arah langit yang mendung, dia menikmati pergerakan awan yang menenangkan menurutnya.


"Kalau kamu mau marah, kamu bisa marah sekarang, tapi hal yang harus kamu tahu, aku sayang sama kamu, aku gak mau masalah kayak gini aja bikin hubungan kita dingin. Aku suka yang panas – panas," ujar Darrel yang memeluk luna makin erat, Luna memukul pelan lengan Darrel yang membelitnya karna dia kesulitan bernapas.


"Luna Cuma mau refresh otak Luna, karna Luna ngerasa kak Darrel benar, tapi Luna gak bisa terima, Luna gak tahu kenapa, makanya Luna ke sini aja daripada nanti bertengkar sama Kak Darrel," ujar Luna pelan, Darrel langsung membalik tubuh Luna cepat dan memberikan ciuman panas di tengah suasana yang dingin ini.


"Aku udah bilang, aku gak suka dipanggil 'kak' sama kamu, panggil aku sayang, atau papa juga boleh," ujar Darrel setelah selesai dengan 'pekerjaannya', Darrel melihat bibir Luna yang memerah, Darrel berdecak dan langsung mnggendong Luna, mengajak istrinya itu masuk klagi ke dalam kamar dan menggeser pintu dengan kakinya.


Yah, mereka berakhir dengan saling menghangatkan dan berolahraga malam di tengah cuaca yang dingin, bahkan AC yang menyala tidak bisa menyaingi suasana panas di antara mereka berdua.


*


*


*


" Kakak, jangan nakal sama adiknya dong," ujar wanita muda yang kini sedang duduk sambil memandang tiga anak berusia hampir empat tahun sedang bermain di ruangan itu. Mereka memainkan banyak hal, namun salah satu dari mereka lebih asyik untuk menggoda yang lain sampai akhirnya mereka menangis bersama.


Pemandangan yang sudah biasa Luna lihat, sehingga Luna hanya diam dan membiarkan mereka berhenti menangis, kecuali jika di antara mereka da yang terluka, Luna akan dengan sigap mengobati tanpa memarahi yang lain.


Luna dan Darrel sudah menerapkan parenting yang tidak akan memarahi mereka, Luna dan Darrel memilih untuk mengambil metode menasehati, karna Luna percaya, mereka tetap tahu jika mereka melakukan kesalahan, memarahi atau membentak akan membuat karakter mereka menjadi kasar dan takutnya suatu hari nanti mereka malah tumbuh menjadi pembangkang.


"Yang nakal pokoknya gak dapat hadiah dari Papa." Seorang pria tiba – tiba saja membuka pintu dan melonggarkan dasi yang mncekik lehernya sedari tadi. Mendengar suara itu, anak – anak yang ada di sana langsung menoleh dan berbinar. Dua di antara mereka langsung berdiri dan berhambur ke pelukan ayahnya, sementara yang satu lagi hanya duduk sambil memandang pria itu.


"Kakak mau beli mainan baru lagi, mainan kakak udah jelek dimainin Adik," ujar anak lelaki itu sambil menjulurkan lidah ke satu – satunya perempuan yang ada di sana. Luna sampai harus menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


"Adik mau beli boneka baru lagi, boneka adik kepalanya putus dinakalin kakak."


Itulah jawaban anak perempuan yang berujung saling menyalahkan di antara keduanya. Pria itu tertawa dan mengiyakan permintaan mereka, jangankan mainan, bahkan pria itu bisa membelikan mereka pabriknya sekaligus. Namun fokus pria itu teralih pada anaknya yang hanya diam memandanginya, dia tersenyum melihat anak itu.


"Abang gak minta sesuatu?" tanya pria itu yang dijawab gelengan kepala dari anak kecil itu, hal itu tentu membuat Luna bingung dan menanyakan alasannya. Bukankah anak kecil sangat menyukai mainan dan banyak makanan lezat?


"Abang udah besar, gak mau minta – minta lagi."


Jawaban spontan layaknya orang dewasa itu membuat Luna memandang pria yang berstatus suaminya. Mereka saling pandang dengan wajah cengo untuk beberapa saat sebelum akhirnya tertawa renyah. Mereka tak menyangka memiliki anak – anak ajaib seperti ini.


"Abang Cuma beda 5 menit dari Kakak dan beda 8 menit dari adik. Abang diajarin siapa bisa berpikir seperti tadi? Hahaha," Tanya Luna dengan wajah yang sumringah. Namun anaknya tak menjawb dan hanya tersenyum tipis. Mereka kembali bermain bersama sementara Pria itu duduk di sebelah Luna sambil melepas jasnya.


"Kamu lihat deh, mereka tuh paket komplit, yang satu cengeng, yang satu iseng suka bikin nangis, yang satu lagi dingin tapi dia bertugas nenangin kalau ada yang nangis."


"Iya Sayang, Aku juga gak nyangka mereka satu perut tapi sifatnya bisa beda semua. Ajaibnya perut Aku bisa ngelahirin anak kayak mereka semua," ujar Luna sambil mengelus perutnya yang sudah rata kembali karna diet ketat dan olah raga yang teratur.


"Siapa dulu yang tabur benih, kualitas tinggi tuh," ujar Darrel dengan bangga sambil memeluk Luna di hadapan anak – anak mereka. Mereka memang sengaja menunjukkan keharmonisan di hadapan anak – anak mereka sebagai contoh keluarga harus saling menyayangi.


"Bau banget, mandi gih," usir Luna sambil mendorong tubuh Darrel agar menjauh. Darrel mengangguk dan mencium bibir Luna singkat sebelum akhirnya bangkit untuk membersihkan dirinya. Luna kembali mengamati anak – anak itu dengan senyum yang otomatis tercetak di bibirnya.


Luna kembali mengamati mereka yang bermain, Luna sengaja tak memberikan gadget pada mereka, Luna lebih memilih memberikan mereka mainan yang mengedukasi namun tak membosankan.


Bukan maksud Luna tak mengikuti jaman atau pelit, atau apapun itu, namun Luna merasa jika sejak kecil anak – anaknya diberi gadget, mereka akan melupakan tugas penting mereka, yaitu berinteraksi dengan orang sekitar karna mereka akan terus bermain dengan gadget mereka. Luna tentu tak mau hal seperti itu terjadi di keluarganya.


Darrel datang dan bergabung dengan mereka tak lama kemudian. Lelaki itu hanya memakai kaos polos berwarna putih dan celana pendek. Seragamnya jika sudah berada di rumah. Lelaki itu duduk di sebelah Luna sebentar, mencium dahi bagian samping dan berlalu untuk bermain dengan anak – anak mereka.


"Papa mau ikut main, Ajak Papa main dong," ujar Darrel yang sudah duduk di karpet hngat bersama anak – anak itu. Mereka langsung memberikan Darrel salah satu mainan mereka dan mengajari Darrel cara mainnya, mereka tertawa bersama saat Darrel berhasil melakukan hal lucu selagi bermain.


"Jadi gini rasanya jadi Ibu di keluarga bahagia," lirih Luna sambil melihat anaknya yang bersenda gurau sambil bermain bersama ayah mereka. Luna bersyukur akhirnya dia bisa merasakan menjadi Ibu dari sebuah keluarga kecil (yang sebenarnya besar) meski dia tak pernah tahu kasih sayang Ibu seperti apa.