
Saat berada di perpustakaan, Ravi mencari buku yang menurutnya menarik, namun sebagian besar buku di sini hanya berisi buku tentang pelajaran, tidak ada buku komik ataupun novel. Ravi menghela napasnya dan melihat ke kiri kanan untuk mencari buku lain, dia menyusuri rak demi rak, dan melihat ada beberapa novel di rak paling ujung.
Lelaki itu ingin mengambil buku, namun dia mendengar ada suara aneh di sana. Dia mengikuti suara aneh itu dalam diam, lalu saat menengok, dia terkejut melihat sepasang muda mudi sedang melakukan hal yang tak pantas di sini. Ravi langsung melongo di tempatnya, namun karna dia masih bersembunyi, sepasang orang itu tak tahu jika ada orang yang melihat mereka.
Tak mau ikut campur dengan urusan orang lain, Ravi langsung pergi dari sana untuk segera mencari buku lain. Dia melihat ke aeah katalog dan menemukan ada seri buku kesukaannya di sini, dia pergi ke arah yang ditunjukan oleh katalog dan melihat satu rak penuh berisi buku yang menarik.
"Kok bisa ya ada orang yang mesum di sekolah? Di perpustakaan? Kayak gak punya rumah atau gak sanggup bayar hotel aja, gila gila gila," ujar Ravi sambil mengambil buku yang ada di hadapannya. Lelaki itu terus mengomel pelan karna masih terkejut dengan apa yang dia temukan.
"Lo tahu kan ini perpustakaan? Kenapa brisik banget sih lo?" Tanya seseorang yang ternyata ada di ujung, lelaki itu melihat dan ternyata ada Thea yang sedang tidur di sana. Ravi tak tahu kenapa gadis itu ada di perpustakaan dan tidur, kenapa dia tidak pergi ke UKS? Bukankah kasur di sana jauh lebih nyaman dari tembok di sini?
"Sorry, gue gak tahu lo.. tidur di sini," lirih Ravi yang langsung mengambil buku dan pergi dari sana. Dia tak mau mengganggu Thea yang sedang tidur. Dengan tongkat di ketiaknya dia berjalan pelan pelan dari sana menuju ke meja tempat membaca.
"Lo suka baca buku ya? Gila aja anak STM suka baca buku, kalau gue mah ogah," ujar Thea yang ternyata mengikuti Ravi. Lelaki itu tentu menaikkan sebelah alisnya mendengar hal itu, ada larangan kah bagi anak STM untuk tidak atau ingin membaca buku? Kenapa gadis itu sangat aneh?
"Lo sendiri, ini perpustakaan, tempat orang baca buku, lo ngapain di sini?" Tanya Ravi yang membuat Thea terkekeh. Dia langsung duduk di hadapan Ravi dan menundukkan kepalanya, lalu tak lama menyenderkan kepalanya di meja, entah kenapa dia merasa sangat mengantuk dan lelah saat ini, dia igin beristirahat untuk waktu yang cukup lama.
"Ah, lupa gue, jawabannya udah gue batin tapi belum gue omongin. Yah, karna kalau gue tidur di uks, gue bakal ketahuan sama guru yang muter, tapi kalau perpus gak bakal, nyatanya ada oeang yang mesum juga berani kan mereka? Ya karna mereka tahu, gak akan ketahuan juga," ujar Thea yang membuat Ravi terkejut, namun entah mengapa dia juga setuju dengan apa yang dikatakan Thea.
"Eh, lo kan kakak kelas gue ya, kok lo bisa santai aja sih? Bukannya kalau kakak kelas itu lebih banyak pelajarannya?" Tanya Ravi yang membuat Thea terkekeh. Kenapa dia harus takut? Toh kebanyakan guru di tempat ini tak segan mengatrol nilai siswa yang tak tuntas hanya untuk akreditasi.
"Lo pintar? Lo cekatan? Lo bakal kalah sama yang cari muka ke guru, tuh guru bakal kasih nilai tambah buat anak yang cari muka dengan alasan sopan. Halah, sopan sopan suka jilat orang," ujar Thea yang membuat Ravi tak puas mendengar jawabannya.
"Lah? Mending dong, dia gak pintar tapi dia cari muka buat bisa dapat nilai. Nah elu? Ngapain? Sekolah kagak, cari muka kagak," ujar Ravi tak ragu. Thea langsung tersentak mendengar hal itu, dia juga baru memikirkan hal itu, benar juga. Jika dia tak mau mencari muka, paling tidak dia harus benar benar pintar.
"Ah, lo telat ngomongnya. Udah gak bisa diperbaiki lagi nilai nilai gue. Lagian gue masuk sini juga karna nilai gue gak cukup buat sekolah umum, jadi daripada gue masuk ke sekolah umum yang gak jelas, mending gue masuk sini aja deh, lebih kelihatan tinggi nilai gue di sini," ujar gadis itu tanpa dosa.
"Ya udah, karna lo udah terlanjur nih masuk sini, lo harusnya bisa belajar walau dikit dikit, daripada kagak sama sekali, lebih tidak berguna sayang, yang ada kagak lulus lo dari sini, jadi mending lo mulai ubah pola pikir itu, paling gak lo masih ada 1 tahun ngejar sebelum di kelas 12 isinya cuma kebut kebutan," ujar Ravi yang membuat Thea terdiam.
"Lo gak usah gampang panggil orang sayang sayang, jijik tahu gak," ujar Thea yang langsung pergi dari perpustakaan dan meninggalkan ruangan itu. Ravi terkejut dengan sikap Thea dan langsung mengembalikan buku yang dia pegang dengan asal, menyusul Thea untuk mencari penjelasan kenapa gadis itu tiba tiba marah padanya.
"Tunggu, lo gak suka dibercandain gitu? Oke, sorry, hei, astaga, kaki gue lagi cacat jangan main kejar kejar, ******," teriak Ravi kesal karna dia sangat kesulitan berjalan, namun Thea tampak tak peduli, membuat lelaki itu menyerah dan membiarkan Thea pergi entah kemana. Dia duduk di sebuah bangku yang ada di sana untuk meluruskan kakinya yang terasa pegal.
"Gila ya cewek aneh, kenapa coba dia ribut banget cuma dibercandain gitu? Apa dia takut baper sama gue? Wuih, ternyata kegantengan gue masih gak ada duanya. Gue benar benar deh," ujar Ravi menghibur dirinya dan langsung pergi dari sana lagi, dia memutuskan untuk kembali ke kelasnya karna tak tahu mau melakukan apa, namun saat hendak berbelok ke lorong kelasnya, dia akhirnya melihat Thea, gadis itu tampak naik ke arah atap sekolah. Entah apa yang akan dia lakukan.
"Wah, jangan bilang dia mau bunuh diri karna gue panggil dia sayang? Wadoh, bisa hutang nyawa gue sama arwah dia," gumam Ravi yang pelan pelan mengikuti Thea, meski dia tahu itu berbahaya untuknya, namun dia ingin memastikan gadis gila itu tidak melakukan sesuatu yang melebihi batas gilanya.
"Kenapa sih orang kalau lagi depresi mainnya ke atap? Pergi ke taman kek, ke kantin kek, ini malah kayak orang mau bunuh diri," lirih lelaki itu yang masuk tidak bisa membayangkan alasan orang orang memilih balkon lantai atas atau bahkan atap sebagai tempat untuk healing, karna dia sendiri tidak suka kegiatan yang membosankan.
Setelah mengikuti kemana Thea pergi, dia menaiki tangga satu persatu, membawanya ke sebuah pintu dan dia langsung membuka pintu itu. Dia bisa melihat Thea berdiri di tepi pagar pembatas dengan mata yang terpejam. Ravi tentu saja merasa panik, dia langsung berlari dengan kali pincangnya dan menarik Arthea menjauh.
"Sakit banget, gila, ini sakit banget, aarrghh," ujar Ravi yang sudah mendorong Thea untuk menjauh. Gadis itu tentu bingung harus melakukan apa, namun saat dia hendak pergi mencari bantuan, Ravi melarangnya untuk pergi, dia tak mau orang salah mengira mereka melakukan apa apa di sini dan malah nanti menjadi masalah baru bagi mereka.
"Maaf, gue gak tahu kalau bakal nimpa gitu, sumpah, gue gak tahu, lagian lo kenapa datang datang narik gue gitu sih? Gila ya lo?" Tanya Thea dengan kesal. Ravi tentu juga ikut kesal karna gadis itu meminta maaf, namun tetap saja menyalahkannya untuk apa yang terjadi, padahal Ravi hanya berniat untuk membantu Thea yang hendak bunuh diri.
"Gue? Bunuh diri? Yang benar aja lo kalau ngomong. Gue gak ada niat mau bunuh diri njir. Gue juga sayang sama nyawa gue yang berharga ini, hiduo gue yang bahagia dan wajah gue yang cantik. Lo gila kalau ngira gue bakal bunuh diri tanpa alasan," ketus Arthea uang menjadi kesal karna alasan tak masuk akal itu.
"Ya gue mana tahu lo gak berniat? Kan dari jauh kelihatannya begitu. Lo saiko banget sih sampai begitu? Kenapa lo gak pergi makan ke kantin atau ngapain gitu yang lain? Kenapa pergi ke atau yang penuh debu ini dan kayak orang depresi begitu?" Tanya Ravi yak habis pikir. Arthea tentu saja tidak terima dibilang sebagai orang yang depresi. Padahal dia tak pernah meminta Ravi untuk menolongnya.
"Lo yang bikin asumsi, lo yang salah, lo yang marah? Gila! Peran gue sebagai cewek lo ambil ya? Gak mau salah banget," ketus Arthea yang membuat Ravi menyadari kesalahannya. Memang sejak awal dia yang berasumsi tentang hal yang dia lihat. Dan hal itu malah membuat kakinya jadi sakit kembali. Entah kenapa Ravi merasa kebodohannya kali ini cukup keterlaluan karna dia sampai harus mengalami hal ini.
"Ya udah, lo sekarang kasih tahu gue kenapa lo sampai ke tempat ini dengan suasana begini? Kenapa lo tadi tiba tiba amrah gue bercandain dan kenapa lo langsung pergi gitu aja gak pakai menjelaskan apa apa ke Gue? Kenapa?" Tanya Ravi yang membuat Thea menatap ke arahnya dengan tatapan sedih.
"Gue gak suka cowok yang gatel. Yang langsung genit atau panggil sayang ke cewek sembarangan. Gue bukannya baper atau gimana gue justru benci dan jijik sama orang yang begitu. Kakak gue, dulu punya pacar dan dia bucin banget, ternyata cowoknya busuk, dia bikin hamil kakak gue dan pergi gitu aja. Alhasil kakak gue depresi dan bunuh diri."
"Separah itu? Gue gak mau judgement mental orang, tapi dia gak minta tolong atau cerita ke kalian kah?" Tanya Ravi yang dijawab gelengan kepala oleh Thea. Dia jugs sangat menyesal tidak punya waktu untuk kalaknya. Dia dulu tidak seperti ini, namun kematian kakaknya membuat orang tuanya berubah dan dia perlahan ikut berubah ke arah yang tak baik pula.
"Kakak gue selalu pendam apa yang dia rasa. Dia ngerasa karna dia anak pertama, dia gak boleh bikin repot gue atau bapak ibu, tapi masalah itu mungkin terlalu berat buat dia, dia anak yang taat, tapi merasa udah bikin malu keluarga, jadi dia frustasi dan akhirnya malah memutuskqn buat bunuh diri, dia gak mau bikin beban, dia gak tahu kalau yang dia lakukan malah bikin keluarga tambah hancur."
"Maaf udah buka luka lama. Gue gak tahu cara bercanda gue bikin lo sesakit itu, maaf," ujar Ravi merasa tak enak. Thea mengangguk santai karna dia pun merasa tidak semua kesalahan lelaki itu, mungkin memang bagi orang lain itu hal yang biasa, namun Thea sendiri yang membuat kata kata itu seperti menyulut emosinya. Gadis itu mencoba untuk tenang, menutup mata dan menikmati semilir angin yang berhembus. Ravi melihat gadis itu dan menirukan apa yang gadis itu lakukan.
"Gue jadi paham kenapa orang suka melakukan ini, rasanya kayak kita bisa bernapas lebih lega dari biasanya. Pantas aja Rashi suka sendirian di balkon gak tahu ngapain," ujar Ravi tanpa sadar. Dia membuat Arthea menengok dan menyadari Ravi melakukan persis yang dia lakukan.
"Rashi siapa?" Tanya Arthea penasaran, Ravi memang tak pernah mengungkit nama saudaranya, siapapun itu karna dia merasa itu tidak perlu dilakukan. Rashi dan Rania pun melakukan sesuatu yang sama, kecuali Adlan dan Alena, tidak ada yang tahu tentang keluarga mereka. Ravi menimbang apakah dia perlu memberi tahu Arthea, namun dia merasa itu tidak perlu dilakukan.
"Abang gue, begitulah, dia emang pendiam banget. Tapi ya sebenernya gak diem diem amat sih," ujar Ravi dengan bingung. Dia tidak pandai mendeskripsikan Rashi karna mereka sudah terlalu sering bersama, jadi Rashi tidak diam padanya, namun untuk orang yang tak mengenal mereka, pasti menganggap Rashi sangat pendiam.
"Ya jadi, dia pendiam banget atau enggak banget nih? Beda berapa tahun sama lo? Ganteng gak?" Tanya Arthea berturut. Ravi langsung memandangnya dengan sinis, dia tidak menyangka Arthea langsung menanyakan hal itu, meski sebenarnya itu hal yang umum untuk perempuan menanyakan soal lelaki tampan, namun tetal waja Ravi merasa aneh.
"Pendiam banget kayak patung. Beda 20 tahun, lebih ganteng gue. Lagian juga lo ngapain tanya tanyanya begitu? Lo mau dijodohin sama abang gue?" Tanya Ravi ketus. Arthea tertawa melihat Ravi yang sewot, padahal dia hanya basa basi saja, melihat kakaknya yang begitu patah hati membuatnya enggan untuk memiliki kekasih.
"Kapan kapan deh gue kenalin, dia emang pengen punya cewek yang rame karna kalau sama cewek pendiam, takut kalau nanti rumahnya rasa kutub utara. Kalau lo mau, besok deh main ke rumah gue, ketemu sama abang gue," ujar Ravi yang membuat Arthea menggelengkan kepalanya.
"Gak lah, gue gak minat sama cowok," ujar Thea dengan santai.
"HAHH??!!"