
"Aku kira, kalian tidak saling kenal. Aku tidak menyangka jika dia adalah saudara kembarmu," ujar Alena yang sudah mulai membuka diri pada Rania. Sesuai janji, Alena main ke rumah Rania saat selesai pengumuman tahap pertama. Alena sangat kaget dan kagum melihat rumah Rania yang bak istana, megah sekali, bahkan banyak memiliki asisten rumah tangga.
"Ya, aku emang gak mau ada yang tahu, biar aku sama Rashi bisa hidup damai, termasuk kondisi keluarga aku, aku gak mau ada yang tahu. Jadi tolong jangan kasih tahu siapa siapa ya soal ini. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku tinggal di rumah seperti ini," ujar Rania yang tentu saja membuat Alena bingung.
"Ini bukan hal yang membuat malu? Kau datang dari keluarga yang sangat kaya, dan kenapa kamu malu untuk mengakui hal itu?" Tanya Alena yang dijawab tawa ringan oleh Rania. Tentu saja Rania tidak mau, tapi dia merasa bukan hal bijak jika semua orang mengenalnya sebagai anak dari Luna dan cucu dari kakek Smith yang berkuasa di keluarga Wilkinson.
"Ya, memang, tapi aku tidak mau punya teman yang hanya memandang hartaku. Sepertinya semua orang juga inginnya begitu kan? Siapa yang mau berteman dengan seseorang yang bahkan hanya melihatmu dari uang? Sepertinya menyedihkan," ujar Rania yang dipahami oleh Alena.
"Aku mengerti, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Tapi, bukankah percuma jika aku diam dan Rashi malah membuat pesta? Bukankah itu lebih mengekspose keluarga kalian? Pasti semua orang akhirnya akan tahu jika Rashi dari keluarga kaya," ujar Alena yang disetujui oleh Rania, terkadang, kaki dan mulut Rashi bergerak lebih cepat dari otaknya.
"Biarlah, biasanya dia ngerasa kalau yang dia lakukan salah setelah melakukannya. Jadi ya nanti dia pikirin aja gimana caranya biar tetap bisa undang orang tapi gak bikin dia terekspose. Ah anyway, mau makan dulu mau langsung aku make over?" Tanya Rania yang tak mau membahas lebih lanjut masalah ini, biarlah itu menjadi urusan Rashi.
"Eum, terserah deh, aku kan tamu di sini, gak enak juga kalau aku yang nentukan," ujar Alena yang diangguki oleh Rania. Mereka berjalan ke kamar Rania. Alena kembali dibuat terkesan oleh Desain kamar yang sangat Girly, tertata rapi dan Indah. Yah, memang jika orang kaya bisa melakukan apa yang mereka mau, termasuk desain kamar.
"Kamu mau camilan apa?" Tanya Rania memegang telpon rumah. Alena tentu tidak tahu ada apa saja di rumah ini, dia bingung harus menjawab apa. Namun Rania menjelaskan jika di rumah ini ada chef yang bisa memasak apapun yang mereka inginkan.
"Wah, bisa seperti itu? Tapi, aku masih tidak tahu mau apa, terserah kau saja," ujar Alena yang diangguki oleh Rania. Gadis itu menelpon dan meminta beberaoa camilan dibawakan ke kamarnya. Dia kembali fokus pada Alena setelah panggilan ditutup. Namun baru saja dia akan duduk, pintu kamarnya diketuk.
"Apaan?" Tanya Rania saat membuka pintu dan mendapati Ravi ada di sana sambil mengintip ke dalam kamarnya. Ravi langsung mendorong Rania dan masuk ke kamarnya. Meski marah, Rania tidak bisa mencegah kakak kembarnya untuk masuk, karna Rania tahu, Ravi tidak akan pernah mendengarkannya dan akan tetap menerobos masuk meski sudah dilarang.
"Alena. Wow, kamu beneran ke sini. Hati hati, Rania itu emang pintar dandan, tapi belum tentu dia bisa make over kamu yang udah cantik. Sebenernya gampang, kamu tinggal ganti gaya rambut, dan setelah itu pasti udah cantik," ujar Ravi yang membuat Rania kesal. Anak itu sudah keterlaluan karna mengganggu tamunya.
"Kak, mending Kak Ravic keluar dari kamar atau nanti aku panggil mama, lagi males banget nih aku ngadepin kakak, mending kakak keluar. Kayak kak Rashi kek, gak suka ikut campur," ujar Alena dengan kesal. Namun tampaknya omelan itu tidak bisa mempengaruhi Ravi yang masih fokus pada Alena, sedangkan Alena hanya menunduk dan tak nyaman diperlakukan seperti itu.
"Heh, kalau itu orangnya udah gak nyaman, jangan dipaksa nanti malah kak Ravi dilaporin ke polisi loh, kasus pelecehan itu. Udah ah sana, sibuk banget sih sama urusan perempuan. Sana main basket atau apa kek, gak usah usil," ujar Rania yang membuat Ravi menyerah. Dia berhenti menganggu Alena dan berdiri, menatap Rania dengan tatapan marah dibuat buat.
"Apa apa ngadu ke Mama. Jangan jadi tukang ngadu, gak baik. Lagian aku juga gak ngapa ngapain kok, aku kan mau membuktikan, kata Rashi dia aneh dan gak banyak ngomong, tapi menurutku enggak, jadi aku mau buktikan. Udah, cuma itu," ujar Ravi yang membuat Rania melotot. Ravi sepertinya lupa masih ada Alena di sana.
"Alena, maaf ya, gak bermaksud apa apa, tapi emang Rashi itu keterlaluan sekali gak suka sama orang, dia bakal anggap orang itu aneh atau penganggu. Tapi karna aku udah lihat kamu enggak, berarti Rashi aja yang lebay. Maaf ya, kalian lanjut, mau main basket aja ah," ujar Ravi yang langsung berjalan ke arah pintu keluar kamar Rania.
"Ck, sekolahnya gak ada kegiatan atau gimana sih? Kok ya isinya main main terus," cibir Rania pada kakaknya itu. Ravi tidak peduli, dia bahkan tidak menjawab dan langsung keluar dari kamar, sengaja membiarkan pintu tetap terbuka dan berlari dari sana. Rania melongo melihat kelakuan Ravi yang tentu saja sengaja.
"Heh!! Awas ya! Aku laporin mama beneran! Aaahh!" Teriak Rania kesal, dia lupa ada Alena di sana, namun dia malah berteriak sangat keras. Dia paling benci dengan orang yang tidak menutup pintu, namun Ravi sepertinya suka sekali memancing amarahnya dan melakukan semua hal yang Rania benci.
"Ah, maaf ya, Ravi kalau gak digituin gak bisa sadar. Maaf jadi teriak teriak. Aku ambilin alat alat aku dulu ya, baru kita mulai. Kamu pasti makin cantik setelah ada beberapa hal yang aku ubah," ujar Rania yang diangguki oleh Alena. Dia menunggu dengan sabar sambil memainkan bajunya. Dia tidak begitu kecanduan dengan gadget, jadi dia melakukan hal lain saat bosan.
"Eh tapi, emang bener ya yang dibilang Ravi dama Rashi? Kamu pendiam? Tapi kok kayaknya enggak ya, aku ngajak ngobrol ya enak enak aja kok," ujar Rania bingung. Alena tersenyum mendengar keheranan itu. Dia tahu semua orang juga akan berpikiran sama melihat gadis yang pendiam tiba tiba saja aktif bicara. Padahal mereka yang tidak mengerti apa penyebab gadis itu menjadi diam, mereka hanya tahu, gadis itu diam.
"Aku bicara sama orang yang perlu aku ajak bicara. Di sekolah itu, satu tahun lebih aku gak punya teman, cuma karna sepatu aku gak bermerk mahal. Mungkin kalau aku gak jadi akselerasi, aku satu angkatan sama kamu, dan aku bisa jadi punya teman," ujar Alena yang membuat Rania takjub.
"Akselerasi? Jadi kamu umurnya sama kayak aku? Ah, syukurlah, aku jadi gak berdosa kalau manggil kamu Alena. Wah, ternyata kamu beneran cerdas ya bisa masuk kelas akselerasi juga," ujar Rania kagum. Alena menggaruk lehernya dan tertawa canggung, membuat Rania yakin, pasti jawabannya bukan jawaban yang tepat, ah, mungkin saja orang ini seperti Ravi.
"Hmm, melihat wajah kamu, aku jadi bisa nebak kalau kamu Aksel bukan karna mau atau merasa pintar, tapi kamu malas sekolah lama lama, jadi pengen cepat lulus," tebak Rania yang membuat Alena mengangkat wajahnya, dari ekspresinya, Rania tahu tebakannya kali ini benar. Dia tertawa geli melihat wajah Alena, gadis itu tampak bingung kenapa Rania bisa menebak dengan lancar dan akurat.
"Makasih udah mau percaya sama aku, anggap aku teman kamu dan bahkan cerita masalah ini ke aku. Aku senang kita bisa berteman. Semoga akan selalu seperti ini sampai ke depannya," ujar Rania yang diangguki oleh Alena. Rania tidak mau berlama lama lagi, dia langsung mengambil kaca besar dan meletakkannya di depan Alena. Dia membuka rambut yang menutupi wajah gadis itu dan berdecak kagum. Alena memiliki kulit wajah yang sangat sehat dan bagus.
"Skincare kamu apa deh? Kok bagus banget sih kulitnya? Aku juga mau," tanya Rania sambil menjepit rambut Alena. Sesuai yang dikatakan oleh Ravi, dia memang ingin mengubah gaya rambut Alena yang aneh, dia ingin memperlihatkan wajah Alena yang cantik, sayang sekali wajah secantik ini harus terus disembunyikan entah apa alasannya.
"Aku dokter sih, dan emang kayak diracik buat kondisi kulit aku, setiap bulan ganti juga. Jadi ya aku gak tahu ya merknya apa. Yang jelas udah aman, kau juga kenal dokternya. Kalau kamu mau, aku ajak juga," ujar Alena yang diangguki oleh Rania, namun dia tidak berpikir bisa ikut melakukan perawatan dengan gadis itu.
"Yah, pengen sih, tapi Mama aku galak banget masalah begini, jadi gak bakal boleh, apalagi udah ada dokter keluarga juga di rumah ini, jadi ya gak bakal boleh pakai dokter luar. Mungkin lain kali kalau mama aku udah gak segalak sekarang," ujar Rania yang membuat Alena terkekeh pelan, sangat pelan dan sebentar.
"Mamamu orang baik kok, ramah pula. Tadi ketemu sebentar aja udah seramah itu, kalau kenal lama pasti lebih ramah lagi. Kamu beruntung punya orang tua yang baik dan pengertian, kaya pula. Hidup kamu ini impian banyak anak di luar sana," ujar Alena panjang lebar, Rania tahu akan hal itu, namun dia tidak begitu nyaman membahas kekayaannya.
"Haha, kalau Rashi tahu kamu ngomong sepanjang ini, dia bakal kaget, kalau aku cerita, dia gak akan percaya," ujar Rania yang kembali membuat Alena merasa malu. Rania meminta ijin untuk memotong Rambut Alena menjadi pendek dan Alena menyetujuinya. Dia membiarkan Rania melakukan semua yang dia pikir bagus, yah, tidak mungkin juga Rania hanya mau mengerjainya.
Satu jam berlalu, akhirnya potongan rambut sudah jadi. Alena tampak sangat luas dengan hasilnya. Rambut ini membuat wajahnya lebih terlihat dan menonjol, serta tampak berkelas. Dia tidak menyangka Rania akan sepandai itu dalam mengubah rambut serta image yang menempel di tubuhnya selama ini.
"Nah, kalau rambutnya begini, make upnya begini," ujar Rania yang membubuhkan fondation ke wajah Alena. Warnanys mencolok, Rania sengaja memilihnya agar nanti wajah Alena tidak terlihat gelap, dia sudah biasa melakukan metode ini pada dirinya atau orang lain. Dan sejauh ini semua berhasil.
"Ran.." pintu kamar Rania terbuka, memperlihatkan Rashi yang masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk dan terdiam melihat Rania dan Alena yang duduk di karpet. Lebih terkejut lagi dengan wajah Alena yang sangat 'menyeramkan' seperti ingin cosplay sebagai kuntilanak. Rashi menggelengkan kepalanya untum menyadarkan dirinya dan langsung menatap ke arah Rania.
"Kamu mau undang anak anak kelas kamu gak? Kalau iya, kamu ngomong yang adain pesta itu Adlan ya. Aku gak mau jadi mencolok kalau mereka tahu pesta itu aku yang ngadain. Oke? Terima kasih," ujar Rashi yang langsung keluar lagi dari dalam kamarnya, namun tak lama Rashi kembali masuk dan kini menatap ke arah Alena.
"Lo juga ya kak, kalau mau undang, mending ngomong pesta itu Adlan yang buat. Jadi mereka gak tahu kalau gue yang udah bayar semua, gue gak mau mereka jadi norak dan malah mau ngedekatin gue terus. Ah ya, Ran, pas pesta lo dekat sama gue pokoknya, mereka harus tahunya lo itu pacar gue, biar gak ada yang berani dekat dekat."
Rania mengangguk saja, tidak rugi dengan permintaan itu. Toh memang dia akan menempel pada Darrel karna dia tidak mengenal orang orang yang ada di sana. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di pikiran Rania tentang ide Rashi ini.
"Emang udah ijin sama Papa Mama? Dibolehin sama Mama pakai taman depan sana? Karna kalau mama biasanya bakal nyuruh di rumah ini aja," ujar Rania yang diangguki oleh Rashi, tentu saja dia tahu Mamanya yang akan ribet dan membiarkan semua orang itu masuk ke rumah ini.
"Pestanya di rumah Adlan, tapi semua yang berbuhungan sama pesta aku yang bayar. Terus juga aku gak bilang ke Mama, tapi ke Papa dan Papa oke, malah ditambah duitnya. Jadi jangan berani berani ngomong ke Mama, biar aku yang ngomong sendiri. Oke? Bye," ujar Rashi yang langsung menutup pintu kamar Rania, meninggalkan Rania dan Alena yang saling pandang.
"Yah, begitulah Rashi, dia selalu bisa nemu jalan keluar buat masalah yang dia buat sendiri. Makanya sampai sekarang jadi anak emasnya Papa. Walau dia yang buat masalah, setidaknya dia bisa tuh bikin masalah itu kelar, Papa bakal tetap bangga sama dia," ujar Rania sambik tertawa pelan.
"Rashi di rumah ngomong sebanyak itu?" Tanya Alena heran, karna beberapa hari mereka melakukan persiapan LCC, tidak pernah Rashi bicara sebanyak itu padanya atau pada Adlan yang terus mengoceh. Melihat Rashi bicara banyak membuatnya sedikit terkesan dan jadi penasaran.
"Yaps, dia emang banyak omong kalau lagi perlu, kalau enggak ya enggak. Anaknya paling gak asik dan paling beda dari aku atau Ravi, begitulah pokoknya," ujar Rania yang tidak bisa mendeskripsikan dengan baik. Dia juga tidak begitu suka memperkenalkan Rashi pada gadis lain, takut jika mereka akan berakhir bersama dan Rania kehilangan saudara kembarnya.
"Nah, udah jadi, ini make upnya. Lihat deh," ujar Rania saat sudah selesai dan membiarkan Alena untuk melihat ke arah kaca. Alena takjub dengan perubahan ini, dia tampak lebih segar dan cantik, make up yang dibubuhkan sangat mewah dan terkesan mahal, ah jadi merasa sayang jika harus menghapusnya nanti.
"Besok pas party make up begini aja. Kalau sekolah kan gak mungkin. Pasti teman teman di sekolah semua kaget ngelihat kamu yang begini," ujar Rania yang membuat Alena tertunduk malu, namun dia kembali mendongak dan melihat bayangannya di cermin itu lagi. Bahkan dia merasa jatuh cinta pada dirinya sendiri.
"Makasih ya Rania," ujar Alena setelah beberapa saat terdiam.
Rania senang, langkah sederhana ini membuatnya bisa punya teman baru, apalagi temannya sebaik dan secantik Alena.