Dear Happiness

Dear Happiness
Chapter 26



"Kalian adalah tim, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan mempelajari masing – masing teori dan rumus meski itu bukan bidang kalian. Jadi Adlan, kamu harus bisa rumus kimia dan fisika dan kamu Rashi, kamu harus bisa juga rumus matematika, kalian harus saling bantu dan saling mengajari." Rashi mengangguk paham dan menatap ke arah Adlan.


"Lo tenang aja, Gue bakal ajarin semua rumus yang Gue bisa, semua rumus yang Gue tahu. Lo pasti bisa jadi pintar matematika. UN gue waktu SMP 9.75 loh," ujar Adlan yang membuat Rashi tersenyum miring. Anak ini snagat tengil, meski sombong, namun Rashi bisa melihat tidak ada maksud seperti itu dari anak ini. Dia hanya terlalu bangga pada dirinya dan ingin akrab dengan Rashi.


"Tolong ya, gak usah sok akrab, gak usah sok pintar juga, bukan Cuma Lo kok yang pintar matematika di sini," ujar Rasahi yang membuat Adlan terdiam. Dia menjadi takut berhadapan dengan Rashi, dia tak mau bertengkar dengan anak ini.


"Ah iya, ini kan matematika, Ipa, Bahasa. Yang bahasa siapa ya? Apa adik Lo? Adik Lo pintar kan?" tanya anak itu yang membut Rashi menatapnya tajam. Tak ada yang tahu nilai mereka di sekolah ini. Mereka menutup rapat identitas mereka demi mendapat ketenangan di sekolah ini.


"Sebenarnya Lo siapa? Lo kenal sama Gue dan Rania? Lo penguntit?" tanya Rashi dengan tatapan curiga. Aldan terkekeh melihat ekspresi Rashi yang tampak sangat garang. Adlan lalu mengubah nada bicaranya jadi serius, dia menatap Rashi dan mendekat ke arah anak itu. Rashi pun segera memundurkan kepalanya karna Adlan.


"Lo ingat anak gendut yang bertahun – tahun lalu main ke rumah Lo? Ngajarin Lo sama Ravi renang. Gue terobsesi sama kecantikan Rania dan dia juga teman les renang Gue, tapi setelah itu Gue harus pindah dan kalian gak bis akontak Gue sama sekali," ujar Adlan yang membuat Rashi mengerutkan keningnya.


"Ahhh, Kiky yang gendut itu? Lo kenapa pergi gak pamit – pamit? Itu pertama kali Gue punya temen loh, eh malah Lo gak lama," ujar Rashi yang mendadak jadi ramah. Adlan sedikit terkejut dengan keramahan itu, namun dia segera mengubah ekspresinya menjadi biasa. Dia memiliki banyak hal untuk diceritakan, namun kini mereka harus belajar.


"Lo tenang aja, Gue itu gak bodoh matematika, Gue udah hafal semua rumusnya, tinggal nalar aja juga Gue bisa, santai aja. Sekarang Lo cerita sebelum Gue males ngomong,"ujar Rashi yang membuat Adlan melirik ke arah lain. Rashi mengikuti arah pandang itu, ternyata ada seorang gadis yang berdiri di samping Rashi.


"Kalian tim cerdas cermat kan? Aku Alena, anak kelas sebelas IPS, aku perwakilan dari kelas bahasa buat LCC kali ini," ujar gadis itu memperkenalkan diri dengan kaku dan senyum yang kikuk. Rashi mengerutkan keningnya mendengar perkenalan yang buruk itu. Namun Adlan dengan ramah meminta gadis itu duduk di sebelah Adlan.


"Sini mbak, duduk sini aja, jangan sama dia, dia suka gigit kalau ketemu orang baru. Maklum, belum kenal baunya," ujar Adlan yang langsung membuat Rashi mengetuk kepalanya. Lelaki itu menatap Adlan dengan tajam dan langsung fokus dengan bukunya. Tak mengatakan sesuatu lagi, padahal tadi dia yang penasaran dengan cerita Adlan.


Tak lama guru yang bertugas membimbing mereka datang membawa soal soal olimpiade yang dulu pernah keluar dalam soal. Rashi melihat soal itu dan menelitinya sebentar, sementara Adlan manggut – manggut saja tanda paham dengan maksud soal yang ada di lembaran kertas itu. gadis yang ada di sebelah Adlan juga tampak fokus dengan soal yang dia bawa.


"Oke, karna bentuk soaalnya diacak kayak gini. Kita bagi tiga lembar. Terus nanti kita tetap ngerjain bidang masing – masing. Kita bagi waktu, misal tiap satu jam sekali, nah nanti kita lukir lembarnya biar bisa ngerjain juga," ujar Rashi yang diangguki oleh gadis itu, namun tidak dengan Adlan.


"Gak ada yang milih Lo buat jadi leader, kenapa Lo yang memutuskan buat semua?" tanya Adlan dengan nada tinggi. Rashi mengedikkan bahunya dan meletakkan kertas yang dia pegang dan melihat ke arah guru yang ada di hadapan mereka. Guru itu mengangguk – anggukan kepalanya.


"Kenapa saya gak kepikiran tentang itu ya. Dari dulu hanya sampai bagian dibagi tiga, tapi saya lupa sama bagian kerjakan saja apa yang kita bisa. Dengan begitu bisa fokus pad abidang yang dikuasai. Ah, kamu cerdas, kalau gitu kamu saya pilih jadi pemimpinnya, kamu harus bisa bawa kemenangan buat tim kamu ya," ujar guru itu yang membuat Rashi tersenyum ke arah Adlan.


"Pak, tapi saya juga udah kepikiran ide itu kok pak, kenapa dia yang jadi leader tim? Mending kakak kelas ini lah pak, secara usia juga udah bagus buat jadi leader," ujar Adlan yang dijawab gelengan kepala oleh guuru itu.


"gak bisa gitu. Kenapa kamu gak lanagsung katakan apa ide kamu? Kenapa harus nunggu orang lain mengungkapkan. Pemimpin itu harus bisa berpikir cepat dan tanggap. Kamu mungkin memikirkan ide itu, tapi kamu gak cepat dan tanggap, kamu nunggu panduan saya. Memang sudah benar Rashi yang jadi pemimpin di sini," ujar guru itu yang membuat Adlan tak bisa berkutik.


Mereka kemudian coba menyimulasikan perkataan Rashi. Mereka mengerjakan soal yang ada di tangan mereka dan membagi per orang sepuluh lembar, ditambah ada lima lembar tersisa di meja. Mereka segera mengerjakan apa yang bisa mereka kerjakan semetara guru itu mengawasi sambil melihat sudah berapa lama waktu berjalan.


"Swap." Adlan berdecak, namun dia tetap memberikan kertas yang dia pegang pada Rashi, Rashi pada Alena dan Alena pada Adlan. Rashi melirik tajam ke arah Adlan yang bahkan tak menjawab semua bidang yang dia kuasai. Lelaaki itu mengerjakan soal miliknya dengan lebih cepat dan mencicil soal yang harusnya dikerjakan oleh Adlan.


"Swap." Guru itu berkata lagi setelah setengah jam. Mereka segera memutar soal yang mereka pegang dan mengerjakannya sampai waktu selesai. Rashi akhirnya bisa bernapas sete;ah waktu habis. Sementara Adlan langsung menjambak rambutnya setelah selesai mengerjakan. Dia tak begitu ingat sebagian besar rumus yang dipakai.


"Oke, karna ini pertama kali kalian mengerjakan, jadi nilai tak begitu penting. yang jelas kita sudah ada strategi untuk mengerjakan dnegan cepat. Setelah ini kalian bisa kembali ke kelas kalian. Besok saya akan siapkan materi dan rumus yang akan kalian pelajari. Jangan lupa, satu minggu lagi kita akan ikut pelatihan bersama dengan panitia pusat, saya harap kalian bisa mengembalikan surat yang saya berikan dengan pernyataan setuju."


Rashi memasukkan kertas itu ke dalam tasnya dan kembali ke dalam kelas. Dia ingin bertemu dengan Rania, namun mereka berbeda kelas dan sangat jauh. Dia penasaran apa yang akan Rania katakan jika Kiky si gendut ada di antara mereka.


Lelaki itu kemudian kembali memikirkan apa yang dia lalui hari ini. Hari ini dia bertemu dengan seorang gadis yang culun, berkaca mata, dan dia yakin gadis itu tak memiliki teman. Namun otaknya cukup cerdas bisa mengetahui jawaban dari soal yang sangat panjang itu. itulah mengapa dia tidak menyukai pelajaran bahasa, terlalu banyak kata sangat membosankan.


"Rashi, waktu tadi Lo pergi buat latihan, ada guru fisika yang masuk dan bagi kelompok. Lo satu kelompok sama Gue, tugas kita buat meneliti nyamuk. Kita diminta buat nangkap nyamuk dengan organ yang utuh, jadi gak bisa kita clap clap," ujar orang itu yang membuat Rashi melongo.


"Nyamuk? Harus?" tanya Rashi dengan wajah tak enak. Lelaki itu malas mendapat tugas yang aneh – aneh, tapi dia sudah mendapat tugas yag sangat aneh di minggu pertama sekolahnya. Biasanya guru menggunakan satu minggu untuk perkenalan bukan? Ada apa dengan guru ini? dengan sekolah ini?


"Iya lah, Lo minggu depan bakal pergi kan? Jadi kita harus dapat nyamuk sebelum itu, nanti Gue yang neliti, Lo yang buat laporannya, gue kirim isi laporan, Lo rapihin, baik kan Gue, gitu aja udah dapat nilai Lo," ujar orang itu yang sama sekali tak membuat Rashi merasa terkesan.


"Kalau gue pergi Lomba, gak mungkin nilai Gue jadi jelek. Yang ada tambah nilai, apalagi kalau menang," ujar Rashi dengan wajah datarnya. Orang itu berdecak, mengaku kalah dengan jawaban itu, namun dia sungguh membutuhkan bantuan Rashi saat ini, karna dia ingin mendapat Rashi sebagai tim, dan dia tak bisa sabar untuk menangkap nyamuk.


"Iya, Gue yang tngkap, kasih Gue waktu," ujar Rashi yang kemudian menjejalkan earphone ke telinganya. Lelaki itu menganggukan kepalanya tanda menikmati lagu yang dia putar. Orang tu berjingkak dan kembali ke tempat duduknya dengan bahagia. Mungkin ini adalah awal yang baik karna dia tak memberi tahu Rashi jika mereka akan menjadi teman satu tim sampai satu tahun ini.


"Gue satu tim sama cowok ganteng. Iklas lahir batin Gue mah walau harus neliti banyak. Kalau dia gak mau bisa – bisa gue dimasukin ke team lain. Gak ada yang seganteng dia," ujar orang itu pelan, dia melirik ke arah Rashi yang memejamkan matanya. Lelaki itu bahkan memiliki pesona berlebih meski tak melakukan apapun.


"Ah, malaikat, rahim gue menghangat lihat wajah bening gitu tiap hari."


*


*


*


*




Say Hi to Rania!!!


FYI, udah pernah dijelasin kalau Ravi sama Rashi itu satu sel makanya mereka identik dan Rania terpisah, alhasil wajahnya beda sendiri wkwk.