
Ravi memasuki rumah Alena dan memanggilnya. Gadis itu keluar rumah dengan rambut yang dia gulung dan celana serta bagu rumahan yang dia pakai. Bahkan dengan dadanan begitu, dia bisa melihat kecantikan yang dimiliki oleh Alena. Dia segera melambaikan tangannya dan menyapa Alena. Gadis itu tampak bingung untuk sesaat, dia bahkan sampai melihat jam yang ada di tangannya.
"Enggak, lo gak salah hari kok. Emang gue ngajakinnya besok, hari ini gue mau main aja ke rumah lo, boleh gak ya?" Tanya Ravi yang tentu membuat Alena makin bingung, namun gadis itu membukakan pintu untuk Ravi dan membiarkan Ravi masuk. Dia mengajak Ravi untuk langsung pergi ke kamarnya, membuat Ravi merasa canggung karna dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
"Gak usah takut lagi, gue juga gak berniat mau jadi dua garis merah sama lo. Pintunya dibuka aja, takut pembantu di rumah malah jadi curiga dan ngegibah. Gak papa kan?" Tanya Alena karna melihat Ravi yang cukup kaku. Ravi menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum lebar, dia berusaha rileks dan menanamkan pikiran bahwa dia hanya bermain biasa, tidak ada niat sedikitpun untuknya berbuat lebih dengan Alena.
"Ada perlu apa?" Tanya Alena yang membuat Ravi tersadar, dia seperti blank untuk sesaat, lalu dia segera menyadari kebodohannya dan berdehem untuk menyadarkan diri. Dia tersenyum lebar ke arah Alena dan mengeluarkan kertas dari dalam tasnya, laku memberikan ke gadis itu. Alena menerimanya dengan bingung, namun saat membukanya, dia langsung menatap Ravi dengan kagum. Ravi hanya tersenyum mendapat pandangan itu, sementara Alena membolak balik halaman Dari kertas yang dia pegang.
"Lo yang buat ini semua? Lo kerjakan semua? Wah, keren banget sampai begini, ini kertas punya Rashi?" Tanya Alena yang membuat Ravi tertawa, bukan sekadar milik Rashi yang sudah dia jawab, tapi dia bahkan sudah menyelipkan soal soal olimpiade dari tahun tahun sebelumnya, dia mempelajari pola soal dan mencoba untuk memprediksi soal yang akan keluar.
"Sebenarnya gue gak begitu suka buat mikir, tapi gak tahu kenapa gue gak bisa tidur, ya udah, soal punya Rashi gue fotokopi dan kerjakan, terus gue coba nyari nyari soal tahun lalu dan gue coba ambil contoh sama soal yang kemungkinan bakal keluar, jadi lo lebih bisa mengerucut aja," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena, dia tidak mengira Ravi sampai melakukan sejauh itu untuknya, rntah mengapa dia langsung merasa terharu karna apa yang dilakukan oleh Ravi.
"Mau belajar bareng? Gue jamin deh kalau sama gue bakal jauh lebih berwarna karna gue hak akan diamkan lo kayak Rashi. Gimana, mau?" Tanya Ravi yang langsung diangguki oleh Alena, namun gadis itu pergi ke dapur dulu untuk mencari camilan, dan memberitahu pembantunya untuk menyiapkan makanan, dia akan menjamu Ravi dengan baik karna Ravi sudah berbuat baik padanya.
Mereka menghabiskan waktu dengan belajar dan berdiskusi, Alena harus mengakui bahwa Ravi sangat cerdas, dia bahkan tidak mempelajari materi itu di sekolahnya, namun hanya dengan melihat contoh, dia sudah bisa mengerjakan soal yang ada dengan mudah. Alena bahkan tak bisa melakukannya meski dia sudah satu tingkat di atas Ravi berkat kelas akselerasi yang tidak akan dia ambil lagi di SMA Sanjaya.
"Nona Sanjaya, makanan sudah siap, nona dan teman nona bisa makan dulu di bawah," ujar Pembantu yang membuat Alena menatap Ravi dengan canggung. Ravi terkejut dengan panggilan itu, dia langsung menatap ke arah Alena dan meminta jawaban, namun Alena tidak menjawab apapun, membuatnya jadi gemas. Dia ingin bertanya namun Alena keburu bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju tempat makan, mau tidak mau Ravi menahan pertanyaan itu dan mengikuti Alena.
"Len, lo jawab gue dulu ya. Lo, anak dari keluarga Sanjaya? Kenapa lo dipanggil Nona Sanjaya?" Tanya Ravi saat mereka sudah sampai di meja makan. Alena berdehem lalu melihat ke arah lain, tak ingin menjawab pertanyaan itu. Namun tampaknya Ravi sangat penasaran, dia bahkan menunggu dengan sabar sampai Alena mau menjawab pertanyaannya, membuat Alena menjadi tidak enak karna ditatap begitu oleh Ravi.
"Eum, ya, gue dari keluarga Sanjaya, tapi bukan keluarga dekat om Robert. Dia Om gue, dan Mama gue itu semacam saudara jauh yang gak begitu jauh. Dia nikah sama bokap dan lahirlah gue," ujar Alenq yang membuat Ravi terkejut juga, dia bahkan tahu siapa Robert Sanjaya, sang yang paling berkuasa di sana, bahkan Papanya sendiri segan dengan beliau, beliau hanya tidak bisa mengalahkan kakeknya dalam urusan bisnis.
Yah, jika dikatakan kasta, mungkin Wilkinson adalah yang paling tinggi, lalu di bawahnya ada Sanjaya dan keluarga keluarga lain termasuk Atmaja yang sangat naik kekayaannya sejak Darrel menikah dengan Luna dan mereka mulai membuka kerja sama keluarga yang sangat sukses. Lalu lahirnya Rashi, Ravi dan Rania, keturunan dari dua "digimon" (monster) dalam hal bisnis itu.
"Jadi, karna mama lo yang keluarga Sanjaya, lo gak dapat nama keluarga dan ikut nama keluarga bokap? Terus, lo kan sekolah di SMA Sanjaya, kenapa lo bersikap kayak gak pengen dikenal gitu? Bahkan, sorry, lo nyamar jadi orang cupu padahal lo.." Ravi tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hanya begitu saja Alena sudah mengerti, dia tertawa kecil melihat kebingungan Ravi, yah, teman temannya juga akan menunjukkan reaksi yang sama setelah tahu hal ini.
"Gue gak mau mereka cari muka dan jilat gue karna dari keluarga Sanjaya yang bisa dengan mudah keluarkan mereka dari sekolah. Walau kadang mereka keterlaluan juga sih kalau bully, tapi yah, gue gak mau aja tukang bully kayak mereka harus jadi teman gue. Sejauh ini, cuma kalian yang bersikap baik sama anak cupu yang bahkan mau make over gue jadi cakep," ujar Alena yang masih membuat Ravi syok, dia sampai tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Jadi kalau boleh gue minta, lo gak usah kasih tahu siapa siapa tentang hal ini, termasuk ke Rashi atau Rania. Mereka gak perlu tahu akan hal ini. Yah, walau gue seharusnya gak berpikir hal yang sama, kalian gak mungkin ngejilat gue, karna kalian bahkan jauh lebih kaya dari gue. Tapi ya gue gak nyaman aja dikenal sebagai anak dari keluarga Sanjaya. Gue lebih nyaman dikenal sebagai Alena, boleh kan?" Tanya gadis itu yang diangguki oleh Ravi.
"Gue ngerti dan akan gue lakuin. Gue suka deh sama lo Len, baru kali ini mungkin gue lihat ada orang berpower yang mau dibully selama berbulan bulan, bahkan tahun, cuma karna lo gak mau dimanfaatkan sama orang orang jahat itu. Gue benar benar salut sama Lo Alena, sama semua yang lo punya dan kasih," ujar Ravi yang tentu membuat Alena merasa malu dan salah tingkah.
"Ayo kita makan dulu aja, gak enak kalau dingin makanannya," ujar Alena yang diangguki oleh Ravi. Mereka makan sambil mengobrol ringan, jauh di luar dugaan Ravi, ternyata Alena sangat asyik dan nyambung diajak ngobrol, obrolan mereka sangat masuk dan tidak membosankan, hal itu membuat Ravi merasa makin menyukai Alena, dia tidak menyangka akan sejauh ini untuk memastikan apa yang dia rasakan.
"Gue boleh tanya gak kenapa lo tinggal sendiri dan gak ada Mama Papa lo di sini?" Tanya Ravi dengan agak gugup karna takut itu pertanyaan yang sensitif atau membuat Alena jadi sedih dan bingung menjawabnya. Yah, seperti yang kalian tahu, tidak semua keluarga orang kaya itu bahagia, kadang ada yang sampai frustasi karna orang tua mereka hanya mengejar harta yang bahkan tak dibawa mati.
"Eum, gak papa kok, mama sama papa emang gak di Indonesia, yah karna mereka gak berhubungan langsung sama om Robert, bagian mereka gak besar, jadi ya sebenarnya gue tuh bukan orang kaya yang sampai sendok emas. Paling perak lah, haha. Nah untuk itu mama sama papa pergi ke luar, mereka bisa dapat lebih banyak peluang di sana," ujar Alena yang diangguki oleh Ravi. Bagus sekali karna Alena tidak seperti anak lain yang memilih nakal saat orang tua mereka tak ada di rumah untuk waktu yang lama.
"Oh ya, besok jadi loh main sama gue sama Rania juga. Kayaknya Rashi sama Adlan mau ikut juga, tapi gak tahu deh. Jadi besok gue jemput," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena. Karna hari sudah mulai gelap, Ravi memutuskan untuk pamit, jika dia pulang terlalu malam, mamanya akan marah dan mengintograsinya, jauh lebih buruk, bisa saja mamanya melarang dirinya untuk bermain dengan Alena besok.
Sesampainya di rumah, Ravi membuka pintu dan langsung mendapati tatapan aneh dari Rashi, Rania dan Luna yang ada di ruang tamu. Sepertinya mereka menunggu kedatangan Ravi. Bahkan tak lama, Darrel muncul dan juga menatapnya dengan aneh, membuatnya jsdi salah tingkat dan tentu saja bingung apa yang sudah dia lakukan sampai ditatap seperti itu.
"Dari mana kamu?" Tanya Darrel dengan kaku dan serius yang membuat Ravi mendongak. Dia bingung harus jujur atau bohong, namun karna di sana ada mamanya, dia memilih untuk jujur, menceritakan apa yang dia lakukan hari ini, termasuk dengan main ke rumah Alena. Papanya hanya menghela napas mengetahui cerita itu. Dia bahkan tak bisa marah dengan Ravi yang masih dimabuk cinta, dulu dirinya bahkan lebih parah untuk mendapatkan Luna.
"Kamu mau main, mau pergi kemana aja tuh gak papa, tapi ingat waktu, ingat tanggal juga Vi. Kamu lupa apa gimana kalau hari ini ada acara sama Kakek kamu? Ini kita udah ditunggu loh. Udah sana kamu pergi mandi, kita berangkat sekarang," ujar Darrel yang diangguki oleh Ravi, anak itu langsung berlari ke kamarnya untuk mandi dan memakai kemeja rapi, lalu kembali menyusul mama papanya yang sudah ada di teras.
"Memang ada acara apa sih pak di rumah kakek? Kok Ravi sampai gak tahu?" Tanya Ravi saat sudah ada di dalam mobil. Darrel menyetir mobil sendiri, dengan Luna di sebelahnya. Darrel menghela napasnya, dia meminta Luna untuk menjelaskan ke dirinya hari apa ini sampai Ravi melupakannya. Rashi dan Rania pun memilih tak ikut campur karna tak mau dimarahi oleh Darrel, yah, sekedar info, Darrel sudah berbeda dari sebelumnya, biasanya dia bersikap santai, namun kali ini dia
"Hari ini ulang tahun anaknya Om Jordan, mama udah bilang sama kamu dari minggu lalu buat kosongkan jadwal hari ini, tapi yah, namanya anak muda lagi jatuh cinta, pasti lupa deh kalau mamanya minta itu," ujar Luna yang membuat Ravi berdehem dan memilih untuk mengalihkan pandangannya. Mereka kembali terdiam sampai berada di rumah Tuan Wilkinson.
Sesampainya di sana, sudah ramai sekali orang yang hadir dan berlalu lalang, Darrel sekeluarga mengucapkan selamat pada anak Jordan dan juga memberi salam ke Tuan Smith. Mereka berbicara ke sana kemari dengan obrolan ornag dewasa, membuat Ravi merasa bosan dan berkeliling mencari keberadaan
Rashi sambil memakan camilan yang ada di sana.
Sementara itu, Rashi yang sudah bosan hanya berdiri di dekat balkon, dia melihat suasana malam yang tampak sepi dari sini karna memang rumah Tuan Smith tidak berada di tengah kota. Namun saat dia sedang melihat lihat, dia menemukan sosok yang tak asing baginya, dia langsung menyeret orang itu ke hadapannya dengan tatapan menyelidik.
"Lo ngapain disini? Ini bukan pesta yang semua orang bisa datang. Lo siapa?" Tanya Rashi pada gadis yang sudah memakai dress selutut. Alena! Alena yang seperti tertangkal basah tidak bisa mengatakan apa apa. Dia hanya diam dan bingung, berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Rashi.
"Alena ke sini karna gue yang ajak. Jangan kasar dong sama dia, lepasin!" tiba tiba ada suara dari belakang yang langsung mengambil tangan Alena tanpa perlawanan dari Rashi.
"Lo ngapain ajak Alena ke sini?" Tanya Rashi pada orang yang mukanya sama dengannya. Dia tak habis pikir saudaranya selalu melakukan hal gila di luar nalar.
"Gak ada larangan buat ajak dia kok, kenapa lo yang repot. Tolong lepasin ya," ujar Ravi yang langsung mengajak Alena pergi dari sana.
"Thanks, gue bingung banget, dia kayak habis nangkal maling waktu lihat gue," ujar Alena saat sudah jauh dari Rashi.
"Lagian lo kenapa bisa sampai ke sini? Lo ada koneksi ke Om Jordan kah?" Tanya Ravi bingung. Dia tidak mengajak Alena kemari, ya jelaslah, dia saja tidak tahu ada acara ini. Namun melihat Alena diintimidasi seperti itu membuat dia merasa tak tega.
"Gue ke sini diajak sama Om Johan, yah, Om Johan itu sahabatnya Om Jordan, jadi ya gitu lah, gue udah diajak dari kemarin karna kan Bo-nyok gak ada di sini tapi gue lupa. Anyway, makasih banget lo udah nolongin gue."
Ravi mengangguk paham dan lega. Sebenarnya Rashi tak mungkin menyakiti dirinya, namun dia merasa harus melindungi gadis itu dari saudara kembarnya. Apalagi dia tahu tatapan tak suka Rashi makin terasa saat dia mengatakan bahwa dirinya menyukai Alena.
"Mungkin karna dia gak tahu kalau Alena dari keluarga Sanjaya, jadi dia melarang gue dekat sama Alena, takut Alena cuma mau manfaatkan keluarga Wilkinson," desis Ravi pelan untuk mendaoat jawaban dari kebingungannya.