Dear Happiness

Dear Happiness
Chapt 51



Beberapa waktu berlalu, Ravi sudah semakin pulih dan sudah bisa memakai tongkatnya, karna Luna juga memlerbokehkannya setelah mendengar dari dokfer bahwa Ravi harus mulai berjalan agar tulang dan otonya tidak kaku, malah nanti beresiko dia tidak akan bisa berjalan dengan normal, mendengar itu barulah Lira mengijinkan Ravi untuk memakai tongkatnya.


"Wih, udah baik lo sampai bisa jalan sekarang wlaau pincang, yah, gak bisa sok baik dong gue dorong kursi roda lo lagi," ujar Thea yang muncul entah darimana. Ravi hanya menghela napasnya dan mengabaikan gadis itu, dia sudah enggan berurusan dengan Thea meski Thea cukup menarik baginya. ( kisah kehidupannya, bukan cara hidupnya) Ravi tidak mau terlibat masalah dalam kondisinya yang tidak menguntungkan.


"ya udah gue mah minta maaf udah bikin lo berurusan sama tuh anak anak dan gue makasih banget karna lo mau bantu gue, lo mau selesaikan masalah itu. tapi ya jangan begini dong, masak lo malah diemin gue begini?" tanya Thea yang membuat Ravi tak tahan. gadis itu sangat berisik dan dia terganggu karenanya.


"ya udah loh, gak usah ribut, kalau lo emang emamg bantu gue, ya udah bantu gue dengan membuat hidup gue tenang. sumpah, sejak sekolah di sini gue mengharap hidup yang tenang, jadi cowok populer ala wetpet, tapi lo malah usil banget di hidup gue."


"lo kenapa? kenapa lo malah marah marah? kalau lo gak suka bilang loh yang baik, gak usah madah marah, gue gak akan ganggu lo lagi kok, ya kalau gak ada masalah lagi. ya udah, gue pergi deh," ujar Thea yang langsung pergi dari sana.


Ravi merasa bersalah, namun dia tak mau Thea malah semakin sering memanfaatkannya, dia tak bisa menerima hal itu. apalagi situasi hati, pikiran dan Fisiknya cukup buruk pagi ini. dia harus mengalami pagi yang panjang dan cukup memuakkan, terlebih karna Rashi yang masih pemulihan sambil berjalan mendapat perhstian lebih dari Luna.


"hah, kenapa sih masalah sepel gitu aja bikin mood gue hancur sehancur hancurnya?" Tanya Ravi pada dirinya sendiri. dia Tak mau menghancurkan harinya, jadi dia mencoba untuk menghibur diri dengan pikiran yang positif. dia akan melakukan praktek jurusan hari ini, jadi dia harus konsentrasi agar tidak terjadi kecelakaan kerja ataupun hasil yang tak memuaskan.


'Hai kamu yang ada di sana. aku udah rindu, semangat sekolahnya. katanya sih mau akselerasi buat nyusul aku, pasti bisa deh harusnya hahaha.'


Ravi membaca pesan dari Alena dan tersenyum senang. dia tidak menyangka mendapat pesan dari kekasihnya (calon). entah kenapa sebuah pesan singkat itu sudah berhasil membuat moodnya naik seketika.


"huh, seandainya STM bisa aksel, udah aksel deh gue, biar bisa satu kampus sama Alena pas begok kuliah, lulusnya bareng, nikah muda, punya anak 11 buat tim bola, eh satu lagi buat pemain cadangan," ujar Ravi pada dirinya sendiri. dia terkekeh dan mencoba melupakan apa yang dia pikirkan. dia langsung duduk di kursinya dan ingin menyiapkan alat praktek yang akan mereka gunakan.


"oh iya, astaga gue lupa bawa toolset lagi, kalau gue balik ke depan dulu, keburu gak ya?" tanyaRavi pada dirinya sendiri. sebentar lagi kelas akan dimulai dan gurunya bukan guru yang ramah. dia takut guru itu tak mengijinkan atau memberinya kesempatan untuk menjelaskan keadaannya. namun saat ini dia sangat membutuhkan semua toolset yang dia tinggal dalam mobil.


-ting


'Ini nomor Arthea, gue belum minta maaf dan berterima kasih dengan layak dan nyata. kalau lo perlu apapun, lo kasih tahu gue aja, gue siap melakukannya asal gak mahal dan masuk akal.'


"pas banget nih usil satu ngirim pesan ke gue, gue manfaatin aja dah," ujar Ravi riang uang langsung mengirimkan pesan pada gadis usil yang ada di seberang sana.


'oke, kalau lo memang merasa menyesal sekaligus bersyukur. lo harus mau tolongin gue juga. toolset gue ketinggalan di mobil dan gue perlu sebwlum bel masuk, kaki gue pincang, gak bisa lari, jadi ya gue mau minta tolong. waktu lo 10 menit sebwlum bel. gue kabarin pengawal sekarang. mereka bakal ada di gerbang dalam 5 menit'


Ravi mengabari pengawalnya sambil menunggu Thea menjawab pesannya. Ravi merasa berdebar menunggu jawaban gadis itu karna dia takut gadia itu menolak. sebenarnya dia juga sudah tak masalah dengan kejadian tempo hari, namun karna dia sangat membtuhkannya, dia terpaksa bertindak seperti lelaki yang tidak pemaaf pada orang lain.


'oke, 7 menit gue sampai.' melihat jawaban itu, entah kenapa Ravi langsung melihat jam di ponselnya. sudah pukul 08.51, jadi gadis itu hanya memiliki waktu 9 menit, namun jika gadis itu berkata benar, dia akan sampai di depan kelasnya di 08.58, hal itu tentu saja membuat Ravi tertarik dan menunggu apakah dia benar sampai di waktu itu, atau semua hanya bualan semata.


Ravi melihat ke ponselnya setiap saat, karna gadis itu tak kunjung muncul, padahak baru satu atau dua menit berlalu, mungkin bahkan pengawalnya belum samoai lagi ke depan sekolah, namun Ravi takut jika gadis itu hanya berbohong dan mengerjainya, dia sudah menunggu, namun gadis itu tak pernah pergi ke gerbang belakang untuk membantunya.


"Ah sial, kenapa gue gak kepikiran tentang itu sih? Gimana kalau dia sengaja biar gue apes gitu? Dia kan cewek aneh," gerutu Ravi yang kali ini sudah pasrah jika gadis itu tak pernah datang, dia akan menerima omelan dan hukuman dari gurunya. Dia harus menerimanya dan jika beruntung, gurunya akan bersikap lunak karna dia masih dalam kondisi sakit.


Namun saat waktu menunjukkan pukul 08.58, Thea benar benar masuk ke kelasnya dan memberikan sayu koper kecil berisi toolset yang dia maksud, Ravi merasa lega karna gadis itu menepati apa yang dia ucapkan, lebih lagi, dia juga menepati perkataannya yang akan sampai dalam 7 menit. Ravi sangat kagum dengan tingkat konsisten yang gadis itu miliki.


"Makasih banyak, lo udah bantu gue, kalau lo masih merasa hutang budi, gak usah lagi gak papa, gue udah terselamatkan kali ini, hutang lo lunas ke gue," ujar Ravi yang diangguki oleh Thea. Gadis itu langsung keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


"Kenapa mendadak dia jadi galak begitu? Apa karna gue keterlaluan minta dia buat lakuin ini? Apa dia lari lari buat ambil nih barang? Astaga gue jadi merasa bersalah kalau sampai itu benar," lirih Ravi yang tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dia membuka toolset miliknya lalu mengambil barang yang sekiranya akan dia lakukan.


"Selamat pagi anak anak, hari ini kita akan praktek ya. Kalau biasanya kita praktek pakai alat alat yang kecil, sederhana gitu ya, sekarang kita pakai alat yang lumayan besar. Ya gak besar sih, tetap kecil, tapi kalau dibanding resistor punya kalianm yah, mendingan lah," ujar Guru itu yang diangguki oleh murid muridnya.


"Oke, saat ini saya sudah membawa stau box penuh berisi kabel dan ini satu box lagi berisi lampu. Saya meminta kalian mengikuti intruksi yang ada di gulungan kertas ini dan susun lampu serta saklar di tembok agar sesuai dengan intruksi yang ada. Apa ada pertanyaan?" Semua hening, mereka mengerti akan mengerjakan apa.


"Oke, selama praktek, kalau kalian mau bertanya atau apapun, sangat saya perbolehkan. Di gulungan ini terdapat banyak sekali variasi, ada yang memakai 2 lampu, ada yang memakai 5 lampu, jadi tergantung tingkat keberuntungan kalian. Kalau kalian beruntung, kalian bisa mendapatkan 5 lampu karna berarti akan semakin banyak ilmu yang kalian dapat.


"Silakan diambil," intruksi selesai dan mereka langsung mengambil gulungan yang ada di sanam Ravi menunggu kerumunan selesai dan mendapat gulungan tersisa. Dia merasa semua sama saja, jadi dia tidak keberatan jika harus mendapat yang 5 lampu sekalipun. Tapi jika berebut dan jatuh, kondisi kakinya akan memburuk dan dia tak mau itu terjadi.


Ravi membuka gulungan kertasnya dan melihat, ada 3 lampu dan 3 saklar dalam intruksinya. Di jam ini sampai satu jam ke depan, mereka akan diminta untuk menggambar skesta pengkabelan yang akan dilakukan agar berhasil, tidak merusak properti dan tentu saja tidak memakan waktu untuk membongkar dan memasang di sana.


Jika mereka sudah menggambar, mereka akan menilaikannya pada guru dan jika disetujui, mereka baru boleh mulai merakit di sana. Point yang tentukan adalah dari tingkat kesulitan bentuk, kreativitas dan tentu saja keberhasilan. Ravi sudah sangat percaya diri dengan itu semua. Dia langsung menggambar semua lampu untuk berjajar di sana, lalu mulai membaca intruksi dan menggambar Saklar agar lampu bisa mati dan menyala sesuai dengan intruksi.


Lelaki itu sempat merasa mentok, apalagi melihat teman temannya yang berlampu dua sudah mulai merakit lampu di sana, sementara dia dan yang mendapat banyak lampu lain masih berada di tahap menggambar. Lelaki itu akhirnya bisa selesai dan menilaikan gambarnya, tak lupa memberi penjelasan agar guru itu bisa membayangkan apa yang Ravi buat.


"Oke bagus, silakan dibuat, dan rapi ya. Saya tahu kamu akan kesulitan, tapi saya tidak akan memberi keringanan untuk kamu dalam kondisi kamu. Tidak perlu terburu buru, yang penting Rapi, enak dilihat dan tentu saja nyala seperti intruksi," ujar Guru itu yang diangguki oleh Ravi. Dengan susah payah Ravi mengambil 3 lampu 4 saklar dan kabel yang ada di sana.


Lelaki itu merasa kesulitan dengan tongkatnya. Jadi dia mendudukkan dirinya dan mulai merakit kabel kabel itu di lantai, baru setelah jadi, dia akan memasangnya di tembok yang sudah disediakan. Teman teman Ravi tentu merasa kasihan pada lelaki itu, namun mereka juga harus fokus dengan nilai mereka. Apalagi yang mendapat dua lampu, mereka harus sangat sempurna agar nilai mereka juga menjadi bagus.


"Bagus sekali, kamu sudah selesai dengan baik. Sekarang kamu foto itu hasilnya dan kirimkan le saya melalui email, baru habis itu kamu bongkar buat yang lain juga," ujar guru itu pada salah satu murid yang sudah menyelesaikan pekerjaannya sampai akhir.


"Yang sudah selesai, kalian boleh istirahat, atau di sini melihat teman kalian. Kalau kalian mau tidur di sini juga boleh, kalian boleh lakukan apapun jika sudah selesai, kecuali menganggu mereka yang masih praktek. Jadi kalian yang belum selesai, ayo lekas selesaikan."


Mereka menjawab serempak dan mulai melakukan praktek lagi. Murid itu sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mengambil semua lampu, saklar dan kabel yang tertempel di dinding, lalu membereskannya di dekat keranjang agar tempatnya sudah bisa langsung dipakai oleh orang lain.


Ravi mencoba tombol yang ada di saklar untuk memastikan apa yang dia kerjakan sudah sesuai, saat melihat semua baik, dia segera mengambil lampunya, namun dia bingung bagaimana caranya berdiri. Teman temannya tak ada yang fokus padanya, dia harus berdiri sendiri mau tidak mau.


Saat Lelaki itu hendak berdiri, sebuah tangan terulur ke arahnya, rupanya guru itu mengulurkan tangannya untuk membantu Ravi berdiri. Lelaki itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya bisa berdiri dengan tongkatnya.


Lelaki itu memasang semua kabel dan lampu sesuai dengan bayangannya. Dia sengaja mengubah area lampu dan kabel agar sesuai dengan panjang dan tetap enak di pandang. Tubuhnya berkeringat karna panas dan juga tegang, serta lelah karna harus berdiri dengan satu kaki, dan kedua tangannya semua bergerak. Dia memiliki tekat kuat untuk menyelesaikan praktek ini, jadi dia menahan semua rasa lelah dan sakit di kakinya sampai selesai.


"Saya tidak mengharap banyak dari kamu, apalagi dengan kondisi kamu saat ini, tapi ternyata kamu sangat bagus, hasilnya pun di luar dugaan saya. Silakan kamu foto dan kirim email hasil kamu ini, terima kasih sudah bekerja keras," ujar guru itu yang membuat Ravi berterima kasih sekali. Guru itu menunggu Ravi menyelesaikan semua pekerjaannya untuk membereskan, lalu menatap seluruh kelas.


"Siapapun yang sudah selesai, kalian boleh istirahat sampai nanti yang terakhir sudah selesai kalau ada yang tanya, kalian jawab saja sudah dapat ijin dari saya untuk keluar agar tidak menganggu teman yang praktek, mengerti?" Tanya guru itu yang langsung disambut oleh semua murid


Yang sudah selesai tentu saja senang dan mulai berhambur ke luar, sementara yang belum malah semakin tegang karna mereka juga ingin beristirahat dan tak mau jadi yang terakhir selesai. Guru ini bisa saja memberinya istirqhat hanya 5 menit jika sampai itu terjadi.


Sementara itu Ravi yang sudah keluar dari kelas malah bingung ingin pergi kemana. Dia ingin pergi ke kantin, namun kondisi perutnya sedang tak enak, jadi dia malas untuk makan.


"Perpus aja deh, mana tau ada komik, sekalian mau ngadem," ujar Ravi senang dan langsung pergi ke arah perpustakaan. Tempat yang tak pernah dijadikan siswa sebagai tujuan untuk beristirahat.


Ravi pergi ke lokernya untuk mengganti seragam karna seragamnya bau keringat, baru dia pergi ke perpustakaan. Dia tak mau pengunjung lain terusik karna bau keringat yang bercampur parfume itu semerbak di ruangan berAC yang terbatas itu.