
Ravi sudah selesai berbelanja dan mereka melakuamn perjalanan menuju rumah Thea. Tidak Ravi sangka, Thea bukanlah anak yang berkekurwngan, namun gadis igu bahkan sering berjalan kaki atau naik angkot untuk menuju ke sekolahnya. Padahal di rumah gadis itu juga ada r motor dan 2 mobil, sepertinya bisa jika dia minta diantar seperti anak anak lain. Apakah karna Orang tuanya yang begitu sibuk dan enggan untuk memberikan supir? Atau Thea sendiri yang tak mau diantar agar tidak terlihat manja?
"Mobil sama motornya emang ada. Tapi SIMnya gak ada. Gue udah 17 tahun tapi belum bikin SIM dan gue gak mau kalau gak menaati peraturan Negara kayak lo begini naik mobil Padahal usia lo masih 16 tahun. Coba aja kena tilang lo, jadi seru tuh. Gue juga gak mau minta diantar bokap, gue gak mau hutang budi sama mereka, kalau gue salah, gue bisa jadi tertekan kayak kakak gue," ujar Thea yang seolah tahu apa yang dikatakan oleh Ravi. Lelaki itu terkekeh dan tidak jadi bertanya. Dia berhenti di depan rumah Thea dan mematikwn mesin mobilnya.
"Gak usah turun, bokap sama nyokap gak di rumah, gak ada siapa siapa juga. Makasih udah ngantar gue samoai rumah, semoga lancar ya nembaknya," ujar Thea santai sambil keluar dari mobil. Ravi langsung mengambil bungkusan yang tadi dia beli.
"Eh tunggu, ini yang lilac buat lo, gue lihat tadi ini bagus banget dipakai sama lo, jadi gue beli ini buat lo, wajib dipakai ya, gue gak suka kalau apa yang gue kasih gak dipakai sama orangnya. Jadi sedih gitu bawaannya. Oke, gak usah banyak cingcong lagi, nih bawa, gue pulang dulu," ujar Ravi yang langsung memberikan satu paper bag untuk Thea dan pamit dari sana.
"Lah? Dia belikan buat gue? Yah, kenapa gak bilang bilang sih tuh anak, tahu gitu kan gue minta beli yang kemeja biar bisa sering dipakai, kalau gini kan gak bisa gue pakai kemana mana, ya kalik gue naik angkot pakai dress begini, mengerikan," ujar Thea yang masih mengomel dan masuk ke dalam rumahnya dengan bungkusan itu. Dia langsung menarih bungkusan itu ke dalam lemarinya dwn memilih untuk mandi karna badannya sudah cukup lengket.
Selesai mandi, Thea menyalakan televisi dan sibuk dengan dunianya. Dia sudah langsung lupa dengan baju yang diberikan oleh Ravi, karna baginya hal itu tidak terlalu istimewa, apalagi dia hanya menganggap Ravi sebagai teman, dan yang paling penting juga, dia tidak menyukai dress, jadi bisa dibilang Ravi salah dalam membelikannya karna dia akan sangat jarang memakainya, mungkin jika nanti ada acara keluarga, barulah bisa dia pakai.
"Tuh anak kok bisa nyetir mobil ya? Kakinya udah pulih total? Lah? Iya juga ya? Kakinya udah sembuh sampai bisa jalan jalan sama gue? Astaga, gue bisa bisanya baru kepikiran soal hal itu, bego banget sumpah," ujar Alena sambil terkekeh karna dirinya sendiri. Dia mengambil bantal dan mulai menidurkan dirinya di sofa, memainkan ponselnya untuk melihat apa yang terjadi di sosial media.
"Sumpah ya ini berita gak ada habisnya. Lagian juga udah punya cucu yang anak yatim piatu, masih aja ribut harta, belum juga gosong lo matinya. Mau nyari pembelaan dimana mana malah dapat hujatan sana sini, agak bego sih," omel Thea saat melihat sebuah akun memberitakan masalah ayah kandung yang ribut masalah warisan putri kandungnya.
"Mungkin jika selama hidup orang tua itu bersikap baik, orang juga bakal simpati ke dia. Lah ini, orang orang malah jadi benci banget sama dia udah karna dia jahat sama semua orang, dia gak peduli, dia cuma mikir diri sendiri, gak banget," ujar Thea kesal. Dia kembali menggulir layar ponselnya dan hanya menemukan berita tentang hal ini, membuatnya bosan dan akhirnya memutuskan untuk segera tidur agar tubuhnya bisa sedikit istirahat.
Sementara itu, Ravi yang senang sudah mendapat banyak belanjaan langsung menghubungi Alena, meminta gadis itu bersiap karna malam minggu nanti, dia akan mengajak Alena untuk pergi bersama. Yah, rencananya dia akan menembak Alena di sana jika semua lancar, dia akan meresmikan hubungan mereka agar jelas dan dia bisa memperkenalkan Alena pada Papa dan Mamanya.
"Maaf, mungkin aku gak bisa sih kalau kamu mau ke rumah ku atau aku yang pergi, sku lagi gak dalam mood yang baik buat semua itu. Sekali lagi maaf ya, aku gak ada maksud sama sekali, beneran deh," ujar Alena yang tentu membuat Ravi bingung. Tidak biasanya alena bersikap seperti ini. Apakah terjadi sesuatu oleh gadis itu sampai dia melakukan hal ini?
"Tapi aku benar benar mau ngomong sama kamu, masak kamu gak ada waktu buat aku? Malam minggu loh, masih lama, kamu emang mau pergi sama siapa?" Tanya Ravi yang membuat Alena yeridam. Dia tak mau berbohong, namun jika Ravi terus mendesa dia mau tidak mau mengatakan soal hal ini. Dia menceritakan jika dirinya tidak sengaja bertemu dengan Ravi dan Thea yang kebetulan sekali sedang bergurau saat dilihat oleh Alena.
"Kamu udah bilang kan kalau kamu gak bisa dibatasin temennya, tapi aku melihat gitu saja rasanya sesak, apa aku bisa jalanin semua sama kamu? Karna aku udah tahu itu gak mungkin, mending gak aku lakukan sekalian, karna pasti jadinya aku bakal sakit hati dan tertekan Vi, aku gak mau," ujar Alena yang menbuat Ravi terdiam. Dia tidak menyangka Alena bisa sebijak itu untuk tidak egois pada dirinya, dia mengeorbakan dirinya sendiri agar tidak merepotkan orang lain contohnya Ravi. Entah mengapa hal itu membuat Ravi makin jatuh cinta.
"Maaf karna aku pergi sama dia gak pamit, ya karna aku mau kasih kejutan buat kamu dan dia mau bantu aku. Makanya besok aku mau ajak ketemu kamu, ya karna kejutan ini. Aku gak ada apa apa sama dia, sama sakali gak ada dan karna sikap kamu yang begini, aku makin sayang ke kamu, aku makin yakin kalau aku mau serius sama kamu."
"Alena, aku bakal jaga perasaan dan kelakuan aku di depan cewek cewek lain mulai sekarang, asalkan kamu jangan sakit hati begitu, aku juga merasa sakit kalau kamu sakit, aku gak mau kamu terluka begini, tolong ya, jangan," ujar Ravi pelan. Alena menghela napasnya mendengar hal itu, entah dia liluh atau kasihan dan takjub dengan sikap Ravi, namun dia ingin memberi kesempatan pada lelaki itu.
"Ya udah, kalau gitu kamu mau jemput jam berapa, tinggal kabarin aja, sekarang tutup dulu ya telponnya, aku mau mandi soalnya," ujar Alena yang langsung diiyakan oleh Ravi. Lelaki itu merasa lega karna Alena mau ikut dengannya. Dia akan mempersiapkan banyak hal yang tidak gadis itu duga. Ravi akan membuat Alena melongo dan bersyukur memiliki kekasih seperti Ravi.
"Lo ngapain?" Tanya Rashi yang tiba tiba datang dan duduk di sebelah Ravi. Lelaki itu terkekeh dan memeluk saudara kembarnya. Dia mengeluarkan semua belanjaannya dan menunjukkannya pada Rashi. Lelaki itu sendiri terkejut karna rata rata barang yang dibeli oleh Ravi adalah barang yang tak murah. Untuk siapa lelaki itu membeli semua?
"Minggu depan gue mau nembak Alena. Ini gue beli baju, sepatu, kalung sama cincin buat nembak dia sekaligus mau aja serius dia. Lo mau lihat dan jadi saksi gak? Kalau oke, ayo kita berangkat aja bareng, tapi nanti lo meja lain, gue gak mau sampai Alena merasa canggung lihat lo di sana," ujar Ravi yang membuat Rashi mengerutkan keningnya.
"Ya gue bisa tanya siapa? Gak mungkin tanya Papa, bisa dikata bucin gue kalau sampai begitu, tanya Rania juga dia hak pernah punya pacar, tajya lo juga percuma. Ya gue bingung lah mau gimana, beliin apa, mending gue tembak aja pakai cara gue sendiri," ujar Ravi dengan gemas dan membawa baju baju itu ke dalam kamarnya. Dia memilah mana yang bagus dan akan memberiman baju yang satu lagi itu pada Rania. Dia juga ingin adiknya menjadi cantik untuk hari bahagianya.
"Kalau lo emang mau pacaran sama dia, lo harus tanggung jawab, jangan main pergi aja kalau dia ada salah. Pacaran udah gak sesimpel itu, dan juga, itu anak orang, dia tulus jangan dimainin," ujar Rashi memberi nasehat yang malah menurut Ravi terasa berlebihan. Bagi Ravi, itu semua juga wajib dia lakukan, meski pada kekasih lamanya tak lakukan itu, ya itu karna mereka yang tidak benar.
"Tunggu deh, lo kok kayak peduli banget sih pad gue bilang gue mau sama Alena? Lo juga jadi banyak saran gitu pas tahu gue sama dia? Emang lo kenapa? Jangan jangan lo suka juga sama Alena? Atau lo punya alasan lain samoai sepeduli itu?" Tanya Ravi yang baru saja memikirkan hal itu, mereka tak pernah membicarakan hal seperti ini meski kekasih Ravi cukup banyak.
"Ya karna gue tahu dia anak yang bego dan polos, makanya jangan dikatain dan harus selalu“ di support. Gue gak akan suka sama tipe kayak dia, lo tenang aja, gue gak suka yang pendiam kayak mayat hidup," ujar Rashi yang tentu membuat Ravi berdecih. Dan yah, dia memang setuju dengan hal itu, Ravi juga sudah biasa mendnegar alasan itu.
" ya udah, bagus kalau lo gak punya rasa apa apa sama Alena, karna gue gak mau saingan sama saudara sendiri. Jadi ya tolong aja ya, gak usah aneh aneh atau berusaha rebut gue dari dia," ujar Ravi yang sebenarnya hanya bergurau, namun sepertinya Rashi menganggap itu sebagai sebuah ancaman, dia marasa tak nyaman dengan itu semua dan memilih untuk diam.
"Ah iya Shi, gue tadi sama temen gue kan nyari ini semua, cewek Shi, dia tomboi ramai gitu, dewasa gak menye menye dan kayak tipe lo banget. Lo mau gak gue kenalin sama dia? Biar lo gak jomblo terus gitu kan? Mau gak kalau emang lo mau, gue kenalkan secepatnya sama dia, dia juga paling suka sama lo," ujar Ravi dengan random yang membuat Rashi malah menjadi kesal.
"Ya kalau lo mau nembak orang mah nembak aja, tapi gak usah gue yang dijodoh jodoh ke orang lagi, freak banget lo," ujar Rashi yang langsung pergi dari sana. Tentu saja hal itu membuat Ravi menjadi bingung. Menurutnya Rashi tak pelru marah jika lelaki itu memang ingin menolaknya. Toh Ravi hanya memperkenalkan, cocok atau tidak, mau atau tidak, ya bukan urusan dan wewenangnya.
Tak mau memikirkan masalah Rashi lebih jauh. Lelaki itu mengambil baju yang akan dia berikan untuk Rania, laku menyimpan jadi satu kotak untuk Alena. Lelaki itu mulai mencari adik kembarnya itu, nakun ternyata Rania sedang bersama dengan Mamanya. Mereka ada di ruang TV, Ravi langsung menghampiri keduanya dan duduk bersandar ke mamanya yang sangat cantik, yah, kecantikan mamanya yang memotivasi dirinya untuk masuk ke STM, namun nyatanya tak ada yang secantik mamanya.
"Rania, Kak Ravi punya baju nih buat kamu, kamu coba pakai gih, bagus gak buat kamu dan cocok gak," ujar Ravi santai sambil menyodorkan dress yang tadi dia beli. Rania tentu saja langsung senang dan mengambil baju itu lalu mencobanya. Dia memperlihatkan ke Luna dan Ravi yang menunggunya untuk berganti. Setelah itu dia kembali dan berdiri di hadapan mereka sambik berpose seperti model.
"Wah, cantik sekali anak mama. Kamu pintar juga nyari baju buat Ranianya. Kamu timben beli baju begini, memang ada event apa? Atau ada terjadi sesuatu kah?" Tanya Luna curiga. Tentu saja hal itu membuat Ravi memutar bola matanya dengan malas. Dia tidak ada maksud untuk menyogok atau apa, dia murni ingin memberikan pada Rania karna dia tahu Rania akan sangat cantik memakai dress semi gaun itu.
"Ravi mau nembak orang ma, mau pacaran," ujar Rashi yang muncul entah darimana. Semua mata langsung melihat ke arah Ravi, seolah meminta penjelasan pada lelaki itu, sementara lelaki itu memandang dengan kesal ke arah Rashi yang seperti tukang ngadu, padahal dia berencana membuat semua jadi rahasia, namun karna kecerdasan lelaki itu, mama dan Rania jadi tahu san mau tidak mau dia menjelaskannya.
"Wow, mama akan dukung semua yang kamu lakukan nak. Asal kamu bisa bertanggung jawab, sayang sama dia, gak aneh aneh dan tentu saja kamu bisa tetap fokus pada tujuan utama kamu, gak teralihkan ke dia, itu gak papa," ujar Luna dengan lembut. Ravi langsung penasaran dengan cerita mamanya bisa berpacaran dengan papanya.
"Ceritanya sangat panjang. Papa kaku itu bucin sama mama udah sangat lama, dan mama bucin ke orang lain yang sangat lama juga. Papa kamu tahu mama suka dan cinta ke orang lain, tapi papa kamu gak peduli dan tetap jadi pacar mama, yah, itu dipaksa sama papamu sih, dan mama iya iya aja. Orang itu mengajarkan mama banyak hal, tapi papamu jauh mengajarkan mama yentang cinta dan ketulusan, akhirnya mama bisa bahagia sampai sekarang," ujar Luna yang membuat anaknya mengangguk kagum.
"Ah, bagaimana orang yang disukai mama waktu itu? Apakah dia tampan? Apakah dia sangat mempesona sampai mama bucin ke dia?" Tanya Ravi penasaran. Luna menggelengkan kepalanya, jika dipikir, jauh lebih tampan Darrel dibanding seseorang yang menjadi bucinnya itu, namun sikap orang itu sangat membekas di hatinya.
"Kadang, perilaku yang baik itu mengalahkan hal yang lain, dan mama sudah alami hal itu."
"Ah, sudah, gak usah bahas itu lagi, kenapa malah bahas ini, kasihan palamu kalau tahu, udah, ayo kita bahas Ravi sajaa," ujar Luna yang kembali menggoda anaknya