
Ravi menjalani hidup yang membosankan selama beberapa waktu ini. Bahkan dia menyadari dirinya makin jauh dengan Rashi dan Rania. Orang – orang itu sangat ambisius, bahkan Rashi mau – maunya mengikuti oimpade yang membosankan, jika itu dirinya, dia akan menolak saat pertama kali diminta, dia tak suka terikat seperti itu. namun hidup bebas juga tak selamanya menyenangkan.
"Vi, cabut yuk, kita mau nongkrong di luar, Lo ikutan kan?" Ravi tergiur dengan tawaran itu. dia sudah diperingati oleh Mama Papanya untuk menjadi anak yang baik dan rajin, namun jika dia bersekolah si STM, kenakalan merupakan hal yang wajar kan? Ravi harus benari sekali – kali, toh orang tuanya tak akan tahu kan?
"Oke Gue ikut, Gue beresin tas dulu, gak balik lagi kan?" tanya Ravi yang diangguki oleh temannya. Lelaki itu membereskan semua barangnya, hanya barang miliknya, karna semua buku dia tinggal di dalam laci, dia tak pernah membawa satu buku pun di dalam tasnya, semua dia tinggal di sekolah ini.
"Buruan, keburu guru BP nya muter, kita lewat gerbang belakang aja yang sepi," ujar teman Ravi yang diangguki oleh dirinya. Dia memanggul tasnya dan keluar dari kelas. Rasa adrenalinnya berpacu karna harus kucing – kucingan dengan guru yang melintas. Mereka harus bolak – balik melempar tasnya agar tidak ketahuan, sangat melelahkan dan merepotkan.
"Ravindra? Lo mau cabut?" Ravi langsung terdiam dan membalikkan tubuhnya, dia melihat kakak OSIS yang sudah berusaha dia dekati, namun beberapa hari ini dia bahkan tak melihat orang itu, hingga dia sendiri lupa pada misinya dan tak berminat lagi untuk mendekatinya. Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya dan memasang wajah dingin.
"Iya, kenapa? Lo mau nunjukin kalau Lo anak OSIS dan ngelaporin Gue? Coba aja, anggap kita lagi main polisi dan maling, Lo ngelaporin dan Gue lari," ujar Ravi dengan wajah jahatnya, bahkan teman yang ada di sebelah Ravi juga terkejut dengan nada menantang itu, bagaimana jika orang di hadapan mereka benar – benar memanggil guru? Habis mereka dibotaki dan dihukum.
"Gak, Gue Cuma mau bilang kalau Lo lewat sana, Guru – guru lagi di kantin. Lo mending lewat gang sempit itu, Lo langsung tembus ke tembok belakang, di sana sepi, aman," ujar kakak kelas itu yang membuat Ravi tercengang dengan informasi yang diberikan secara sukarela oleh orang yang berstatus OSIS, kumpulan orang yang terkenal suka cari muka di hadapan guru.
"Kenapa Lo bantu Gue? Lo mau jebak Gue? Di sana pasti gak aman kan?' tanya Ravi yang dijawab gelengan kepala oleh orang itu. Dia hendak meneruskan langkahnya, namun dia mengurungkan niatnya dan menghadap lagi ke arah Ravi.
"Gue gak jebak Lo, Lo boleh percaya atau enggak sama Gue, terserah Lo. Tapi Gue udah bantu Lo. Kenapa Gue bantu Lo? Karna Gue tahu Lo udah besar, Lo bisa pertanggung jawabkan semua yang Lo lakuin. Lo bakal dapat balasan dari apapun yang Lo lakuin, itu hukum alamnya."
"Udah biarin aja, ayo kita buruan pergi, keburu ada guru, anak – anak udah nunggu di luar," ujar anak itu yang diangguki oleh Ravi, dia melewati jalan yang ditunjukan oleh anak itu, ternyata benar, mereka bisa langsung menemukan tembok belakang sekolah dan suasananya sangat aman. Teman Ravi melempakan tas yang ada di pundaknya, begitu juga Ravi.
"Gue manjat dulu, habis itu Gue bantu Lo manjat, Lo belum berpengalaman kan?" tanya teman Ravi yang langsung menaiki tembok dan mengulurkan tangannya dan membantu Ravi sampai akhirnya mereka berhasil naik ke tembok dan turun lalu segera mengambil tas mereka dan pergi dari sekolah itu dengan tawa yang menghiasi bibir mereka.
"Kita langsung ke markas aja, itu gak markas beneran sih, Cuma warung gitu, anak – anak dari sekolah lain juga biasanya nongkrong di situ. Banyak minuman sama rokok. Lo ngerokok kan?" tanya anak itu yang membuat Ravi terdiam, namun dia menganggukan kepalanya agar temannya itu tak menertawakannya.
"Bagus, kalau Gitu kita ke sana sekarang. Emang Lo anak STM sejati, padahal Lo tampilannya kayak anak rumahan yang disayang sama Mama, ternyata udah ngerokok juga ya Lo," ujar anak itu yang mem buat Ravi tersenyum. Dia memang anak yang disayang oleh Mamanya, lantas mengapa? Itu bukan hal yang salah atau memalukan.
"Nah, itu di depan." Baru saja mereka hendak melangkahkan kaki untuk masuk. Segerombolan orang membawa senjata bergerombol. Mereka terbagi menjadi dua kubu yang berbeda. Ravi sangat terjekut, dia tak pernah melihat yang seperti ini, mereka sangat menyeramkan dan bahkan gear yang dijadikan sebagai senjata itu diputar – putar seolah benda itu adalah senjata.
"Anjiing. Ada tawuran. Lo mau ikut atau mau ngumpet? Ini masalah harga diri, kita harus bantuin kubu sini, kalau Lo pengecut, Lo masuk ke warung dan ngumpet di sana," ujar teman Ravi yang membuat anak itu ragu. Dia tahu jika senjata senjata itu mengenai kulitnya yang mulus, pasti akan terasa sakit. Namun jika dia tidak ikut, dia akan dipanggil pengecut selama bersekolah di sana.
Belum sempat Ravi menentukan pilihan, terdengar suara sirine yang membubarkan orang – orang itu. Ravi melihat ke samping dan temannya sudah menghilang. Lelaki langsung lari ke sembarng arah, namun seorang polisi mengejarnya, membuatnya makin panik dan mencari persembunyiannya.
Dia tak berpengalaman dalam hal seperti ini, polisi bisa menangkapnya dengan mudah. Polisi itu membekuknya dan membuatnya berlutut, bahkan pundaknya diinjak dan membuatnya terkunci. Dia merasakan nyeri luar biasa karna diinjak seperti itu.
"Pak, saya gak ikut – ikutan pak, saya Cuma lewat. Saya gak mau ikut tawuran itu pak, lepaskan saya pak," ujar Ravi dengan ringisan di wajahnya. Dia merasa takut dan sakit, dia tak melakukan hal yang salah, yah, jika kabur dari sekolah tidak dihitung sih. Dia hanya ingin melewatkan jam pelajaran, bukan untuk mencari masalah dengan tawuran.
"Halah, berandal kayak kamu, selalu saja banyak alasan. Ayo ikut saya ke kantor polisi dan panggil orang tua kamu buat menebus dan menjemputmu," ujar polisi itu yang membuat Ravi membatu. Dia tak bisa membiarkan orang tuanya tahu, dia akan mati jika sampai papanya tahu dia ditangkap polisi, keluarga mereka sangat terhormat dan memiliki reputasi yang baik.
Mereka benar – benar membawa Ravi ke kantor polisi, Ravi merasa hari ini adalah hari sialnya. Dia hanya coba – coba untuk menjadi nakal, namun malah ditanggap polisi sungguhan. Dia tak bisa menghindar lagi, dia berharap papanya akan datang menyelamatkannya.
Ravi segera menelpon Jordan, dia tak berani menelpon Luna atau Darrel. Mereka akan sangat kecewa padanya. Keberuntungan baginya karna Jordan sedang ada di Indonesia dan bersedia untuk menjemputnya. Dia pun menunggu Jordan untuk datang dan menebusnya, meski hatinya tetap berdebar, ini pertama kalinya dia datang ke kantor polisi dan di sini dia menjadi tersangka.
Tak butuh waktu lama bagi Jordan untuk sampai ke kantor ini. polisi yang ada di sana tentu kaget karna Jordan datang sendiri dan tak menyangka Ravi memliki hubungan dengan Jordan. Mereka menyalami Jordan dengan sopan, bahkan memberi jalan pada pengawal Jordan untuk bertemu dengan Ravi.
"Bagaimana bisa kamu sampai di tempat ini? Jelaskan sama Om," ujar Jordan yang membuat Ravi menghela napas. Dia menjelaskan semua yang terjadi padanya tanpa terkecuali, dia tahu Jordan akan melepaskannya jika dia berkata jujur. Jordan pun mengangguk dan menatap polisi itu dengan mata elangnya.
"Kalian sudah dengar kan? Ini hanya kesalah pahaman. Dia hanya berniat untuk membolos, namun tak ada kaitannya sama sekali dengan tawuran yang terjadi. Saya berharap kalian akan bijak, untuk urusan dengan pihak sekolah, saya sendiri yang akan mengatakan kepada mereka, saya harap bapak sekalian bisa mengerti kenapa saya melakukan ini."
Mereka mengangguk dan meminta Jordan untuk membayar uang tebusan dan surat pernyataan jika Ravi tak akan melakukan hal ini lagi atau dia akan dimasukkan ke dalam penjara anak. Mereka segera pergi dari sana dan Jordan langsung mengantar Ravi untuk pulang. Ravi tentu saja menolak, namun Jordan tak memberi anak itu pilihan.
"Loh, kamu kenapa bisa sama Bang Jordan? Kamu kenapa gak sekolah? ini kenapa bajunya acak – acakan?" tanya Luna dengan kaget. Di belakang Luna, muncul seorang pria yang sangat familiar bagi mereka. Ravi langsung gemetar melihat pria itu, pria itu juga menanyakan hal yang sama seperti Luna, namun Jordan tak mau menjelaskannya.
"Dia ditangkap sama polisi, sisanya biar dia yang menjelaskan. Abang mau pergi lagi, abang masih banyak banget urusan. Kalian jangan terlalu keras, bagaimana bisa dia malah menelpon abang dibanding menelpon orang tuanya sendiri? Dia jauh lebih percaya padaku dibanding dengan kalian," ujar Jordan yang membuat Luna dan Darrel terdiam.
Selepas Jordan pergi, Luna langsung meminta Ravi untuk masuk dan menjelaskan apa yang terjadi. Namun Ravi hanya diam dan bahkan tak berani untuk mengangkat kepalanya. Melihat itu, Darrel yang sudah pusing dengan masalah perusahaan dan malah mendapat kabar tak baik ini tentu merasa marah, dia langsung berdiri dan meminta Ravi mengangkat kepalanya.
"Papa pernah berlaku keras sama kamu? Papa pernah minta kamu melakukan hal yang tidak kamu mau? Kenapa kamu maalah jadi anak berandalan seperti ini? Papa dan Mama tidak pernah mendidik kalian untuk jadi seperti ini. kamu harusnya contoh saudara kamu. Mereka rajin dan bahkan sangat berprestasi, lihat Rashi, dia bahkan bisa ikut olimpiade."
"Mereka berusaha buat raih prestasi, kamu malah masuk kantor polisi. Mau jadi apa kamu? Apa harus papa keras sama kamu biar kamu gak urakan kayak gini? Anak siapa kamu tuh, Papa Mama kamu tidak pernah seperti kamu saat sekolah dulu." Luna langsung menatap kaget ke arah Darrel, bisa – bisanya dia mengatakan kalimaat terlarang kepada Ravi.
"Gak ada gunanya kamu marahin dia, udah terjadi juga dan aku yakin dia gak salah. Dia pasti punya penjelasan. Kamu hati – hati dong kalau ngomong, aku gak mau anak aku jadi teracuni karna kalimat kamu yang toxic itu."
"Dia jadi gak taahu aturan kayak gini tuh karna selama ini kita manjain dia. Dia bukan anak kecil lagi, gak ada tanggung jawabnya sama sekali. Kamu manjain aja terus, sampai nanti dia gabung jadi gembong narkoba, belain dia sampai dia gak sadar kalau semua yang dia lakukan itu salah."
"UDAH! Kenapa omongan kamu malah jadi ngelntur gitu? Udah, kamu kerja aja sana. Aku percaya sama Ravi, aku percaya dia gak akan sengaja lakuin itu," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam. Lelaki itu merasa sangat emosi, namun dia juga sadar apa yang dikatakannya sudah keterlaluan. Dia lebih baik pergi dibanding melukai hati Luna dan anaknya sendiri.
Namun sebelum Darrel pergi, Ravi terlebih dahulu berdiri dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun. Hal itu sontak membuat Luna menjadi bingung, namun Luna lebih fokus untuk menenangkan Darrel, lelaki itu harus dalam posisi tenang agar pekerjaanya juga lancar.
"Kmau lihat anak kamu. Kamu terlalu sayang sama dia jadi dia selalu merasa dilindungi, dia tumbuh jadi anak yang gak punya tanggung jawab sama sekali, kita ahrus tegas sama dia Lun, Aku gak mau dia jadi gak benar. Apa coba dia sampai masuk kantor polisi pula," ujar Darrel yang membuat Luna emngelus punggungnya pelan.
"Kita gak tau alasan dia. Aku bakal tanya pelan – pelan ke dia. Tapi kamu juga janji kamu harus minta maaf ke dia nanti malam, apa yang kamu katakan ke dia itu keterlaluan loh. Aku gak mau dia merasa kita gak sayang lagi sama dia, dia udah masuk fase remaja, wajar kalau dia pengen tahu rasanya nakal."
"Gak usah ngebantah aku. udah kamu kerja aja, nanti dia biar jadi urusan aku. Sana, aku gak mau rumah rasanya panas gara – gara kamu," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel. Lelaki itu mencium bibir Luna singkat dan langsung pergi dari sana untuk kembali bekerja.
"Mati satu tumbuh satu. Kapan coba keluarga ini kmbali tenang dan nyaman, terus Gue bisa nonton drama Korea? Oppa Soohyun kan udah mulai tayang." Luna menggerutu pada dirinya sendiri sambil berjalan ke arah kamar Ravi untuk mengecek keadaan anak itu.