
Satu minggu berlalu, kini tim SMA Sanjaya sudah duduk satu meja dan bersiap dengan amplop berisi soal di hadapan mereka. Adlan duduk dengan santai, Alena mencoba untuk tidak tegang dan Rashi mencoba mengingat rumus matematika yang dia pelajari bersama Adlan sebelumnya. Mereka melakukan sedikit diskusi dan saling memberi semangat, sebelum juri pengawas masuk ke ruangan itu dan suasana menjadi hening.
"Selamat pagi, selamat untuk kalian semua karna sudah berhasil sampai ke tahap kedua. Hari ini kalian akan menjalani tes tertulis untuk satu kelompok. Di hadapan kalian sudah ada 3 amplop, isi soalnya sama, ada 150 soal di dalam sana, campuran antara matematika, IPA dan Bahasa. Kalian bisa gunakan strategi apapun asal tidak curang, jika ketahuan curang, kalian akan langsung didiskualifikasi dan pihak sekolah akan diberi sanksi tegas. Apa kalian mengerti?"
Mereka semua menjawab kompak. Waktu yang diberikan hanya 1 jam 30 menit, itu artinya masing masing dari mereka harus menyelesaikan 50 soal dalam waktu itu. Dan karna soalnya acak, mereka akan susah untuk membagi sesuai dengan keahlian mereka. Adlan, Rashi dan Alena mencoba untuk tenang. Rashi sendiri langsung berpikir apa yang harus dia lakukan agar teman temannya bisa mengerjakan soal dan mereka bisa selesai tepat waktu.
"Oke, gue ada ide. Kita bagi 50 soal kan. Lo nomor 1-50 Dlan, lo 51-100 Len dan gue sisanya. Cari soal yang benar benar bisa kalian kerjakan dulu, tinggal yang susah. Nah kita selesaikan dalam waktu satu jam, setengah jam tersisa kita saling tukar buat ngecek sesuai keahlian kita. Sama isi juga kalau ada soal yang gak bsia dijawab sama kita juga. Ngerti kan maksudnya? Tapi sebisa mungkin dijawab dulu. Nah nanti kan dikumpulkan dan diakumulasi, harusnya sih bisa," ujar Rashi yang diangguki oleh mereka berdua.
"Jangan, mendingan kita setiap 30 menit tukar, karna kan soalnya acak, dalam 30 menit itu kita kerjakan soal spealis kita di antara 50 soal, dan nanti misal tukar, gue jadi di 1-50 lo jadi 51-100 terus Adlan jadi terakhir. Nanti 30cmenit terakhir juga gitu. Nah, kalau bisa, sebelum 30 menit habis, kita sambil koreksi aja jawabannya," ujar Alena yang juga terdengar bagus.
"Ya udah, gitu juga boleh, yang jelas kalau misal mau ngerjain soal yang bukan spealis kita karna waktu 30 menit masih sisa, itu gak papa, siapa tahu kan udah benar, jadi mengurangi beban teman kita juga," ujar Rashi yang diangguki oleh mereka berdua. Setelah yakin akan Strategi mereka, barulah Adlan memberi semangat untuk semua agar mereka bisa fokus dan lolos ke babak final.
"Oke, gue bakal fokus sama matematika di sini dulu, setidaknya apa yang kita pegang, itu kita maksimalkan yang materinya keahlian kita, jangan sampai salah, tinggal nanti yang gak sesuai bisa kita saling tanya atau gimana dipikir nanti. Yok kita bisa yok, bobot soalnya juga 50 50 50 kok, jadi harusnya sih bisa ya," ujar Adlan yang diangguki oleh Rashi. Mereka tinggal menunggu waktu pengerjaan dimulai, mereka tidak boleh memegang amplop di hadapan mereka sebelum itu.
"Baiklah, kalian boleh memegang amplop di hadapan kalian, pegang dulu ya, jangan buka atau diapa apain," ujar Panitia yang dituruti oleh mereka. Lalu setelah peluit ditiup, mereka buru buru membuka soal dan mengerjakannya. Sementara Rashi mengambil waktu beberapa detik untuk bernapas panjang agar tidak tegang.
Setelah itu Rashi langsung membuka soal dan mencari soal IPA yang ada di kertasnya. Dia hanya mendapatkan 10 soal IPA di kertas miliknya, itu artinya lebih banyak soal IPA di kertas Radith atau Lira. Namun dia tak mau menganggu konsentrasi mereka sehingga memilih untuk mengerjakan soal yang bisa dia kerjakan terlebih dahulu. Dia mencari soal bahasa yang kemungkinan lebih mudah, meski harus membaca soal yang panjang, dia bisa menemukan banyak soal yang bisa dia jawab. Namun saat sampai di matematika, dia mulai bingung dan tidak bisa menemukan rumus, jadi dia hanya mengecek ulang jawaban soal IPa yang ada di kertasnya.
"Sttt," ujar Alena yang langsung meminta kertas milik Rashi, rupanya mereka sudah mulai bertukar karna soal di kertas mereka sudah habis sebelum 30 menit. Rashi kembali mencari soal IPA yang ada di kertas itu. Dia mengerjakannya tanpa masalah karna ini keahliannya, begitu juga Adlan dan Alena yang tidak ada masalah. Mereka mengerjakannya tidak terburu buru namun juga cepat.
"Stt" bisik Alena lagi yang membuat Rashi menyodorkan kertas miliknya. Kini dia mengerti, di antara 3 bagian, ada 10, 20, 20 di antara ketiga bagian. Jadi mereka memang harus bertukar jika ingin mengerjakan dengan cepat. Untung saja dia mengikuti strategi yang diberikan oleh Alena, jadi tidak begitu kesulitan. Saat di lembar terakhir, Rashi sudah menyelesaikan semua yang menjadi tugasnya dan mengecek lembar soal Adlan, barangkali masih ada yang kosong karna dia tidak mengisinya. Namun mereka harus memastikan itu lagi saat nanti mereka mengoreksi bersama.
"Oke, masih ada 30 menit. Kita mulai dari satu, lihat jawaban di kertas kalian," ujar Alena yang langsung melihat jawaban di kertas Adlan dan Rashi, mereka melakukan itu sampai ke soal terakhir, jika ada jawaban yang beda, mereka akan memakai jawaban yang dikerjakan oleh speasialis, mereka akan menggantinya agar tidak terjadi pengurangan point dari jawaban yang berbeda.
Saat ini mereka sangat fokus karna ingin sekali menang, mereka berusaha sampai akhir dan akhirnya waktu pun habis, mereka mengangkat tangan dengan lega, lalu berpelukan untuk memberi semangat dan selamat atas usaha mereka bersama. Rashi mendongak dan wajahnya dekat sekali dengan Alena, mereka diam dalam posisi itu untuk beberapa saat karna Adlan masih menunduk.
~dug
Tidak lama, karna setelah itu Adlan mendongak dan mereka harus berbenturan kepala. Adlan merasqkan pusing di kepalanya, bahkan terasa cukup perih. Rashi sendiri merasakan sakit di bagian giginya, namun saat dia memegang gigi itu, rupanya giginya sudah tidak ada di sana, dia langsung melihat ke kepala Adlan. Astaga! Gigi Rashi menyangkut di kepala Adlan.
"Maaf pak, kami ijin mau ke rumah sakit. Gigi saya menyangkut di kepala teman saya," ujar Rashi yang juga menutup mulutnya karna darah akan keluar dari sana jika dia tetap membukanya. Ruangan itu jadi heboh, terutama panitia yang langsung memastikan kondisi Adlan. Pria itu baik baik saja, hanya merasa pusing dan perih karna gigi yang masih ada di kepalanya. Dia juga tidak mengerti kenapa kejadiannya bisa sampai seperti ini.
Di rumah sakit, Adlan harus menerima 4 jahitan di kepalanya. Sementara Rashi harus menggigit bius untuk mencegah pendarahan. Dia merasa malu untuk membuka mulutnya karna kini gigi depannya sudah tidak ada. Selain itu, dia juga bingung bagaimana memberi tahu Luna karna Mamanya itu pasti akan heboh dan malah membawanya ke luar negeri untuk berobat.
"Sorry banget ya Dlan, gue gak nyangka kalau gigi gue bisa nyangkut gitu, sampai lo malah harus dapat jahitan gitu di kepala, jadi petak kan pala lo Dlan," ujar Rashi yang membuat Adlan tertawa. Dia tidak menyalahkan Rashi, dia juga tak bisa melakukannya karna Rashi tidak sengaja dan ini semua murni kecelakaan. Bagaimana bisa dia menyalahkan temannya untuk hal begini?
Untung saja untuk kali ini acaranya privat, jadi tidak boleh ada yang menonton, berbeda dengan tahap pertama yang sangat ramai dan penuh. Rashi tidak membayangkan jika banyak yang tahu atau bahkan keluarganya melihat adegan tadi, mungkin dia akan merasa malu seumur hidupnya karna melakumab hal yang konyol dan tak masuk akal. Rashi dan Adlan masuk kembali ke sana dan melihat Alena yang juga masih menunggu pengumuman.
"Kali ini bakal dipanggilnya urut dari 5 ke 1, nanti dikasih hadiah sesuai peringkat itu. Kalau kita bisa masuk ke 5, kita udah masuk ke final, jadi yah, semoga aja menang deh," ujar Alena yang diangguki oleh Adlan dan Rashi, mereka mengobrol sambil menunggu hasil, nakun ternyata jauh lebih lama dari dugaan sehingga mereka diminta untuk keluar dan beristirahat atau untuk makan siang.
Rashi, Adlan dan Alena makan di kantin agar mereka tak perlu pergi jauh jauh, Alena mengkhawatirkan keadaan Adlan, namun karna Adlan sudah tidak merasa sakit, dia bisa sampai ke tempat ini dengan baik dan selamat. Alena lega mendengar itu dan mereka melanjutkan makan dengan tenang.
"Menurut lo semua, peluang menangnya sebesar apa?" Tanya Adlan memecah keheningan. Rashi tidak bisa menjawab, dia merasa sudah mengerjakan semua soal IPA dengan baik, walau ada satu dua soal yang dia tak yakin jawabannya, namun tetap dia jawab, tidak akan dia biarkan kosong, barangkali dia sedang beruntung dan jawabannya ternyata benar.
"Ya udah deh ya, paling gak gue sih pede bisa masuk ke 5 besar, tapi ya semoga benar, bukan cuma pede aja. Gue percaya sama kalian, pasti kalian udah lakukan yang terbaik dari yang terbaik," ujar Adlan yang diangguki lagi oleh Alena dan Rashi, lelaki itu menghela napasnya dengan lelah, tahu jika akan seperti ini saat mereka bersama.
"Kayaknya benar deh lo gak bisa sama Rashi Len, lo terlalu diam dan Rashi juga. Gue takutnya anak lo pada gak bisa ngomong karna lo pada suaah banget buat ngomong. Lo jangan jodoh atau jangan pacaran sama Rashi ya. Kalau lo mau yang mirip sama nih anak, mending lo pacaran sama Ravi, dia lebih rame dan bisa buat hidup lo berwarna."
Rashi langsung merasa moodnya hancur berantakan saat Adlan membahas hal yang sebenarnya tak penting dan tak perlu untuk dibahas, entah apa tujuan anak itu, Rashi hanya tidak menyukainya. Apalagi saat melihat Alena yang malu malu ketika Adlan mengatakan hal itu. Sepertinya Alena benar benar menyukai Ravi sampai sejauh itu. Dia tidak menyangka Alena bisa tersenyum malu hanya karna nama Ravi disebut.
"Jangan sama Ravi, gak bakal bisa lo atasi sikap dia yang usil, tengil, dan bahkan suka banget mainan perempuan, kalau lo gak mau jadi mainannya sih, ya jangan mau sama dia atau terpancing sama mulut manis dia," ujar Rashi yang tentu membuat Adlan curiga. Dia bisa melihat perubahan sikap Rashi walau tak terlalu banyak karna lelaki itu sama saja pendiamnya.
"Kalau orang marketing, jangan ngejatuhin orang lain bos. Kalau lo mau Alena lihat lo baik, jangan lo jatuhkan Ravi di depan Alena. Itu namanya trick marketing yang cocok, gak baik itu. Daripada lo menjatuhkan dia, kenapa lo gak menunjukkan apa unggulnya lo dari dia?" Tanya Adlan yang membuat Rashi tersedak, dia tidak menyangka Adlan akan menanyakan hal itu padanya.
"Gue udah sama dia untuk waktu yang lama jadi gue cuma kasih tahu apa yang gue tahu, lihat dan rasakan. Kalau lo masih suka dan mau sama dia ya silakan, yang penting lo juga harus siap sakit hati. Ya karna Ravi itu ramah ke semua orang, sampai banyak yang salah paham ke dia, padahal mah gak suka juga dianya," ujar Rashi yang tak dijawab lagi oleh Adlan karna dia tak mau membuat Rashi makin membongkar aib adik kembarnya sendiri, padahal jika Ravi begitu, bisa saja sebenarnya Rashi lebih parah, hanya karna dia tidak punya pacar, jadi tidak terlihat.
"Ya udah lah, gak usah dibahas, orang niatnya juga bergurau kan? Ya udah yuk kalau udah makan, balik aja tunggu di sana. Di sini panas," ujar Alena yang akhirnya menengahi dan bersuara, diaxmemang kagum dengan Ravi, tapi belum berpikir jika menjadi kekasih pria itu adalah hal yang dia inginkan, jadi dia tidak mau Rashi malah bertindak makin jauh, apalagj itu saudara kandung bahkan saudara kantungnya.
Setelah mereka kembali, mereka menunggu selama 15 menit, sebelum akhirnya pembacaan hasil pemenang dari 5 sampai satu. Mereka menunggu dengan tegang, karna peringkat lima, emoat bahkan tiga bukan untuk SMA Sanjaya.
"Setelah ini adalah peringkat 2, dengan nilai point 135, diraih oleh SMA SANJAYAAA!!!" Adlan langsung bersorak girang, Alena juga tersenyum senang, namun Rashi tampak tak puas karna masih ada satu sekolah di atas mereka. Namun dia tak bisa menunjukkan kekesalannya karna pasti akan dicemooh oleh yang lain.
Mereka bertiga menerima hadiah dan berfoto, Rashi hanya tersenyum tipis di foto itu karna dia tak bisa menunjukkan giginya yang ompong kepada semua orang. Saat kembali duduk, Rashi menunggu siapa yang mendapat peringkat 1.
"Dengan perolehan point 145, wow, point yang sangat tinggi ya. Peringkat satu diraih oleh..... SMA Nusa Baktiii!!!" Rashi langsung melihat ke arah sorakan, dia menandai satu persatu dari mereka yang mendapat peringkat satu.
"Mereka saingan berat buat final," lirih Rashi Saat menyadari siapa yang maju untuk menerima hadiah.