
Rashi sudah menyelesaikan operasinya dan kembali ke kamarnya untuk pemulihan. Operasi berjalan lancar dan tumor bisa diangkat, untuk saja ukuran benda parasit itu tidaklah besar, jadi tidak begitu sulit untuk mengangkatnya. Saat ini Ravi duduk di sofa yang ada di ruang inap itu, di sana ada Rania yang juga masih dirawat.
“Ini Rania sama Rashi kalau ijin sakitnya barengan apa gak mencolok banget ya? Ah, untung aja gue gak satu sekolah sama mereka, bisa heboh kalau satu keluarga sakit semua,” gumam Ravi yang menatap lagi ke kakinya. Jujur saja, lelaki itu sudah jengah dan ingin berjalan normal seperti sebelumnya. Dia tidak ingin terus menggunakan kursi roda yang merepotkan itu, namun dia juga tidak mau dimarahi oleh papanya hanya karna mamanya menangis dan memintanya memakai kursi roda.
Tak lama berselang, Alena sudah datang dan masih memakai seragamnya. Karna dia kelas 11, jam pelajarannya lebih panjang dari Ravi. Gadis itu langsung duduk dan melihat kondisi kaki lelaki itu, lalu melihat ke arah Rania dan Rashi, sebelum akhirnya kembali duduk di sebelah Ravi yang memandangnya dengan heran, namun tetap senyum manis terukir di wajah lelaki itu.
“Lo udah kayak suster di sini, baru masuk udah ngecek semua kondisi pasien. Udah, sini aja, mereka aman kok, Rania besok udah bisa masuk sekolah lagi, kalau Rashi yang masih lama, mungkin minggu depan baru dia bisa masuk lagi, itu juga kalau dia udah pulih dalam waktu segitu,” ujar Ravi dengan lemas. Alena mengangguk paham dan mengelus pundak lelaki itu, pasti sedih harus melihat keluarganya sakit seperti ini.
“Nyokap bokap kemana? Kok tumben gak kelihatan, biasanya nyokap ada 24 jam?” tanya Alena yang membuat Ravi memberikan ponselnya dan membiarkan Alena membaca sendiri. Gadis itu membaca pesan Luna dari atas sampai bawah, lalu mengerti kenapa Ravi sangat lemas dan tidak bersemangat, rupanya Luna dan Darrel pergi ke luar negeri dalam satu minggu ini, namun dia tetap dijaga ketat oleh pengawal yang akan lapor pada Luna, jadi Ravi tak bisa macam macam.
“Kalau emang mau pergi tuh gak papa, gue juga udah gede, jadi ya biasa aja gitu. Tapi diawasinnya tuh loh yang gak enak, bahkan gue mau makan aja diikutin coba, walau mereka gak begitu kelihatan, tetap aja rasanya gak nyaman banget digitukan,” ujar Ravi yang diangguki oleh Alena, gadis itu ingin menjadi pendengar yang baik untuk Ravi yang sedang uring uringan itu, lelaki itu langsung diam saat menyadari dia sudah banyak bicara, dia menatap ke arah Alena dan menunggu gadis itu bicara.
“Gimana sekolah hari ini? Pasti gak mudah kan pakai kursi roda? Ada yang mau diceritakan gak? Kayaknya ada sesuatu yang menarik,” tanya Alena yang membuat Ravi mengangguk antusias, dia tak sabar menceritakan pada Alena tentang pertemuannya dengan Arthea, pasti Alena tertarik dengan ceritanya. Alena menyimak apa yang ravi ceritakan dengan wajah yang antusias, dia juga senang karna hal itu bisa membuat Ravi sedikit ceria. Namun saat tahu Ravi dicium oleh gadis itu, wajah Alena langsung berubah.
Gadis itu tak bisa menyembunyikan wajah terkejut saat tahu ada wanita seberani itu, dia bahkan tak pernah berpikir akan melakukannya pad Ravi, yah, status mereka juga masih teman kan saat ini? Dia tak bisa meminta Ravi untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sesuai keinginannya, dia juga sudah tahu jika Ravi tidak suka pertemanannya diatur oleh siapapun, jadi Alena berusaha menjaga sikap di depan lelaki itu.
“Gue tahu Lo kaget, Gue juga kaget, tapi setelah dengar alasan dia, Gue jadi biasa aja. Gue gak ada apa apa sama dia kok, dan bahkan gue bilang ke dia kalau gue punya pacar, dan itu lo. Gue bahkan mau ngenalin Lo ke dia kalau lo gak keberatan,” ujar Ravi yang ternyata menyadari perubahan Alena. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum simpul, dia tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tak penting, dia hanya perlu percaya pada Ravi dan lelaki itu tak akan mengecewakannya.
“Kalian bisa diam gak? Kalau gak bisa mending nyewa kamaar sebelah deh buat cerita.” Alena dan Ravi langsung menengok saat mendengar suara Rashi, rupanya lelaki itu sudah sadar dan sedari tadi mendengar ocehan mereka. Alena langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Rashi, ingin memastikan kondisi lelaki itu dalam keadaan baik dan aman.
Alena menekan tombol panggil dokter yang ada di sana, dokter memang memberi pesan untuk memanggilnya jika Rashi sadar, atau terjadi sesuatu yang buruk pada lelaki itu. Dokter datang dan memeriksa kondisi Rashi, memeriksa kepalanya dan ingatannya serta banyak hal lain, setelah memastikan kondisinya baik, dokter memberi pesan apa yang tak boleh dimakan oleh lelaki itu mereka pun menurutinya dan berterima kasih pada dokter Alena melihat Rashi yang masih ditutup kepalanya.
“Apa lo mau makan sesuatu? Atau melakukan sesuatu?” tanya Alena yang dijawab gelengan kepala oleh Rashi, dia merasa pusing dan sakit di kepalanya, dia malas untuk berbicara atau mendengarkan dan Alena sangat berisik baginya. Ravi bisa melihat wajah tak nyaman itu, membuatnya mencoba untuk menarik Alena dari sana. Mereka harus keluar dan memberi waktu Rashi untuk istirahat.
“Gak usah kemana mana,” ujar Rashi pelan sambil memegang tangan Alena. Ravi tak bisa marah atau mencegah kembarannya menyentuh tangan seseorang yang akan menjadi kekasihnya, terlebih dia tahu Rashi masih dalam keadaan sakit dia harus merelakan Alena dipegang oleh lelaki itu. Ravi yang masih duduk di kursi roda pun hanya menyenderkan tubuhnya di kursi itu dan melepaskan tangan Alena.
“Kepala gue sakit,” ujar Rashi pelan, Alena langsung mengambil tangan lelaki itu, lalu memijat di bagian antara jempol dan telunjuknya. Alena tidak mungkin memijat kepala lelaki itu, jadi dia melakukan ini sebagai gantinya. Rashi mengerang kesakitan, mungkin dia bisa merasakan sakit seperti sedang dipijit kepalanya. Ravi juga ikut mengamati apa yang Alena lakukan dan bahkan menirukannya, rupanya rasanya cukup enak dan membuat kepalanya seperti dipijit.
“Udah,” sahur Rashi pelan, Alena menurut dan melepaskan tangannya lalu kembali ke arah Ravi, dia membantu Ravi mendorong kursi roda ke arah sofa, membiarkan Rashi beristirahat dengan tenang. Lelaki itu tak mengatakan apapun lagi, dia mencoba untuk tidur. Yah, yang dia lakukan untuk hari ini dan beberapa hari ke depan hanya makan, buang air, minum obat dan tidur. Itu akan mempercepat proses penyembuhan pasca operasi.
“Ravi, kamu bisa menemui dokter sekarang untuk memeriksa kondisi kaki kamu dan mungkin kita bisa segera lakukan terapi buat ini. Ayo,” tiba tiba saja suster masuk ke dalam ruang inap Rashi dan meminta Ravi untuk pergi. Rupanya Luna sudah menyiapkan semua, termasuk pengobatan dan terapi kaki Ravi agar bisa berjalan normal seperti sedia kala.
Perginya Ravi membuat Alena dan Rashi hanya berdua di sini, mereka hanya diam satu sama lain, sampai akhirnya Rashi menggeliat karna rasa sakit di kepalanya meningkat, mungkin karna efek bius yang sudah mulai habis jadi dia bisa merasakan kembali sakit itu. alena langsung kembali ke sisi Rashi dan mengelus pundak lelaki itu untuk menenangkannya.
“Ini efek biusnya udah hilang, mau gue panggil suster buat penghilang nyeri kah?” tanya Alena pelan, Rashi menggelengkan kepalanya pelan, dia ingin menahan semua dan tidak bergantung pada obat obatan itu meski dia harus sedikit tersiksa karenanya. Rashi malah mengode Alena untuk tetap ada di sisinya, dan Alena pun menyetujuinya.
“Pada suatu hari, hiduplah sepasang sahabat yang memiliki sikap tolak belakang, yang satu bernama Lilin, yang satu bernama Rara. Lilin anaknya sangat sombong dan Rara sangat rendah hati ,namun Rara masih mau berteman dengan Lilin meski sudah tahu hal itu. suatu yang panas. Lilin berlari ke sana kemari sementara Rara hanya berjalan santai. Lilin mengejek Rara, dan katanya Rara tidak bisa berlari seperti dia.”
“merasa diremehkan, Rara akhirnya jengah dan mengajak Lilin untuk lomba lari. Lilin berlari sangat cepat, sedangkan Rara hanya berjalan pelan dan santai, sebelum mencapai garis finish, Lilin kelelahan, dia jatuh dan entah tertidur atau pingsan, lalu Rara yang jalan santai akhirnya bisa memenangkan pertandingan karna Lilin belum bangun sampai Rara bisa menyelesaikan pertandingan.”
“Adaptasi dari cerita Kelinci dan Kura kura, huh?” tanya Rashi setelah Alena selesai bercerita. Hal itu sontak membuat Alena kaget, dia tidak menyangka Rashi tahu dan menyadari cerita itu, lelaki itu tertawa karna tingkah polos Alena, dari sekian banyak cerita yang ada, gadis itu memilih cerita anak anak yang bahkan hampir sema orang tahu akan kisah itu.
“Thanks, gue udah ngantuk, gue tidur,” ujar Rashi yang langsung menutup matanya. Alena Mengelus pundak Rashi dan mengambil kursi untuk tetap berada di samping lelaki itu. Alena mengelus kepala Rashi yang tidak terbungkus perban. Dia terus melakukan itu sampai tanpa sadar dia juga tertidur di sana.
Tak sengaja Rania bangun dari tidur panjangnya, dia melihat selang infus dan menggeliat, saat dia menengok ke samping, dia melihat posisi Alena dan Rashi yang sangat romantis, Rania sampai harus mengerjapkan matanya berkali kali, dia kira Ravi lah yang ada di sana, namun setelah diamati, rupanya itu adalah Rashi.
“Wow, gue kira dia sama Ravi, ternyata dia sama Rashi? Ah, atau dia sama keduanya? Wah, seru nih,” ujar Rania yang mengambil foto Rashi dan Rania, namun setelah itu dia merasa harus memisahkan mereka karna Ravi pasti merasa salah paham jika melihat posisi itu. Rania bangun dari kasurnya dan menarik kepala Alena untuk menjauh, dia juga melepaskan tangannya dari kepala Rashi, dan setelah semua beres, dia kembali ke kasurnya seolah tak terjadi apa apa.
Setengah jam kemudian, Ravi kembali ke kamar itu diantar oleh suster, dia melihat Alena yang masih tertidur, dia mendekat dan tersenyum, Alena memang sangat baik dan tulus, dia bahkan menjaga Rashi sampai ketiduran seperti itu (Ah, terima kasih pada Rania, jika bukan karna dia, Ravi tidak akan mungkin berpikir sesederhana itu, dia pasti sudah mencurigai banyak hal.
“Apa kata dokter?” tanya Rania yang seolah baru bangun dari tidurnya, Ravi menggelengkan kepalanya, dokter tidak mengatakan sesuatu yang spesial, mereka hanya mengatakan Ravi akan sembuh jika dia rajin kontrol dan terapi. Namun mereka tak bisa menyebutkan waktu secara resmi kapan dia bisa sembuh.
“Tenang aja kak, Kak Ravi gak akan lama kok lumpuhnya, kan Kak Ravi punya tekad kuat,” ujar Rania yang diangguki oleh Ravi, dia juga tahu akan hal itu, namun dia ingin segera bisa berjalan karna sudah jenuh dengan kursi roda ini. Dia ingin bisa berlari, bermain basket dan tentu saja berenang seperti yang Rania lakukan.
“kak, Kak Ravi itu udah pacaran resmi belum sih sama Alena?” tanya Rania setelah beberapa saat terdiam. Ravi menggelengkan kepalanya. Dia berniat ingin langsung menyatakan perasaannya dengan pantas, namun itu harus memakan waktu lebih lama karna apa yang terjadi. Tidak mungkin dia menembak Alena dalam keadaan seperti ini. Tidak keren sama sekali.
“Kalau kak Ravi udah jadian, bakal marah nggak ngelihat kayak gini? Maksudnya ngelihat Alena dekat dan tidur sama laki laki kayak gini?” tanya Rania penasaran. Ravi sontak menggelengkan kepalanya, dia tidak akan marah hanya karna masalah sepele, apalagi banyak kemungkinan terjadi sampai mereka ada di posisi ini, tidak seharusnya Ravi marah tanpa tahu apa yang terjadi.
“Yakin? Baguslah. Gue, eh aku mau ngomong sesuatu tapi takut aja,” ujar Rania yang membuat Ravi mengerutkan keningnya. Memang apa yang akan dikatakan oleh gadis itu sampai dia merasa tidak enak untuk mengatakannya? Padahal Ravi tak pernah merasa keberatan Rania mengatakan apapun.
“Kalau lagi berdua, ngomong santai aja yuk, pakai lo gue, gak usah pakai kak, kan aku Cuma beberapa menit lebih tua, jadi santai aja, gimana?” tanya Ravi yang diangguki oleh Rania, namun pasti dia merasa canggung harus bersikap santai dengan Ravi, karna dia dididik untuk jadi sopan pada Ravi dan Rashi.
“Alena itu baik sama semua orang, apalagi yang dia kenal, jadi ya lo bakal lihat adegan begini sering kak. Apalagi kalau dia mikir Rashi kan saudara lo, jadi ya gak papa mereka dekat, sebagai saudara, mungkin suatu hari itu bakal ganggu lo,” ujar Rania yang dijawab gelengan kepala oleh Ravi, dia yakin tak akan keberatan akan hal itu.
“”Selera Rashi mah bukan kayak Rania, kalaupun iya, gue yakin dia gak akan merebut pacar kembarannya sendiri, jadi ya gue gak perlu khawatir sama hal yang gak perlu,” ujar Ravi yang diangguki oleh Rania. Gadis itu menatap ke arah Rashi yang masih memejamkan matanya, namun dia tahu, lelaki itu hanya pura pura tidur.
Rania tahu Rashi sangat peka terhadap gerakan kecil, namun lelaki itu tetap meski Rania memindahkan kepala dan tangan Alena, padahal dia yakin, Rashi harusnya langsung bangun dari tidurnya.
“Gue yakin, kak Rashi gak akan begitu,” ujar Rania ingin memastikan Rashi akan melakukan hal yang mereka harapkan