
Ravi dan Alena makan dengan tenang, Alena masih tidak menyangka dan mengira semua ini hanyalah mimpi, dia tidak pernah membayangkan Ravi akan menyukainya. Lelaki yang sangat hangat dan baik padanya, namun dia berekspetasi jika Ravi memiliki selera yang tinggi dan tak akan mau jika bersanding dengannya. Siapa sangka ternyata Ravi malah menyukainya dan mereka berakhir di tempat ini dengan suasana canggung begitu.
"Lo gak perlu tegang begitu Alena, gue gak akan minta atau paksa Lo buat jadi pacar gue. Gue cuma bilang kan, gue suka sama Lo udah, itu aja. Kalau Lo gak suka nih sama gue, ya lo tolak aja pun gak masalah, beneran deh, gak papa, gak udah jadi beban pikiran begitu, gue yang jadi merasa bersalah ke Lo jadinya," ujar Ravi saat melihat Alena tampak bingung dan memikirkan banyak hal, dia tahu Alena terus memikirkan tentang apa yang dia katakan.
"Justru sebaliknya. Gue gak nyangka kalau Lo bakal bilang gitu, Lo bakal suka sama gue dan bahkan Lo ungkapkan itu di saat begini. Demi apa, gue gak nyangka banget jadinya," ujar Alena yang tentu membuat Ravi terkekeh, gadis itu sungguh imut dan membuat hatinya menjadi senang, entah kenapa banyak yang tak suka dengan Alena, padahal dia gadis yang sangat baik dan cantik juga.
"Ya udah, sekarang Lo makan aja yang tenang, gak usah mikirin hal ini dulu, salah gue sih gak sabar buat bilang. Gue cuma gak mau aja kalau Lo diambil sama cowok lain, gak iklan banget sih gue jadinya. Makanya gue bilang dulu nih ke Lo, biar Lo juga menyiapkan diri buat gue, hehe, gak akan lama gue bakal nembak Lo kok, beneran," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena, mereka akhirnya bisa makan dengan nyaman seolah tidak terjadi apa apa.
"Ah ya, tiba tiba kepikiran gue, Rashi gimana nasibnya ya? Gue ngerasa khawatir sama dia, dia bisa sembuh kan ya? Tumor di kepala itu kan udah gawat dan bisa jadi petaka banget. Apalagi Rashi ngerasa sakit di kepalanya, pasti tumor itu kan gara garanya?" Tanya Alena yang diangguki oleh Ravi. Lelaki itu juga merasa sangat khawatir, yah, jelas saja, Rashi sudah hidup dengannya selama 16 tahun, tidak mungkin dia tidak khawatir melihat kembarannya sedang dalam kondisi yang tak baik.
"Ah Len, kalau gue boleh tanya, menurut Lo, Rashi orangnya gimana?" Tanya Ravi yang tiba tiba dan sontak membuat Alena merasa kaget. Gadis itu tampak berpikir, bagaimana Rashi menurutnya? Dia tak pernah terlalu memperhatikan lelaki itu, jadi dia juga bingung harus mengatakan apa. Dia hanya tahu Rashi adalah anak yang populer bahkan sejak pertama masuk, apalagi sikapnya yang pendiam dan dingin membuat orang makin jatuh cinta padanya.
"Kalau menurut gue, biasa aja sih. Ya, kan sikap orang beda beda, dia tipe yang dingin dingin sadis, tapi dia juga memperhatikan sekitarnya. Jadi ya gue gak kaget gitu kalau dia seakan gak ngelihatin, tapi padahal dia tuh tahu ada apa aja di sekitar dia. Itu sikap baiknya sih, dan ada sikap buruknya juga kalau Lo mau dengar," ujar Alena yang membuat Ravi menaikkan alisnya, menunggu gadis itu mengatakan apa yang dirasakan.
"Tapi sikap buruknya, gengsi dia terlalu tinggi, dia gak pernah mau mengakui kalau dia bingung, dia gak tahu atau gimana. Yah, itu karna masalahnya sepele kalik ya, kalau masalahnya besar dia gak kayak gitu," ujar Alena yang diangguki oleh Ravi, dia juga tahu akan hal itu, dia hanya ingin melihat barangkali Alena merasakan sesuatu yang lain dengan Rashi.
"Kalau ini basa basi aja ya, gak usah lo pikir bener bener dan gak usah lo ambil pusing. Kalau misalnya nih, gue sama Rashi nembak lo nih, lo pilih mana? Kan wajah kami sama, jadi lo gak perlu milih dari segi fisik, haha, walaupun kalau segi fisik menang gue sih, gue lebih cakep dan lebih tinggi juga dari dia," ujar Ravi yang membuat Alena kembali berpikir.
"Emang kenapa lo tanya gitu? Rashi suka juga sama gue? Wah kalau beneran sih udah pantas jadi kanidat putri Indonesia gue disukai sama dua cowok tampan dan populer, padahal gue juga cuma upik abu aja kelasnya, kayak kisah novel aja," ujar Alena sambil terkekeh, namun Ravi begitu penasaran, apa yang membuat Alena menyukainya dan tidak dia temukan di Rashi, karna itu akan menjadi penentu jika suatu hari nanti Rashi menyukainya, dia bisa mempertimbangkan hal itu.
"Eum, kalau misal ya, misal dua duanya nembak, ya gue tanya dulu aja alasan nembaknya apa. Terus kalau mereka bersedia berbagi, ya gue gak masalah sih punya dua pacar. Lumayan kan kalau misalnya dia sibuk, ya gue sama lo. Kalau lo sibuk, walau gak mungkin juga lo sibuk, ya gue sama dia," ujar Alena yang membuat Ravi takjub, dia kira Alena pendiam dan anak baik baik, rupanya gadis itu juga mengerti hal seperti ini, membuatnya merasa sangat terhibur.
"Tapi beneran deh, kalau lo harus pilih satu nih, gue sama Rashi sama sama suka lo, lo bakal pilih sama siapa? Gue atau Rashi?" Tanya Ravi yang membuat Alena kembali berpikir, sebenarnya dia tak suka pertanyaan seperti ini, apalagi jika itu tak mungkin, untuk apa dia membayangkan dan memikirkan jawabannya? Namun karna Ravi yang bertanya, dia harus memberikan jawaban yang jujur juga.
"Eum, tergantung di saat itu nembaknya gimana, kalau cara nembaknya sama, gue bakal tanya ke hati gue, mau pilih siapa, mau pilih yang mana. Siapa yang bikin gue berdebar dan siapa yang biasa aja, gue bakal cari tahu hal itu dulu. Jadi kalaupun kalian berdua nembak, pasti hati gue cuma deg deg an ke satu orang, dan ya gue akan pilih orang itu, karna hati kecil gue pilihnya dia," ujar Alena yang diangguki oleh Ravi, dia sudah cukup paham dan merasa obrolan ini sudah cukup.
"Ya udah, kalau gitu gue akan pastikan, cuma gue yang akan lo pilih dan cuma gue yang dikasih kesempatan buat jadi pacar lo, jadi lo juga gak perlu bingung lagi nih harus pilih gue atau Rashi, lo cuma tinggal bilang ya ke gue, hahaha," ujar Ravi kembali lagi ke topik awal. Alena tidak mau kondisi jantungnya jadi bermasalah karna terlalu berdebar, jadi dia memilih untuk tidak menjawab dan pura pura tidak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ravi.
"Ya udah, makannya dihabisin ya, habis itu gue antar lo pulang dulu, lo harus mandi dan oaking gak istirahat dulu. Di sana udah ada bokap sama nyokap, nanti juga Rania nyusul, jadi tenang aja. Gue malah merasa khawatir sama lo, karna lo kan bukan anggota keluarga gue nih, kenapa lo yang ikut pusing masalah Rashi dan operasinya? Gue kan jadi gak enak gitu loh," ujar Ravi yang membuat Alena terkekeh.
"Gue gak masalah sama sekali kalau memang Rashi, Lo, Rania atau om tante yang minta bantuan gue, ya karna mereka udah sangat sangat baik sama gue, ya jadi gue bakal siap dan berangkat kalau mereka yang minta. Jadi lo tenang aja, gak perlu khawatir sama gue," ujar Alena yang setelah itu menyuap sendok terakhir dari piring ke dalam mulutnya.
"Kalau ada apa apa gue kabarin. Besok lo masih libur kan? Nah lo bisa tuh main ke kamar Rashi, tapi jangan apa apa ya, gue cemburu walau sama saudara gue juga. Jadi jangan macam macam sama saudara gue. Hahaha," kekeh Ravi karna sudah memberikan ancaman yang tentu saja hanya gurauan, dia juga tahu jika Rashi tak akan memikirkan atau menyukai Alena karna lelaki itu memang memiliki selera yang sangat tinggi.
Setelah mengantar Alena untuk pulang, Ravi kembali ke rumah sakit, tak lupa membawakan masakan untuk keluarganya di sana, sekalian menggoda Rashi karna lelaki itu harus puasa sebelum melakukan operasi, entah apa tujuan dan hubungannya, Ravi tak mau tahu tentang hal itu, dia hanya ingin Rashi sembuh bagaimana pun caranya.
"Oh ya, gue juga belum tanya Rania mau ke sana atau enggak, gue gak bawa makanan buat dia pula. Astaga, dia harusnya gue telpon dari tadi," ujar Ravi yang langsung mengambil ponselnya dan menelpon Rania, namun gadis itu tak menjawab, membuat Ravi khawatir dan terus melakukan panggilan kepada gadis itu, dia tidak memperhatikan jalan yang ada di hadapannya dan tanpa diduga, dia melanggar lampu lalu lintas lalu ditabrak oleh mobil dari sebelah kiri.
Tabrakan yang terjadi membuat kaki Ravi terjepit, namun bagian tubuh lain hanya mengalami bocor dan luka ringan. Lelaki itu masih dalam keadaan sadar dan berteriak kesakitan karna kakinya tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Dia mengerang bahkan sampai menangis karna tak kunjung ditolong oleh orang orang.
"MAS MAS MAS, AYO MAS, HEH INI ADA ORANGNYA, BANTU, BAWA KE RUMAH SAKIT!!" Orang orang berteriak dan berusaha menolong kaki Ravi yang terjepit, lelaki itu juga memaksa kakinya untuk bisa ditarik. Dia mengerqng kesakitan saat tahu kakinya sobek. Dia meminta tolong pada orang orang untuk pelan karna dia tak mau kakinya jadi putus jika ditarik paksa. Lelaki itu sudah sangat kesakitan, namun dia masih berusaha sadar agar kondisinya tetap stabil.
"Pak tolong bawa saya ke rumah sakit dulu, saya akan tanggung jawab semua, tapi nanti, saya harus ke rumah sakit dulu," ujar Ravi saat akhirnya berhasil menyelamatkan kakinya dan melihat darah mengalir deras dari sana. Dia segera dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan di UGD, namun ternyata luka karna terjepit itu cukup parah, selain itu, tulangnya sepertinya retak karna hantaman benda keras dan bahkan karna terjepit itu juga.
"Dokter, kalau mau operasi harus pakai uang kan ya? Saya gak punya uang dok, saya telpon mama saya dulu ya?" Tanya Ravi yang tentu diperbolehkan oleh dokter itu, namun dia ingat jika Rashi sedang gawat, dia tak mau menambah beban pikiran orang tuanya dengan keadaan seperti ini, jadi dia memilih untuk meminta pengawalnya masuk dan membayar dulu semua biaya yang diperlukan. Pengawal itu memang mengikuti Ravi, namun tak tahu jika Ravi akan mengalami kecelakaan seperti itu.
Sementara itu, di sebuah rumah yang megah seperti istana, tempat dimana gadis yang Ravi telpon tak mengangkat. Dia meringis kesakitan sambil memegangi dada sebelah kirinya. Wajahnya penuh keringat dan bahkan napasnya sudah tak teratur lagi. Dia berusaha untum menghilangkan rasa sakit itu, karna dia lula jika obatnya sudah habis dan dia perlu resep dokter untuk membeli obatnya.
"Astaga, ternyata kondisi gue separah ini. Masak gak minum obat sekali aja udah bikin gue mau tewas gini. Astaga ya Tuhan, sakit sekali. Tuhan, ini sakit banget," lirih Lira yang meremas bagian yang sakit itu karna dia tak mau terus diperbudak oleh penyakitnya ini, ah, bukan penyakit karna dia sudah seperti ini sejak lahir, namun kondisinya semakin parah seiring bertambahnya usianya.
Karna sakitnya makin menjadi, dia mencoba untuk pergi dari kamarnya, namun baru saja melangkah beberapa saat, dia sudah terjatuh dan akhirnya pingsan. Untung saja suara jatuhnya keras dan pengawal langsung mengetuk pintu, saat tak ada jawaban, pengawal langsung masuk ke kamar Rania dan mendapati gadis itu sudah tak sadarkan diri.
Mereka langsung membawa Rania untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Mereka tahu apa yang harus dilakukan agar
Rania selamat karna mereka sudah diberi pelatihan untuk hal ini. Yah, pengawal pribadi adalah dokter, teman, orang tua dan sekaligus penjaga bagi anak mereka, jadi mereka harus mengerikan apa yang harus mereka lakukan jika ada di kondisi itu.
Sungguh hari yang sangat mengejutkan bagi keluarga Wilkinson. Ketiga anak mereka harus mengalami hal buruk di saat yang bersamaan. Atau mungkin karna mereka punya ikatan yang sangat kuat sampai sakit pun bersama? Mereka pasti tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
Apalagi karna Ravi, Rania dan Rashi berada di rumah skait yang berbeda saat ini, Luna dan Darrel sedang bersama dengan Rashi, jadi mereka tak tahu kondisi dua anak yang lain, saat mendengar, pasti Luna akan sangat syok dan mungkin juga jatuh sakit karnanya, ah keluarga yang sangat kompak bukan?
Astaga, ini bukan waktunya untuk membahas itu. Baiklah, semoga ketiga anak Luna bisa selamat dari apa yang menimpa mereka, dan semoga mereka bisa segera sembuh, pulih, dan mendapat kebahagiaan yang masih mereka harapkan sampai detik ini untuk terjadi.