
Rashi menggendong tas rselnya yang kosong menuju tempat berkumpulnya anak – anak yang nantinya akan mengikuti perlombaan. Rashi bisa melihat wajah – wajah kutu buku yang ada di hadapannya, mungkin hanya dia yang berwajah santai dan tentu saja tampan. Buktinya banyak mata yang melihat ke arahnya.
"Wih lihat tuh, ganteng banget gilak. Apa dia pertukaran pelajar ya? Masak iya dia asli orang Indonesia? Eh tapi kalau pertukaran, emang boleh ikut olimpiade, kayaknya gak boleh deh." Seperti itulah bisik – bisik yang terdengar jelas di telinga Rashi. Orag – orang itu sungguh norak dan membuatnya muak, jika dia tak teringat ini di luar kota, sudah pasti dia meninggalkan tempat ini dan pergi.
"Lo satu kamar sama Gue. Dan Lo kak, Lo ada di kamar lain sama anak lain juga. Lo gak papa kan? Atau Lo mau satu kamar sama Gue aja? Gue iklas banget," ujar Adlan yang tak tahu malu sama sekali. Namun kakak kelas itu tak menjawab sama sekali, membuat Adlan mendengus kesal karnanya.
"Lo gak bawa baju atau apa gitu ya? Kenapa tas Lo kosong banget gini sih?" tanya Adlan saat mengangkat tas Rashi yang kosong. Rashi menggelengkan kepalanya dan menunjuk dua orang berpakaian serba hitam di luar pagar. Adlan langsung mengerti dan menganggukkan kepalanya.
"Enak ya jadi anak orang kaya, masak pergi keluar Kota aja ada yang jagain. Dibawain baju, gak harus susah – susah, bahkan Lo gak kerja juga kayaknya gak bakal miskin deh. Gak adil banget sih dunia ini," ujar Adlan yang membuat Rasshi mengangkat sebelah alisnya, lelaki ini sangat aneh dan berisik, membuat kepalanya terasa pusing.
"Nih ya, Lo itu lahir aja udah kaya, terus Lo cakep, dah gitu pintar dan gk neko – neko. Kayaknya waktu pembagian yang jelek – jelek Lo gak datang deh. Iri banget Gue jadinya," ujar Adlan pelan karna tak mau menarik perhatian, padahal memang orang – orang itu sudah memperhatikan mereka berdua.
"Ta.. tapi, Lo juga ganteng kok. Nyatanya tuh cewek – cewek ngelihatin kalian berdua, daritadi mereka ngomongin kalian," ujar kakak kelas itu yang membuat Rashi menengok. Akhirnya orang itu bicara pada mereka sedikit santai. Biasanya dia hanya bicara saat mereka berlatih, itu pun hanya seputar materi lomba yang akan mereka ikuti.
"Heh kak, Lo itu juga cantik loh kak, ini gue gak bohong atau gak gombal. Lo itu cantik, putih, tapi Lo culun. Coba Lo gak culun, pasti banyak yang suka sama Lo. Satu lagi, Lo terlalu pendiam dan bikin orang takut dekat sama Lo," ujar Adlan yang membuat gadis itu makin menunduk.
"Lo gak harus sebutin itu semua," ujar Rashi dengan tegas dan langsung menarik Adlan untuk pergi dari sana. Sebelumnya dia sudah mengatakan pada kakak kelasnya untuk pergi ke kamar dan nanti mereka akan bertemu saat waktunya makan siang. Kakak kelas itu menurut saja pada Rashi dan mereka pun berpisah.
"Kayaknya Lo pantas deh jadi pacarnya dia. Lo pacarin aja tuh kakak kelas, Lo poles dikit juga udah cantik banget. Apalagi kan Lo orang kaya, pasti ada lah biaya buat perawatan dia. Kelihatan tuh dia juga suka sama Lo karna dia tadi nurut banget sama Lo, matanya juga beda banget," ujar Adlan yang tak berhenti mengoceh.
"Ngoceh lagi, Gue buat Lo gak bisa napas," ujar Rashi yang langsung membuat Adlan menutup mulutnya rapat – rapat. Rashi menganggukkan kepalanya puas dan langsung masuk ke dalam kamar yang akan mereka tinggali selama satu minggu ini. Rashi keluar lagi dari kamar untuk mengambil barang – barangnya yang dibawakan oleh pengawalnya.
"Kalian mau nunggu di sini? Kalian pulang aja, atau liburan sana. Di sini itu aman, gak akan terjadi apa – apa, kalian tenang aja," ujar Rashi yang tak dipatuhi oleh mereka. Mereka hanya mendengarkan perintah Darrel, dan perintah itu mengatakan untuk tak pergi dari sekitar sini dalam waktu yang lama.
"Tuan besar pernah mengalami kejadian buruk dan nyaris kehilangan nyawanya saat dulu masih muda. Kami diperintahkan untuk menjaga tuan muda agar kejadian buruk tidak akan terulang lagi. Kami mohon, demi keselamatan tuan muda, ijinkan kami di sini dan menjaga tempat ini," ujar orang itu yang membuat Rashi menghela napasnya.
"Papa udah bilang hal itu lima kali hari ini, dan kalian masih harus ngomongin hal ini lagi. Ya udah, terserah kalian, pokoknya tererah kalian aja, yang penting kalian bahagia. Jangan lupa makan sama mandi, satu minggu loh. Ada berapa orang di sini?" tanya Rashi karna dia tahu bukan hanya dua orang yang ada di tempat ini.
"Tuan besar menyewa dua puluh lima kamar di kota ini untuk kami. Kami memliki shift jaga dan bergantian menjaga tuan muda. Kalau yang saya tahu, jumlahnya ada lima puluh, tuan," ujar orang itu yang membuat Rashi membuka mulutnya.
"Lima puluh, kalian gak salah? Saya Cuma pergi ke luar kota buat pelatihan olimpiade dan papa kirim lima puluh orang? Wah, tuan besar Darrel Atmaja memang sangat kaya," ujar Rashi yang membuat mereka tersenyum. Mereka jarang melihat Rashi yang seramai ini, biasanya dia sangat pendiam dan hanya mengatakan sesuatu yang penting.
"Tuan muda, jika boleh saya bertanya. Apakah tuan muda benar tuan muda Rashi? Bukan tuan muda Ravi kan?" tanya orang itu yang membuat Rashi kembali memasang wajah dingin dan datar. Hal itu sudah cukup menjawab pertanyaan orang itu. orang itu meminta maaf dan kembali diam sementara Rashi kembali masuk ke kamarnya.
Waktu makan siang, waktu yang sudah mereka tunggu. Namun mereka harus mengantre panjang dengan peserta lain. Rashi menghela napasnya dan ikut mengantre dengan Adlan yang sangat sibuk pada orang – orang yang menatap mereka, apalagi jika menemukan gadis cantik menurut Adlan, lelaki itu langsung emendorong – dorong agar Rashi juga melihat.
"Jangan bilang Lo gak tertarik sama cewek? Gila, tuh anak cantik banget. Bening gitu, wajah – wajah asia, masak Lo gak suka sih? Apa Lo sukanya yang bule – bule?" tanya Adlan yag dijawab orang – orang itu tak lebih cantik dari Luna dan Rania dan hal itu sangat disetujui oleh Adlan.
"Aduh! Lo ngejegal gue ya? Kasar banget sish, antre dong!" mereka berdua melihat ke arah keributan. Mereka bisa melihat seorang anak berdiri takut dan satu lagi sudah di lantai dengan wajah yang marah. Rashi yang mengenal salah satu di antara mereka pun langsung menghampiri orang itu, begitu juga Adlan.
"Ada apa ini?"
"Ah, gak papa. Aku Cuma gak nyangka ada orang yang iseng kayak gini. Aku gak salah apa – apa, tapi dia ngejegal aku sampai jatuh. Punya dendam apa sih?" tanya orang itu yang membuat sang tertuduh menggelengkan kepalanya, namun tak mengatakan apapun karna dia yakin tak ada yang percaya.
"Dia gak ngejegal Lo. Lo jatuh karna tali sepatu Lo sendiri. Tuh lo lihat, sepatu Lo talinya udah lepas. Jangan asal nuduh orang, pencemaran nama baik susah loh hukuman penjaranya. Ah, Lo belum tujuh belas ya? Ya berarti mungkin penjara anak aja," ujar Rashi yang membuat orang itu terdiam. Kakak kelas itu menatap ke arah Rashi dengan mata yang berkaca.
"Kalau ada orang yang nuduh ke Lo, Lo jangan Cuma pasrah. Lo bakal diinjak – injak selamanya. Dan Lo, Gue gak tahu Lo siapa, tapi kelakuan Lo gak mencerminkan Lo itu orang yang berpendidikan, bagaimana bisa Lo ikut acara ini?" Rashi langsung pergi dari sana dan menggandeng tangan kakak kelasnya.
"Dari mana Lo tahu kalau dia jatuh karna tali sepatunya? Lo kan gak lihat waktu dia jatuh?" tanya Adlan saat mereka kembali ke barisan belakang agar tidak memotong antrean. Anak yang mereka tolong berdiri di antara mereka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Logika. Lihat aja tali sepatunya," ujar Raasashi singkat yang meembuat Adlan menganggukan kepalanya. Mereka mengantre dengan tenang dan makan dengan tenang pula. Tak sedetikpun Rashi melepaskan fokusnya dari kakak kelasnya ini, dia tak mau kakak kelasnya terluka dan membuatnya makin repot.
"Makasih tadi udah belain Gue, baru pertama kali Gue ketemu orang yang peduli sama Gue. Lo benar, Gue selalu ditindas sama orang dan Gue gak bisa membela diri Gue sendiri," ujar Kakak kelas itu yang membuat Rashi memandangnya dnegan ekor matanya. Lelaki itu langsung membuang mukanya saat itu juga.
"Gak usah merasa istimewa, Gue bakal lakuin hal yang sama ke siapapun."
Kakak kelasnya tetap tersenyum mendengar hal itu, setidaknya dia menemukan orang yang peduli pada orang lain bukan karna fisisknya. Yah, dia tahu fisik menjadi penentu kita akan dibela atau tidak. Namun Rashi berbeda, padahal lelaki itu memiliki fisik yang nyaris sempurna, lelaki itu sangat istimewa.
"Aku jatuh cinta, Ku jatuh cinta. Cinta kepadamu, Ku jatuh Cinta, I am falling in love, I'm falling in love with you."
Yah, kalian sudah bisa menebak siapa yang merusak suasana dengan nyanyian fals dan nada yang sembarangan itu.