
Ravi sudah boleh pulang dari rumah sakit, namun dia tetap harus melakukan kontrol rutin untuk melihat perkembangan tulangnya. Dia juga belum boleh menapakkan kakinya karna perekat tulang itu masih belum kering sempurna atau menyatu dengan tulang Ravi. Hal itu membuat Ravi harus memakai kursi roda untuk beraktivitas. Padahal sebentar lagi dia akan masuk sekolah seperti biasanya setelah ijin sakit beberapa hari ini.
"Masak gue harus sekolah dalam posisi kayak gini? Gak asik banget dong sekolahnya. Astaga, kenapa sih gak bisa sembuh dalam waktu dua hari gitu? Menyebalkan," ujar Ravi memandang ke arah kakinya. Dia hendak memukul kakinya, namun Alena segera mengambil tangannya dan meminta lelaki itu untuk tenang karna ini bukanlah akhir dunia meski dia harus memakai kursi roda.
"Kalau Lo pakai kursi roda, Lo malah gampang banget dong dapat perhatian, jadi trending topik dan langsung terkenal di antara guru guru juga. Apalagi banyak murid cewek yang bisa Lo godain kan?" Tanya Alena yang membuat Ravi meliriknya dengan kesal. Namun Ravi tidak mengatakan apa apa. Dia terbiasa untuk tetap diam jika suasana hatinya buruk, karna dia tahu, apa yang keluar dari mulutnya bisa saja melukai hati orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
"Gak usah kecil hati begitu Vi, Lo masih tampan, itu yang pertama. Yang kedua, Lo harus bersyukur karna ini cuma buat sementara waktu, kalau Lo cacat permanent gimana? Lo coba bayangin juga tuh yang dari lahir gak punya kaki? Lebih kasihan kan? Bersyukur Vi," ujar Alena yang membuat Ravi menghela napasnya panjang.
"Emang orang yang punya lebih gak boleh mengeluh? Gue cuma mau mengeluh, gak mau ribut atau apapun, gue juga bukan berarti gak bersyukur ih, gue cuma kesal aja," ujar Ravi yang membuat Alena tertawa, sepertinya lelaki itu memang tidak bisa dinasehati jika sedang marah atau dalam suasana hati yang buruk. Alena sudah mengerti, jadi dia tidak akan menasehati dan hanya akan mendengar apa yang lelaki itu katakan sehingga lelaki itu bisa lega dan menjadikan dirinya tempat bersandar yang nyaman.
Keesokan harinya. Ravi sudah didorong oleh pengawalnya agar bisa sampai ke sekolah dengan mudah dan nyaman. Namun Ravi meminta pengawalnya berhenti dan hanya mengawal dari jauh saja karna dia tak mau terlihat seperti anak manja yang harus didorong kursi rodanya. Sebenarnya Ravi ingin memakai tongkat hari ini, namun Luna yang khawatir menangis dan memintanya memakai kursi roda.
Saat sedang berusaha menggerakkan kursi itu dengan tangannya. Dia merasa seseorang membantunya mendorong. Setelah dia menengok, rupanya itu kakak kelas yang dia lihat saat itu, di belakang sekolah entah sedang apa. Kakak kelas itu membantunya tanpa mengatakan apapun, dia terus berjalan santai dan melewati lapangan yang besar.
"Kelas Lo mana?" Tanya orang itu yang membuat Ravi menengok kaget, setelah mengatakan dimana kelasnya, kakak kelas itu mengangguk dan langsung mengantar Ravi sampai ke depan kelasnya. Saat hendak mengatakan terima kasih, tiba tiba saja kakak kelas itu melakukan hal yang tak terduga.
Dia mendekat ke arah Ravi, sangat dekat pada telinganya. Seperti hendak membisikkan sesuatu, namun dia ada di posisi itu tanpa mengatakan apapun, membuat Ravi jadi bingung dan menunggu apa yang dia akan katakan
"Istirahat nanti, gue ke sini lagi, thanks udah bantu gue," ujar orang itu yang langsung menjauh sambil tersenyum manis, lalu dia mengecup pipi Ravi dan pergi dari sana dengan lambaian tangan seolah mereka adalah pasangan kekasih yang sedang berpisah untuk sementara waktu.
Ravi sangat bingung dengan apa yang dia alami. Kakak kelas aneh itu tidak akrab dengannya, ah, bahkan mereka tak pernah mengobrol sebelumnya. kenapa tiba tiba dia mencium pipinya? Ravi langsung melihat sekitar, dan benar saja, ada 4 orang yang berjalan dengan wajah garang ke arahnya.
"Anj1ng, dia sengaja ngasih gue sebagai umpan ke mereka," ujar Ravi pelan saat orang itu semakin mendekat ke arahnya. Mereka mengelilingi Ravi yang duduk tenang di kursi rodanya. Dia bertanya apa mau dari orang orang itu. Mereka tertawa dan langsung memandang ke arah Ravi dengan tatapan seperti ingin memalak.
"Lo pacarnya Thea kan? Gue dapat kabar lo dicium sama dia dari kuping gue yang kiri. Kalau lo pacarnya, lo berarti harus ganti rugi sama kami, pacar lo itu kelewat bangs4t! Udah dicari mana mana gampang banget ilangnya!" Keluh orang itu yang tentu membuat Ravi jadi bingung. Apa urusannya semua itu dengan dirinya?
"Lo harus bayar hutang dia ke kami! Dia udah ambil duit yang kami palak dari orang orang! Lo tahu itu membuat kami jadi rugi, lo harus ganti jumlahnya atau gue patahlan leher lo biar sama kayak kaki lo ini," ujar Orang itu yang membuat Ravi geram. Bukankah uang hasil palak bukan hak mereka? Kenapa mereka marah saat uang itu hilang? Itu kan tindakan yang aneh.
"Ya udah, berapa emang uangnya?" Tanya Ravi santai. Tidak mungkin kan anak SMK membawa uang saku dalam jumlah banyak? Pasti hanya sampai puluhan atau paling banyak ratusan ribu, jika hanya segitu, Ravi saat ini membawa uangnya. Dia hanya perlu membayar orang itu dan menganggap orang itu fakir miskin yang haris disumbang.
"Ah, tampilan lo orang kaya nih. Satu juta," ujar orang itu yang membuat Ravi melongo. Itu jumlah yang sangat besar jika kalian memalak seseorang (ah, itu juga jika kalian suka memalak, kalau author yakin kalian tidak akan melakukannya kan? Iya kan? Pastilah). Bagaimana bisa orang itu memalak sampai satu juta?
"Kalau lo gak bisa bayar, gue akan cari cewek lo dan pastikan dia bakal cacat seumur hidupnya. Gue jamin hal itu," ujar orang itu yang membuat Ravi sedikit khawatir. Dia merasa kasihan pada gadis itu, akan terus kucing kucingan dengan manusia manusia sampah ini.
"Oke, gue kasih. Tapi gak sekarang, karna gue gak bawa uang. Lo tunggu aja nanti di depan gerbang, gue minta orang rumah yang jemput buat kasih ke lo semua uangnya," ujar Ravi yang tentu tidak dipercayai oleh mereka.
"Haha, lo kira kami bodoh? Gue tahu lo bakal kabur kan? Lo gak akan bayar dan bikin gue harus kucing kucingan sama dua tikus tanah kayak kalian! Bayar sekarang!" Perintah orang itu dengan galak.
"Lo dongo? Cuma ada satu gerbang di sana dan gue yakin lo semua gak akan masuk kelas hari ini, jadi gue gak akan bisa kabur. Kalau pun kalian ada kelas. Lo coba lihat, gue pakai kursi roda, mana bisa lari? Mencolok banget juga gue kalau pulang. Udah! Kalau mau, gue kasih nanti, kalau gak ya udah, lo uber aja tuh cewek sampai kiamat."
Mereka berpandangan satu sama lain, yang dibilang Ravi itu benar. Jadi mereka menurut dan pergi dari sana, tak lupa mengancam Ravi dengan tatapan tajam dan umpatan kasar.
"Tuh cewek siapa sih? Kenal kagak bikin gue repot aja," ketus Ravi yang segera menempatkan diri di mejanya, dibantu oleh teman kelasnya yang solider dan baik hati.
Siang harinya, sesuai janji, Gadis bernama Thea itu datang lagi ke kelas Ravi dan langsung mencari dirinya. lelaki itu enggan untuk menemui gadis yang aneh itu dan memilih untuk menulikan diri meski gadis itu memanggilnya berkali kali. Hal itu mengundang keramaian dan membuat teman teman kelasnya menjadi terganggu sehingga menatap ke arahnya. Mau tidak mau Ravi merespon dan menengok.
“Ayo ke kantin, gue yang bantu lo buat dorong kursi roda deh,” ujar gadis itu dengan ceria. Ravi masih merasa kesal karna dijebak oleh orang itu. Namun karna gadis itu sangat ceria dan antusias, Ravi terpaksa menurutinya, apalagi dia tak mau seisi kelas menatapnya seolah meminta mereka untuk pergi. Gadis itu tersenyum senang dan mulai mendorong kursi roda Ravi.
“Kantin ke sana, lo mau bawa gue kemana?” tanya Ravi heran karna orang ini hanya mendorong kursi rodanya untuk terus menjauh bahkan tidak ke arah kantin. Lelaki itu hendak mewalan, namun dia tak mau menjadi pusat perhatian lagi seolah sedang diculik oleh kakak kelasnya yang aneh ini.
“Gue gak akan apa apain lo, apalagi gue tahu orang orang lo banyak tuh di luar. Tenang aja, kita ke kantin rahasia, kalau ke kantin biasa gue takut ketemu sama para biang kerok itu, ngeri sama bogemnya,” ujar orang itu yang membuat Ravi terdiam, dia akhirnya menutu dan hanya menunggu gadis itu membawanya entah kemana, namun benar yang dikatakan oleh gadis itu, banyak pengawal di luar, jadi dia tak mungkin berani macam macam.
“Tunggu dulu, kok lo tahu kalau gue punya banyak pengawal sih? Lo siapa? Lo juga sengaja kan suruh gue bantuin lo karna lo tahu bisa selamat dengan memanfaatkan gue? Lo siapa?” tanya Ravi heran, orang itu enggan untuk menjawab, namun karna Ravi menatapnya dengan tatapan tak enak, akhirnya dia kalah dan menghela napas panjang. Bukan tipenya untuk mengalah, namun karna Ravi sudah menolongnya, dia harus mengecualikannya.
“Iya, pas lo dari mobil, gue lagi ngumpet dan ada orang di sebelah gue lagi ngelihatin lo, gue kira tuh orang mau berbuat jahat, tapi ternyata ada banyak orang lain dan pengawal lo keluar, mereka gak tahu deh langsung laporan ke siapa. Pak Lo masuk kelas, tiba tiba yang tadi di sebelah gue hilang, terus gue lihat lagi tuh orang udah ada di dekat sekolah.”
“Cuma ada dua kemungkinan, dia pengawal rahasia, atau dia mau berniat jahat, dan setelah mengobservasi, lo anak orang kaya dan yang satu mobil sama lo, satu mobil di depan lo dan satu mobil di belakang lo, itu isinya pengawal semua, jadi yah, mereka pasti pengawal. Jadi gue dorong kursi roda lo bukan kebetulan, karna gue udah tahu aja lo anak orang kaya dan pasti bisa bayar si biang kerok itu,” ujar orang itu yang membuat Ravi menggeleng takjub.
“Kalau lo udah tahu pengawal gue banyak, kenapa lo gak takut sama sekali? Gue bahkan gak bisa baca ekspresi wajah lo itu,” Tanya Ravi heran. Gadis itu tertawa, dia tidak menyangka Ravi memiliki tingkat otak yang lemah baginya. Seharusnya lelaki itu sadar bagaimana dia hanya bersikap tenang agar Ravi tak panik dan dia tidak disergap oleh para pengawal itu.
“Gue deg deg an, tapi sebisa mungkin, kalau lo lagi dalam bahay, jangan memperlihatkan ke orang lain lo lagi dalam bahaya. Contohnya lo ini, lo tenang aja mau gue bawa kemana, padahal lo gak tahu dan gak kenal gue, ya karna gue tenang, gak kelihatan kayak orang jahat dan kita kayak udah akrab, makanya gak ada satupun pengawal lo yang ke sini saat ini.”
“Itu juga alasan lo bantu gue ke kelas? Biar kalau orang orang itu mau tangkap lo, mereka kira gue yang dalam bahaya dan mereka disergap? Wah, lo cerdik juga ya. Bukan Cuma cerdik, tapi juga licik banget,” ujar Ravi takjub. Anak itu hanya terkekeh melihat Ravi yang keheranan, padahal dia sudah sangat biasa melakukan hal ini.
“Terus, lo gak mau cerita kenapa sampai dikejar sama orang orang itu dan kenapa lo takut sama mereka?” tanya Ravi yang diangguki oleh gadis itu. mereka masuk ke dalams ebuah warung yang dari luar tampak sepi, namun dalamnya banyak orang yang makan dan nongkrong. Mereka hening saat melihat Ravi bersama dengan orang itu.
“Oke guys, dia anak baru di warung ini, dia sama gue, jadi kalian tenang aja. Ah ya, dia juga yang udah bantuin Robby dari preman yang malakin dia,” ujar gadis itu yang diangguki oleh mereka. Mereka memberi sambutan hangat pada Ravi dan kembali duduk di tempat masing masing. Begitu juga gadis itu dan Ravi yang duduk di salah satu bangku di sana.
“Bu, nasi rames kayak biasa, lo mau apa? Sama? Oke. Eh bu, dua ya,” teriak gadis itu tanpa menunggu jawaban Ravi, baiklah, dia sedang berada dalam situasi yang mengenakkan saat ini, jadi dia hanya bisa diam dan menunggu gadis itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai dia dan anak bernama Robby terlibat masalah dengan mereka.
“Mereka malakin Robby, terus gue copet duit mereka buat gue balikin ke Robby, tapi mereka tahu, jadi mereka terus ngejar gue,” ujar gadis itu yang membuat Ravi melongo, perlu keahlian khusus untuk bisa mencopet dan tenang saat seseorang asing mengetahui hal itu.
“Sebenarnya gue bisa aja kalahkan mereka, mudah malah karna mereka gak ada apa apanya dibanding gue. Tapi gue tahu salah satu dari mereka bawa sajam. Kalau gue lawan dan gue kena, ya gue yang tewas, kan gak lucu demi duit 200 ribu gue sampai tewas,” ujar gadis itu yang membuat Ravi merasa ngeri.
“Paling gak gue bisa ulur waktu dengan adanya lo, dan mereka gak akan nguber gue. Sementara lo, lo bisa aman karna dijaga sebegitu banyak orang, jadi semua senang. Kecual isi Robby tuh, sampai demam karna kaget dipalak orang. Ah lupa gue, Robby itu teman gue, dan dia cupu banget, pengecut, dia mau aja dipalak sama orang kayak mereka, jadi ya gue harus bela dia, dan yah itu yang gue lakukan,” ujar gadis itu yang diangguki oleh Ravi.
“Oke, kalau benar niat lo gitu, gue akan bantu lo buat selesaikan semua. Lo jangan kahwatir, gue punya ide yang baik buat kasih uang ke mereka, jadi mereka bakal kapok dan tahu, siapa gue sebenarnya,” ujar Ravi yang membuat gadis itu menatapnya dengan ngeri.
“Dari pertama lihat, gue udah tahu, kalau lo cowok yang ngeri, dan yah, dugaan gue tepat. Lo, cowok yang mengerikan,” lirih gadis itu menatap Ravi, sementara lelaki itu tak peduli dan hanya mengedikkan bahunya, mungkin maksud mengertikan adalah kekuatan dan dukungan yang dia miliki.
“Kalau lo tahu siapa gue, lo bakal lebih terkejut sih,” bisik Ravi di telinga gadis itu pelan