
Luna berjalan sambil melihat – lihat baju yang ada di hadapannya. Dia merasa sangat bosan karna anak – anaknya sudah mulai sibuk dengan urusan masing – masing, sementara suaminya, meski dia tidak pernah pergi jauh, tetap saja dia harus pergi bekerja agar bisnis keluarga mereka tetap berjalan lancar. Apalagi Darrel masih melarang keras Luna untuk melakukan pekerjaan.
Gadis itu langsung pergi dari toko baju bermerk setelah membeli beberapa baju yang dia suka, bahkan tanpa tahu harga yang tertera di baju itu. yah, platinum card milik suaminya memang sangat beguna untuk membuatnya bahagia di dunia ini. Dia bisa belanja apapun dengan jumlah berapapun, tinggal Darrel yang membayar tagihan.
"Ih, toko ponsel. Duh, Gue beli gak ya? Kalau beli suami marah gak ya? Ah, Gue pengen tapi," ujar Luna menatap barisan ponsel yang ada di hadapannya. Luna masih bimbang, namun seorang petugas menghampiri Luna dengan wajah yang judes, entah mengapa dia merasa de javu melihat wajah petugas yang seperti ini. Dia teringat saat bersama Jordan membeli jam tangan dan diusir oleh pegawainya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" jauh dari wajahnya yang judes, rupanya orang itu sangat ramah, bahkan sangat cantik saat tersenyum. Luna bahkan sampai termangu sebentar karna di pikirannya, dia akan diusir atau dipandang remeh mengingatdia hanya memakai kaos oblong dan celana jeans selutut, tak lupa sandal jepit yang santai.
"Ah, iya mba, ini keluaran terbaru bukan? Atau ada yang lebih baru lagi?" tanya Luna yang membuat orang itu melihat benda yang ditunjuk oleh Luna. Orang itu langsung mengambilkan ponsel itu tanpa Luna minta dan meletakkan di depan Luna.
"Untuk jenis dan merk ini, memang model ponsel ini yang terbaru Kak, keunggulannya jauh lebih banyak dari versi terbarunya, kameranya juga lebih jernih dan tentu ada beberapa fitur baru yang tidak ada di ponsel sebelumnya, ujar petugas itu yang menjelaskan pada Luna dengan lengkap dan jelas. Orang itu juga menyebutkan minus dari ponsel ini dengan jujur.
"Kalau gitu saya bayar deh mba. Bisa pakai credit card gak? Saya gak bawa cash soalnya," tanya Luna yang kembali diangguki oleh orang itu. Orang itu kembali mengatakan beberapa hal tentang keuntungan membeli barang di toko ini, bahkan orang itu juga memberi Luna casing gratis untuk ponsel itu.
"Eh, kalian ke sini," ujar Luna tiba – tiba. Pegawai itu sempat bingung siapa yang diajak bicara oleh Luna, namun ternyata gadis itu memanggil semua pegawai yang ada di sana, mereka pun meminta waktu pengunjung lain untuk menghampiri Luna sebentar. Menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Luna.
"Kalian suka ponsel begini gak? Kalau gak suka, kalian ada ponsel impian lain gak?" tanya Luna yang membuat salah satu di antara mereka mengacungkan tangan. Sepertinya orang itu tidak menyukai ponsel merk ini. Luna sendiri mengerutkan keningnya, hampir semua orang ingin memiliki ponsel ini, mengapa wanita itu malah tidak suka?
"Saya tidak bisa menggunakan Ios, jadi saya tidak terlalu suka. Ini pendapat saya pribadi, namun ponsel yang kakak pegang memang sangat bagus dan direkomendasikan jika kakak suka ponsel dengan kualitas kamera yang bagus dan spek yang bagus juga," ujar pegawai itu yang membuat Luna menganggukkan kepalanya.
"Terus kalau ponsel rekomendasi kamu yang mana? Yang kualitas dan harganya nyaris sama dengan ponsel ini? saya mau coba merk lainnya," ujar Luna yang diangguki oleh orang itu. orang itu berjalan ke meja belakang dan mengambil sebuah ponsel yang Luna tahu keluaran terbaru dan limited edition, orang itu menyodorkan ponsel itu untuk Luna.
"Ini kak, ini produk Android, tapi kualitasnya sangat bagus. Sya amerekomendasikan ini untuk produk android, apalagi ini tipe yang limited edition, jadi tidak banyak yang punya di Indonesia ini. Anda mungkin bakal jadi satu – satunya," ujar pegawai itu yang membuat Luna kembali dibuat bingung, mengapa orang itu tidak menjual banyak.
"Karna harganya cukup mahal dan gak semua orang tahu kak. Jadi kami membeli satu produk sebagai contoh. Jika nanti kakak berminat, kami akan memesankan langsung dari Korea," ujar pegawai itu yang kembali diangguki oleh Luna. Luna menatap ke arah orang yang ada di sana untuk meminta mpendapat mereka mana yang harus dipilih dan apa alasannya.
"Okay, yang ini harus pesan kan? Kalau gitu saya pesan ponsel yang ini 5 buah ya, buat kamu, kamu, kamu, kamu,kamu, terus yang ini tiga buah, buat kamu, kamu, kamu," ujar Luna yang membuat mereka membuka mulutnya dan langsung saling berpandangan, meengira Luna hanya bercanda pada mereka.
"Tenang aja, aku gak lagi bikin konten prank kok. Nih gak ada kamera tersembunyi atau orang khas bikin konten. Kalian tenang aja, saya suka cara pelayanan kalian, dan kalian harus dikasih penghargaan untuk iutu, biar menjadi contoh yang lain dalam melayani pelanggan itu harus ramah dan baik," ujar Luna yang membuat mereka makin melongo.
"Udah, kalian gak usah bingung atau takut. Saya akan bayar semua dan nati kalau barangnya datang, kalian hubungi saya dan nati saya yang akan memberikan ke kalian agar nanti kalian gak merasa takut atau bagaimana, tenang aja, saya bukan orang iseng atau orang jahat," ujar Luna yang membuat mereka tersenyum senang.
"Baiklah, nih kartu kreditnya. Silakan dihitung bagaimananya. Total semua dan sebagainya, saya terima tuntas saja, saya percaya sama kalian," ujar Luna yang diangguki oleh salah satu di antara mereka. Mereka ijin pada Luna untuk kembali melayani pelanggan yang lain, meski kini fokus mereka sedikit terpecah, bingung dengan Luna yang tampak serius, namun mereka masih mengira Luna bergurau.
Luna pamit untuk pulang setelah menerima kembali kartu kredit dan banyak kertas yang berisi bukti pembayaran yang akan dikembalikan oleh Luna saat barang yang dia beli sudah sampai ke Indonesia. Luna memberikan nomor ponselnya dan pergi dari toko itu dengan perasaan yang bahagia.
Baru beberapa langkah Luna keluar dari toko itu. Ponselnya berbunyi dan nama Darrel terpampang di sana. Luna sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Darrel hingga dia mengangkatnya dengan santai. Padahal dia baru saja menghabiskan 5 kali 38 juta dan 3 kali 25 juta hanya untuk ponsel yang bahkan tidak dia miliki.
Luna juga tahu jika dia menggunakan kartu kredit itu akan masuk ke notifikasi yang ada di ponsel Darrel. Lelaki itu pasti mengira yang macam – macam, Luna sudah menyiapkan alasan agar suaminya tidak marah, meski kecil kemungkinan lelaki itu marah hanya karna uang.
"Syang? Credit Card kamu hilang? Atau gimana? Kenapa ini udah habis hampir tuga ratus juta sehari, kamu kecopetan?" tanya Darrel yang ada di seberang sana dengan panik. Luna sendiri meminta Darrel untuk tenang dan langsung berkata akan menjelaskannya jika mereka bertemu di rumah nanti.
Sore harinya, Luna sudah bersantai di rumah saat Darrel pulang dan langsung menghampiri Luna dengan keringat yang membasahi dahinya. Luna langsung meminta Darrel untuk mandi terlebih dahulu agar mereka bisa bercerita dengan nyaman. Luna membuatkan Darrel teh hangat agar lelaki itu bisa sedikit tenang. Luna tahu uang tiga ratus juta adalah jumlah yang besar.
"Maaf karna aku habis uang banyak. Tadi aku jalan – jalan ke mall, terus aku belanja," ujar Luna yang masih didengarkan oleh Darrel.
"Syang, tapi kamu belanja apa samapai tiga ratus juta? Ini uang yang besar loh," tanya Darrel masih dengan nada yang lembut. Luna menggaruk kepalanya dengan pelan, dia sudah menyiapkan alasa, namun semua hilang saat melihat wajah Darrel.
"Harusnya kamu ngomong dulu sayang, kamu bilang ke aku kalau mau beliin ponsel ke mereka, kan aku gak panik. Aku kira kamu tuh dicopet atau kenapa – napa, makanya aku sampai gakk onsen kerja. Ya udah deh, karna niat kamu baik, gak papa, besok lagi kalau ada apa – apa bilang, aku gak suka ya kamu gini," ujar Darrel yang membuat Luna bahagia dan mencium Darrel dengan gemas.
"Haduh, haduh, haduh, mesra terus di tempat umum, anak – anak mama sama papa itu masih di bawah umur loh Ma, Pa, gak baik ih," ujar seseorang yang membuat Luna menengok dan reflek menjauhkan diri dari suaminya.
"Kamu tuh suka banget loh ganggu Papa. Masak sejak bayi kamu suka banget gangguin papa mesra sama Mama kamu? Udah, kamu mandi sana, gak boleh ikut – ikut urusan orang tua," ujar Darrel pada anaknya yang membuat anak itu terkekeh.
"Ya udah, papa sama mama di kamar aja. Kan kamarnya juga kedap suara tuh. Kalau punya adik, laki – laki aja ya Ma, biar gak rewel kayak Rania," ujar anak itu yang membuat Darrel menghela napasnya. Rasanya malu melihat anaknya yang blak – blakan seperti itu. Ini kan urusan orang dewasa.
"Enak aja Rania. Rania anak baik, Mama sama Papa kasih adik perempuan aja buat temenin Rania, kan Rania sendiri yang perempuan," ujar suara lain yang berasal dari pintu. Luna dan Darrel makin bingung, namun Darrel segera mendapatkan ide yang jahil.
"Kalau Rashi, kamu mau adik perempuan atau laki – laki?" tanya Darrel karna Rashi yang diam dan menyimak.
"Rashi suka semua, perempuan atau laki – laki, yang penting tidak nakal seperti Ravi," ujar Rashi dengan santai, membuat Ravi mencak – mencak namun tak berani membalas karna ada Luna dan Darrel yang akan marah padanya jika dia melawan abang beda tiga menitnya.
"Oke, kalau gitu satu laki – laki, satu perempuan, satunya terserah. Kalau papa sih masih kuat, papa kan masih muda. Apalagi mama kamu pengen punya anak enam biar bisa jadi tim voli, hayuk aja deh," ujar Darrel tanpa malu sama sekali.
Ketiga anak Luna langsung menunjukkan wajah kaget, bahkan Ravi sampai membuka mulutnya dan menatap ke arah Luna untuk meminta penjelasan.
"Gak usah ngomong macam – macam sama anak – anak!" pekik Luna dengan kesal sekaligus malu karna Darrel terus mengungkit hal itu. Padahal saat itu Luna tidak serius dan dia tak berencana memiliki anak lagi mengingat usianya yang hampir kepala empat serta kepuasannya memiliki ketiga anak ini.
"Asik! Bakal punya tiga adik lagi, semoga semua mirip sama Ravi."
"JANGAN!" sahut Rania dan Rashi bebarengan.
*
*
*
*
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN MASUKKAN KE DAFTAR FAVORIT AGAR NOVEL INI LULUS KONTRAK EKSKLUSIF MANGATOON.
Ravi dan Rashi. Coba tebak yang mana mereka? Hahaha.
.
.
(PERINGATAN KERAS! bagi kalian yang tahu identitas Visual yang author pakai, mohon keep it yourself, Author ga mau ketenangan hidup Visual yang Author pakai jadi tidak tenang. Visual ini just for fun ya Guys)