
"Mama dimana? Mama dimana? Apa Mama sudah bisa berjalan lagi?" Hari sudah menunjukkan pukul 12 siang, dan Luna bisa mendengar suara riuh anak - anak yang berlari mencari dirinya. Luna yang berada di ruang TV pun hanya menunggu sampai mereka ada di sini dan melihat sendiri kondisinya. Dia masih sedih karna tak bisa menjemput mereka.
"Kalian sudah pulang? Kalian belajar apa hari ini?" tanya Luna saat mereka berdiri mengelilingi dirinya dan memperhatikannya dengan lekat. Mereka sangat sedih melihat kondisi Luna yang seperti ini, mereka tak suka melihat mamanya lemah dan tak bisa berjalan. Namun mereka tak mau mengatakan hal itu di depan Luna.
"Belajar hal seperti biasa, bahkan Ravi sudah bosan karna guru terus mengulang pelajaran yang sama," ujar anak itu yang membuat Luna tertawa. Dia tahu Ravi tidak menyukai Sekolah, karna menganggap sekolah itu membosankan. Namun Luna juga tahu Ravi sangat Jenius, dia bahkan bersaing dengan juara kelas dan mendapatkan posisi Dua.
Pernah Luna bertanya apakah Ravi bisa mencapai posisi satu, anak itu hanya menjawab bahwa dia tak ingin melakukannya. Guru Guru akan menganggapnya melakukan kecurangan dan bahkan dia akan diperhatikan lebih, dia tak menyukai hal itu. Tentu jawaban Ravi saat itu membuat dua saudaranya kesal karna mereka tak bisa secerdas Ravi.
"Apa Mama masih belum bisa jalan? Apa Papa bohong saat mengatakan Papa akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan mama? Apa Mama akan terus sakit dan tidak bisa berjalan lagi?" Pertanyaan polos dari anak - anaknya itu membuat Luna kembali merasa sedih, Luna tak tahu harus menjelaskan bagaimana pada mereka.
"Maafkan Papa, semua salah Papa, Papa masih belum bisa menemukan dokter yang bisa menyembuhkan Mama. Papa minta bantuan kalian buat jaga Mama kalian selagi Papa kerja dan cari dokter paling hebat di dunia ini." Luna menengok dan mendapati Darrel yang berdiri di dekat mereka, tanpa Luna dan anak anak ini ketahui.
"Papa tenang aja, Rania bakal jaga Mama, Rania sayang sama Mama dan Papa. Tapi jangan terlalu lama, Rania kasihan lihat Mama gak bisa jalan begini, cepat ketemu sama dokternya ya Pa?" Darrel tersenyum dan mengecup kepala anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Jika dulu Luna berjuang demi sahabat sahabatnya, Kini Luna memiliki alamat lebih kuat untuk bertahan.
"Mama, Mama, Apa Mama ingat anak yang waktu itu datang ke rumah dan berenang bersama T
Ravi dan Bang Rashi? Tadi Ravi lihat rumahnya sepi sekali," ujar Ravi setelah mereka terdiam beberapa saat. Luna langsung mengerutkan keningnya dan mengangguk setelah mengingat anak yang dimaksud oleh Ravi.
"Mungkin Dia lagi pergi sama orang tuanya, atau belum pulang dari sekolah? Kenapa memangnya?" tanya Luna yang dijawab gelengan kepala oleh Rashi, jika Rashi sudah merespon, berarti bukan hal yang biasa. Luna sendiri merasa aneh karna mereka tidak pernah membahas teman mereka saat mengobrol jika Luna atau Darrel tidak bertanya.
"Rashi lihat di rumahnya ada tulisan 'dijual' Apa dia udah pindah?" tanya Rashi yang dijawab Luna dengan bingung. Luna juga tak tahu tentang orang yang menjadi tetangganya itu, Luna terbiasa tak begitu peduli dengan orang yang tidak begitu dia kenal. Namun anak - anaknya malah detail terhadap hal itu.
"Ah, Ravi tahu, pasti dia pindah karna Rania tidak suka padanya, Pasti dia pindah karna Rania bilang dia gendut. Hayolooh Rania, udah jahat sama orang," ujar Ravi sambil menoel hidung adik kembarnya. Rania yang dijadikan tersangka tentu tak terima, dia memandang Ravi dengan tatapan tak enak dan mulai menangis.
"Nah kan nangis, berarti benar kamu yang bikin dia pindah," ujar Ravi makin menjadi - jadi. Luna segera menarik Ravi dan menutup mulut Ravi dengan tangannya. Darrel sendiri terkekeh melihat interaksi anak - anaknya, Darrel berusaha membuat Rania tak jadi menangis, namun anak itu langsung berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamar segera.
"Kapan kamu akan berhenti menggoda Rania dan tidak membuat dia nangis? Dia adik kembar kamu loh, kasihan kalau nangis terus kalau main sama kamu," ujar Luna sambil menjewer telinga Ravi, namun jeweran itu sangat lembut dan tak melukai anaknya, dia hanya gemas dengan perilaku Ravi yang ceria namun suka membuat orang lain menangis.
"Ravi gak melakukan atau ngomong sesuatu yang salah. Mama juga dengar waktu dia bilang anak itu gendut. Kasihan kalau dia beneran pindah karna Rania gak mau temenan sama Dia. Padahal dia anaknya pintar dan Ravi suka punya teman yang pintar," ujar Ravi dengan wajah lesu.
"Biar dia belajar bareng dan mengerjakan PR kamu? iya kan?" tebak Rashi yang membuat Ravi meringis dan menganggukkan kepalanya cepat beberapa kali. Berteman dengan Rashi saat masih berada di dalam perut, bahkan masih satu sel telur tentu membuat Rashi mengenalnya dengan baik, jauh lebih baik dari kedua orang tuanya sendiri.
"Udah, udah, kalian masuk ke kamar, ganti baju, kerjakan PR kalian, kalau lapar langsung ke meja makan aja ya, udah ada chef, nanti kalian minta aja mau makan apa," ujar Luna yang diangguki oleh mereka dan mereka langsung pergi dari hadapan Luna dan Darrel. Kini tinggallah Darrel dan Luna berdua.
"Loh, kamu kok pulang? Katanya kamu ada Meeting habis makan siang? Nanti kamu malah telat loh meetingnya," ujar Luna yang tak langsung dijawab oleh Darrel. Lelaki itu berjongkok di hadapan Luna dengan wajah yang gelap, sebelum Darrel mengatakan sesuatu, Luna segera menutup mulut lelaki itu. Darrel sendiri tak menolak dan tak berusaha menyingkirkan tangan Luna.
"Jangan ngomong hal yang menyedihkan, jangan bikin Aku ngerasa lemah dan kecil harapan hidup. Dulu Luna frustasi dan mikir buat pergi karena Aku gak ada alasan kuat buat bertahan, tapi sekarang Akua udah punya alasan yang sangat kuat, Aku bakal berjuang buat bertahan sesulit apapun itu."
"Uuu, kamu mau dokter yang kayak apa? Yang cantik? Yang masih muda? atau yang udah berkeluarga? Nanti aku cari yang sesuai kayak selera kamu biar kamu semangat buat terapi dan bisa sembuh dengan cepat, aku kan kaya, gampang itu," ujar Darrel yang janggal menurut Luna. bukankah seharusnya Darrel mencarikan dokter yang tampan?
"Dokter cantik biar kamu gak salah fokus dan cuma kagum aja ke Aku. Aku gak mau kamu malah suka sama orang lain, yang ada malah Dokter itu nanti gantiin kamu dan jadi pasien. Kamu gak mau kan?" tanya Darrel yang membuat Luna tertawa setelah beberapa saat melongo dengan tingkah Darrel itu.
"Kamu aja boleh punya klien cantik - cantik, tapi aku gak boleh ngelihat cowok ganteng, Aku kan juga butuh penyegaran mata, gak adil tauk," ujar Luna mengerucutkan mulutnya, dia tampak tak terima dengan peraturan Darrel, namun Darrel lebih tak setuju dengan pernyataannya. Wajah lelaki itu berubah tak enak.
"Kamu tahu? Tiap hari tuh aku meetingnya sama Om Om semua, paling muda juga seumuran bang Jordan. Sisanya aku serahkan ke orang kepercayaan aku, aku meeting aja kalau bener bener perlu buat meeting kok. Terus nih ya, kamu tiap hari ngelihat Oppa Oppa Korea juga aku gak papa, kurang asupan kayak gimana?"
"Ya kan oppa Oppa (Pria Muda) sama Ahjussi Ahjussi (Om) Korea gak bisa dinikmati secara langsung dan tidak bisa dimiliki, cuma bisa didamba dan dibayangin aja," ujar Luna yang lupa memasang filter di mulutnya. Darrel langsung mendekatkan wajahnya dan tersisa beberapa senti di depan wajah Luna.
"Coba ngomong lagi, siapa yang kamu damba dan siapa yang dibayangin? Siapa yang gak bisa dimiliki?" tanya lelaki itu dengan raut yang serius, Luna yang tahu Darrel marah langsung bertindak cepat. Luna memegang pipi Darrel dengan kedua tangannya, Luna menekan pipi itu sampai bibir Darrel maju beberapa Senti dan langsung menciumnya cepat.
"Luna udah hukum diri sendiri, gak usah hukum Luna lagi ya? Oke? Kamu buruan makan dulu terus nanti berangkat, daripada Om Om Klien ngerasa kamu gak disiplin, nanti kamu gak tambah kaya loh," ujar Luna saat Wajah Darrel melunak karna tindakannya, namun lelaki itu mengubah lagi wajahnya dan meminta Luna melakukannya lagi.
"Modus kok terusan mas, gih sana makan loh, udah setengah jam loh, kamu gak terbang dari sini ke kantor. Kalau macet juga, sana ih, banyak anak - anak, gak baik banyak adegan dewasanya," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa dan mengacak rambut Luna lalu pergi dari hadapan Luna untuk makan siang.
Sementara itu di salah satu kamar yang ada di rumah itu, seorang gadis duduk di balkon dan menatap ke arah rumah yang sudah sepi. Entah kenapa dia merasa kesal karna anak itu pergi tanpa mengatakan apapun, dia kesal karna kakak kakaknya menganggap dia yang menyebabkan anak itu pindah.
"Padahal kamu udah bilang bakal ajarin aku renang, kamu bilang bakal jadi teman aku. Malah pindah gak bilang - bilang. Menyebalkan, wajar aja kalau aku benci sama Kamu. Dasar anak cowok semua nyebelin." Anak itu terus menggerutu sampai akhirnya dia terdiam sambil memeluk lututnya sendiri.
Entah bagaimana dia merasakan matanya berair dan sudah meleleh. Dia tak pernah menangis saat seorang teman pindah, dia bahkan nyaris tak memiliki teman sama sekali, namun jika benar anak itu pergi karna dirinya, dia akan merasa sangat bersalah, dia tak bermaksud jahat pada anak itu, dia hanya tak suka tingkah aneh anak itu saat berkenalan dengannya.
"Cit cuitt, cit cuitt, Ada yang nangis nih. Kangen ya?" Rania langsung menengok ke arah bawah dan menatap Ravi yang terkekeh melihat ke arahnya. Rania langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya saat kakaknya itu menciduk dirinya yang menangis.
"Kenapa kembaran Rania bukan cuma Bang Rashi aja sih? Kesal."
*
*
*
*
Annyeong, Terima kasih banyak sudah membaca, like dan memasukkan novel ini ke daftar favorite. Terima kasih untuk 880 like, bantu Author untuk mendapat 1000 like kuyy🥰🥰🥰🥰 Kamsiaaaa