
"Bagaimana bisa? Kenapa waktunya pas sekali?" tanya Darrel pada asistennya. Dia mengecek apa yang terjadi melalui tab yang diberikan oleh asistennya. Darrel mendapati data pribadi perusahaan Natasha tersebar luas, hal itu tentu sangat merugikan bagi semua orang yang berhubungan dengan perusahaan itu. Apalagi para pemegang saham yang sudah mempercayakan uang mereka.
"Gak mungkin, bagaimana mungkin mereka bisa membocorkan rahasia ini? Apa sistem mereka diretas? Hacker itu sangat membantu kita, hacker itu udah bikin fokus Natasha gak ke kita lagi. Kita udah bebas dari cewek gila itu," ujar Darrel sambil memeluk Luna, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karna kasus ini berakhir begitu saja.
"Itu berarti musuh Natasha bukan Cuma kita, mereka punya musuh lain. Apalagi sampai main kotor kayak gini. Aku gak nyangka cara kotor kayak gini masih ada yang pakai, gak gentle sama sekali, melanggar etika juga. Kan kasihan sama pemegang saham yang gak tahu apa – apa. Uang mereka lenyap karna sahamnya anjlok.
"Kamu ada di pihak siapa sih sayang? Kita selamat, tapi kenapa kamu malah jadi sedih?" tanya Darrel yang tak membuat Luna bereaksi. Wainta itu merasa bingung, dia tak sepenuhnya senang dengan hal ini. bagaimanapun, banyak orang yang dikorbankan dan Luna tak bisa bahagia untuk hal itu.
"Kamu tenang aja, orang – orang itu akan baik – baik aja. Cuma Natasha yang hancur krna dia harus melunasi semuanya, kemungkinan dai harus jual semua harta pribadi mereka untuk ini. Apa kamu udah lega sekarang?" Mendengar itu Luna langsung merasa lega dan bisa tersenyum. Setidaknya hanya orang yang salah yang mendapat ganjaran dan Luna bahagia untuk hal itu.
"Papa! Eh? Ada mama juga? Bagus kalau kalian ada di sini semua. Apa kalian udah dengar berita terbaru?" Luna dan Darrel tentu kaget saat menengok dan mendapati anaknya ada di pintu, lebih terkejut lagi karna anak itu menanyakan hal yang baru saja mereka bahas. Darimana dia tahu?
"Atau jangan – jangan.."
"Iya, itu ulahnya Rashi. Rashi yang udah bikin sahamnya anjlok dan Rashi yang sebar informasi itu ke Internet. Rashi rasa itu cara yang bagus buat membalas orang yang udah bikin mama sedih." Luna kembali dibuat bingung. Luna pikir anaknya hanya tertarik dengan hal yang berhubungan dengan sains, bagaimana dia kepikiran untuk melakukan hal ini.
"Rashi sejak awal udah tahu tentang orang ini. tapi Rashi pura – pur agak tahu biar Mama, Ravi sama Rania gak tambah sedih. Waktu Ravi tahu, Rashi masih tahan buat gak ngelakuin apapun dan Rashi minta ke Ravi buat nunggu dan sabar."
"Rashi tahu yang paling sedih dan sakit hati pasti Mama, kalau Rashi sama Ravi kelihatan marah sama Papa, pasti Mama makin sedih. Tapi setelah Rania tahu, Rashi gak bisa tahan lagi, Rashi harus lakukan sesuatu buat melindungi keluarga Rashi. Rashi anak tertua di sini, Rashi gak bisa diam aja." Penjelasan itu tentu membuat Luna terharu, namun itu bukan saat yang tepat untuk menyanjung anaknya.
"Tapi, kamu gak pernah belajar IT kan? Gimana caranya kamu hack semua itu? kamu belajar dari siapa?" tanya Luna yang membuat Rashi terkekeh dan menggaruk kepala bagian belakangnya. Rashi tak tahu harus mengatakannya atau tidak, namun karna dia tak bisa berbohong, dia terpaksa menceritakannya.
"Rashi minta tolong sama Om Jordan. Rashi gak tahu sama sekali tentang ini, jadi Rashi langsung telpon Om Jordan. Ternyata Om Jordan juga udah tahu tapi sengaja biar Papa yang nyelesaiin semua. Rashi cerita tentang Rania sama Ravi, akhirnya Om berubah pikiran dan mau ngajarin Rashi." Rashi kehilangan senyumnya saat selesai menceritakan awal dari tindakannya.
"Mama, Papa, sekarang udah selesai. Rashi mohon, di masa depan jangan ada yang disembunyikan. Kami juga udah dewasa, kami bisa bantu kalian buat menyelesaikan masalah. Karna dua tidak akan lebih baik dari lima, kecuali kalau kita naik taksi."
"Hah? Kok guyonan kamu garing sih? Kayak guyonan bapak – bapak gitu. Udah deh, kita pulang aja, biar papa kamu fokus kerja, ayo, kita lanjut ngobrol di rumah. Kenapa kamu berubah jadi banyak bicara gini? Mama jadi seneng lihat kamu gini," ujar Luna yang membuat Rashi kembali diam. Rashi lupa jikam imagenya selama ini adalah anak yang pendiam.
Rashi dan Luna kembali ke rumahnya sementara darrel melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Meski dia sangat ingin menghabiskan waktu dengan mereka, Darrel menahan itu semua karna pekerjaannya sudah menumpuk dan tak ada satupun yang beres karna masalah ini. Darrel harus menyelesaikan semua kekacauan ini secepat mungkin.
*
*
*
"Ah, biasanya mah kalau lagi suntuk gini ada banya cewek yang bawain makanan, minuman dan apapun yang Gue minta. Di sini adanya cowok semua, gak bikin bahagia sama sekali. Tahu gini mah Gue mending satu sekolah sama Rania, pasti banyak cewek cantiknya." Lelaki itu terus berbicara sendiri sampai akhirnya bel membuyarkan pikirannya.
Lelaki itu keluar kelas dan berjalan menuju tempat rahasia yang diberitahukan oleh kakak kelas itu. ah jika diingat, wajah kakak kelas itu sangat cantik dan bisa membuat jantungnya berpacu tak normal. Andai saja dia memiliki alasan untuk berkomunikasi dengan orang itu, dia tidak akan merasa sesuntuk ini.
"Loh, wah, ternyata jododh emang gak akan kemana. Kakak ngapain di situ kak? Kok pas banget aku mau ke situ juga?" tanya Ravi yang membuat gadis itu terkaget dan dan langsung salah tingkah. Dia tak menyangka mereka bisa bertemu lagi di tempat itu.
"Gue duah dari dulu setiap kosong ke sini. Lo ngapain ke sini? Sebelumnya Lo gak pernah ke sini juga kan?" tanya kakak kelas itu yang membuat Ravi terkaget, rupanya kakak kelas itu juga nyaman berbicara dengan non formal, dia jadi bisa lebi hsantai saat berbicara dengan kakak kelas itu.
"Gue Cuma ngikutin kata hati Gue, Gue Cuma ngikutin langkah kaki Gue, dan ternyata langkah kaki itu menuntun Gue buat bertemu bidadari yang ada di sekolah ini. Ini tuh namnaya jodoh," ujar Ravi tanpa malu sedikitpun. Ravi yang terlalu mendadak tentu membuat gadis yang ada di sana terkejut sekali lagi.
"Kalau gitu Gue bakal berhenti pergi ke tempat ini, Lo bisa pakai tempat ini sampai bosan tanpa harus ketemu sama Gue." Gadis itu menutup buku yang dia bawa dan langsung pergi dari sana. Ravi tak bisa membiarkan gadis itu pergi, dia harus menggunakan gadis itu untuk mengembalikan moodnya.
"Tolongin Gue, Gue butuh Lo di sini. Lo mau kan temenin Gue? Gue gak butuh temen ngobrol kok, Gue Cuma butuh ada orang di sisi gue saat gue benar- benar terpuruk." Ravi tampak menyedihkan saat mengatakan hal itu, namun apa yang dikatakan oleh Rashi malah membuat gadis yang ada di hadapannya menjadi risih dan menatapnya aneh.
"Lo itu cowok, kenapa Lo bersikap lemah kayak gini? Lagian kalau Lo butuh teman, banyak kan cewek di sekolah ini yang suka sama Lo. Lo itu ganteng kok, tapi bukan Gue yang suka sama Lo. Gue gak suka sama cowok yang pecicilan," ujar gadis itu dengan tegas. Ravi memegang lengan gadis itu agar tidak pergi dari sana.
"Mereka sama Lo itu beda. Mereka Cuma bisa ngandelin wajah mereka yang pas -pasan dan habis itu mereka bakal porotin Gue, tapi Gue bisa ngerasain kalau Lo itu beda, Gue mohon, Lo kasih kesempatan buat Gue, buat Kita bisa lebih saling kenal," ujar Ravi yang membuat gadis itu termangu, namun hanya untuk beberapa detik.
"Lo diporotin sama mereka? Gak kebalik? Bukannya kemarin waktu Lo dikejar – kejar itu karna Lo ngutang sama mereka? Ngutang batagor kan? Gue ingat banget kok. Lo gak usah sok jadi korban gitu, sampai harus bohong," ujar gadis itu dengan kesal.
"Gue gak bohong, emang kelihatannya gitu, tapi kebanyakan cewek kalau udah tahu Gue dari keluarga mana, pasti langsung nempel – nempel dan berusaha buat ngambil hati gue. Mereka menjijikan," ujar Ravi bergidik, membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya seolah berkata Ravi juga menjijikan saat ini.
"Oh, jadi Lo ini orang kaya? Seberapa kaya sih Lo sampai bisa mikir kayak gitu?" tanya gadis itu yang membut smirk di bibir Ravi terbentuk. Dia tahu semua gadis pasti akan tergius dengan kekayaan. Mereka kan butuh uang untuk fashion, untuk skincare, dan untuk makan mereka dengan gengsi yang besar.
"Ibu Gue dari keluarga Wilkinson, dan bapak Gue dari keluarga Atmaja. Lo masih harus dijelasin gak seberapa kaya mereka? Yang jelas, buat beli sekolah kayak gini doang, bokap nyokap Gue bisa beli sepuluh, udah sama pak bonnya." Ravi sengaja membesar – besarkan perkataannya. Untuk apa orang tuanya membeli sekolah? Mereka tak mengambil bisnis bidang ini.
"Orang tua Lo kan? Bukan Lo kan? Sebegitu bangganya Lo lahir dari keluarga kaya? Cuma itu kan yang Lo punya dan bisa Lo pamerin? Ya udah, Lo pamer sama tembok sepuasnya," ujar gadis itu yang langsung pergi, kali ini tanpa bisa Ravi cegah lagi.
"Gila, baru kali Ini Gue ketemu orang yang gak tertarik waktu Gue cerita tentang kekayaan Mama Papa. Atau jangan – jangan dia Cuma pura – pura biar Gue kejar – kejar Dia? Ah, Gue harus memastikan. Gue harus bikin tuh cewek jatuh di hadapan Gue," ujar Ravi dengan senyum lebarnya.
Ravi segera meninggalkan tempat itu karna dia sudah mendapatkan apa yang dia cari. Rasa bahagia dan kelegaan atas harinya yang sangat suntuk. Itu semua karna kakak kelas yang bahkan Ravi tak tahu namanya.