
Rashi sudah bersiap di pagi hari dan melahap sarapannya dengan tenang. Dia duduk di sofa setelah selesai makan dan menunggu dua adiknya untuk keluar dari kamar dan berangkat. Ah, sekadar informasi, mereka tidak pernah sarapan jika Luna dan Darrel tidak ada di rumah, mereka akan memilih makan makanan yang tak sehat namun enak, dan Rashi tidak bisa menahan ataupun mengadukan mereka.
Rashi membuka ponselnya dan melihat pihak Panitia sudah mengirim hasil lomba kemarin dan materi yang akan mereka lombakan untuk besok. Dia melihat hasil kerja mereka kemarin dan berdecak cukup keras. Dia kecewa pada dirinya sendiri karna menjawab 10 pertanyaan dengan salah, yah, walau Adlan menjawab 15 yang salah, tetap saja mengecewakan baginya, dia selalu ingin berada di atas dan memberikan yang terbaik yang dia bisa.
"Kenapa gue bisa sebodoh itu sih, dan bahkan nilai gue ada di bawah Alena. Apa dia bohong soal gak ngerti IPA? Kenapa bahkan dia cuma menjawab 3 yang salah? Sial, itu malah bikin gue ngerasa makin gak berguna dan kesal ke dia," ujar Rashi yang merasa tak nyaman karna ada seseorang yang jauh lebih baik darinya, yah, paling tidak dia berharap nilainya tertinggi dari 3 orang di tim mereka.
Ravi yang baru keluar dari kamarnya melihat Rashi mengoceh sendiri, biasanya lelaki itu sangat tenang dalam segala situasi, namun kali ini Rashi sangat gelisah dan marah marah, Ravi tahu pasti ada sesuatu yang cukup gawat terjadi dan ada hubungannya pula dengan sikap aneh Rashi semalam. Apakah memang terjadi sesuatu pada Rashi dan Alena semalam? Dia ingin sekali bertanya, namun rasanya Rashi tak akan pernah menjawab pertanyaannya.
"Gue gak tahu dan gak mau tahu masalah lo apa karna lo gak akan pernah mau kasih tahu gue. Tapi gue harus kasih tahu lo kalau gak bisa kayak gini, gue ngeri lihat lo berubah jadi begini. Udah, balik jadi Rashi yang tenang, cukup gue aja yang bawel dan berisik, cukup cuma gue yang begitu. Gue gak suka lihat lo begini, asli, gue benci banget," ujar Ravi yang membuat Rashi terdiam.
"Lo gak perlu bilang apa apa, kalau lo bilang sesuatu, gue bakal tonjok lo, dan gue pastikan hidung lo gak akan lurus lagi. Sekarang kita tunggu Rania dan kita jemput Alena, terus berangkat, oke, bye," ujar Ravi yang tak membiarkan Rashi membuka mulut dan pergi ke kamar Rania untuk memastikan gadis itu sudah bangun dan sudah bersiap.
Ravi mengatakan itu bukan karna dia tidak peduli dengan apa yang Rashi pikir atau rasakan. Justru karna dia akan terpengaruh, jadi dia memilih untuk tidak tahu. Jika Rashi bersedih, hatinya ikut merasa sakit, jika Rashi terluka, dia juga akan terluka. Itu sebabnya dia tidak ingin melihat Rashi yang sedang kesal, karna entah mengapa itu juga membuatnya kesal, apalagi hari masih pagi dan panjang.
Untung saja Rania sudah siap dan mereka langsung berangkat. Rania duduk di depan sebelah supir dan Rashi Ravi di belakang. Perjalanan berjalan hening, sampai Rashi menelpon seseorang dan membuat semua orang di mobil itu menengok. Ternyata Rashi mengabari Alena jika mereka sudah dalam perjalanan agar gadis itu bersiap dan mereka tak perlu menunggu lama.
"Wow, udah simpan nomor dia juga? Aku aja gak punya nomor dia loh, Rashi emang terbaik," ujar Rania yang membuat Rashi menengok tak suka, padahal bukan hal yang istimewa dan dia juga tidak akan meminta nomor ponsel gadis itu jika tidak ada dalam situasi ini. Dia berencana menghapus nomor Alena setelah urusan mereka selesai.
"Kalau gak ditelpon, kita sampai sana dia belum mandi, lama kita nunggu dia, belum lagi harus antar Ravi ke sekolahnya kan? Kalau telat gimana? Lagian juga, sejak kapan kamu panggil aku Rashi? Biasanya kak?" Tanya Rashi yang membuat Rania menghela napasnya.
"Cuma 7 menit loh, astaga seolah jaraknya 7 tahun. Lagian juga kak Rashi sama kak Ravi panggilnya juga nama, malah pakai lo gue, lebih parah tuh," ujar Rania yang membuat Rashi tidak menjawab lagi, sudah tidak mau ribut, Ravi yang biasanya berisik pun juga hari ini tampak diam, munglin bukan Rashi satu satunya yang mengalami hal tak mengenakkan malam tadi.
"Lo kenapa diam aja sih? Biasanya juga berisik? Gak enak banget kalau lo diam dan serius begini, kayak bukan lo gitu loh," ujar Rashi yang akhirnya tak betah, namun Ravi tak menjawab, dia melihat ke luar jendela, pikirannya melayang entah kenapa.
"Gue pindah ke SMA Sanjaya boleh gak ya?" Celetuknya yang tentu membuat Rashi dan Rania terkejut, bahkan Rashi sampai tersedak dengan udara yang dia hirup menggunakan mulut. Mereka menatap ke arah Ravi penasaran, menunggu apa yang akan dikatakan oleh anak itu, namun sepertinya Ravi tidak berbicara lagi, membuat Rania jadi tidak sabar.
"Kenapa nih? Kak Ravi dipalakin sama orang di STM? Atau gak punya teman? Ah, atau jangan jangan udah ditolak sama cewek ya?" Tanya Rania yang membuat Ravi melotot, dia? Ditolak? Tidak akan pernah. Dia selalu mendapat perempuan yang dia suka dan mereka akan selalu menerima cintanya, meski setelah itu mereka bosan dan putus begitu saja.
"Gak, gak ada yang nolak. Tapi aku mau masuk ke sekolah kalian biar bisa satu sekolah sama Alena. Nyadar gak sih kamu kalau Alena itu cantik banget? Baik lagi, dia udah selamatkan nyawa dan harga diri aku selama di pesta. Setelah itu aku kepikiran aja buat satu sekolah sama dia, toh satu sekolah juga sama kalian kan? Jadi makin enak," ujar Ravi yang makin membuat mereka terkejut, siapa yang menyangka Ravi akan mengatakan hal itu dengan mudah dan tanpa beban?
"Serius kak Ravi suka sama Alena? Alena yang mobilnya ada di rumah kita? Wow!" Seru Rania bahkan sampai bertepuk tangan. Dia merasa senang jika memang Ravi bisa bersama Alena dan Alena menjadi saudaranya. Sudah lama dia ingin mempunyai saudara perempuan dan hanya akan bisa terjuwud jika Ravi atau Rashi memiliki kekasih yang mereka seriusi.
"Yaps, aku juga udah mikir semalaman, aku suka sama dia. Anggun, cantik, gak aneh aneh, baik juga kan. Aku berencana mau pindah ke SMA Sanjaya, dan nanti ambil kelas akselerasi, jadi kelas 12 bisa satu angkatan sama dia, lebih mudah ketemu juga," ujar Ravi gang akhirnya mengusik Rashi, anak itu memandang Ravi dari atas sampai bawah, memastikan Ravi mengatakan itu dengan sadar dan tanpa paksaan.
"Enak banget ngomong kelas akselerasi, emang bisa masuk? Kan syaratnya banyak dan susah, lagian kelasnya udah dimulai, mana bisa ngejar. Mungkin pelajaran mereka udah sampai semester 2," ujar Rashi yang tentu membuat Ravi menaikkan alisnya dengan heran, apakah Rashi meremehkannya? Atau ada alasan lain lelaki itu berkata seperti itu pada Ravi?
"Lo gak yakin? Padahak gue bisa aja kok waktu ujian kemarin nilainya 40, tapi gue milih biar gak ada yang 100, bahkan kalau gue sekarang gantikan lo ikut olimpiade, gue yakin gue bisa dan menang. Gue udah tulis semua jawaban gue saat nonton olimpiade kemarin, lo bisa cek dan lihat kalau nilai gue sempurna dari kunci jawabannya.
"Lo tahu persis kalau gue mau, gue bisa lakukan apapun buat masuk kelas Aksel di SMA Sanjaya dan lo juga tahu kalau gue akan berhasil, ya kan? Jadi lebih baik gue cepat cepat bilang ke Papa buat pindahin gue ke sana dan nanti kita bisa satu sekolah," ujar Ravi tanpa dosa. Rashi langsung tampak tak tenang, meski dia berusaha biasa saja, dia tak bisa bohong di depan Ravi kalau dia gelisah.
"Gak bisa lah, Papa selalu ngajarin kita tanggung jawab! Lo gak bisa seenaknya dong masuk ke sekolah yang lo pengen, nanti kalau lo suka sama orang lain lagi, lo pindah lagi buat ngikut gitu? Gak akan dibolehin sama Papa, saran gue sih gak usah ya, lo kan udah pilih masuk ke STM ya udah, nikmatin aja. Papa bakal marah kalau lo main main dalam sekolah," ujar Rashi panjang lebar.
"Kenapa? Lo takut kah gak bisa juara satu kalau gue masuk ke sana? Atau... lo takut gue ngejar Alena sampai ke sekokah itu jadi lo minta gue buat fokus di sekolah gue sekarang?" Tanya Ravi yang membuat Rashi terdiam. Ravi berhasil menjebaknya, dia sudah masuk dalam perangkap yang dipasang oleh Ravi.
"Ya, ya gak gitu lah, siapa yang suka sama Alena? Kalau lo mau, ambil aja, di pasar banyak versi diskonnya. Maksud gue tuh, eemm, ya tadi, kalau papa tahu, dia bakal marah," ujar Rashi yang akhirnya kesal dengan dirinya sendiri karna mudah terperangkap dalam jebakan Ravi, dia tidak menyangka Ravi begitu pintar dalam mepermainkan emosinya.
"Yah, mungkin benar, kalau papa tahu, papa bakal marah. Ya udah deh, gue juga pintar kok di STM ini, jadi ya santai aja sekolahnya, lagian masih bisa ketemu Alena kalau dia main kan? Rania, sering sering ajak Alena ke rumah dong, buat belajar bareng kamu, sekalian ketemu aku," ujar Ravi yang tentu saja disetujui oleh Rania.
"Okay, aku bakal ajak dia, nanti kan dia juga mau ambil mobilnya, kita main aja mau gak? Ke ancol atau dufan gitu? Udah lama kan gak main yang wahana gitu," ujar Rania yang diangguki oleh Ravi, dia melirik dengan ekor matanya dan melihat Rashi mengepalkan tangannya, entah kenapa lelaki itu sekesal itu dengan Ravi yang mengejar Alena.
"Lo yakin selera lo Alena? Kayak gak ada cewek lain aja sih? Dia kan jelek, udah gitu aneh lagi, lo yakin gak mau naikin kelas lo? Lo bisa dapat yang lebih baik kok," ujar Rashi yang tentu tidak berpengaruh bagi Ravi, anak itu akan selalu mengejar yang menurutnya baik untuknya, jadi dia tidak akan mendengarkan orang lain yang hanya meragukannya atau bahkan meremehkannya.
"Ya, dan artinya Alena bukan selera lo kan? Kalau Alena buat gue boleh dong berarti? Bebas dong? Bagi gue dia cantik kok, smart pula," ujar Ravi yang membuat Rashi diam. Hal itu tentu membuat Rania penasaran dan memanggil nama Rashi, untuk memastikan lelaki itu masih di sini, masih dalam keadaan sadar dan bisa menjawan petanyaan yang diajukan Ravi.
"Ah atauuu, Kak Rashi suka sama Rania ya? Jadi gak iklas dan maksain kak Ravi buat gak ngejar Rania? Iyakan? Hayo jujur," desak Rania yang memhuat Ravi penasaran juga, dia ingin mendengar apa yang menjadi jawaban Rashi.
"Ya enggak lah, gila aja selera aku bukan cewek kayak dia. Aku cuma gak begitu nyaman lihat Ravi yang seleranya lebih rendah dari aku, tapi kalau bagi dia cantik pintar atau apalah itu, ya terserah dia, paling juga cuma sebulan dan Ravi udah bosan, kan polanya begitu," ujar Rashi yang membuat Ravi tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Oke, kalau gitu kita make a deal, lo gak akan ganggu waktu gue sama Alena dan lo gak keberatan kalau Alena jadian sama gue. Besok waktu ke dufan, lo gak masalah dan gak akan marah kalau gue sama Alena, deal?" Tanya Ravi yang mengulurkan tangannya. Awalnya Ravi ragu, namun lelaki itu menjabat tangan Ravi dan mereka sepakat untuk tidak menganggu hubungan percintaan keduanya.
"Wow, Rania gak bayangin kalau Alena sama Kak Ravi beneran pacaran, pasti anaknya jadi good looking maksimal. Alena cantik banget kok, kak Rashi aja yang seleranya aneh," ledek Rania yang tidak berpengaruh bagi Rashi. Mereka kembali terdiam setelah itu, sibuk dengan pikiran masing masing.
Tak lama berselang, mereka sudah sampai dan Alena sudah menunggu di depan. Dia duduk di sebelah Ravi, dan Rashi ada di ujung ( posisi Ravi di tengah). Ravi langsung menyapa Alena dejgan ramah, membuat gadis itu merasa hangat dan menyapa balik Ravi meski masih sedikit malu rasanya.
"Nanti mampir ke rumah kan? Kalau gitu nanti jangan langsung pulang ya, gue mau nunjukin sesuatu buat lo," ujar Ravi yang tidak berpikir lagi. Tentu saja Rania dan Rashi jadi penasaran. Apakah lelaki itu sudah menyiapkan semua? Padahal dia baru melihat Alena cantik semalam, tapi sudah ingin menunjukkan sesuatu pada gadis itu.
"Nunjukin sesuatu? Gak bisa sekarang aja?" Tanya Alena yang dijawab gelengan kepala oleh Ravi.
"Harus nanti, kalau sekarang gak bisa. Mau kan?" Tanya Ravi lagi. Alena mengangguk dengan ramah, yah, mereka bukan orang jahat, tidak ada alasan bagi Alena untuk menolak ajakan Ravi.
"Jadi penasaran," celetuk Alena setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Sudah seharusnya, dan gak cuma lo yang penasaran, gue yakin," ujar Ravi yang sengaja berperilaku tengil di hadapan Rashi yang tampak tak peduli dengan apa yang dilakukan Ravi.