
Alena duduk di kelasnya sambil membaca buku, dia harus menyelesaikan semua materi yang belum dia pahami karna minggu depan adalah waktu evaluaxi untuk hampir semua mata pelajaran. Dia tak mau nilainya turun atau menjadi jelek, karna bisa saja Mamanya akan membawanya pergi ke luar negeri jika sampai itu terjadi.
Gadis itu tak terganggu dengan suasana kelas yang ramai. Bahkan banyak anak yang berlarian kesana kemari dan tertawa. Dia hanya memakai earphone dan membaca dengan fokus. Sampai seorang teman datang ke tempatnya, duduk dengan wajah yang garang dan langsung membuat Alena mendongak, menatap orang itu dengan bingung. Orang itu tampak mendengus melihat respon Alena.
"Ada perlu apa ya?" Tanya gadis itu yang tak mau membuat masalah, dia tahu mereka semua yang ada di kelas ini akan membuat masalah jika ditanggapi, namun Alena juga merasa risih jika ditatap seperti itu. Dan benar saja, orang yang duduk di hadapannya langsung tertawa mendengar jawaban Alena. Beberapa orang lain ikut datang mengerubungi Alena.
"Hebat ya lo, mentang mentang udah bisa ambil hati anak dari keluarga Wilkinson, lo jadi sombong begini. Jual diri ya lo? Atau lo sengaja menjebak dia biar mau sama lo?" Tanya teman Alena yang tentu tidak dimengerti oleh gadis itu. Memang apa yang salah dan kenapa ucapan mereka kian hari kian kasar? Alena tak habis pikir dengan itu semua.
"Heh, lo itu sadar diri, lo cuma upik abu yang jelek, kebetulan aja lo pintar dan bisa masuk kelas olimpiade, terus lo bisa komunikasi sama Rashi, tapi ya lo jangan ngelunjak! Lo kira Rashi bakal mau sama Lo yang gak ada benefitnya? Sadar diri!" Teriak orang itu di telinga Alena.
Gadis itu sebenarnya lelah, sangat lelah karna semua orang mengira dia berpacaran atau mengambil keuntungan dari Ravi yang merupakan keturunan Wilkinson, apalagi Rashi terbilang tampan. Namun mereka mengatakan itu entah atas dasar apa, selama ini dia tak pernah mengambil keuntungan atau bahkan dekat dengan Rashi.
"Kemarin Aan lihat lo makan di warung penyet bareng Rashi, padahal lo lagi libur setelah olimpiade. Lo yang udah bikin tim sekolah kita gagal jadi juara satu, gak ada malunya ya lo masih bisa jalan sama Rashi yang udah lo bikin kalah. Najis banget," ujar orang orang itu yang akhirnya membuat Alena muak, dia tak mau urusan ini semakin panjang dan dia harus membuat orang orang ini berhenti mengoceh.
"Kalau kalian gak tahu apa apa, gak usah sok tahu deh!" Tegur Alena yang kembali memakai earphonenya dan langsung menyalakan lagu cukup keras agar tidak mendengar perkataan mereka. Merasa diabaikan, mereka langsung menarik earphone itu dari telinga Alena dan bahkan membuat kepala gadis itu sedikit tertarik, Alena ingin mengaduh, namun dia tahan agar mereka tidak tahu Alena kesakitan.
"Makin berani ya lo! Lo kira Rashi bakal ke kelas ini buat bantuin lo? Dia gak akan ada di sini dan gak akan masuk ke kelas ini! Gue bisa aja bunuh lo sekarang dan pergi dari kelas ini dengan nyaman! Jadi lo jangan berani sepelekan gue!" Pekik orang itu yang membuat telinga Alena sangat sakit, namun dia menahannya dan membiarkan orang orang gila ini menyelesaikan perkataan mereka.
Ah, Alena padahal berharap Rashi sungguh muncul saat ini untuk membelanya seperti waktu itu, namun dia ingat Rashi saja masih ada di rumah sakit, tak ada orang yang bisa membantunya untuk saat ini, dia hanya bisa berharap teman temannya yang gila ini berhenti melakukan hal bodoh sampai ke batas kesabarannya.
"Beib, kasih dong lemontea ke Alena, dia udah lama gak minum lemonthea tuh," ujar salah satu gadis yang bernama Anggun, namun kelakuannya sama sekali tidak anggun. Orang itu memegang lemontea yang entah kenapa warnanya kusam, lalu menyiramkannya ke atas kepala Alena sampai membuat gadis itu menutup mata agar cairan itu tak masuk ke matanya.
Alena mencium bau amis yang luar biasa, bercampur dengan bau bau yang sangat tak enak untuk dicium. Alena bahkan merasa sebentar lagi dia akan muntah, namun dia menahannya agar tidak merepotkan orang yang membersihkan tempat ini. Gadis itu berpikir, apakah lemontea baunya sebusuk ini? Pasti mereka sudah mencampurnya.
"Ewh, beib, kok baunya kayak busuk gitu sih? Kamu apaib tadi lemonteanya?" Tanya Anggun pada lekaki yang tadi mengulurkan 'lemontea' ke Anggun. Lelaki itu terkekeh, mengambil kembali gelas lemon yang sudah kosong itu lalu menutup hidungnya dengan jijik, dia membuang sembarangan gelas plastik itu.
"Iya sayang, kan karna Alena katanya lagi capek kan, nah aku mau perhatian ke dia, aku kasih deh tuh dia telur, tapi daripada dia makan telur mentah, aku campurin ke minumannya, kan jadi praktis," ujar orang itu yang membuat Anggun memeluknya gemas. Mereka seolah sedang melakukan drama menyayangi dan peduli pada Alena.
"Wah, pacar aku emang baik banget sih sama teman temannya. Aku bangga deh sama pacar aku yang the one and only ini, aku sayang deh sama kamu. Tuh Alena, pacar tuh yang begini, perhatian, lo gak perlu bilang makasih, gue pergi dulu," ujar Anggun yang langsung pergi ke meja lain meninggalkan Alena yang menggenggam tangannya dengan kesal.
"Eh, itu telurnya kok baunya gak enak banget sih? Itu telur apa?" Tanya Anggun yang sudah mengobrol santai dengan kekasih yang sama gilanya itu. Kekasih Anggun tertawa, lalu dengan tanpa dosa berkata itu adalah telur yang sudah ada di tempatnya selama berbulan bulan. Dia sengaja memilih telur itu karna dia yakin itu sudah busuk.
"Haha, kamu memang pintar dan sangat bisa diandalkan. Harusnya dia tahu apa resikonya mau bertindak sok hits yang gak punya malu. Enak aja mau dekat sama keluarga Wilkinson. Gak punya muka sekali, yah, sekalian biar dia sadar, kalau udah jelek, bau lagi, dia udah gak ada gunanya," ujar Anggun yang bangga dengan perbuatannya.
Alena langsung pergi dari sana diiringi tatapan tawa dari teman temannya. Mereka mengira Alena akan pergi ke ruang ganti, namun mereka tak tahu jika gadis itu pergi ke ruang kepala yayasan. Dia akan bertemu langsung dengan kepala yayasan yang sudah pasti mengenalnya dan membantunya untuk menyamarkan identitasnya.
"Permisi Pak, saya mau bertemu dengan pak Johan," ujar Alena saat masuk ke ruang guru. Semerbak wanhi telur busuk langsung membuat semua guru menengok san menatap Alena dengan bingung, namun gadis itu tak begitu peduli dan langsung masuk ke ruang kepala Yayasan.
"Mereka emang harus dibantai sekali kali," lirihnya dengan penuh dendam.
Tidak ada yang berani mencegah Alena meski baunya sudah sangat tak enak. Alena langsung masuk tak tanpa takut dan menghadap kepala yayasan yang menatapnya dengan kaget. Alena langsung duduk di hadapan kepala jurusan dengan mata yang penuh amarah.
"Om Johan! Aku selama ini gak pernah ngadu apa apa ya, tapi ini udah keterlaluan, demi apa, Alena gak suka dirundung begini," ujar Alena pelan, Johan tentu saja masih terkejut dengan kondisi Alena. Dia langsung mengambil handuk yang ada di lemari sana dan memberikannya pada Alena.
Alena mengangguk dan langsung pergi dari sana menuju ke kamar mandi. Yah, karna dia adalah keturunan keluarga Sanjaya, dia tentu mengenal dengan pemilik yayasan SMA Sanjaya ini. Bahkan Alena cukup dekat dengan Robert yang merupakan keturunan dekat, Johan dan Talia yang merupakan anaknya sekaligus yang mengurus sekolah sekolah di bawah yayasan Sanjaya.
Setelah membersihkan tubuhnya. Gadis itu memakai kemeja dan celana yang disiapkan oleh Johan sambil menunggu OB membawakan seragam yang ada di lokernya. Dia duduk di hadapan Johan sambil menghela napasnya dengan sesak saking memendam amarah yang sudah lama terpendam. Johan mencoba menunggu sampai Alena siap untuk bercerita.
"Sudah satu tahun lebih om, anak anak itu merundung Alena, Alena bahkan gak tahu apa alasannya. Cuma karna Alena gak mau membawa keuntungan dari keluarga, Alena diam aja om, tapi ini keterlaluan. Alena udah gak bisa diam aja. Bahkan kalaupun Alena bukan keturunan Sanjaya, setiap orang kan juga gak pantas daoat perlakuan begini."
"Oke oke, Om tahu, kamu sekarang cerita aja kronologi rincinya, setelah ini Om panggil mereka, tapi Om gak akan bilang kalau Om kenal sama kamu, jadi nama kamu tetap aman. Mereka gak akan bisa lari lagi kalau udah berani menyakiti teman mereka di sini, apalagi kamu, ponakan om sendiri. Gak akan om biarkan mereka lolos," ujar Johan yang diangguki oleh Alena.
Gadia itu mulai menceritakan kejadian yang dia alami. Dia menceritakan secara runtut termasuk pertemuannya dengan Rashi (yang sebenarnya Ravi) dia juga menceritakan apa yang mereka lakukan tempo hari, saat segelas minuman panas hampir menyiram wajahnya, Johan sampai terkejut ada kejadian seperti itu di lingkungan sekolah.
"Biasanya orang yang jahat, kalau mereka gak ditanggapi, mereka bakal bosan dan diam sendiri. Tapi yang ini enggak, aku jadi emosi banget Om, paling gak merekq harus dapat hukuman yang setimpal, yah bagus lagi kalau dikeluarin aja karna mereka udah melakukan hal yang gak pantas," ujar Alena yang diangguki oleh Johan.
"Ya udah, kamu tunggu OB dulu, terus nanti kamu ganti seragam, balik ke kelas kamu, terus nanti om bakal panggil anaknya yang lakuin ini, Om bakal cek cctv yang ada di kelas kamu sebagai buktinya, kamu jangan khawatir, om gak akan memihak walau dia udah nyumbang banyak juga buat yayasan ini," ujar Johan dengan tegas.
Setelah OB membawakan seragamnya, orang itu memberikan kunci pada Alena dan langsung berganti pakaian dan kembali ke kelasnya. Tenan temannya semua diam, tak ada yang berani mendekat, apalagi saat melihat Alena sudah bersih dan wangi, padahal tidak ada sampo dan sabun mandi di kamar mandi sekolah ini, dan tak mungkin juga Alena pergi membeli di luar sana.
Anggun menatap Alena dengan Smirk di wajahnya, dia tak tahu nasibnya di sekolah ini akan berakhir sebentar lagi. Dia masih bisa tertawa dan bahkan meledek Alena yang sudah duduk di tempatnya lagi.
"Kepada Siswi yang bernama Anggun Paradikma, silakan menemui kepala sekolah di ruang kepala yayasan sekarang. Sekali lagi, bagi siswa yang bernama Anggun Paradikma, silakan bertemu dengan kepala sekolah di ruang kepala yayasan sekarang, terima kasih." Semua mata langsung menatap ke arah Anggun, sementara Anggun langsung melihat ke arah Alena dengan kaget.
"Lo ngadu?! Brengs3k lo! Awas aja ya lo, gue bakal bikin lo lebih sengsara! Berani beraninya lo bikin nama gue disebut di radio sekolah! Lo gak tahu kalau keluarga gue nyumbang besar buat sekolah ini? Lo kira mereka bakal berani ngehukum gue? Dasar J4lang! Awas lo ya, gue tandain lo!"
Alena hanya diam diberikan sumpah serapah seperti itu. Dia tak mau identitasnya terungkap, jadi dia bertindak sebagai siswa biasa yang melaporkan tindakan salah pada kepala sekolah. Sementara Anggun yang memang anak dari orang kaya, dia merasa uang bisa menyelesaikan segala hal, jadi dia malah makin merasa tinggi saat dipanggil karna ada masalah.
"Perhatian, untuk siswi bernama Alena Adijaya, silakan menemui kepala sekolah di ruang kepala yayasan sekarang. Sekali lagi, bagi siswi bernama Alena Adijaya, silakan menemui kepala sekolah di ruang kepala yayasan sekarang. Terima kasih." Alena dengan yakin bangun dari duduknya dan pergi ke ruang itu.
Mereka mengulangi kronologi sesuai versi masing masing dan Tentu saja Anggun tidak bisa membantah saat mereka menunjukkan bukti cctv yang terpasang. Johan memang memasang cctv di ruangan kelas namun dengan tersembunyi agar dia bisa melihat mana siswa yang berbuat curang, mana siswa yang jujur. Dia tidak bisa menghukum mereka hanya karna ketahuan oleh guru, karna mereka pasti jauh lebih pintar dalam berbuat curang.
"Saya tahu keluarga kamu adalah penyembang yang besar di yayasan ini, tapi jika kamu sudah bertindak tidak sesuai dengan peraturan yang ada, terutama masalah perundungan, berapapun uang yang diberikan keluarga kamu tidak akan bisa menebus apa yang kamu lakukan! Saya akan memutuskan untuk segera mengeluarkan kamu, saya tidak akan berdiskusi lagi dengan dewan. Jadi silakan panggil orang tua kamu dan minta mereka menghadap saya."
"Tapi pak..."
"Kamu bisa keluar sekarang," ujar Johan yang tak mau mendengar lagi apa yang Anggun katakan. Gadis itu keluar dengan tatapan kosong. Orang tuanya akan menghajarnya jika mereka sampai tahu Anggun dikeluarkan dari sekolah.
Anggun langsung berlutut di hadapan Alena saat gadis itu keluar dari ruangan kepala yayasan.
"Gue mohon, gue mohon bujuk kepala yayasan buat maafin gue, gue akan lakukan apapun yang lo minta, tapi tolong, jangan biadkan gue di D.O. dari sini, please, maaf, gue mohon sama lo."
"Sorry, gue gak ada kuasa apapun buat itu, lo harus ambil apa yang lo tanam, semoga bahagia di temoat baru," ujar Alena pelan dan melepaskan tangan Anggun yang memegang kakinya