
"ASTAGA!" Alena langsung kaget saat membuka matanya. Dia melihat taman yang tadinya indah menjadi sangat berantakan, bahkan dia juga melihat kue berjatuhan, dengan lilin hias di taman itu yang sudah tidak menyala lagi, Ravi tampak syok dan terus terdiam tanpa mengatakan apapun, sementara Alena langsung menatap ke arah Ravi dengan prihatin. Bagaimana tidak, lelaki itu sudah menyiapkan semua, namun hancur begitu saja.
"Ke.. kenapa ini bisa sampai seperti ini? Bukankah aku memintamu untuk menjaganya? Kemana kau pergi sampai ini hancur begini?" Tanya Ravi yang membuat pengawal itu ketakutan. Dia tampak tak lancar dalam bicara, membuat Ravi makin kesal dan memajukan langkahnya, hendak melawan orang itu, namun Alena langsung menahannya dan meminta lelaki itu untuk tenang. Bagaimanapun mereka tak akan mendapat apa apa dari hal ini, jadi lebih baik mereka berpikir tenang dan positif.
"Tadi tiba tiba ada angin kencang berhembus tuan muda, saya juga tidak tahu anginnya dari mana dan kemana. Bahkan saya juga terluka karna menyelamatkan apa yang sudah tuan muda siapkan, namun tetap saja semua habis terkena angin, saya, saya benar benar menyesal," ujar pengawal itu pada Ravi, lelaki itu sebenarnya sangat marah, namun dia juga harus menyadari jika semua itu di luar kemampuan pengawalnya, kecuali pengawalnya sudah berteman baik dengan Tuhan, dia bisa mengendalikan cuaca.
"Ta.. tapi, ini? Ini sangat hancur. Bagaimana kau bisa menjelaskannya? Aku, aku sangat tidak menyangka akan sampai seperti ini, bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?" Tanya Ravi yang masih tak menyangka dengan semua, sementara Alena mencoba untuk bersikap diplomatis, dia tak mau menyalahkan pengawal ataupun Ravi atas hancurnya pesta ini, apalagi tujuan mereka hanya makan malam, lebih baik mereka makan malam di tempat lain saja.
"Aku udah siapkan semua. Dekor, kue, lampu lampu, semua udah aku siapkan sendiri, tapi semua malah hancur Len, maaf, aku gak sempat kasih lihat kamu hasilnya secara langsung, tapi ini, aku bakal kasih lihat kamu hasil gak langsungnya," ujar Ravi yang langsung mengeluarkan ponselnya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan menunjukkan layar ponselnya pada Alena. Alena langsung berdecak kagum melihat dekorasi buatan Ravi yang sangat indah.
"Ini cantik banget Vi, lo pintar banget loh buatnya. Gue salut sih sama lo Vi. Lo gak usah sedih ya, gue tahu niat lo sampai seperti ini, setidaknya bumi dan langit udah tahu gimana bentuknya dan mereka gak ijinkan gue buat lihat langsung saking indahnya, jadi mereka hancurkan dulu deh," ujar Alena yang diangguki oleh Ravi, untuk saja Alena selalu memberikan dukungan padanya sehingga dia bisa sedikit mengurangi rasa tegang di hatinya.
"Kalau gitu, kita ke resto aja yuk buat makan malam, gue udah lapar banget ini, gue udah tahan gak makan dari siang biar cantik dressnya, tapi ternyata gue malah kelaparan, ayo kita makan enak," ujar Alena yang langsung menggandeng Ravi untuk pergi dari sana. Gadis itu tahu, semakin mereka di sini, semakin sedih pula Ravi karna sadar usahanya sia sia.
"Kau, aku minta tolong untuk kau panggilankan orang yang beberes kalau lagi ada pesta atau apapun. Biarkan orang itu saja yang membereskan, dan untuk bayaran, berikan saja seperti biasanya," ujar Ravi yang diangguki oleh pengawalnya itu.
Mereka pergi dari sana menuju ke sebuah restoran nyaris bintang lima, yang mungkin lebih sedikit dari 4 setengah, namun tak lebih banyak dari 5, yah, mari kita anggap sebagai 4 lebih 75, bmagar adil saja. Makanan di sana memang sangat lezat, namun tidak sempurna bagi Ravi, meski dibanding yang lain, restoran ini jauh lebih enak.
"Kamu bawa aku ke resto mahal, untung aja baju aku sesuai, kalau gak sesuai kan malah aku jadi kelihatan kayak pembantu yang nemenin majikan buat makan malam, kayak semacam majikan yang selingkuh sama pembantunya," ujar Alena yang membuat Ravi terkekeh, dia bahkan tak pernah memikirman hal itu sebelumnya.
"Aku kalau makan di restoran begini, gak pernah mikir sampai ke sana, yang penting aku gak salah kostum yang banget, aku bayar dan aku tidak mengganggu ketertiban umum, jadi ya aku ya santai aja, tidak peduli mereka memandangku," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena, namun tetap saja dia tak bisa melakukannya.
"Nih ya Vi misal nih ya misal. Kita udah bayar nih, udah cakep, sudah keren, tapi ternyata sandalnya jepit yang warna hijau tuh, kan ya memalukan, pasti tuh orang buru buru dan cuma lihat di kaca sebatas pinggang aja, dia lupa kalau sandalnya masih sandal mahal sejuta umat," ujar Alena yang meminta Ravi membayangkan maksudnya.
"Iya aku ngerti sih, maksudnya kan kalau emang salah kostun ya pasti dilihatin, tapi kayak kamu tadi tuh ada yang lewat lewat, ada yang ngurus anak dan sebagainya. Tapi mereka cuek aja ya karna mereka tidak menganggu pengunjung lain, jadi ya udah, dibiarkan aja sama pengelolanya, toh pengelolanya yang lebih bertanggung jawab di sini.
"Nah makanya aku bilang,untung aku gak salah kostum dan untung juga dress ini bisa dipakai di mana aja, termazuk clubbing, cuma gak bisa dipakai buat golf aja," ujar Alena yang menatap rok miliknya. Rasanya aneh jika bermain gold dengan rok selutut," ujar Alena yang disetujui oleh Ravi. Mereka segera memesan dan menunggu pesanan untuk datang.
"Eh Len, gue mau ke toilet dulu bentar ya, bentar aja," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena. Gadis itu menatap sekitar dengan mata elangnya. Dia mendapati interiror uangan ini sangat mewah bahkan jauh lebih mewah dari rumah miliknya. Dia yakin insentif dari semua karyawan di kota ini jadi dibuat libur natal gitu, tapi yang tahun lalu enggak, ya semoga saja liburnya benar benar menyenangkan.
Alena kembali menatap banyak pelayan yang memakai sepatu roda, sepertinya hal itu akan menyenangkan saat kita bermain sepatu roda sambil bekerja. Namun semua itu tak jadi lucu jika barang yang ada di dekat atau yang dibawa Alena jatuh.
~ pyaarr
Seperti kakak pelayan yang menjatuhkan satu nampan miliknya. Ah, gajinya sudah harus dipotong karna pemotongan itu digunakan untum mengganti piring dan makanan uang rusak.
"Pak, saya tidak sengaja, saya akan ganti dengan cara lain ya pak, saya, saya akan lakukan hal yang lain untuk membayarnya. Saya memerlukan uangnya untuk pengobatan adik saya pak, jadi saya tidak bisa jika gajinya dipotong."
"Pelayan itu berbicara pelan di kuping manager, sementara manager tampak tersenyum kaku lalu mereka pergi dari sana."
"Wow, pertunjukan kelas atas, dengan akting papan atas, saking menghayatinya sampai diajak ke tempat sana beneran," lirih Alena yang tidak menyangka.
Dia kembali fokus pada meja meja yang ada di sana seolah tidak terjadi apapun, untung saja Ravi segera kembali dan duduk di hadapannya dengan bingung, tentu saja Ravi menyadari wajah Alena yang pucat dan tidak bersemangat, lelaki itu langsung merasa khawatir, takut jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap gadis itu.
"Gak papa, udah pesan juga. Gue pengen kali kali bisa makan enak kayak yang lain hahaha. Ya udah gak papa pokoknya gak papa. Lo santai aja, gue gak gampang sakit kok anaknya," ujar Alena santai yang diangguki oleh Ravi. Lelaki itu terdiam cukup lama, situasi mereka semakin awkward dan mereka fokus pada pikiran masing masing.
"Lo lagi mikirin apa Len? Gue mau tahu apa yang lagi lo pikirin," ujar Ravi untuk memecah keheningan. Alena tampak kelabakan memdengar pertanyaan itu. Pikirannya hanya sedang terpecah kemana mana, dia bahkan tak yakin apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan saat ini. Dia hanya mencoba untuk membunuh waktu dengan memikirkan hal acak.
"Ah, itu, gue bingung aja kenapa lo bawa gue ke sini, padahal kita bisa aja makan di tempat yang gak sebegitu mahalnya, atau ke temoat yang bisa berisik tanpa dilihatin orang, daritadi gue dilihatin padahal baju gue sesuai," ujar Alena yang tentu membuat Ravi melihat sekeliling, banyak mata yang menatapnya kagum, mungkin mereka mengira Ravi adalah bule nyasar yang ada di negara ini, dia merasa bangga akan hal itu.
"Mereka bukan lihatin lo kok, karna pas gue nengok, gue juga merasa mereka ngelihatin gue, jadi ya mungkin itu sugesti aja, tadinya gue biasa aja, terus sekarang kayak merasa di sugesti, jadi gak papa Len," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena. Gadis itu mencoba untuk mengabaikan tatapan orang ke arah meja ini.
Tak selang berapa lama, makanan pembuka pun datang. Ravi dan Alena menikmati makanan pembuka yang berupa sayur sayuran itu. Ravi menyukai saosnya dan mulai makan dengan lahap, padahal seharusnya dia makan perlahan sambil menunggu hidangan utama datang.
Setelah Alena dan Ravi selesai makan, hidangan utama datang. Hidangan utama itu berisi 4 buah udang besar dan gemuk yang dibakar sempurna, entah bumbu apa yang digunakan, lidah Ravi hanya merasa ini hidangan yang baik. Lelaki itu bahkan sampai sebegitu senangnya dengan makanan di hadapannya.
Keduanya menghabiskan udang itu dengan nikmat. Sampai akhirnya datang 3 buah mangkok panacota dengan es krim di atasnya untuk dessert mereka. Ravi melihat ketiganya dan langsung menyadari ada 1 panacota yang berbeda. Jadi dia mengambil dua lainnya lalu memberikan yang satu pada Alena.
"Kamu pesan 2 dessert? Astaga, kalau memang lapar makannya gak usah di sini, bukannya malah pesen dua, hahaha, emang deh kalau Ravi itu gak ada lawan masalah begini," ujar Alena yang tak curiga apapun dan langsung menyuap panacota itu.
"Nyendoknya sampai ke tengah coba, biasanya ada coklat fla gitu di dalamnya dan itu enak," ujar Ravi yang tentu membuat Alena penasaran dan membelek tengahnya. Coklat mengalir dan Alena merasa ini sangat enak, namun senyumnya langsung menghilang dan bingung saat melihat ada cincin berlapis berlian di setiap sisinya meluncur dari dalam situ.
"Aku dapat hadiah ini dari restonya?" Tanya gadis itu polos yang membuat Ravi memutar bola matanya dengan heran. Dia tak menyangka Alena sepolos dan seimut itu. Ravi mengambil cincin itu , mengelapnya dengan serbet dan mengambil tangan Alena. Lalu dengan lembut memakaikan cincin itu ke jarinya.
Alena menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat menyadari apa yang terjadi. Jadi semua ini, makan malam, kejutan, semua untuk ini. Ravi benar benar pria yang tidak bisa ditebak, namun di sisi lain juga sangat romantis, dia memiliki banyak kepribadian indah dalam berkomunikasi dengan orang lain dan Alena selalu terkejut dengan sisi baru yang selalu dan terus saja muncul.
"Gue gak pernah proper buat ngomong ini ke Lo Len, tapi yang harus lo tahu, gue itu sayang sama lo, gue udah lebih dari sayang, gue sampai di tahap dimana gue mau ada hubungan yang jelas sama lo, status, sebagai pacar, lo punya gue, gue punya lo, kalau kita udah dewasa, gue akan lakukan hal seperti ini sekali lagi, namun kali itu untuk menjadikan lo istri gue," ujar Ravi dengan wajah yang serius.
"Len, lo mau gak jadi pacar gue?" Tanya Ravi yang membuat Alena menegang, dia sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh Ravi. Dan tentu saja alam bawah sadarnya langsung mengiyakan apa yajg Ravi katakan, Ravi Tanyakan. Dia langsung berdiri dan memeluk Ravi, membiarkan banyak mata memandang mereka aneh. Alena tal peduli, malam ini dia adalah manusia paling bahagia di dunia.
Setelah puas memeluk Ravi, Alena kembali ke tempatnya dan Ravi memberikan panacota miliknya satu pada Alena karna dia merasa milik Alena sudah tak layak makan. Ravi sengaja mencegah gadis itu untuk makan lagi dan memintanya memotong di tengah pun juga karna dia tak mau Alena keracunan tembaga jika tetap memakannya. Dia tak bisa membuat gadisnya keracunan karna hal konyol kan?
"Vi, jadi tadi di taman, lo juga mau ngomong ini ke gue? Terus diacak acak sama angin? Astaga, lo emang cowok yang sangat sangat sangat romantis Vi, gue beruntung banget di antara banyak cewek di dunia ini, lo malah pilih gue," ujar Alena yang menbuat Ravi tertawa.
"Ya, dan gue bikin itu hampir seharian gitu, dan emang bagus banget tadi. Tapi yah gak papa, kalau lo barusan nolak gue, baru deh gue bakal nyalahin tuh angin yang ngajakin ribut. Untung aja lo terima gue, kalau gak bisa gila gue ribut sama angin," ujar Ravi sambil tertawa. Alena ikut tertawa dan memasukkan satu sendok lagi ke dalam mulutnya.
"Cantik banget, ini sih udah kayak cincin kalau menikah, indah sekali. Vi, ini pasti mahal banget ya? Apa gue pantas buat mendapat semua ini? Semua cinta lo ini? Gue ngerasa gak pantas Vi," ujar Alena yangxmemhuat Ravi mengambil tangannya dan mengelusnya.
"Lo itu perempuan paling berharga ketiga dalam hidup gue, yang pertama mama, dan yang kedua Rania. Yah, lo harus salahkan dia kenapa terlahir perempuan. Menurut gue, semua perihasan itu ya cuma perihasan, kecantikan dan aura mahalnya ya dari lo sendiri, dan lo jauh lebih berharga dari nominal itu, lo berharga dari dalam diri lo sendiri dan gue gak pernah menyesal udah belikan semua ini buat lo," ujar Ravi dengan serius.
"Tapi ini gak akan lo tagih kan beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan lagi?" Tanya Alena yang malah sengaja merusak suasana. Ravi tahu gadis itu sengaja karena mereka tak biasa membicarakan hal yang berat.
'Yah, mungkin kalau gue bangkrut, bakal gue minta lagi buat modal usaha," ujar Ravi enteng yang diangguki oleh Alena sambil tertawa.