
Mereka sampai di sekolah dan belajar seperti biasa, namun di jam istirahat, Adlan, Rashi dan Alena harus berada di perpustakaan untuk belajar. Guru olimpiade memberikan banyak contoh soal dari tahun ke tahun. Mereka ingin mempelajari semua, namun Rashi bahkan tak bisa konsentrasi dengan soal di hadapannya, dia terus melihat ke arah Alena, pikirannya bercampur antara Ravi yang menyukainya dan rasa bersalah karna sudah membuat gadis itu tak nyaman.
“Alena, gue mau minta maaf soal semalam, gue salah,” ujar Rashi yang membuat Adlan dan Alena mengangkat kepalanya bersamaan. Adlan sedang fokus, namun suara minta maaf itu membuatnya tertarik. Rashi tak pernah banyak bicara, namun kini dia meminta maaf? Bukankah ini menakjubkan? Adlan menyimak apa yang akan Rashi katakan, begitu pula dengan Alena, namun sepertinya kalimat itu hanya berhenti di sana.
“Ya, mungkin gue lelah dan lo juga, lupakan aja,” jawab Alena dengan santai. Dia kembali fokus pada soal yang ada di hadapannya. Namun pikiran Rashi masih tak tenang, dia ingin tahu apa yang dirasakan oleh Alena terhadap Ravi, dia harus tahu agar saudaranya tidak terluka, ya, hanya itu alasannya, memang apalagi yang bisa menjadi alasan masuk akal?
“Len, gue mau tanya dan gue mau lo jawab apa adanya aja ya,” ujar Rashi yang kembali membuat Adlan tertarik, namun lelaki itu menatapnya tajam, membuat Adlan tak berani berkomentar, dia mengambil earphone dan memakainya, Rashi menyalakan musik dan Adlan tak bisa mendengar suara mereka. Rashi kembali melihat ke arah Alena dan sepertinya gadis itu menunggu apa yang akan dia katakan.
“Eum, gue, gue mau tanya dan lo jujur ya. Apa lo, eum, menurut lo Ravi orangnya gimana?” tanya Rashi yang tentu membuat Alena mengerutkan keningnya. Namun saat melihat wajah Rashi serius, dia mencoba untuk menjawab sesuai dengan yang dia tahu dan rasakan. Dia meletakkan kertas yang dia pegang dan berusaha membayangkan sosok Ravi. Ah, membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.
“Ravi itu, dia manis, hangat, penuh cinta, murah senyum dan bisa menghargai apa yang ada di hadapan dia. Bahkan saat gue belum berubah begini, dia bisa bilang kalau gue cantik, bahkan dia menyarakankan ke Rania buat potong nih rambut,” ujar Alena yang menunjukkan bagian rambutnya. Rashi menyimak apa yang Alena katakan tanpa melihat ke arahnya, namun telinganya terbuka lebar untuk mendengar.
“Seandainya, orang kayak Ravi nembak gue, gak akan gue tolak, bahkan gak akan gue mikir, karna menurut gue, laki-laki kayak dia tuh jarang, yang bisa menghargai dan melihat kelebihan seseorang,” ujar Alena yang membuat Rashi makin terdiam, apakah benar pesona Ravi sebesar itu? Yah, hanya orang bodoh yang menyukai kulkas yang dingin dan bahkan tak bisa menghargai orang lain.
“Well kalau begitu, lo beruntung,” ujar Rashi singkat yang tentu tak dimengerti oleh Alena, dia hendak bertanya, namun guru olimpiade mereka sudah masuk dan meminta mereka untuk kembali ke kelas dan nanti di rumah mereka menyelesaikan soal yang diberikan, lalu besok mereka akan mengoreksinya. Rashi berjalan paling depan dan meninggalkan teman-temannya.
Alena masih tidak mengerti maksud perkataan Rashi, namun dia tak mau repot untuk bertanya ataupun ingin tahu. Dia kembali ke kelasnya dengan enggan, jujur saja, dia lebih suka belajar di perpustakaan, karna tidak akan ada yang merundungnya di sana, meski dia sudah berubah jadi lebih cantik dari biasanya, rundungan mereka tak pernah berakhir bahkan lebih parah sejak tahu dia mengenal Rania dan Rashi.
“Oh, ini dia pelakor kita. Lo tega banget ya punya muka pas pasan tapi lo bisa rebut pacarnya Rashi? Wow, tidak tahu diri. Emang lo pikir lo siapa sih? Cinderella? Yang dari upik abu jadi putri raja? Lo bukan siapa-siapa Alena, lo Cuma beruntung karna bisa sekolah di sekolah yang elit ini,” ujar mereka yang membuat Alena jengah, jika bukan karna janjinya ke Rania, Alena akan berteriak di depan wajah mereka jika Rashi dan Rania adalah saudara kembar dan tidak berpacaran.
“Eh iya, nih lihat di perpustakaan, wah, romantis sekali ya mereka, yang noh satu lagi disuruh pakai earphone, mereka malah bermesraan, wow, dasar cewek murahan, udah jelek, gak tahu diri pula,” ujar mereka yang membuat Alena makin kesal, namun dia merasa tak berdaya dan memilih untuk duduk. Siapa sangka orang di kelasnya itu justru menarik rambutnya dan memaksanya untuk berlutut.
Mereka ingin menumpahkan air kopi ke kepala Alena, namun tiba-tiba saja seseorang memegang pundak orang itu. Rashi! Lelaki itu mendorong orang yang sudah merundung Alena, dan membantu anak itu untuk berdiri, lalu memegang tangannya. Dia menatap satu persatu orang yang sudah merundung Alena, membuat mereka semua terdiam dan saling pandang karna takut.
“Pak Bambang minta kita buat belajar LCC, gue disuruh ke sini kasih tahu lo,” ujar Rashi yang langsung mengajak Alena untuk pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Meski mereka semua kakak kelas bagi Rashi, entah kenapa dia tidak takut dan justru jijik dengan orang-orang yang ada di kelas itu. bagaimana bisa seseorang dirundung sampai seperti itu? apapun alasannya, tidak sepantasnya mereka melakukan itu.
“udah jelas tadi pak Bambang bilang kita kerjakan di rumah, dan ini bukan jalan ke perpus atau ke ruang olimpiade. Jadi, lo mau bawa gue ke mana?” tanya Alena yang tak mengerti, namun dia tetap mengikuti langkah kaki Rashi, apalagi setelah anak itu menyelamatkan dirinya. Rupanya Rashi mengajak Alena untuk pergi ke bagian atap yang sangat jarang dikunjungi karna terkenal angker.
“Lo tahu tempat ini juga?” tanya Alena yang tak dijawab oleh Rashi, namun gadis itu tak marah karna sudah terlalu biasa menghadapi Rashi. Dia mengikuti lelaki itu menaiki tangga dan sampai di sana. Rashi duduk di salah satu kursi yang ada di sana dan melihat pemandangan kota, walau cuacanya sukup panas, setidaknya dia bisa menikmati pemandangan itu. Alena juga duduk di sebelah Rashi, ikut menghirup udara yang ternyata lumayan enak di atas sini.
"Kenapa lo diam aja diperlakukan gak adil begitu? Kenapa gak ada perlawanan atau paling gak ngebela diri gitu? Kalau tadi mereka jadi numpahin minuman dan itu panas gimana?" Tanya Rashi yang tiba tiba saja berbicara panjang. Alena takjub karna Rashi membelanya sampai seperti itu, namun dia merasa itu tidak perlu karna tidak akan ada yang berubah meski dia membelanya seperti ini, yah, mungkin nyawanya terselamatkan sekali, tapi dia harus ada di kelas itu satu tahun, coba bayangkan saja apa yang harus dia lakukan?
"Mereka terlalu bar bar, lo bisa laporkan mereka kalau mau, dan pasti mereka kena tegur, tapi kenapa lo malah diam?" Tanya Rashi lagi, dia sungguh tidak mengerti kenapa Alena tidak membela dirinya? Entah apa yang Alena pernah lakukan, Rashi tidak suka melihat ada seseorang yang ditindas, apalagi jika masalahnya hanya masalah yang sepele. Dia merasa harga diri dan perasaan seseorang jauh lebih penting.
"Apa lo sekarang merasa peduli sama gue? Well, sekadar informasi, mereka ngira kalau gue itu pacaran sama lo dan jadi pelakor karna yang mereka tahu, lo itu pacar Rania. Mereka menyimpulkan hal itu karna Ravi ngobrol sama gue waktu pesta. Iya, Ravi, tapi mereka ngira itu lo, jadi mereka salah paham. Yah, walau gue gak ngobrol sama Ravi pun, mereka udah salah kaprah, lo sama Rania kan saudara," ujar Alena yang membuat Rashi terdiam.
"Rania udah minta gue buat rahasiakan semua. Dia juga minta gue sembunyikan fakta kalian anak dari Darrel Atmaja dan Lunetta Wilkinson, jadi mereka cuma tahunya kalian dari keluarga Atmaja. Kalau mereka tahu, mereka pasti makin menggila sama kalian, ya kalik enggak," ujar Alena yang masih tidak masuk di logika Rashi, dia tetap tidak mendukung Alena yang sampai kesakitan seperti itu hanya demi sebuah janji tak penting, toh cepat atau lambat mereka juga akan tahu akan fakta ini.
"Well, orang harus ounya integritas Shi, kalau gue udah janji, ya gue akan tepati janji itu apapun yang terjadi, entah gue kepepet kayak apa ya tetap aja gue tepati, karna gue punya integritas," ujar Alena yang membuat Rashi terdiam. Memang anak itu memiliki integritas yang tinggi, Rashi jadi salut dengan apa yang dipikirkan oleh Alena, bahkan jika itu dia, dia akan mempertimbangkan untuk menyelamatkan dirinya.
"Lo ngapain ajak gue ke sini? Ini udah jam kelas dan lo bolos? Wow, anak teladan tapi suka bolos," ujar Alena yang membuat Rashi mengeluarkan kertas berisi latihan soal, dia tidak ingin bolosnya mereka jadi sia sia, sehingga dia tetap membawa kertas soal olimpiade dan berencana untuk mengerjakannya bersama Alena. Yah, awalnya dia ingin mengerjakannya sendiri di sini, namun saat lewat depan kelas Alena dan tahu apa yang terjadi, dia secara reflek membela dan ikut membawa gadis itu.
"Wow, lo pengen banget ya menang di sana? Bukannya lo yang dari awal gak mau ikutan? Kalau gak dipaksa gak akan mau kan lo? Kalau gue sih emang pengen, tapi terlalu under estimate waktu kelas 10 jadi gak ada yang mau pilih gue buat maju," ujar Alena yang tersenyun miriis, mereka semua hanya melihat dari penampilan dan perawakan Alena, tidak melihat isi otak gadis itu.
"Padahal ternyata dari kita bertiga, nilai lo paling tinggi dan bahkan lo bisa jawab soal ipa yang dikuiskan kemarin. Makanya gue mau minta kerjain bareng, siapa tahu kan benarnya juga banyak," ujar Rashi yang diangguki oleh Alena. Mereka fokus mengerjakan soal demi soal yang ada di sana, diskusi tentang cara yang cepat dan trick mengerjakan soal itu dengan singkat, padat dan akurat.
"Gue kira lo pendiam, ternyata lo rame juga, gak kalah rame dari Ravi," ujar Alena yang membuat Rashi berhenti menulis. Dia meletakkan pulpennya dan menatap ke arah Alena dengan tatapan yang intense, dia tampak berpikir ingin mengatakan yang ada di dalam pikirannya atau tidak, namun karna Alena menunggu akhirnya dia bertanya acak saja.
"Apa lo sesuka itu sama Ravi? Karna Ravi rame dan ramah? Terus nih, kalau gue seramah itu, lo juga suka gitu sama gue?" Tanya Rashi yang sebenarnya dia sesali, namun dia bisa membungkus dengan ekspresi datarnya, jadi Alena tidak akan berpikir jauh akan hal ini, gadis itu tampak memikirkan jawabannya sambil membayangkan wajah Ravi.
"Tetap suka sama Ravi sih, karna gue kan udah tahu lo dan udah tahu dia, first impressionnya bagus ke dia, dan kalau mandang fisik pun, cakepan dia kok, ya karna dia murah senyum aja. Dan lo juga gak bisa deh jadi ramah, seramah ramahnya lo, tetap gak akan ramah, gue yakin akan hal itu, gak tahu deh apa yang buat gue yakin, pokoknya yakin aja gitu," ujar Alena yang membuat Rashi terdiam.
"Jadi lo benar benar nunggu Ravi nembak lo? Kalau dia gak nembak nembak, lo gak mau terima cowok lain jadi pacar?" Tanya Rashi yang membuat Alena tertawa, padahal tidak ada yang lucu bagi Rashi, namun Alena tampak geli dengan pertanyaan itu, Rashi berharap Alena masih belum menangkap kenapa Rashi menanyakan hal itu, benar saja, Alena tidak canggung dan sangat santai dalam menanggapi pertanyaan itu.
"Yah, gak juga sih, kalau Ravi gak nembak, masak ya gue gak nikah seumur hidup? Kan ya gak mungkin juga. Jadi kalau emang ada cowok yang tulus dan sesuai buat gue mau jadi pacar, ya gue oke aja lah, ya kalik enggak kan. Gue gak ada patokan khusus, tapi karna tadi lo tanya tentang Ravi ya jadi gue patok ke Ravi, tapi sebenarnya gak juga kok," ujar Alena yang diangguki oleh Rashi, lelaki itu kembali menulis di kertas yang dia pegang.
"Sejauh yang gue tahu, lo itu pendiam, tapi kenapa hari ini, saat ini, lo banyak bicara?" Tanya Alena yang tentu membuat Rashi kaget, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin kan dia mengatakan kalau itu semua karna Ravi yang menyukai Alena? Entah kenapa dia tidak mau Alena tahu akan hal ini, dia akan menyembunyikannya sebaik mungkin.
"Sama kayak lo," ujar Rashi yang memilih jawaban aman dan seperti dirinya. Alena mengangguk, dia mengakui jika hari ini dia banyak bicara. Ah tidak, sejak kemarin, sejak dia kenal dengan keluarga Wilkinson yang sangat ramah padanya. Dia merasa jadi lebih banyak bicara. Mungkin karna mereka memperlakukan Alena dengan baik dan selayaknya manusia.
"Yah, gue emang gak pendiam, cuma karna gak satu frekuensi aja, jadi gak nyaman. Kalau gue nyaman sama orang ya gu berisik. Sayangnya di sekolah ini gak ada, yah, paling gak setahun lalu sampai ini, karna setelah lo dan Rania masuk, gue jadi lebih cerah dan bersinar, jadi ya gue harus berterima kasih juga sama lo. Gue bisa jadi nge up lagi," ujar Alena yang membuat Rashi terdiam untuk beberapa saat untuk mencerna apa yang Alena katakan.
"Nyaman? Lo nyaman ngobrol sama gue?" Tanya Rashi yang diangguki mantab oleh Alena. Dia tersenyum tipis sambil nelihat ke arah langit dimana burung burung kecil terbang kesana kemari.
"Ya, gue nyaman. Sama Lo, Rania, Ravi dan Adlan, kalian orang orang baik, gue bersyukur ketemu orang baik di hidup gue," ujar Alena yang membuat Rashi kembali tersenyum.
"Ya, orang orang baik," lirihnya karna tak tahu harus merespon apa.