
Ravi mengajak Thea untuk pergi ke toko baju dan perihasan. Entah karna Ravi merasa Thea anak yang asik, atau dia tahu Thea tidak akan marah atau baper padanya saat dia mengatakan dia ingin mengajak Thea untuk membantunya memilih baju dan perihasan untuk Alena. Ravi sudah memantapkan niatnya untuk menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.
"Lo beneran gak papa kan kalau gue mintanya lo bantuin gue buat cari gift buat Alena? Gue takutnya lo nanti merasa gak dihargai atau merasa tersakiti gitu, tapi ini gak papa kan?" Tanya Ravi yang membuat Thea tertawa. Padahal biasanya Ravi santai saja saat menyuruhnya, mungkin lelaki itu masih takut Thea adalah tipe yang mudah tersinggung.
"Gak papa lah, gue malah senang bisa bantu lo buat nembak dia, lagian karna gue juga dia jadi salah paham, gue harus sedikit menebus dosa gitu ceritanya. Udah, lo santai aja, gue gak papa kok," ujar Thea yang diangguki oleh Ravi, lelaki itu merasa tenang saat tahu Thea tidak masalah dia reporti dengan masalah itu. Ravi dan Thea memasuki sebuah mall yang terkenal mewah dan mahal.
"Lo mau belikan di toko toko bermerk ini? Gue tahu lo anaknya Wilkinson, tapi, tapi masak lo sekaya itu? Beli barang mewah ini lebih mahal dari uang sekolah 3 tahun loh," ujar Arthea dengan bingung, namun Ravi bersikap santai, dia tidak akan mungkin berani melangkahkan kaki ke tempat ini jika dia memang tidak membawa uang yang cukup.
"Gue cuma mau beli dress yang cakep, sepatu hak yang lumayan tinggi, sama paling cincin aja buat ngajak dia serius. Tapi gue gak tahu apa yang cewek suka. Walau lo kayak cowok, lo kan cewek juga, jadi lo pasti tahu dan paham dong kira kira gimana yang Alena suka. Karna jujur aja, gue gak ada clue sama sekali," ujar Ravi yang diangguki oleh Thea. Sebenarnya untuk masalah fashion, gadis itu cukup mengerti dan cukup bisa diandalkan.
"Lo mau konsep yang kuat atau yang soft aja? Lalau soft, mending pakai warna pastel, lebih feminim dan manis. Kalau lo mau yang konsep strong gitu, beli yang biru laut, atau gak Merah fanta, itu bagus banget kalau konsep strong," ujar Thea saat mereka mulai masuk ke bagian baju. Ravi mengangguk dan langsung meminta gadis itu untuk memilih. Karyawan di sana langsung menyambut Arthea dan Ravi dengan ramah, membantu mereka untuk bisa memilih baju yang mereka suka.
"Warnanya gak usah yang terlalu mencolok sih, yang lembut gitu aja," ujar Ravi yang diangguki oleh Arthea. Gadis itu memilih beberapa baju dan menunjukkannya pada Ravi, namun lelaki itu tak bisa membayangkan Alena memakai dress ini, dia juga tak tahu ukuran tubuh Alena. Hal itu tentu saja membuat Thea menjadi bingung, padahal banyak baju yang bagus dan meski tak ada ukuran, mereka bisa membuatkannya khusus dengan ukuran itu.
"Eum, gini deh, lo sini Te," ujar Ravi yang membuat Thea mendekat. Lelaki itu langsung merangkul Thea dengan wajah yang serius, seolah berpikir sesuatu, dia juga memegang lengan Thea, namun wajahnya tak melihat ke arah gadis itu, tentu saja Thea tahu, lelaki itu sedang membayangkan tubuh Alena dan dia ingin Thea sebagai patokan ukuran.
"Ukuran badan dia sama lo mirip Te, mungkin kalau lo pakai, dia juga pas. Coba deh lo pakai terus gue lihat, kalau emang bagus, ya gue ambil, gue bakal bayangin lo itu Alena, badan kalian mirip mirip kok," ujar Ravi yang sebenarnya membuat Arthea tak nyaman dan malas, namun karna dia sudah berjanji, dia harus menepatinya, jadilah dia masuk ke ruang ganti dan memakai dress semata kaki yang sangat indah seperti gaun, namun tetap simple dan enak dipakai.
"Wah, cantik sih, tapi gue masih ngerasa terlalu simple, coba deh pakai yang ini, sama rambut lo gerai aja sebentar, Alena jarang ikat rambut dia, biar makin mirip dan bisa kebayang gue," ujar Ravi yang mendapat pelototan dari Arthea. Gadis itu tak pernah ingin menggerai rambutnya di kota yang panas dan penuh sesak ini, rasanya sangat sumpek dan tak nyaman.
"Gue gak mau kalau harus ngegerai rambut. Lo lihat rambut gue panjang, emang rambut Alena panjang? Panas tahu kalau digerai, udah sih gini aja, lo kira kira aja Alena seberapa dan gimana, ya?" Bujuk Thea yang mendapat gelengan kepala dari Ravi, lelaki itu langsung memajukan bibirnya beberapa senti, membuat Thea menjadi risih dan kesal di saat yang bersamaan.
"Katanya mau bantuin gue? Katanya merasa bersalah? Katanya mau lakukan apa aja buat minta maaf?" Tanya Ravi yang membuat Thea tertekan. Dia langsung masuk ke ruang ganti sambil menggerutu, membuat Ravi tertawa melihat ekspresi dan perilaku gadis itu, sangat imut baginya, namun dia juga tak mau Arthea tahu dia sedang meledek, karna dia memang ingin melihat, bukan ingin mengerjai atau bagaimana.
Tak selang berapa lama, Thea keluar dari ruang ganti dengan rambut yang sudah digerai dan jepit yang merapikan poninya. Ravi langsung melongo melihat Thea memakai dress wmei gaun itu. Thea terlihat sangat cantik, segar dan lembut. Rambutnya yang panjang terurai menambah aura manis dari wajahnya. Apalagi rambut gadis itu sangat bagus, hitam dan tebal, dan memiliki model keriting gantung. Jika itu Ravi dan Ravi adalah wanita, dia akan sangat menyukai model rambut itu.
"Wah, pasti Alena jadi cantik banget sih gitu, gue suka nih, oke, kita bungkus yang itu. Mbak, saya minta tolong packing yang ini ya, buat hadiah aja, tulisannya kejutan dari Ravi untuk Alena," ujar Ravi yang tentu membuat karyawan itu bingung. Dia menatap ke arah Ravi dan Thea bergantian, lalu fokus pada Thea yang juga bingung di tatap seperti itu.
"Bukannya dress ini untuk mbak ini, kenapa harus dibungkus dan ditulis kejutan? Ah maaf saya bertanya, saya hanya penasaran," ujar orang itu yang membuat Ravi menatap ke arah Arthea dengan geli, bisa bisanya ada yang menganggap mereka adalah pasangan kekasih, padahal itu adalah hal paling konyol yang pernah Ravi dengar.
"Dia bukan pacar saya kak, saya juga gak pernah kepikir atau mau pacaran sama dia, haduh,geli geli gimana gitu, hahah, dia teman saya, teman yang paling baik," ujar Ravi yang mencubit pipi Thea pelan, membuat gadis itu mengaduh kesakitan dan memukul pundak Ravi cukup keras.
"Sakit 4njir! Gila ya lo?" Tanya Thea dengan kesal, namun tak ditanggapi oleh lelaki itu.
"Ah begitu, baiklah, saya akan bungkus gaun ini, silakan anda berdua tunggu saja di depan," ujar karyawan itu dan langsung pergi dari sana. Ravi dan Thea menurut, mereka langsung pergi di kursi dekat kasir. Baru membeli baju, Thea merasa sudah lelah, dia membayangkan orang yang akan menikah, mereka pasti sangat lelah dan tidak punya waktu untuk istirahat.
"Ih, mikir apa sih gue, harusnya gak gitu lah mikirnya, duh," ujar Thea tanpa sadar. Ravi langsung menengok heran dan memastikan gadis itu baik baik saja. Namun Thea langsung berkata dia baik baik saja dan meminta Ravi mrngabaikan apa yang dia katakan.
Ravi tentu saja menurut dan menganggap itu hal yang tak penting. Dia kembali melihat lihat baju yang ada di sana. Dia menemukan gaun berwarna hijau yang cantik. Dia mengambil gaun itu dan mencoba mendekatkannya pada Thea. Gadis itu tentu saja bingung, namun dia berdiri, Ravi ternyata tidak membelikan satu untuk Alena, yah, lelaki ini memang sangat kaya.
Gadis itu menghela napas lelah, tapi dia bahkan tak bisa membantah Ravi, dia langsung masuk ke ruang ganti lagi dan memperlihatkannya pada Ravi. Lelaki itu mengangguk puas sekali lagi. Dia memutuskan untuk membeli ketiganya. Thea tentu saja heran, jika untuk hari spesial, kenapa Ravi membeli 3? Padahal Alena kan hanya bisa memakai satu?
Tak mau menduga lebih lanjut, dia bertindak seolah tak melihat apapun yang Ravi lakukan, toh itu uangnya sendiri dan jika dia boros, orang tuanya yang akan mengingatkannya, Thea tidak perlu pusing dengan urusan keluarga orang lain. Dia melihat lihat gaun yang ada di sana, lalu dia berhenti pada gaun putih pernikahan yang sangat cantik.
"Kak, kalau kamu masih hidup dan akan menikah, aku bakal nabung semua uang aku buat beli gaun cantik begini kak buat kamu. Kamu apa kabar di atas sana? Walau aku tahu sulit buat kamu masuk surga, aku berdoa Tuhan masih kasihan sama kamu kak, dan semoga semua doaku sampai, kamu bisa beristirahat dengan tenang di surga," ujar Thea pelan sambil mengelus gaun yang ada disitu.
"Lo gak perlu pikirkan apa yang udah jadi urusan Tuhan, lo mending fokus selalu doakan dia dan perbaiki diri biar lo bisa terus dipertimbangkan doanya. Dan kalau lo mau ambil gaun ini, ambil aja. Lo mau?" Tanya Ravi yang tentu dijawab gelengan kepala oleh Thea. Dia tidak kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat, jadi dia tidak mau membeli gaun atau persiapan pernikahan yang lain.
"Lo juga anak SMA uangnya banyak banget, dan mau sama Alena, pasti dia juga kaya ya? Bakal jadi sultan tuh anak kalian berdua kalau sampai kalian menikah dan punya anak," ujar Thea mengalihkan pembicaraan sambil pergi ke arah kasir karna mereka harus membayar sekarang, Ravi maksudnya yang membayar, Thea hanya menonton sambil melongo melihat harga yang disebutkan.
"Gue gak tahu sama sekali awalnya dia itu siapa, dari keluarga siapa dan bagaimana. Tapi dia pernah menyelamatkan harga diri gue gitu di sebuah pesta. Gue juga lihat dia itu tipe gue banget, ya udah gue pepet, eh baru deh gue tahu kalau dia gak kalah tajir, walau tajir keluarga gue sih."
"Belum ada yang bisa ngalahin kekayaan keluarga lo ya? Sekaya itu keluarga lo?" Tanya Thea dengan bingung. Dia tak pernah melihat Ada nama keluarga Wilkinson di daftar oleh kaya di Indonesia, jika Mereka tak masuk dan sudah sekaya itu, bagaimana dengan orang terkaya di Indonesia yang masuk daftar? Apakah mereka sangat sangat sangat kaya?
"Yah, kalau bokeh jujur, gue hampir setara sama orang terkaya se Indonesia. Eum, mungkin lebih kaya gue sih. Tapi gak tahu gimana bokap dan kakek gue ngebagi nama gitu di kekayaan, jadi ya pajak keluarga kan juga gak gede gede amat. Orang tahunya kami kaya, bukan kaya banget," ujar Ravi dengan santai.
"Maksudnya keluarga lo curang gitu biar pajaknya gak banyak dan gak ada barang mewah yang ke daftar kalian main belakang?" Tanya Thea berbisik karna takut ada orang lain yangcmendengar dan malah membuat kacau. Ravi mengedikkan bahunya, dia tidak tahu sampai sejauh itu.
"Gue gak tahu sih kalau itu, tapi yang jelas rmang bokap gak mau masuk list karna dia akan diuber sana sini. Kekayaan bokap yang dari bisnis di atas tanah tuh gak seberapa, yang bikin banyak ya bisnis di bawah tanah, permafiaan, jadi ya gue gak banyak tahu karna bokap, om dan kakek gue bikin semua itu misterius, rahasia."
"Kalau rahasia, kenapa lo cerita ke gue? Lo gak takut gue bakal bocorin semua ini ke lo? Lo gak takut kalau masalah ini terbongkar dan reputasi keluarga lo hancur?" Tanya Thea yang dijawab gelengan kepala oleh Ravi, dia sama sekali tak takut akan hal seperti itu.
"Yah, lo gak akan sih, kalau lo emang niat, lo gak akan ngomong gitu ke gue. Apalagi gue tahu lo gak suka ikut campur. Dan lagi, kalaupun lo mau bocorin, sebelum sempat semua tersebar, lo udah ilang duluan, kalau bokap anggap lo aman, lo bakal dibuang ke pulau atau negara lain, tapi kalau bokap anggap lo berbahaya, lo bakal dikurung di rumah sakit jiwa, tanpa pengobatan yang jelas dan bahkan semua orang yang ada di rumah sakit itu akan membuat lo beneran gila."
"Jadi kalau gue boleh kasih saran, mending gak usah aneh aneh mau begitu, karna gak akan berhasil, yang ada lo yang rugi, lo yang tersiksa sama keluarga gue," lirih Ravi di telinga Thea. Membuat gadis itu merinding mendengar apa yang Ravi katakan karna dia tahu, keluarga besar Ravi sungguh bisa melakukan semua itu. Apa yang tidak bisa kau lakukan jika kau memiliki sangat banyak uang?
Setelah mendapat baju yang diinginkan Ravi, mereka langsung pergi dari sana dan mencari sepatu, lalu perihasan yang akan Ravi gunakan untuk menyatakan perasaannya pada Alena. Mereka memasuki toko sepatu dengan brand internasional, ingin membelikan yang menurut Ravi akan cocok dipakai oleh Alena.
"Tapi kalau di sini, sepatunya model yang mewah mewah gitu, gak ada yang soft, lo yakin mau beli di sini?" Tanya Thea bingung. Namun Ravi menganggukkan kepalanya, dia ingin mencari sepatu yang mewah, namun tidak terkesan berlebihan, jadi akan sangat cantik saat dipakai oleh Alena.
"Gak papa, lihat aja dulu, kalau gak ada ya nyari toko lain, mumpung punya asisten gue hari ini, hahahaha," tawa Rabi renyah yang membuat Thea kesal.
"Sialan lo!" Desis Thea yang merasa tak terima dipanggil asisten oleh Ravi.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat ke arah mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan lagi, namun dia tidak mau mencari ribut dan langsung pergi dari sana sebelum hatinya makin panas.