
Ravi berjalan ke arah kantin dan melihat ada keributan di sana. Entah mengapa dia memiiki insting untuk datang ke ributan itu. siapa tahu seru dan dia bisa mendukung salah satunya kan? Sudah lama Ravi tak melihat perkelahian, apalagi terlibat di dalamnya. Dia harus menjaga sikapnya agar papanya tak mengirimnya ke luar negeri.
Jika beberapa orang di Negara ini merasa bangga sekolah di luar negeri, Ravi malah tak mau karna dia akan tinggal di rumah kakeknya dan dia akan diawasi selama dua puluh empat jam. Dia tak mau sisa hidupnya akan merasakan tekanan seperti itu, bahkan jika boleh, dia ingin seratus persen aset perusahaan diberikan untuk Rashi agar dia tak perlu mengelolanya.
Kembali pada Ravi yang kini sudah berdiri di antara kerumunan itu. Ravi memelototkan matanya saat melihat orang yang dia kenal menjadi salah satu 'peserta' di sana. Dia di kelilingi oleh tiga gadis lain, jumlah yang tak imbang namun tak ada yang mau memisahkan mereka.
"Jangan mentang – mentang Lo anak OSISI, Lo jadi seenaknya kayak gini dong. Lo mau cari muka di depan guru – guru? Basi! Dasar suka cari muka," ujar tiga orang itu bergantian. Kakak kelas Ravi masih teridam dan memejamkan matanya. Gadis itu seakan menahan sesuatu, namun karna dia terus dikeroyok, dia akhirnya membuka suara.
"Kalau Gue mau cari muka, Gue pasti udah bilang ke guru kalau kalian jadi simpanan Om – Om buat bayar SPP, Gue pasti udah bilang kalian yang sering pesta obat. Tapi Gue gak bilang kan? Karna itu ada di luar sekolah, jadi terserah kalian, tapi kalian keterlaluan karna kalian bahkan merokok di area sekolah."
"Gak usah sok suci! Apa yang kami lakukan itu gak ada urusannya sama Lo dan gak akan pernah ada. Lo tinggal tutup mata dan anggap gak ada yang terjadi. Beres kan? Dasarnya Lo aja yang caper, mau jadi ketos? Gak pantes Lo," ujar anak itu yang membuat kakak kelas yang dikenal Ravi terdiam.
"Lo harus dikasih pelajaran biar Lo tahu kalau gangguin kita adalah hal yang salah dan akan jadi hal yang paling bikin Lo menyesal seumur hidup. Percaya sama Gue," ujar orang itu yang hendak menarik rambut kakak kelasnya. Ravi hendak maju untuk membela, namun kakak kelasnya itu menepis dengan cepat.
"Wah, jago bela diri ternyata dia," ujar Ravi pelan dan takjub. Kakak kelasnya itu langsung memiting dua tangan kedua gadis yang menyerangnya dan menendang yang satu lagi hingga tiga orang itu langsung kalah kurang dari dua menit. Ravi menepuk tangannya pelan setelah melihat kehebatan kakak kelasnya itu.
" Ah, sakit. Lo gak tahu siapa Gue? Gue bakal balas Lo, Gue bakal bikin Lo sengsara seumur hidup," ujar gadis aneh itu yang membuat Lira gemas dan memperkuat pitingannya hingga gadis itu berteriak kesakitan. Ravi segera mendekat dan melepaskan tangan itu sebelum tulang mereka benar – bena rpatah.
"Mau apa Lo? Mau bela mereka juga? Atau Lo mau kasih mereka biaya SPP tiga tahun? Lo anak orang kaya kan? Gak guna," ujar gadis itu dengan random, membuat Ravi menaikkan sebelah alisnya. Kakak kelasnya itu langsung pergi dari sana, membuat kerumunan yang ada di sana langsung bubar dengan kecewa karna tontonan mereka sudah berakhir.
"Heh, tunggu. Gue emang anak orang kaya. Terus kenapa? Lo anti sama Orang kaya? Alergi? Kenapa Lo gak pernah baik sama Gue setelah kejadian batagor itu? Gue gak pernah lakuin sesuatu yang jahat ke Lo," ujar Ravi yang membuat kakak kelas itu mendengus kesal.
"Iya, Gue alergi sama orang kaya. Apalagi yang sok kaya kayak Lo. Mending Lo jauh – jauh dari hidup Gue atau Gue tendang Lo sampai Afrika," ujar kakak kelasnya itu yang membuat Ravi merasa ngeri, namun dia tak menyerah, dia tetap mengikuti kemana kakak kelasnya ini berjalan.
"Gue kira Lo anak yang dingin, kalem, tenang dan gak suka ribut. Ternyata Lo jago bela diri, galak, dan penuh dengan hawa panas. Salut Gue, emag benar kata orang kalau jodoh itu cerminan diri. Gue tahu ada sesuatu di antara Lo sama Gue saat MOS dulu, emang takdir lucu banget."
~dug
Ravi terhuyung dan terjatuh di lantai. Dia merasakan hidungnya nyeri dan panas. Dia tahu ada sesuatu mengalir di hidungnya dan dia juga tahu tulang hidungnya patah. Bahkan setelah dia tersungkur, kakak kelasnya itu tak menghentikan langkahnya dan meninggalkan dia sendiri. Dia memegang hidungnya agar darah itu tak mengotori lantai.
"Gilak, ngeri juga tuh orang kalau ngamuk. Duh, hidung Gue yang cantik dan mahal, ini Mama Luna pasti khawatirnya sampai satu minggu kalau tahu hidung Gue patah. Gawat, gawat, gawat," ujar Ravi yang langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang ada di hidungnya. Dia merasa takjub, namun di sisi lain juga merasa khawatir.
"Padahal dia cewek yang dingin dan gak aneh – aneh, kenapa tiba – tiba jadi galak banget gitu? Kenapa jadi arogan gitu sih?" tanya Ravi pada dirinya sendiri. Lelaki itu membasuh hidungnya dengan kesakitan, dia tak bisa membiarkan orang di rumahnya tahu kalau hidungnya patah.
"Untung Gue gak satu sekolah sama Rashi, dia kan tukang ngadu ke bokap."
*
*
*
"Untung Mama nikahnya sama Papa. Coba kalau sama orang lain, bisa – bisa itu Lee Min Ho diculi kdan diajak duel karna bikin istri orang jatuh cinta," celetuk Ravi yang menatap ponselnya untuk bermain game. Luna berdecak karna Ravi tak pernah menyaring mulutnya, namun tiba – tiba dia tersadar.
"Anak Mama emang jenius. Untung Mama nikahnya sama Papa kamu, jadi Mama bisa minta papa kamu ngomong ke Lee Min Ho dan bawa mama ketemu sama dia. Duh, kamu pinter banget, mama mau telpon papa dulu, kalian di sini aja nanti mama ceritain ya gimana," ujar Luna yang langsung berdiri dan meninggalkan ketiga anaknya.
"Lo udah gila Vi, Lo udah gila, kalau Mama beneran minta ketemu sama Lee Min Ho gimana?" tanya Rashi yang dijawab enteng oleh Ravi, namun tidak dengan Rania, gadis itu tampak memikirkan sesuatu dan langsung bangun dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Rashi yang membuat Rania menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Mau ketemu Mama, kalau mama jadi minta Lee Min Ho datang, aku kan bakal ajak temen – temen aku ke sini buat ketemu Oppa Min Ho bareng – bareng," ujar Rania yang membuat mulut Rashi dan Ravi ikut terbuka. Rania memang fotokopi dari Mama mereka, dari wajah hingga sifat, mereka sama saja.
"Bukan adik Gue, bukan kembaran Gue. Gue Cuma tamu di sini," ujar Ravi yang kembali menatap layar di ponselnya. Mereka kembali pada aktivitas masing –masing, Rashi terpaksa mengikuti jalan cerita drama di hadapannya karna dia tahu mamanya akan benar –benar bertanya nanti.
"Loh Vi, hidung Lo kok miring sih? Lo habis bertengkar?" tanya Rashi saat menoleh ke arah Ravi da merasa aneh. Mereka sudah bersama sejak masih di dalam rahim, tak sulit bagi Rashi mengetahui jika ada yang berbeda dari Ravi. Ravi sendiri langsung menghindari kontak mata dengan Rashi agar tidak repot menjelaskan sesuatu.
"Hidung Anak Mama miring? Kenapa? Coba sini mama lihat." Ravi langsung tegang mendengar suara mamanya, dia langsung melirik sinis ke arah Rashi, namun Rashi hanya mengedikkan bahu dan tak mau disalahkan. Ravi berhedem dan bersuaha berpikir cepat, namun dia tahu mamanya akan sadar jika dia membuat alasan.
"Ravi gak papa kok Ma, Rashi yang salah lihat, mata Rashi kan minus. Ravi masih ganteng dan sehat," ujar Ravi sambil meringis. Luna menatap anaknya dnegan tatapan menyelidik, lalu tanpa aba – aba wanita itu langsung memegang hidung anaknya. Membuat Ravi kelojotan karna sakit yang luar biasa.
"Nah kan, nah kan. Itu yang mananya biasa aja? Kamu tuh gimana sih? Kenapa bisa patah kayak gini? Ayo kita ke rumah sakit sekaran. Mama gak mau ada sesuatu yang buruk. Rashi, kamu bilang ke pak supir siapin mobil, eh enggak, helicopter aja biar cepat sampai," ujar Luna yang membuat Ravi panik.
"Mama, Ravi gak papa. Ni Ravi masih bisa jalan dan gak dalam keadaan darurat. Oke – oke, ke rumah sakit. Tapi naik mobil aja Ma, gak mau ah kalau naik pesawat, malu, lebay," ujar Ravi yang membuat Rahi terkekeh. Dia tahu mamanya tak main – main tentang helikopter, dia tahu mamanya adalah orang yang bisa melakukan hal seperti itu dengan mudah.
"Ya udah ayo sekarang kita ke rumah sakit. Itu hidung kamu pasti harus di operasi. Mama gak mau anak mama hilang gantengnya, ayo sekarang kita ke rumah sakit." Luna menarik Ravi cukup cepat, membuat lelaki itu kesusahan dan bahkan cenderung terseret oleh mamanya.
"Mama pelan Ma, Ravi gak papa astaga. Ravi masih pakai boxer, ganti celana dulu ma," ujar Ravi yangt tak dihiraukan oleh Luna.
"Gak usah, nanti aja gantinya. Mama kenal dokternya, anggap aja Om kamu sendiri," ujar Luna yang membuat Ravi pasrah.
Ravi bisa melihat Rash dan Rania tertawa melihatnya diseret oleh Luna. Ravi menatap kesal ke arah Rashi karna dirinyalah Ravi harus menghadapi mamanya yang over reaction. Meski Luna melakukan itu karna mereka bertiga tak pernah celaka sebelumnya. Tensu saja mamanya itu khawatir.
"Ini masih patah tulang hidung. Coba kalau Ravi luka berdarah pasti Mama udah lebih heboh dan panik lagi, huufftt."