
Rashi bangun dari tidurnya, namun dia tak mendapati Adlan di sebelahnya. Lelaki itu hendak keluar kamar, namun Adlan tiba – tiba masuk ke dalam kamar dengan keadan rambut yang basah. Rashi mengerutkan keningnya. Ini masih jam setengah enam, namun lelaki itu sudah mandi? Bahkan jadwal mereka dimulai pukul 9 pagi ini.
" Lo pagi juga ya kalau bangun, Lo mau kemana jam segini udah mandi aja? Lo mau cabut?" tanya Rashi yang membuat Adlan melihat ke tubuhnya sendiri. Dia bahkan masih memakai pakaian yang sama saat tidur tadi malam, apakah Rashi tak memperhatikan hal ini? Adlan duduk di tepi kasur sambil memberantaki rambutnya
"Gue gak mandi, Gue habis sholat. Kenapa? Lo mau ikutan? Udah lewat tapi waktunya," ujar Adlan yang membuat Rashi mengangguk. Lelaki itu kembali ke kasurnya dan merebahkan dirinya, dia merasa belum cukup tidur karna kemarin mereka terjaga lewat tengah malam, sedangkan Rashi sudah terbiasa tidur minimal enam jam dalam sehari.
"Heh, anak orang. Gak baik anak perawan tidur lagi waktu udah bangun. Mending Lo bangun, kita jalan – jalan, lumayan kan masih ada dua jam sebelum sarapan. Bangun gak Lo, ayo bangun, jalan – jalan, kapan lagi kita ke kota ini?" tanya Adlan yang menarik Rashi untuk bangun, namun Rashi menghempaskan tangan itu.
"Gue bukan perawan," ujar Rashi singkat dan menutupi wajahnya dengan selimut. Adlan tak menyerah, dia terus memaksa Rashi untuk bangun meski lelaki itu tetap enggan membuka matanya. Rashi akhirnya mendorong Adlan cukup keras sampai lelaki itu jatuh ke kasurnrya. Melihat itu Adlan tahu Rashi sudah marah dan memilih untuk mengalah.
"Akang gendang, kalau saya bilang muter, muter ya. Muter, muter, muter, muter, maju, mundur, maju, mundur, mundur." Adlan merasa bosan karna kamar mereka yang hening pun mulai berulah dengan menyanyikan apapun yang dia ingat di kepalanya. Hal yang dilakukan oleh Adlan sontak saja membuat Rashi makin terganggu dalam usahanya tidur kembali.
"Dlan." Dan Rashi langsung memberi peringatan terakhir untuk Adlan, emmbuat lelaki itu menghela napasnya dan langsung keluar dari ruangan itu. lebih baik dia pergi dibanding rashi memakannya. Dia tidak terbiasa tidur lagi setelah sholat subuh, Ibunya selalu mengajarinya untuk segera beraktivias meskipun hanya olah raga dan berjalan – jalan.
"Loh, Kak? Tangan Lo kenapa? Kok lebam gitu? Lo habis di sruduk banteng?" tanya Adlan yang tak sengaja bertemu dengan kakak kelasnya. Kakak kelas itu segera menutupi lengannya dan menggelengkan kepalanya. Adlan langsung merasa curiga dan segera mengambil tangan itu, melihatnya dengan teliti dan langsung meringis membayangkan nyerinya.
"Lo dibully lagi? Siapa yang berani Bully Lo lagi? Sini gantian Gue yang maju, udah pakai kekerasan fisik gini kak. Gue tuh gak bisa lihat cewek diginiin, hati Gue kan lebih lembut dari kapas," ujar Adlan yang membuat kakak kelas itu menaikkan sebelah alisnya singkat, namun segera kembali menunduk saat menyadari perbuatannya.
"Bukan, ini udah lama kok, gak bisa hilang aja bekasnya," ujar kakak kelas itu yang hendak pergi dari sana. Adlan tak puas dengan jawaban itu, lelaki itu langsung menarik lengan kakak kelasnya, dan dengan tega memencet lebam itu cukup keras ampai kakak kelasnya sedikit berteriak kesakitan, Adlan melepaskan tangan itu sambil tersenyum miris.
"Itu yang lo bilang Luka lama dan Cuma bekas gak bisa hilang? Kenapa Lo teriak? Kaget? Siapa pun yang lakuin itu ke Lo, Lo harus balas, tinju wajahnya atau injak kakinya. Lo manusia, berhak untuk membela diri, Lo berhak buat melawan mereka yang nyakitin Lo. Kalau Lo ngerasa lemah, jangan takut minta bantuan."
"Lo bisa minta bantuan Gue. Gue emang sebatas kenal nama sama Lo. Tapi Gue tahu, Gue ditakdirkan buat ketemu sama Lo dan melindungi Lo semampu Gue, mungkin emang kita berjodoh," ujar Adlan yang membuat kakak kelas itu mendongak dan melihat ke arah sorot mata Adlan yang sangat serius.
"Gimana? Pantes gak dapat anugrah aktor paling terpuji? Keren kan acting Gue? Gak usah terlalu serius gitu, tapi jangan anggap bercanda apa yang Gue bilang. Gue serius juga, kalau Lo butuh bantuan, Lo panggil aja Gue, Gue bakal bantu apapun itu selagi Lo ada di jalan yang benar."
"Makasih," ujar kakak kelas itu dengan singkat dan langsung pergi dari sana. Adlan menggelengkan kepalanya dan menatap sampai kakak kelas itu tak tertangkap matanya lagi. Dia merasa kakak kelasnya itu sangat mirip dengan Rashi, mungkinkah mereka berjodoh? Pasti akan seru jika mereka benar berjodoh, membayangkannya saja Adlan sudah merasa geli.
"Ngbeayangin tiap hari mereka Cuma diam – diam. Yang satu Cuma nunduk, yang satu Cuma main Ponsel, lucu banget tiap hari mereka pakai bahasa isyarat, ah feeling Gue mereka emang bakal berjodoh sih," ujar Adlan yang kemudian melanjutkan lahkanya untuk menyusuri wisma yang besar ini. dia bisa menghiup udara yang segar dan menyehatkan.
"Seandainya tiap hari Gue hidup di lingkungan kayak gini, mungkin paru – paru Gue udah senyum tiap hari kalik ya? Udaranya aja seger bangt gini," ujar Adlan yang melakukan peregangan agar otot otot di badannya tak menjadi kaku, setelah puas dan melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh, lelaki itu segera kembali ke kamar.
" Wih, Gue kira Lo masih tidur. Udah mandi aja ternyata," ujar Adlan saat melihat rambuh basah Rashi dan pakaian rapi lelaki itu. Lelaki itu tampak membereskan kasurnya dan memasukkan baju kotor ke dalam kresek berwarna hitam dan mengikat plastik itu agar pakaiannya tak bercecer.
"Shi, Lo ingat gak nama kakak kelas yang satu tim sama kita? Kok gue blank ya? Tiba – tiba gak ingat nama dia," tanya Adlan yang membuat Rashi mendenguskan napasnya. Adlan tak permah bermutu di hadapan Rashi dan Adlan selalu menanyakan hal yang tak penting menurutnya.
"Alena," jawab Rashi singkat karna dia tahu lelaki di hadapannya ini akan makin rewel jika Rashi tak menjawab. Adlan menjentikkan jarinya saat mengingat nama itu. Adlan mengangguk – anggukan kepalanya dan menunjuk ke arah Rashi, membuat lelaki itu menjadi bingung dan memberi isyarat tanya pada Adlan agar Adlan menjelaskan padanya.
"Tadi Gue ketemu sama Dia, dan prediksi Gue kalian jodoh. Kalau kalian beneran Jodoh, Lo harus restuin Gue sama Adik kembar Lo. Tenang, Gue anak yang baik kok, Gue bakal sayang dan jagain Adik Lo sepenuh jiwa raga Gue, oke? Deal," ujar Adlan dengan cepat dan cengiran yang lebar.
~Bugh
"Gak usah macam – macam. Gak akan Gue jodoh sama orang kayak gitu, creepy banget, gak pernah ngomong," ujar Rashi yang mengedikkan bahunya karna ngeri membayangkan gadis bernama Alena yang snagat misterius dan selalu diam. Dia tak akan bisa berlama – lama dengan orang seperti itu, dia terbiasa dengan suasana ramai karna selama ini Rania dan Ravi tak pernah bisa diam, belum lagi mama papanya yang bisa dibilang berisik.
"Lah? Lo gak ngaca apa gimana?" tanya Adlan dengan takjub. Lelaki di hadapannya ini membicarakan orang lain seperti itu, padahal Rashi tak beda jauh, bahkan bisa dibilang lebih parah dari gadis itu, Rashi sangat kejam, berbeda dengan gadis itu.
"Nah, tuh Lo tahu. Gue kayak gini kalau ketemu cewek yang kayak gitu, ntar Gue beli rumah di kuburan juga penghuninya gak bakal tahu dan gak keganggu," ujar Rashi yang membuat Adlan tertawa, lelaki itu mengatakannya dengan wajah yang datar dan seakan hal itu bukan candaan.
"Gue lemah di IPA, gue sama sekali gak bisa, kalau matematika Gue masih bisa nalar, tapi kalau IPA gue nyerah," ujar Alena pelan yang disetujui oleh Adlan. Dia memang pintar jika itu matematika, namun dia lebih memilih ikut remidial jika itu pelajaran IPA, menurutnya sangat sulit memahami rumus yang dipakai untuk Kimia dan fisika.
"Tenang aja, kan ada Gue. Yang jelas kalian tahu basicnya, nanti kerjain seadanya, terus Gue yang koreksi atau ngelengkapin, semangat aja dulu," ujar Rashi yang diangguki oleh Adlan dan Alena. Mereka melanjutkan kegiatan dengan mengikuti simulasi lomba yang diberikan oleh panitia dan kegiatan lain sampai selesai.
Setelah satu minggu, Rashi pulang bersama pengawal pribadinya karna papanya tak mengijinkan dia pulang bersama rombongan. Menurut Darrel, jika da seseorang yang ingin membahayakan Rashi, akan jauh lebih berbahaya jika dia bersama rombongan karna orang – orang itu juga pasti akan terimbas bahaya, Darrel tak mau hal itu terjadi.
"Ini kan bukan jaman Papa dulu, kenapa sih harus ribet gini?" tanya Rashi yang meluruskan kursinya agar dia bisa tidur dengan nyaman. Lelaki itu memilih tidur daripada menikmati perjalanan, dia akan merasa pusing dan bosan jika harus melakukan perjalanan jauh, dia tipe anak yang memilih untuk naik pesawat meski itu dekat dibanding naik mobil yang lebih memakan waktu.
Sesudah sampai di rumah dan membersihkan diri, Rashi langsung membuka kembali materi yang ada di tangannya. Dia tak mau mengecewakan yang lain, dia harus belajar lebih lagi untuk matematika logika, karna jawabannya akan ditemukan jika kita menalarnya, bukan menggunakan rumus paten yang bisa dihafalkan.
"Vi, Lo pintar logika kan? Tolongin Gue dong, Gue bener - bener gak ngerti yang ini. pusing Gue dari tadi," ujar Rashi yang akhirnya menyerah dan langsung menghampiri adiknya yang sedang bermain basket di halaman belakang. Ravi berdecak malas, dia benci melihat orang di sekitarnya bersikap ambisius seperti ini.
"Apa gak cukup Lo belajar di sekolah? sampai di rumah belajar lagi, yang ada otak Lo capek dan nanti malah kolot. Lo harus imbang antara belajar, main sama istirahat biar otak Lo sehat terus," ujar Ravi panjang lebar namun tak didengar oleh Rashi, lelaki itu kembali menyodorkan kertas yang dia bawa.
Ravi melihat angka – angka itu dan mengambil ponselnya untuk kalkulator. Lalu dia tersenyum saat menemukan pola jawaban dalam kurang dari satu menit.
"Cuma gini aja Lo gak bisa? Ini sih gampang. Lo tinggal putar kertasnya jadi 180 derajat. Terus kerjain deh."
"Nah jadi kalau ini, Lo tinggal pakai pola yang sama. Nanti pasti ketemu jawabannya," ujar Ravi yang langsung meninggalkan Rashi untuk kembali bermain basket, sementara Rashi yang baru tahu pola yang dipakai langsung berdecak kagum akan kecerdasan Ravi, lelaki itu sangat cerdas, namun tidak pernah memaksimalkan fungsi otak.
Rashi mulai mengerjakan soal yang ada di sana dengan pola yang sama, akhirnya dia menemukan jawaban yang ada di pilihan jawaban dan langsung menyilang jawaban itu dengan bangga dan puas. Dia pun memutuskan untuk duduk di sana sambil melihat Ravi bermain basket, agar jika nanti dia ada pertanyaan lagi, dia bisa langsung menanyakannya pada Ravi.
*
*
*
*
Yuk kita coba jawab pertanyaan di bawah ini.
Pakai penjelasan yaaa....
rules, Follow akun MT aku dulu yaaaaa