
Rania berjalan masuk ke kelasnya dan mencari tempat duduk. Dia tak bisa duduk dengan tenang karna ini pertama kalinya dia duduk tanpa ada Rashi. Lelaki itu harus masuk kelas IPA, Sementara Rania yang tak bisa untuk masuk ke kela IPA terpaksa masuk ke kelas IPS, apalagi dia tahu akan beresiko jika dia harus menghafal rumus selama 3 tahun bersekolah di sini.
"Ah, kita satu kelas." Rania menengok dan mendapati seorang anak yang kemarin sempat berdebat dengan Rashi, lelaki itu ternyata teman satu kelasnya. Lelaki itu langsung mencari meja paling belakang dan duduk sambil memasangkan earphone yang besar agar dia tak mendengar apapun sampai guru yang mengajar masuk ke kelas.
"Selamat pagi anak – anak, saya Bu Yuli, saya adalah wali kelas kalian di kelas sepuluh ini. Nah, karna saya belum kenal dengan kalian, saya akan mengatur tempat duduk seperi ular, presensi satu dan presensi terakhir akan duduk satu meja, nanti saya yang atur tempatnya, kalian semua silakan berdiri di dekat papan tulis."
Baru kelas sepuluh dan baru satu hari bertemu wali kelasnya. Rania sudah tidak suka dengan guru itu, dia sangat benci guru yang memaksa siswa duduk dengan siswa lain yang tidak dia kenal. Mereka tidak akan bisa duduk dengan nyaman, bahkan mungkin akan merasa enggan untuk mengikuti pelajaran.
Guru itu mulai memanggil satu persatu siswa dan meminta siswa yang dipanggilnya untuk duduk di tempat yang dia tunjuk. Siswa pun hanya mampu menurut dan membiarkan guru itu mengatur temoat duduk mereka meskipun mereka merasa enggan. Mereka duduk diam dan langsung merasa tak nyaman untuk melanjutkan pembelajaran.
"Rania Elvina. Kamu duduk di sana ya, di sebelahnya Adlan." Rania langsung mematung dan menatap anak yang juga menatapnya dengan wajah ynag dingin. Rania melangkah pelan untuk duduk, bersamaan dengan tubuhnya yang menempel dengan kursi, pandangan Adlan langsung teralih dan tak menatap ke arahnya lagi.
"Ya, karna Ibu udah membagi tempat duduk kalian, Ibu harap kalian bisa menjadi teman yang baik ya. Nanti jika ada guru lain yang mengacak tempat duduk kalian, ya kalian ikuti saja. Tapi setiap jam saya, saya harap kalian sudah menempatkan diri dan duduk tenang di sini. Apa kalian mengerti?" tanya guru itu yang langsung dijawab dengan kompak oleh mereka semua.
"Baiklah, kalian mau langsung pelajaran atau mau main – main dulu aja?" tanya wali kelas itu dengan kalimat dan suasana yang sangat menyenangkan, jauh dari suasana tadi saat beliau membagi tempat duduk mereka. Tentu saja anak – anak menjawab dengan jujur, kalian tahu kan apa yang dijawab oleh mereka?
"Baikah, kalau kalian mau main – main dulu, kalian pakai jam saya untuk perkenalan masing – masng aja ya, saya ke ruang guru aja biar kalian gak tegang. Ta[I jangan berisik, saya gak enak sama guru lain kalau berisik, nanti malah saya yang ditegur sama kepala sekolah. Oke?" tanya guru itu dengan semangat.
"OKAAY!!" Teriak mereka setentak yang membuat guru itu terkekeh. Guru itu langsung pamit dan keluar dari kelas. Bagi guru itu, lebih baik siswa saling mengenal satu sama lain baru nanti beliau selaku wali kelas yang akan mengenal mereka lebih dekat. Apalagi kemungkian beliau menjadi wali kelas hanya untuk satu tahun, sedangkan mereka akan menjadi teman untuk tiga tahun.
"Lo masih suka berenang?" tanya anak yang ada di sebelah Rania tanpa menatap ke arah gadis itu. Tentu saja Rania tak menjawab, dia tidak merasa di ajak bicara karna orang itu hanya berbicara sementara tangannya sibuk menggambar sesuatu di buku kosong itu.
"Lo gak dengar Gue ngomong ya? Gue gak nyangka kalau Lo ternyata agak ada gangguan pendengaran." Mendengar itu, Rania langsung menengok dan menunjuk dirinya sendiri, membuat lelaki itu menjdi gemas dan tanapa sadr tersenyum, senyumnya sangat tampan dan membuat Rania langsung terpaku padanya.
"Ah, iya, Gue masih suka renang. Eh tapi tunggu dulu, darimana Lo tahu kalau Gue suka renang?" tanya Rania dengan penasaran. Tak ada yang tahu tentang dirinya yang suka berenang karna dia hanya ikut club selama tiga tahun dan hanya melakukan olah raga rutin sendiri di rumah karna di rumahnya sudah ada kolam renang yang cukup luas.
"Lah? Ditanya kok malaah pergi gitu aja? Kok aneh banget ssih dia? Apa jangan – jangan dia penguntit? Dia komplotan penjahat yang jadi musuhnya mama sama Papa?" tanya Rania pada dirinya sendiri. Gadis itu langsung merasa waspada dan melihat kertas yng tadi digambar oleh anak itu.
Rania memelototkan matanya saat dia melihat gambar sketsa wajahnya, Rania merasa yakin itu dirinya karna di bawah gambar itu terdapat nama lengkapnya, bahkan sampai nama belakang yang tak semua orang tahu tanpa melihat ke buku absen, apalagi wali kelas tadi tidak menyebutkan nama lengkapnya. Sebenarnya siapa anak itu? Kenapa dia bisa tahu nama lengkap Rania?
"Lo ikut olimpiade yang apa?" tanya seorang lelaki pada Rashi yang duduk dengan buku di depannya. Baru hari pertama setelah MOS dan dia resmi menjadi siswa di sekolah ini, namun dia sudah harus bersiap untuk olimpiade yang akan diselenggarakan sebentar lagi.
"Bukan urusan Lo," jawab Rashi dengan singkat dan dingin. Lelaki yang mengajak Rashi bicara pun hanya mengedikkan bahunya dan langsung berjalan menjauh dari sana. Dia duduk di tempat yang cukup jauh dari Rashi dan mulai untuk fokus dengan materi lomba yang akan dia ikuti. Dia memang sangat suka matematika, hingga dia tak merasa terbebani sama sekali.
"Selamat pagi. Sebelumnya saya mohon maaf untuk siswa kelas 10, Rashi dan Adlan yang baru saja masuk ke sekolah tapi sudah harus berada di sini. Kami hrus segera menarik siswa yang berpotensi karna untuk olimpiade kali ini, kita akan mengirimkan dua tim, siswa kelas 10 dan siswa kelas 11."
"Saya harap kalian semua bisa mengerti dan melakukan yang terbaik untuk sekolah ini. Sekarang kalian akan mulai dilatih oleh guru yang sudah kami siapkan khusus untuk kalian. Saya juga ingin memberitahu jika satu minggu lagi, kalian harus pergi ke kota B untuk mengikuti pelatihan khusus, jadi saya harap kalian bisa bersiap."
"Latihan khusus pak? Apa tidak bisa latihan di dalam kota saja pak? Kenapa harus sampai ke luar kota?" tanya Rashi yang langsung melihat tak suka. Dia tidak suka harus bepergian jauh dan tentu akan membuat tubuhnya lelah. Dia tak mau melakukan semua ini jika harus memforsir dirinya sendiri.
"Maafkan saya, tapi itu prosedur dari pihak olimpiade. Mereka akan memberikan pelatihan untuk peserta. Tidak akan memakan waktu lama, hanya satu minggu. Saya ahrap kamu bisa sedikit meluangkan waktu dan mau mengikuti prosedurnya." Rashi menatap guru itu dengan enggan. Namun karna bola mata gurunya mengisyaratkan meminta bantuan, Rashi langsung menjadi tak tega.
"Baik pak, saya akan melakukan sesuai prosedur. Tapi saya harus bertanya pada ornag tua saya, jika diijinkan, saya akan ikut tapi jika tida, saya akan mundur dari olimpiade ini," ujar Rashi yang membuat guru itu sedikit lega, setidaknya masih ada harapan untuk Rashi bisa mengikuti lomba ini.
"Wah, ternyata Lo itu anak Papa ya, masak mau pergi ke luar Kota harus ijin sama papa dulu? Gak masuk akal banget sih, kan Lo laki," ujar anak itu yang membuat Rashi makin kesal. Rashi sudah kehilangan Mood setelah guru itu mengatakn tentang menginap, dan anak tak dikenal ini malah makin merusak suasana.
"Lo itu sebenernya siapa sih? Gue gak kenal sama Lo dan Lo gak ada urusan sama Gue. Berhenti bertindak sok kenal, jijik Gue,"' ujar Rashi yang sudah meledak. Langsung berdiri dan hendak pergi dri ruangan itu. Lelaki itu jarang bicara, namun dia akan meledak jika ada orang yang terus mengusiknya.
"Kata siapa? Lo kenal kok sama Gue, walau singkat, Lo kenal sama Gue." Rashi mendengar hal itu, namun dia tak menghentikan langkahnya dan tetap pergi dari sana. Dia akan meremui Rania untuk mengembalikan moodnya, Rania itu imut dan membuatnya menjadi bahagia hanya dengan melihatnya.
Mungkin karna sejak kecil dialah yang menjaga Rania dan Rania sellau manja padanya karna menganggap dia abang, padahal jarak mereka hany delapan menit. Yah, itu lebih baik dibanding Ravi yang tak ada sopan padanya, lelaki itu selalu bertindak seenaknya dan sering membuat Rashi merasa kesal.
"Kenal? Dia siapa? Dia kenal Gue? Gue gak pernah punya teman yang begitu," heran Rashi yang terus memikirkan hal itu sembari melangkah saat memastikan keberadaan Rania.