
Rashi sudah berpuasa seharian dan dia harus menjalani operasi untuk membedah kepalanya dan mengambil tumor yang ada di kepalanya. Rashi bisa melakukannya dengan lega setelah mendapat kabar jika Rania sudah bangun dari pingsannya dan tahu jika Ravi sudah tidak berada di kondisi yang gawat.
Alena masih berada di depan ruang operasi, menunggu Rashi selesai untuk di operasi. Dia merasa cemas untuk banyak hal, apalagi saat tahu tumor yang akan diambil belum tentu bisa sembuh sepenuhnya, bisa saja tumor itu kembali tumbuh dan menyerang di tempat yang sama atau tempat yang lain. Alena merasa sedih dan kasihan membayangkan Rashi yang akan tersiksa dengan hal ini untuk waktu yang lama.
Di sisi lain, gadis itu juga memikirkan Ravi yang harus melakukan operasi kaki karna kakinya sobek saat kecelakaan. Alena tidak bisa mengunjungi Ravi karna dia, Luna dan Darrel berbagi tugas dalam menjaga 3 anak ini. Dia hanya berharap Ravi baik baik saja dan bisa segera pulih. Dia ingin anak itu bisa kembali ceria dan tengil, namun selalu mendebarkan hatinya.
Ponsel Alena berdering. Dia melihat ke arah ponsel itu dan langsung melihat ke arah Rashi, ternyata Luna menelponnya dan meminta dia pergi ke tempat Ravi, Karna Luna harus melihat keadaan Rashi yang sedang di operasi. Alena mengiyakan permintaan itu dan langsung pergi dari sana, digantikan oleh pengawal Rashi yang menjaga sementara sambil menunggu Luna datang. Sementara Alena segera pergi ke rumah sakit lain tempat Ravi dirawat.
Saat dia sampai,dia melihat Ravi yang tampak kesakitan saat seorang dokter membersihkan lukanya lagi dan membalutkan perban baru untuk menutup luka itu. Alena merasa sedih, dia berjalan mendekat dan langsung menggenggam tangan Ravi, membuat lelaki itu menengok dan tersenyum tipis saat melihat Alena datang ke sana, Ravi menggenggam tangan itu dan memejamkan matanya karena merasakan sakit yang luar biasa.
"Len, dokternya nakal, dia bikin gue sakit banget ini Len," Adu Ravi sambil memasang wajah yang sedih. Alena terkekeh, mengusap kepala Ravi untuk menenangkannya. Ravi masih memejamkan matanya sampai akhirnya dokter menyelesaikan pemasangan perban dan pergi untuk merawat pasien lain.
"Masih sakit banget ya? Kenapa bisa kecelakaan? Pas sama gue baik baik aja loh," Tanya Alena yang membuat Ravi terkekeh meski sakit. Dia menceritakan kejadiannya dengan rinci dan Alena mendengarkan dengan baik, Alena merasa Ravi dan Rashi memang memiliki feeling yang kuat dengan keadaan Rania, buktinya mereka merasa terusik saat Rania sakit, meski mereka tidak tahu pasti keadaan gadis itu.
"Ternyata benar, gue baru dapat kabar kalau Rania sakit, dan malah gue kecelakaan, jadi gue gak bisa ke sana. Mungkin kalau udahboleh pulang, atau pindah rumah sakit, Gue bakal pindah ke rumah sakit yang sama biar gue bisa jagain Rania, walau kami seumuran, gue merasa ada tanggung jawab gitu ke dia," ujar Ravi yang diangguki oleh Alena. Dia tahu Ravi memang sangat menyayangi Alena.
"Rania gak akan kenapa Napa kok, dia kan anak yang kuat. Malah gue dan Rashi khawatir sama Lo, karna Lo kayaknya parah banget gitu, syukurlah Lo masih bisa ngomong begini, jadi masih sehat sehat, gue jadi lega," ujar Alena yang membuat Ravi tertawa, dia tidak menyangka seorang Rashi bisa khawatir juga padanya. Namun saat itu dia menyadari sesuatu dan langsung terdiam, dia menatap ke arah Alena dengan penasaran.
"Lo ngapain aja sama Rashi sampai bisa ngobrol sampai ke situ? Hayo,jujur sama gue coba. Gue gak akan marah deh sama Lo kalau jujur," ujar Ravi yang sebenarnya bergurau, namun Alena langsung merasa terintimidasi, dia langsung menggelengkan kepalanya cepat dan tergagap, membuat Ravi menjadi merasa aneh dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Alena.
"Gue gak ngapa ngapain, cuma bahas Lo sama Rania kok, gak yang lain, ini juga karna nyokap lo yang minta ke gue buat jagain dia. Kalau nyokap lo langsung minta gue ke sini sih ya gue langsung ke sini, kan kasihan juga kalau nyokap lo sendirian yang ke sana kemari," ujar Alena yang malah membuat Ravi gemas dan ingin menggodanya lebih lama lagi.
"Yakin gak ngapa ngapain? Padahal Rashi gak suka loh curhat atau ngomong sama orang gitu, tapi sama lo kok kayaknya terbuka banget. Terus juga, lo gak ada niat buat ke sini loh kalau gak disuruh nyokap, sedih banget jadi gue," ujar Ravi yang langsung memalingkan muka, namun tangannya masih menggenggam gadis itu, membuat gadis itu terkekeh karna tahu Ravi tidak benar benar marah, nyatanya lelaki itu malah tak mau melepas tangannya.
"Eum, gak tahu juga ya. Wajah kalian sama sih, jadi ya gak masalah aja bagi gue yang mana, yang penting ada aja satu, atau dua duanya," ujar Alena yang membuat Ravi menengok cepat, dia langsung menggengam tangan gadis itu dengan kedua tangannya, lalu meminta gadis itu menarik kata katanya karna dia tak mau Alena menyukai Rashi, Ravi sudah sangat menyukai gadis itu.
"Jangan, walau kami mirip, ah, sama persis, itu cums karna setelan pabrik aja. Tapi, lo gak akan menyesal kalau sama gue, karna gue lebih ceria dan hangat dibanding si kulkas. Eh tapi, kalau lo emang sukanya sama dia, gak papa kok, beneran deh, karna bagi gue, lebih penting lo bahagia daripada lo sama gue, karna gue sayang sama lo, bukan obsesi ke lo," ujar Ravi yang membuat Alena terdiam. Dia kembali mengingat kata kata Rashi padanya kemarin.
"Mantan lo ada berapa Vi?" Tanya Alena yang membuat Ravi terdiam beberapa saat, namun dia akhirnya mencoba untuk menghitung, ada berapa gadis yang menjadi mantannya. Melihat itu saja sudah membuat Alena merasa minder karna lelaki itu memiliki banyak kekasih sebelumnya, pasti kekasihnya lebih baik dan lebih cantik darinya.
"Jujur, gue gak ingat, yang gue ingat ada 10, sisanya lupa. Tapi, gue pacaran sama mereka sebentar sebentar, jadi ya gak tahu itu bisa dihitung pacaran beneran atau enggak," jujur Ravi tanpa takut dan ragu, melihat itu tentu saja Alena syok, dia tidak berusaha menutupi hal itu, jadi bagi Ravi itu merupakan hal yang biasa terjadi.
"Kenapa lo putus sama mereka?" Tanya Alena yang kali ini membuat Ravi terdiam. Diamnya Ravi membuat Alena menjadi overthinking. Dia menunggu dengan tak sabar, berharap lelaki itu akan memberikan alasan yang masuk akal dibanding dengan rasa bosan atau tidak cocok.
"Kalau gak mau jawab gak papa kok, maaf gue lancang nanya nanya," ujar Alena yang membuat Ravi menengok ke arahnya.
Alena mengerjapkan matanya perlahan. Jika tidak menyangka Ravi langsung menebak ke arah sana. Alena tentu saja merasa tak enak karna sudah menuduh Ravi tanpa disadari, dia ingin berbohong karna tak mau hubungan keduanya memburuk, namun sorot mata Ravi seolah mengatakan padanya untuk tidak berbohong, jadi Alena menghela napas panjang dan mulai menceritakan apa yang Rashi ceritakan padanya,
“Tapi, lo jangan benci sama Rashi ya, dia kayak gitu karna kasihan aja sama gue. mungkin wajah Gue udah kayak oang yang kasihan banget gitu sampai dia begitu. Tapi lo jangan marah sama dia ya, dia kan masih saudara lo, lagian juga kalau dia tahu gue cerita, dia kira gue cepu, terus malah nanti nambah masalah lagi antara kami, atau kita. Bertindak seolah gak tahu apa apa aja ya, please,” ujar Alena yang membuat Ravi terkekeh dan mengacak rambutnya dengan gemas.
“Gue gak ada niat buat ngelabrak dia kok, dia masih abang gue kalik. lagian nih ya, apa yang dia bilang itu benar, gak ada yang dia kurang kurangi. dia emang tahunya begitu dan di mata semua orang gue begitu. Lo tanya semua mantan gue, pasti mereka menjawab hal yang sama Len, jadi ya gue gak keberatan sama sekali kalau Rashi kasih tahu lo tentang hal ini,” ujar Ravi yang membuat Alena terdiam. Dia merasa janggal dengan penjelasan itu.
“Tapi, kayaknya gak mungkin kalau lo kayak gitu, gue aja gak percaya sama Rashi makanya gue tanya ke lo, eh malah ketahuan,” ujar Alena pelan seperti anak kecil yang tertangkap mencuri sesuatu. Ravi tertawa lagi, Alena memang bisa membuat harinya menjadi cerah, padahal di bawah sana kakinya masih terasa sakit, apalagi jika efek biusnya sudah menghilang.
“Semua orang punya sisi itu kalik Len, apalagi gue, udah ganteng, tajir, mirip bule, siapa sih yang gak mau? Semua juga pasti suka kok sama gue, hehehe, tapi ya gitu, Gue gak cocok sama mereka, dan gue gak mau repot repot buat putusin mereka,” ujar Ravi yang membuat Alena mengerutkan keningnya, jika tidak suka, bukankah Ravi tinggal memutuskan mereka semua? Kenapa malah memilih untuk menggantung?
“Kalau gue tanya alasannya, lo bakal jawab gak?” tanya Alena yang membuat Ravi menengok. Dia mengerjapkan matanya dengan lucu, tidak menyangka Alena menanyakan hal itu. Dia merasa Alena tidak hanya ingin menghakiminya, namun di sisi lain gadis itu juga ingin tahu cerita dari sisinya agar dia bisa menilai dan tidak langsung membencinya hanya dari cerita orang.
“Udah banyak orang yang putus secara sepihak sama gue, dan banyak orang yang tahu dan mengenal gue sebagai playboy, tapi cuma lo yang tanya alasannya kenapa. Ah, emang gue gak bakal jatuh cinta sampai kayak gini sama orang sembarangan, nyatanya gue gak salah dengan pilih lo,” ujar Ravi yang tentu membuat Alena bingung. memang apa maksudnya?
“Ehem, jadi gini. yah, gue emang terkenal dengan playboy yang ganteng, apalagi kalau mereka tahu gue ramah ke banyak orang, supel dan yang paling penting dari keluarga Wilkinson yang sudah dikenal dengan keluarga yang tajir melintir. Itu semua membuat mereka gak peduli dan tetap aja mau sama gue yang begini. Nah, itu juga yang membuat gue gampang aja kalau mau dapat pacar, termasuk mereka itu.”
“Awalnya semua itu baik baik aja, gue biasa aja sama pacar pacar gue, ya sama kayak gue ke lo, ada yang aneh? Atau kayak lebih dari teman? Kan enggak juga. Bahkan misal nanti pacaran sama lo pun, gue gak mau dibatasi pertemanannya. Gue gak akan selingkuh, tapi jangan larang gue buat punya teman cewek lain, karna seperti yang lo lihat, gue ramah ke semua orang.”
“Kebanyakan dari mereka masalah dengan hal itu dan selalu menuduh gue selingkuh, bahkan belum genap 1 minggu jadian. Siapa yang gak kesal coba? Alasannya sih karna gue ganteng, jadi takut kalau cewek lain itu merebut gue. Padahal gue udha bilang, Gue orangnya pegang komitmen, kalau gue bilang suka ya suka, enggak ya enggak. Kalau udah punya pacar ya satu cukup. Tapi mereka gak percaya.”
“Itu yang membuat gue jenuh, akhirnya gue gak tahan dan mengabaikan mereka sampai mereka pergi sendiri. Kedua, gue suka sama cewek alim yang baik baik. Lo boleh pergi ke diskotik, tapi jangan sampai mabuk dan malah jadi liar di dalam sana. Lo punya harga sebagai perempuan, jangan mau lah dipegang atau dimodusin secara gratisan, nah, sebagian mantan gue begitu orangnya, gue jadi jijik sama mereka.”
“Yang ke tiga dan ada hubungannya sama yang ke dua. Gue gak suka hubungan badan sama pacar gue, geli gak sih bayanginnya? Walau gue kelihatan nakal juga, Gue gak pernah Have a S3x sama siapapun, karna balik lagi, bagi gue, perempuan itu ada harganya dan gue harus bayar mahal buat bisa beli, bayar pakai apa? Ya pakai hidup gue, di suatu ikatan yang pasti. Itu udah prinsip dan gak bisa diubah.”
“Dan Lo tahu? Mantan gue yang kelihatannya alim, gak pernah ke diskotik, ternyata mereka nafsu juga sama gue, mereka yang minta bahkan paksa gue buat ngelakuin itu ke mereka. Lo bayangin deh, wajar gak gue jijik? Yang paling parah, ada yang bawa gue ke diskotik dan racunin gue biar gue mau lakuin itu ke dia, tapi untung pengawal gue datang menyelamatkan gue. Lo bayangin, gue, sebagai cowok, mau diperk0sa sama pacar gue yang cewek.”
“Masih banyak lagi sih, tapi ya itu yang paling utama. Ah, ada lagi yang paling lucu buat gue. Tuh cewek minta berhubungan sama gue, dan gue tolak, eh dia selingkuh sama cowok yang mau lakuin itu ke dia, tapi dia gak mau putus dari gue, katanya sih gue yang lebih pantas diajak ke acara sama dia, dari segi rupa maupun harta, lucu kan?”
Alena mengerti kenapa Ravi sampai melakukan hal itu, jika itu dirinya, dia akan sangat jijik dan langsung mendepak semua orang itu. Tapi kenapa Ravi tak berusaha menjelaskannya pada Rashi atau yang lain tentang hal ini?
“Ya karna gue tahu, mereka gak akan mau peduli, yang mereka tahu ya gue Ravi, si Playboy, semua alasan yang gue keluarkan hanya bullshit bagi mereka. Gak ada gunanya kan kasih pembelaan?”
“Gue gak minta banyak dari lo, bahkan gue juga gak mandang lo dari harta, iyalah, gue udah punya banyak sih. Gue bahkan baru tahu kalau lo dari keluarga Sanjaya setelah main ke rumah lo. Gue suka sama lo karna lo kelihatan polos dan tulus, tapi kalau suatu hari nanti lo sama aja kayak mantan gue, ya maaf aja, pasti gue depak juga. Lo udah tahu dan gak ada yang gue tutupin, kalau lo mau lanjut ya ayo, enggak juga gak papa.” ujar Ravi dengan santai. Alena tersenyum penuh arti, bagaimana bisa Alena tidak menyukai lelaki setulus dan sebaik itu?