
“Di malam yang dingin, dan gelap sepi, pernah ku berlayar pada bintang bintang. Terlalu manis, untuk dilupakan, kenangan yang indah bersamamu, tinggalah mimpi.
Terlalu manis, untuk dilupakan, kalau kita memang tak saling cinta, tak kan terjadi”
~jreeng
Ravi meletakkan gitar yang sedari tadi dia gunakan untuk membunuh waktu. Dia berjanji akan menjemput Alena pukul 7 malam, namun saat ini, pukul 5 sore, dia sudah ada di taman dekat rumah Alena. Dia terlalu gugup sampai bingung mau berbuat apa di rumah, akhirnya dia pergi dan tentu saja dia tak bisa bertemu dengan Alena. Jika dia menemui Alena sekarang, gadis itu akan merasa diburu buru dan akhirnya menimbulkan kesan tak baik bagi Ravi.
“Ahhh, kenapa gue grogi banget sih? Padahal gue udah biasa mau nembak cewek loh, kenapa malah sekarang rasanya beda sih? Apa karna gue terlalu suka sama Alena sekarang jadi rasanya lain?” Atau karna Gue gak tahu Alena suka sama gue atau enggak makanya gue jadi gugup begini? Tapi kalau suka, dia kan emang suka sama gue,” ujar Ravi mencoba untuk percaya diri.
“Alena, kalau sampai lo nlak gue, gue akan buat lo menyesal, beneran deh, lo akan menyesal udah nolak cowok setampan gue dan gue pastikan lo akan nerima gue waktu gue udah nembak lo lagi. Gue gak main main ya Len sama Lo, kalau lo main main sama gue, awas aja lo,” ujar Ravi yang bermain dengan bayangannya sendiri.
“Ada suatu permainan, permainan asik sekali, orang main kuda, tapi kuda bohong, namanya kuda lumping,” ujar Ravi yang entah darimana mulai bernyanyi aneh seperti itu. Dia hanya perlu membersihakn pikirannya dari rasa tak enak yang menyerang kepalanya. Dia juga ingin menghilangkan rasa gugup yang terus menguasahi hatinya.
“Kalau gue bisa jujur sama Lo sekarang Len, gue benar benar suka sama Lo, setiap apa yang lo lakukan udah buat gue jatuh cinta. Sikap dewasa lo, ramah, murah senyum, dan juga kalau lo mau dan berkenan, Lo mau gak jadi pacar Gue?” tanay Ravi pada cermin yang ada di sana. Dia langsung mengusap kepalanya kesal dengan apa yang dia lakukan, karna tampak menjijikan baginya. Biasanya para gadis yang menyatakan perasaan lebih dulu padanya, sekarang tidak lagi.
“Apa gue harus berguru dulu sama cewek cewek itu? Tapi gue kan Ravi, ya kalik Cuma masalah begini aja bikin gue panik, gak banget sumpah,” ujar Ravi yang terus berbicara sendiri. Dia mengomel dan tanpa sadar mobilnya terus dia nyalakan dan tentu saja hal itu mencolok bagi orang lain, karna mobilnya menyala namun tak kunjung bergerak.
~tok tok tok tok
Ravi terpelonjak kaget dan melihat ke arah orang yang mencarinya. Dia terkejut saat mendapati Alena ada di sana. Gadis itu menatapnya bingung dan memintanya untuk membuka pintu. Ravi pun langsung melakukannya dan meminta Alena untuk masuk ke sana.
Alena masih mengenakan kaos rumahan, sedangkan Ravi sudah memakai kemeja putih yang tampak tak nyaman. Alena menunggu sampai Ravi menjelaskan apa yang lelaki itu lakukan di tempat ini. Untung saja tak butuh waktu lama bagi Ravi mengerti arti tatapan itu. Dia menggaruk lehernya dengan canggung, lalu menatap ke arah Alena dengan senyum yang merekah.
“Lo, ngapain ada di sini? Kita janjian jam 7 kan? Ini masih setengah 6 dan lo udah di sini? Mau apa?” tanya Alena yang tak sabar karna Ravi hanya terdiam dan menyengir. Pertanyaan itu membuat Ravi merasa lebih canggung dari sebelumnya. Dia menggaruk garuk hidungnya, membuat Alena gemas dan mengambil tangan itu agar diam.
“Eum, gue terlalu gugup nunggu waktu buat ketemu sama Lo Len, jadi ya gue muter muter aja, gak tau mau apa juga di rumah, yang ada malah diledekin sama orang rumah. Jadi ya udah, pas muter muter tahu tahu gue ada di sini,” ujar Ravi dengan bingung, penjelaskan itu tentu saja membuat Alena lebih bingung lagi, dia masih tak mengerti kenapa Ravi sampai melakukan itu.
“Kenapa gak ke rumah? Daripada di pinggir jalan kayak anak hilang begini kan? Kenapa gak langsung telpon?” Tanya Alena lagi, dia tentu merasa kasihan dan tak enak pada Ravi sampai harus mengemper di pinggir jalan (mobilnya) dan tidak tahu mau melakukan apa. Padahal dia bisa saja pergi main ke rumah Alena.
“Ya kan gue takut kalau Lo ngerasa terganggu gitu Len, kan kita janjian jam 7, kala ugue datang awal, nanti gue disangka buru buru in lo, belum lagi kalau gue disangka mau ambil waktu privasi lo, kan gue jadi gak enak sendiri,” ujar Ravi yang membuat Alena terkekeh. dia tak menyangka Ravi bisa sesalah tingkah itu saat bertemu dengannya.
“Gue gak akan mikir kayak gitu kok, kan gue tahu lo orangnya gimana. Ya udah, lo mau di sini sampai nanti setengah 7, atau lo mau ikut ke rumah gue aja? Di sana kan ada yah paling gak pembantu, ya atau gue sendiri, bisa jadi teman lo ngobrol,” ujar Alena yang membuat Ravi sebenarnya malu, namun daripada dia terus gugup dan gelisah, lebih baik dia mengobrol dengan Alena, dan membuatnya tahu bagaimana Alena ingin ditembak (dengan romantis kah, dengan seru dan lucu kah)
Sesampainya di rumah Alena, Ravi langsung duduk di sofa yang ada di sana. Melihat Alena begitu santai membuatnya cemas sendiri. Apakah Alena sama sekali tidak memiliki clue dia akan dibawa kemana? Apakah Alena tidak punya perasaan padanya? Semua pikrian itu tentu saja membuat Ravi merasa tak nyaman. Dia ingin tahu apa yang Alena suka, tapi yang dia dapatkan malah keraguan apakah Alena menyukainya atau tidak. Dia merasa frustasi dengan dirinya sendiri karna tak bisa bersikap normal di hadapan Alena saat ini sembari berharap gadis itu mau memakluminya.
“Eh, maaf gue habis pergi ke warung, jadi masih pakai baju rumahan gini. Lagian lo janjian jam berapa, udah siap jam berapa. Apa gak panas pakai kemeja begitu di sore sore begini?” tanya Alena yang sudah kembali dengan gelas berisi es sirup di sana. Ravi bingung harus menjawab apa, dia hanya tertawa dan membasahi tenggorokannya dengan air.
“Perlu gue bawa teko gak Vi? Kayaknya kurang deh kalau Cuma satu gelas. Lo minumnya langsugn habis begitu. Gue ambilkan teko ya biar lo bisa isi sendiri isinya kayak yang lo mau, dan bisa tambah sepuasnya,” ujar Alena yang tak bisa dicegah oleh lelaki itu. sungguh, makin melihat Alena, makin besar pula rasa sayangnya pada gadis itu. tidak bisa dia ungkapkan dengan kata kata lagi, jangankan kata kata, akal sehat yang biasanya penuh saja seakan tak ada lagi.
“Lo suka sama baju atau hadiah lainnya? Gue gak tahu apa yang cantik atau bagus buat lo, jadi gue minta Thea buat bantuin sambil bayangin gimana kalau lo pakai itu. gue yakin lo sangat cantik pakai itu, gue jadi gak sabar buat lihatnya,” ujar Ravi yang tentu membuat Alena terkekeh. dia memang tak pernah mendapat pujian tentang kecantikan sebelumnya.
“Gue gak bisa kasih tahu lo atau pamit ya biar itu niatnya kejutan, tapi malah lo lihat dari sudut panjang yang berbeda, yang membuat Lo sama Gue malah makin salah paham. Yah, begitu lah. Intinya, baju ini gue beli buat lo semua spesial buat lo dan apa yang gue lakukan itu buat lo juga,” ujar Ravi yang diangguki oleh Alena.
“Gue yang minta maaf udah cemburu gak jelas, padahal kalau dipikir juga, gue gak pantas buat cemburu apapun ke Lo Vi, jadi ya gue merasa bersalah aja udah mikir yang macam macam, mikir yang gak gak tentang lo, tentang teman lo yang namanya Thea itu juga, gue minta maaf dah kekanak kanakan,” ujar Alena yang tersenyum tulus.
“Gak, lo gak salah kok. Emang kala ulo punya pacar seganteng gue, lo harus lebih protektif, kalau gak malah nanti diambil sama orang, kan lo sendiri yang repot, iya kan? Gue maklum sih,” iseng Ravi yang ingin mengalihkan pembicaran, untung saja Alena mengerti dan mereka langsung berbicara ke topik yang lain.
“Gue suka banget dan gue juga tahu kalau hadiah itu mahal banget, makanya gue tanya itu tabungan berapa lama? Kalau memang sampai menghabiskan tabungan, kan gue yang merasa gak pantas buat mendapatkannya. Lo ngerti kan maksud Gue? Bukan gue gak suka atau gak bagus ya, justru karna terlalu bagus menurut gue,” ujar Alena yang diangguki oleh Ravi.
“Lo gak usah khawatir, gue gak akan pernah melakukan hal gila apalagi buat perempuan. Kalau memang lo dapat hadiah dari gue, ya itu karna lo layal mendapatkannya, bukan karna gue banyak duit atau apa. Dan masalah harga, kamu jauh lebih berharga dari semua nominal yang ada di dunia ini Alena, jadi ya kamu jangan merasa minder begitu, oke?” tanya Ravi mencoba untuk manis, namun malah membuat Alena jadi geli.
“Astaga rasanya geli banget lihat Ravi begini, rasanya tuh kayak bukan Ravi gitu loh,” lirih Alena yang memang sengaja agak keras agar Ravi bisa mendengar. Lelak itu tertawa renyah meski sedang direndahkan oleh calon kekasihnya itu. dia membiarkan Alena menindasnya kali ini, namun lain kali, dia akan membuat Alena bertekuk lutut dan membucin padanya.
“Haha, Ravi itu punya banyak sisi len, tapi sisi manapun itu, Ravi tetap cinta sama Alena. Ravi gak akan pernah deh pokoknya mengecewakan Alena dengan sengaja. Nah kalau suatu hari nanti Ravi mengecewakan Alena, Alena boleh bilang ke Ravi, biar Ravi tahu dan bisa berubah lagi buat Alena, Alena jangan pendam dan sakit hati sendiri,” ujar Ravi yang tak gentar menggoda gadis itu.
“Belum juga gue tonjok lo sikapnya manis gitu, gak pantas banget deh lo kayak gitu,” ujar Alena yang membuat Ravi tertawa renyah. Dia tahu Alena akan meras risih melihatnya romantis karna biasanya mereka selalu ceria dan berbagi pikiran yang indah dengan warna kuning, warna kebahagiaan dan keceriaan.
“Eum, gue mau mandi terus siap siap dulu aja yah Vi, lo anggap aja sebagai tamu di sini, jangan anggap rumah sendiri, gue takut kalau nanti rumah ini malah lo jual saking lo anggap rumah sendiri,” ujar Alena yang membuat Ravi tertawa. Alena pergi ke lantai 2 sedangkan Ravi melihat lihat kondisi rumah Alena yang tampak Rajin dan bersih.
Satu jam kemudian, Alena turun dari lantai dua sedangkan Ravi sudah tertidur di sofa. Alena memabngunkan Ravi dengan lembut, sedikit sentuhan saja sudah membuat Ravi bangun. Lelaki tiu melihat ke arah Alena dan mulutnya langsung terbuka sempurna. Dia tahu Lena akan cantik dengan dress itu, namun dia tak menyangka Lena akan secantik itu, dress itu sangat cocok untuk tubuhnya, terlihat indah, ramping dan segar.
“Cantik sekali ya Tuhan hambamu yang satu ini. Kenapa bisa secantik itu?” tanya Ravi tanpa sadar, namun lelaki itu segera menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat, tak ingin membuat gadis itu merasa risih dengan tatapannya. Dia ingin Alena bersikap nyaman dan merasa aman saat berada di dekatnya.
“Terima kasih baju, sepatu dan kalugnnya, ini cantik banget gue pakai. Gue gak akan pernah beli baju atau perihasan begini nih kalau gak dibelikan,” ujar Alena yang terkekeh. hal itu membuat Ravi ikut tertawa, dan setelah itu Ravi berdiri, mengampiri Alena yang sudah menatapnya dengan malu.
“Wow tuan putri, apakah tuan putri sudah siap pergi bersama pangeran tampan ini? Jika masih ada hal yang tuan putri hendak lakukan, pangeran akan senantiasa menunggu,” ujar Ravi yang mengulurkan tangannya untuk menyambut gadis itu dan berjalan di sebelahnya. Sepatu hak yang tak terlalu tinggi membuat Alena jadi sangat cantik dan tentu tetap nyaman selama menggunakannya.
“Langsung berangkat aja gak papa kah? Kalau gak papa, berangkat aja, daripada nunggu jam 7 kan?” tanya Alena yang langsung diangguki oleh lelaki itu. mereka langsung masuk ke dalam mobil. Ravi sengaja menyetel AC agar tidak terlalu dingin dan bahkan memberikan Alena jaket untuk menutupi kaki dan pahanya. Dia sangat menghormati gadis itu, membuat gadis itu nyaman berada di dekatnya.
Sesampainya di lokasi. Ravi meminta Alena untuk menutup matanya sementara dia menuntun gadis itu ke tempat dimana dia akan memberikan kejutan pada gadis itu. namun langkah Ravi terdiam sesampainya di sana. Alena tentu bingung apa yang membuat Ravi terhenti.
“Vi? Ravi? Ravi? Lo kenapa? Vi? Lo gak papa kan?” tanya Alena yang tak sabar langsung membuka penutup kepala miliknya.
“Astaga!” pekik Alena sangat kaget dengan apa yang dia lihat.