Dear Happiness

Dear Happiness
Chapt 41



Hari Minggu, sesuai rencana, Ravi mengajak Rania dan Alena untuk main, dia juga mengajak Rashi. Awalnya Ravi kira Rashi tak akan mau untuk ikut karna anak itu tidak begitu suka aktivitas di luar rumah. Namun entah mengapa kali ini Rashi menyetujuinya. Ah, tidak lupa Adlan yang ingin ikut karna dia mendengar Ravi mengajak Alena lagi untuk memastikan gadis itu akan ikut.


Di dalam mobil, Rashi ada di depan sebelah supir, Ravi - Alena ada di tengah dan Rania - Adlan ada di belakang. Mereka saling diam saat ada di mobil, namun Ravi dan Alena, mereka banyak mengobrol meski dengan berbisik, Alena bisa tertawa dan tersenyum cerah saat bersama dengan Ravi, dia jauh berbeda dari biasanya, Ravi memang memiliki caranya sendiri untuk membuat orang di sekitarnya bahagia.


“Nanti di sana, Lo harus mau naik Histeria, kalau lo gak mau, gue bakal paksa. Yah, hitung-hitung bayaran buat gue karna udah bantuin lo belajar,” ujar Ravi yang membuat Rashi dan Adlan ikut tertarik. Bahkan Adlan sampai menjulurkan kepalanya di antara Ravi dan Alena, membuat dua orang itu saling menjauh dan menatap Adlan dengan bingung.


“Kalian belajar bareng apaan? Kan lo gak sekolah di SMA Sanjaya, kalau sekolah pun, lo kan adek kelas Alena, mana mungkin kalian bisa belajar bareng. Hayo, kalian belajar apa? Pasti belajar sesuatu yang lain ya?” tuduh Adlan dengan iseng. Ravi langsung menampar Adlan dan meminta anak itu untuk mundur, Adlan memegang kepalanya yang pusing dan langsung duduk di tempatnya.


“Lo yang ambil kertas soal gue?” tanya Rashi yang diangguki oleh Ravi, Rashi menghela napasnya dengan kesal setelah mendengar pernyataan itu, apalagi saat tahu Ravi memberikan semua jawaban yang benar pada Alena. Dia tidak suka jika apa yang bukan menjadi urusan seseorang namun orang itu ikut campur agar bisa dipanggil pahlawan. Dia sangat membenci orang seperti itu, namun karna Ravi yang melakukannya, dia tidak bisa membencinya.


“Kalau lo kasih jawaban ke dia, gimana dia bisa belajar sendiri? Apa besok pas olimpiade lo yang akan jawab? Apa besok lo bakal kasih jawaban ke dia? Gue tahu lo smart Vi, tapi please lah, lo harus tahu batas lo dimana, jangan seenaknya sendiri,” omel Rashi yang tentu membuat Ravi tak terima. Dia hanya membantu Alena untuk belajar karna dia mampu, toh mereka banyak diskusi dan Alena tidak hanya menerima jawaban mentah tanpa tahu asal usulnya.


“Udah lah, chill, masak masalah gini aja kalian bertengkar sih? Alena juga gak akan sebodoh itu kalik Kak buat terima jawaban dari kak Ravi tanpa belajar. Udah dong, masalah yang sepele jangan dibesar-besarkan, gak enak nih jadinya,” ujar Rania sebelum Ravi menjawab karna dia tak mau kedua saudaranya bertengkar di hari yang baik ini.


“Ya, kamu pasti bela dia, orang dia mirip sama kamu kan? Bantu orang, sampai gak kenal waktu, sampai gak tahu tujuannya, pokoknya biar terlihat menonjol. Wow, Ravi biasanya gak suka menonjol, sekarang dia pengen banget menonjol. Gimana? Apa lo mau tukeran sama gue buat ikut olimpiade? Kan gak ada yang tahu kalau kita kembar, lumayan kan buat cari muka,” Ketus Rashi yang tentu membuat Ravi tak sabar.


“Lo kalau didiemin ngelunjak ya. Gak usah bawa-bawa Rania. Jangan dikira lo lebih tua DUA MENIT, lo bisa seenaknya. Kalau lo gak suka gue ajarin dia, ya lo ajarin dong. Lo teman satu timnya, tapi pernah gak kalian diskusi dan sharing apa yang gak dipaham satu sama lain? Gak kan? Lebih parah lo daripada gue, tapi lo gak pernah mau mengakui kalau lo salah dan ada kurangnya juga!” sewot Ravi dengan keras. Dia sudah kehilangan kesabaran karna Rashi malah mengatai Rania.


“Ya, itu gue. Gue di mata lo, di mata kalian semua, gak ada yang bisa gue bantu buat ubah pandangan itu. Gimana tawaran gue? Lo masih mau kah tukar tempat? Kesempatan langka nih, kan lo juga yang mau pindah ke SMA Sanjaya, buat, eum apa yang kemarin? Aaah, buat ikut kelas akselerasi,” ujar Rashi yang membuat Ravi benar-benar tak sabar dan bersiap untuk menjambak lelaki itu karna tidak mungkin menonjok dalam posisi seperti ini.


Namun belum sempat dia menarik rambut Rashi, Rania sudah menarik pundaknya untuk tidak menanggapi lagi. Ravi dan Rania seharusnya paham dengan karakter Rashi yang tak mau kalah. Lelaki itu anak pertama, dia merasa memiliki beban untuk membimbing adik-adiknya, namun jika mereka melakukan hal tanpa sepengetahuan Rashi, lelaki itu akan merasa tak dihargai.


Ravi memilih diam dan mengabaikan Rashi, Rashi juga diam, tidak mengatakan appaun lagi. Suasana di mobil mendadak mencekam, apalagi bagi Adlan dan Alena yang tak pernah melihat hal seperti ini, mereka bingung harus merespon seperti apa dan mereka juga tidak bisa ikut campur dalam urusan ini.


Setelah mereka sampai, mereka turun dari mobil, masih dengan suasana yang canggung dan tak baik. Rashi menghela napasnya panjang, mendekati Ravi dan menyodorkan pipinya ke saudaranya itu. ravi tersenyum miring dan langsung melayangkan tinju ke pipi Rashi, membuat anak itu oleng dan langsung terjatuh. Rania memekik dan langsung membantu Rashi, lalu memandang Ravi dengan tatapan tak menyangka.


“Lunas,” ujar Rashi yang langsung bangun dari posisinya dan memegang pipinya yang panas. Ravi terkekeh dan membantu


Rashi untuk berdiri. Tentu saja hal itu membuat mereka yang melihat jadi bingung. Rashi dan Ravi bertindak seolah tak terjadi apa apa, namun karna ditatap aneh, Rashi akhirnya meminta Ravi untuk menjelaskan keadaannya.


"Jadi, gue sama Rashi emang sering bertengkar, dan kami pernah membuat perjanjian, siapa yang akhirnya merasa salah tapi gak mau minta maaf, dia harus terima pipinya ditonjok, setelah itu lupakan semua masalah dan bersikap baik baik aja, dan yah, dia ngerasa salah. Dia gak mau minta maaf jadi dia kasih tuh pipinya," ujar Ravi santai sambil tertawa.


Baik Alena, Adlan atau bahkan Rania, mereka tidak tahu ada sistem seperti itu. Tapi apapun itu, mereka senang karna Rashi dan Ravi sudah baikan, mereka tak mau gunung es di antara keduanya tidak membeku dan membuat keadaan sekitar ikut dingin.


"Masalah udah selesai, di masa depan, jangan ada yang bahas masalah ini lagi. Oke gaes? Sekarang kita senang senang dulu aja. Udah lama gak ke sini, pasti seru banget sih ini. Ayo Len, Lo kan harus naik histeria," ujar Ravi yang langsung menggeret Alena ke loket masuk untuk membeli tiket bebas. Mereka bisa bermain sepuasnya tanpa harus antre tiket lagi di setiap wahana.


Alena terkekeh melihat Ravi yang begitu antusias, mereka sudah melihat banyak wahana yang besar di dalam sana. Rania hanya mengikuti mereka karna dia tidak bisa ikut bermain wahana ekstrim demi kesehatan jantungnya. Dan Rashi, sejak kecil lelaki itu benci ketinggian, dia tidak akan bisa menaiki wahana wahana yang memiliki ketinggian tertentu, meski Rashi tak mau mengakuinya, Rania dan Ravi sudah tahu akan hal itu.


"Udah, naik komedi putar dulu buat pemanasan. Kalau yang ekstrim takut pusing," ujar Alena memberi usul dan disetujui oleh yang lain. Di sana ada 3 orang pengawal, masing masing untuk menjaga Rashi, Ravi dan Rania, kini mereka bertugas untuk memotret anak anak yang sedang bermain dan mendapat foto yang bagus karna mereka yakin tidak akan ada kejahatan di tempat seperti ini, Ravi duduk di sebelah Alena dan mengabadikan banyak foto bersama.


Satu putaran, dua putaran sampai selesai. Mereka turun dari wahana anak anak itu dan mencari Wahana lain yang lebih seru. Ravi ingin mengajak ke wahana yang paling terkenal di sana, namun karna Antrean yang panjang, dia memutuskan mencari wahana lain yang lebih sepi, karna waktu yang dipakai untuk antre bisa untuk bermain dua bahkan 3 kali wahana lain.


Setelah puas bermain, Mereka beristirahat di daefah Cafetaria, membeli camilan dan minum serta duduk bersantai melihat keramaian yang tak jauh dari mata mereka. Ravi merasa puas karna mereka sudah bersenang senang. Namun dia belum lengkap jika belum mencoba gong di tempat ini. Mereka harus menaiki wahana yang paling terkenal di sini walau harus antre lama karna mereka akan pulang setelah ini.


"Ayo Len, Dlan, kita naik," ajak Ravi yang tahu jika Rania dan Rashi tidak bisa naik. Namun hal itu tentu membingungkan bagi Adlan dan Alena, kenapa Ravi hanya mengajak mereka? Pertanyaan itu tentu saja tetap timbul meski tak mereka tanyakan langsung.


"Ah, Rania kan punya sakit jantung, jadi dia gak bisa main beginian, kalau Rashi, sejak kecil dia benci ketinggian dan dia bisa gemetar hebat kalau di tempat yang dia tahu itu tinggi, jadi dia gak main beginian," ujar Ravi santai namun membuat Rashi menjadi kesal karna anak itu membocorkan hal yang tak perlu dibocorkan.


"Gue gak takut, gue cuma malas aja Antrenya. Ngapain sih main yang begitu, mainnya gak ada 5 menit, tapi antrenya satu jam, gak worth it sama waktu yang kebuang," ujar Rashi yang membuat Ravi menaikkan alisnya, namun berbeda dengan Alena dan Adlan, mereka malah ingin menggoda Rashi yang sudah mulai gelagapan itu.


"Kalau emang gak takut sih, harusnya ikut ya naik. Kalau Rania alasannya kan jelas, dia emang gak bisa, bukan gak mau. Dan lo? Kalau lo bisa, ya lo harusnya ikut. Kecuali kalau lo gak mau? Alasannya? Ya karna lo takut ketinggian," ujar Alena dan Adlan yang membuat Rashi terdiam dengan wajah merah.


"Oke, gue ikut," ujar Rashi yang membuat Ravi kaget, dia akan dimarahi oleh mamanya jika mamanya tahu Rashi melakukan hal ini, karna mamanya pasti mengira Ravi yang memaksa Rashi untuk ikut. Namun tekat lelaki itu sudah kuat, jadi dia tidak mau menerima nasehat siapapun dan tetap ingin memainkan wahana ini.


Mesin mulai bergerak, mereka mulai naik perlahan, perlahan dan tiba tiba dijatuhkan dengan kencang. Ravi bersorak senang, Adlan bersorak takut, Alena berteriak antara seru dan takut, namun Rashi, anak itu hanya diam sambil memejamkan matanya rapat rapat, tidak ingin membayangkan atau melihat ada apa di bawah sana.


Alena menatap ke arah Rashi dan wajahnya langsung khawatir. Dia melihat Rashi yang berpegangan erat, wajahnya sangat pucat, dia bahkan menggigit bibirnya cukup kuat. Alena merasa bersalah sudah memaksa Rashi untuk ikut hanya demi menggodanya. Dia tidak tahu jika Rashi benar benar takut ketinggian, namun karna sudah berada di atas, dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Setelah beberapa menit, mesin berhenti dan mereka turun perlahan. Baru saja pengaman di buka, Alena langsung menghampiri Rashi yang lemas. Ini bukan candaan lagi, tangan lelaki itu basah penuh keringat dan sangat dingin. Bahkan lelaki itu sangat lemas. Setelah turun dan sedikit berjalan, tiba tiba saja dia ambruk dan kepalanya membentur badan Alena yang menahannya.


Pengawal Rashi langsung sigap menolong tuannya, dia langsung menggotong Rashi ke tempat yang sepi dan memeriksa keadaan anak itu. Ah sekadar Informasi, pengawal pribadi keluarga ini wajib bisa melakukan pertolongan pertama atau paling tidak pemeriksaan dasar untuk memastikan kondisi tuan mereka dalam keadaan baik.


Untung saja Rashi tidak terluka dan parah, dia hanya syok sampai pingsan. Setelah Rashi sedikit sadar, tangannya tampak bergetar hebat, Alena yang melihat itu secara Reflek memeganh tangan Rashi dengan erat, tangan yang satunya lagi membelai kepala lelaki yang masih berbaring itu, memberikan ketenangan pada Rashi yang rasa takutnya tifak bergurau.


"Sstt, gak papa, udah, udah gak papa, ssttt, ada gue, lo aman. Rashi, lo gak papa," bisik Alena dengan lembut. Dia mengusap usap kepala Rashi sampai lelaki itu akhirnya bisa tenang, saat Alena hendak melepas tangannya, dia merasa Rashi menarik tangannya, sehingga dia membiarkan saja sampai lelaki itu sadar sendiri.


Setelah beberapa saat, barulah Rashi sadar dan melihat ke sekitar dengan malu, dia bahkan menundukkan kepalanya karna tidak ingin melihat tatapan mengejek dari mereka. Namun Rashi salah, Baik Alena maupun Adlan yang baru tahu, mereka tidak berniat untuk mengejek karna kondisi seperti ini cukup gawat.


"Kalau mau ketawa gak papa," ujar Rashi tanpa melihat ke arah mereka.


"Gak ada yang mau ketawa, kita semua khawatir sama Lo Shi, kenapa lo paksakan kalau lo tahu bakal jadi kayak gini? It's okay kalau lo punya ketakutan atau phobia atau apalah itu. Gak ada yang sempurna di dunia ini Shi, jadi gak papa," ujar Alena lembut yang membuat Rashi menoleh ke arahnya.


Mata Alena sangat meneduhkan, membuat Rashi tanpa sadar menyunggingkan senyum yang cukup manis, merasa lega karna memiliki teman yang snagat baik dan supportif seperti mereka. Rashi merasq beruntung bertemu mereka di hidupnya.


"Gue cuma mau buktikan kalau gue gak lemah, tapi malah jadinya gini. Sorry udah bikin kalian khawatir," ujar Rashi pelan karna masih lemah. Alena tersenyum dan mengusap kepala Rashi sekali lagi, membuat mereka yang melihat ikut menegang, terutama Rashi yang dipegang, dia hanya bisa diam kaku di tempatnya.


"Gak papa lagi, gue yang minta maaf udah nantangin, kalau gue tahu, gue gak akan lakuin itu karna itu bahaya buat lo. Lain kali, kalau emang lo gak bisa, lo jujur dan bilang, orang terutama gue, pasti bakal ngerti," ujar Alena yang diangguki pelan oleh Rashi.


Rania menengok ke arah Ravi, dia tahu, meski lelaki itu diam, lelaki itu pasti kesal karna Alena peduli sampai seperti itu pada Rashi, namun Ravi masih mencoba mengerti jika Rashi sedang butuh diperhatikan seperti sekarang ini.