
"Rania, Lo mau sampai kapan bertindak kayak Lo itu pacarnya Rashi? Udah lah, Lo kan juga bukan pacar dia, mending Lo dekatnya sama gue aja," ujar Adlan yang terus ada di sebelah Rania. Membuat gadis itu menjadi pusing dan tidak berkonsentrasi dalam mengerjakan tugasnya. Dia meminta Adlan untuk datang bukan untuk mengoceh.
"Kalau Lo gak mau bantuin gue, beneran deh, mending Lo keluar dari sini, gue udah pusing banget nih ngadepin Lo yang begitu, udah ya, sana pergi, pergi yang jauuuh, jauuuhh aja ya? Please ya," ujar Rania yang sudah frustasi, Adlan Memang tak pernah mau berubah jika itu masalah mengganggu Rania. Lelaki itu tak segan berdiri selalu di sebelah Rania untuk usil dengan anak itu.
"Iya iya, Lo mau dibantu yang mana? Udah sini gueaja dah yang bantuin, Lo mau yang mana? Atau mau gue bantuin semua, gue bikinin semua gak pakai mikir lagi dah pokoknya, gimana? Oke gak?" Tanya Adlan yang langsung ditabok oleh Rania. Gadis itu tak suka jika Adlan bersikap seperti itu, lebih baik dia pergi dan belajar sendiri meski tak mungkin. Dia akan memanfaatkan Alena agar Ravi mau mengajarinya.
"Kalau gak mau musim ujian, gue gak akan mau nih begini, mending gue main atau bikin puisi atau nulis novel online yang dibayar, sial bener dah gue malah pas musim ujian pas gue lagi gak dekat sama kak Rashi dan Ravi, lagian mereka masuk SMA kokya jadi sibuk sama dunia masing masing," ujar Rania yang melewati ruang olimpiade. Dia menengok dan melihat ada Kakaknya di sana, namun yang membuatnya menarik justru Alena yang juga ada di sana.
Rania langsung masuk ke dalam ruangan itu dan bertindak sok akrab dengan mereka, dia hanya tak ingin Alena hanya berdua dengan Rashi, dia tidak mau kakaknya yang satu lagi malah jadi salah paham ataupun sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh dirinya. Rania hanya ingin hubungan keduanya membaik.
"Kamu ngapain di sini? Kalau ada guru olimpiade masuk, kamu bisa disangka ngapain loh, ini kan buat anak anak olimpiade belajar. Kamu emang mau disuruh masuk olimpiade terus belajar matematika seharian?" Tanya Rashi dengan polos dan santai. Rania menghela napasnya, mendadak tak suka dengan kakaknya.
"Kalau gitu ngapain kak Rashi di sini sama dia? Kan kalian gak mau olimpiade. Kalian juga bentar lagi mau tes dan tesnya kan beda, ngapain kalian belajar di sini coba? Cuma berdua lagi, kan gak masuk akal," ujar Rania yang membuat Rashi menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak tahu kenapa tiba tiba Rania marah padanya padahal dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia hanya heran kenapa Rania ada di tempat ini.
"Lah, ini kan ruang olimpiade, tempat anak anak olimpiade belajar. Entah belajar apapun, ya, apapun, jadi ya terserah dong mau belajar apa di sini, yang penting gak main main atau ganggu anak lain, apalagi anak lain itu bukan anggota di sini," ujar Rashi yang membuat Rania naik darah. Gadis itu menghela napasnya panjang, lalu menatap ke arah Alena.
"Apa kau ingin aku pergi dari sini?" Tanyanya pada Alena dan langsung dijawab gelengan kepala oleh gadis itu. Rania juga bertanya pertanyaan yang sama pada Adlan, gadis itu bertanya itu bertanya pada Adlan Apakah lelaki itu juga keberatan ada di sana, namun Adlan tentu saja tidak keberatan dan membiarkan saja Rania ada di sana.
"Oke kakakku tersayang sudah dua suara mengijinkan aku ada di sini, Jika kau masih keberatan Lebih baik kau yang pergi dari sini dan aku ada di sini bersama Alena dan Adlan. Apakah kau masih keberatan aku ada di sini?" Tanya Rania memastikan. Rashi mengalah dan membiarkan Rania tetap di sana, toh karna tidak ada guru mereka, kecil kemungkinan mereka tertangkap atau jadi masalah.
"Selamat pagi anak-anak apakah kalian ada disini untuk belajar ujian? Bagus jika kalian tetap menggunakan ruangan ini meski tidak sedang ada di dalam suasana Olimpiade," Ujar guru itu dengan senang dan semangat.
"Siapakah ini? Apakah dia anak baru yang akan bergabung dengan Olimpiade?" Tanya guru itu yang membuat semua orang terdiam. Raniatampak bingung dan mencari pertolongan, namun sepertinya Rashi tak bisa membantunya. Dia hanya bisa tersenyum melihat guru itu.
"Kamu kelas berapa?" Tanya guru itu pada Rania. Gadis itu meminta pertolongan dengan Rashi,dia tak mau terlibat di olimpiade atau apapun yang menuntutnya untuk berpikir dan Rashi tahu akan hal itu, namun sepertinya Rashi juga tidak mau membantunya, apalagi tadi dia sudah memperingatkan Rania akan hal ini, lelaki itu pasti akan bertindak seolah tak tahu apapun saat ini.
"Maaf pak, Rania ini pacar saya, kami memang lagi belajar bersama untuk ulangan akhir nanti, dan karna perpustakaan penuh, saya membawa dia ke ruangan ini, jadi ini salah saya pak, saya minta maaf," ujar Adlan yang membuat Rania terdiam. Apakah lelaki itu baru saja membela dan menyelamatkan dirinya dari guru olimpiade ini.
"Ah, jadi begitu, kamu boleh pakai ruangan ini selagi tidak dipakai untuk latihan olimpiade, asal jangan menyentuh barang apapun dan mengembalikan buku pada tempatnya. Kalau kamu masih kelas 10 dan berminat untuk bergabung di kelas olimpiade, saya akan dengan senang hati membukakan pintu untuk kamu," ujar guru itu yang membuat Rania terharu, Namun dia sungguh tidak berminat untuk bergabung.
"Kebetulan ini adalah tahun terakhir Alena karna semua anak kelas 12 harus berhenti dari ekstra, jadi ya saya harus mencari lagi anak anak yang bisa jadi pengganti Alena, apalagi di bidang bahasa. Yah, mungkin saya akan mencari anak dengan nilai yang bagus saat penerimaan murid. Sebenarnya ada satu anak yang nilai bahasanya sangat bagus dengan nilai sempurna. Nah, tapi saya lupa namanya siapa dan kemarin itu saya fokus minta ke Alena karna dia yang pintar," ujar guru itu dengan pelan sambil mengingat.
"Siapa ya namanya kemarin? Saya juga tidak begitu Ingat siapa namanya, Jika nanti saya mengingatnya saya akan mengajaknya untuk bergabung dengan Klub ini. Kalau begitu kalian lanjutkan saja, Lebih baik kalian belajar disini dibanding kalian belajar di tempat yang lain. Di sini jauh lebih tenang Jadi kalian bisa berkonsentrasi."
"Sepertinya yang dia maksud adalah aku Apakah aku akan diajak untuk masuk ke sini? Aku gak akan tahu Kak jika aku tidak bisa belajar bagaimana mungkin aku bisa masuk ke tempat ini, Aku bisa gila hanya dengan membayangkannya," Ujar Rania Frustasi membuat Adlan tertawa dan Rashi hanya tersenyum.
"Dia tidak akan memaksamu jika kau tidak mau namun kau akan merasa kasihan dan ikut dengannya, Itulah yang terjadi pada kami semua jadi kau tenang saja jika kau merasa enak saja dalam menolak," ujar Adlan yang diangguki oleh Lainnya.
"Yah semoga saja," lirih Rania.