
Darrel duduk di meja kantornya dengan tangan yang terus mereemas kepala. Lelaki itu cukup pusing dengan semua masalah yang ada di hadapannya. Dia membanting laptop yang menampilkan seorang wanita mencium pipinya di depan umum. Dia sudah berusaha untuk menutupi semua dari Luna, bahkan dia memblokir saluran televisi di rumahnya agar Luna tak membaca pemberitaan yang aneh.
Semalam, Darrel sedang menghadiri semua acara enting dimana dia harus berjalan ke red karpet. Namun saat dia berjalan ke arah mobilnya untuk pulang, seorang wanita yang dia kenal langsung menghampiri dan mencium pipinya tepat di hadapan puluhan wartawan yang sudah siap dengan kamera mereka.
Skandal besar seperti itu, mereka tidak akan membiarkan kesempatan emas untuk menaikkan berita mereka. Apalagi mereka memelintir agar berita itu makin menarik dengan mengatakan Darrel dan wanita itu sudah berselingkuh di depan umum. Alhasil, Darrel harus berusaha keras menghampiri dan meminta perusahaan media itu menghapus semua berita yang tidak benar.
"Untungnya Luna gak suka mainan sosmed, kalau gak usah mati Gue. Ini cewek kenapa suka banget bikin kesel," ujar Darrel yang bangkit dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan ruangannya. Dia bisa saja mengahapus semua berita yang ada di media, namun jika seseorang sudah menyabrkannya lagi, berita itu akan tetap meluas dan Darrel tak bisa lakukan apapun.
"Gue harus apa? Gue harus gimana? Gue gak bisa kasih tahu Luna, tapi Gue juga gak bisa biarin Luna tahu dari orang lain. Kenapa jadi susah banget gini sih? Belasan tahun Gue nikah, kenapa sekarang malah ada yang model begini?" Lelaki itu terus marah dan bahan menjambaki rambutnya sendiri.
Saat masih merasa frustasi, telpon yang ada di meja terus berbunyi. Lelaki itu langsung menghampiri telpon itu dan mengangkatnya. Langssung saja dia mendengar suara orang yang marah dan membentknya. Membuat telinganya menjadi berdengung dan kepalanya makin pusing, dia tak bisa membantah atau bahkan mengeluarkan kalimat pembelaan.
"Udah sering banget Lo sakitin adik Gue. Gue kira kalian udah nikah belasan tahun, Lo gak akan nyakitin dia lagi, awas aja kalau dalam satu minggu ini Lo gak bisa selesaiin masalah ini. Gue bakal bawa Luna pergi dan bahkan sampai Lo sekarat, Gue gak akan pernah biarin Lo ketemu sama Luna."
"Bang, Gue juga udah berusaha buat selesaikan semua. Gue gak ada apa -apa sama tuh cewek gila dan Gue berusaha biar Luna gak tahu. Gue bakal nyelesaiin semua, tapi Lo tahu kan? Foto itu udah tersebar, gak gampang buat hapus semua."
"Lo boodoh! Lo gak ingat anak Lo itu udah besar? Lo gak ingat kalau mereka udah punya ponsel, sosial media dan bahkan mereka bisa akses semua situs media di Indonesia ini. Lo mau apa kalau mereka tahu dan mereka benci sama Lo? Lo mau apa kalau mereka ngomong ke Luna dan Luna jadi depresi sama Lo? Jangan egois!"
"Astaga. Gue terlalu fokus sama Luna sampai Gue lupa kalau Gue punya tiga anak yang udah besar. Terus gue harus apa bang? Gue harus gimana? Gue, Gue gak tahu bang," ujar Darrel yang tiba – tiba saja panik. Darrel tak bisa melihat Jordan sedang memijit pelipisnya yang terasa tegang.
"Lo ngomong sama Luna semua, Lo minta maaf dan Lo bilang kalau Lo bakal selesaikan semua. Kalau anak – anak Lo udah tahu, Lo juga jelasin ke mereka. Tapi kalau mereka gak tahu, Lo gak usah kasih tahu mereka. Yang mereka tahu kalian itu keluarga bahagia, jangan rusak mental mereka dan jangan bikin mereka ngerasa hidup di keluarga yang broken home."
"Iya bang, Gue bakal lakuin itu sekarang. Makasih Lo udah buka pikiran Gue. Gue tutup sekarang," ujar Darrel yang langsung mematikan sambungan telpon. Lelaki itu langsung mengambil kunci mobil dan pergi dari perusahaan itu bahkan tanpa memakai lagi jasnya. Kemeja yang tadi pagi tampak rapi, kini lengannya suda tergulung sampai siku.
Lelaki itu bergegas untuk pulang ke rumah sebelum terlambat. Dia harus segera menemui istrinya, dia takut dengan reaksi Luna, namun dia lebih takut jika ternyata Luna sudah tahu dan menganggap dia sengaja menyembunyikan ini dari Luna. Dia tak mau Luna kebanyakan pikiran dan malah menjadi sakit.
Darrel langsung turun dan masuk ke dalam rumah, memanggil manggil nama Luna dan langsung memeluk Istrinya dengan erat dan hembusan napas yang benar. Luna kaget, namun dia membalas pelukan suaminya sambil menepuk punggungnya itu dengan lembut, seolah menenangkan suaminya yang terlihat sekali sedang mengalami beban yang berat.
"Maafin aku, aku minta maaf gk langsung kasih tahu kamu. Kalau kamu tahu setelah ini, aku harap kamu percaya sama aku. aku Cuma setia sama kamu, aku Cuma asayang sama kamu. Aku mohon percaya sama aku." lelaki itu memerosotkan badannya perlahan dan bahkan sampai berlutut di hadapan Luna.
Luna tentu kaget dan langsung berjongkok di hadapan lelaki itu. Luna tak menyangka Darrel sampai harus berlutut untuk meminta maaf. Lelaki itu tampak sangat menyesal dan frustasi, membuat Luna menjadi kasihan dan juga sedih. Dia tak mau suaminya menanggung beban seberat ini. dia tak mau suaminya frustasi sendirian.
"Tadi malam, tadi malam aku, aku." meski sudah menyiapkan semua kalimat yang akan dia katakan pada Luna, semua kalimat itu seolah menguap dan kini dia sangat gugup, dia tak tahu harus mengatakan kejujuran ini darimana. Dia tak mau membuat Luna terkejut, namun dia juga sudah kehabisan kata – kata hingga akhirnya dia hanya diam.
"Tadi malam kamu dicium sama cewek? Kamu mau minta maaf untuk itu? Memang kamu salah?" tanya Luna yang membuat Darrel mendongak. Lelaki itu menatap ke arah Luna dengan bingung sekaligus kaget. Ternyata Luna sudah tahu, namun wanita itu tampak biasa saja seolah hal itu bukan menjadi masalah yang besar.
"Ka.. kamu udah tahu? Kamu tahu dari mana? Ah, gak gak, kamu gak marah atau sedih? Maaf, aku gak bermaksud buat kamu sedih. Aku, aku bakal beresin semua. Aku gak ada apa – apa sama dia dan aku juga gak tahu kenapa dia tiba – tiba cium aku di hadapan semua orang," ujar Darrel tergagap namun juga cepat.
"Semalam ada paket yang dikirim buat Luna. Isinya foto perempuan itu yang lagi cium kak Darrel ada enam lembar loh kak, dari beberapa angle, ada depan, belakang, lengkap dan jelas. Mau lihat? Masih aku simpan kok," ujar Luna dengan tenang, namun malah membat Darrel makin bersalah. Istrinya kembali memanggilnya dengan 'kak' dia tak suka dengan panggilan itu.
"Kamu udah tahu dari tadi malam? Kenapa kamu gak bilang sama aku? kenapa kamu kelihatan biasa aja lihat itu?" tanya Darrel yang kini malah penasaran. Namun Luna malah tersenyum dan mengelus kepala Darrel seolah Darrel itu adiknya sendiri.
"Karna kamu gak mau cerita sama aku, jadi pasti kamu gak mau aku tahu. Karna sekarang kamu udah bilang ke Aku, berarti kamu udah percaya kalau kamu bakal menyelesaikan hal itu dengan bersih," ujar Luna dengan sangat dewasa, seakan wanita itu tahu suatu hari dia akan mengalami hal seperti ini hingga dia sudah mempersiapkan diri.
"Tapi waktu kamu gak banyak. Kamu jangan lupa sama anak – anak kita. Aku gak mau mereka tahu, untuk dia siapa dan apa motifnya, aku gak mau tahu, karna aku tahu kamu gak tahu dan bahkan gak terima kan dicium sama dia? Aku percaya kamu gak akan mengkhianati aku kok," ujar Luna dengan tenang.
"Kita udah nikah lama, gak Cuma satu atau dua tahun. Aku juga bukan ABG lagi, aku percaya sama kamu dan kau tahu kamu kan bucin sama aku, kamu gak mungkin berani atau bahkan punya niat buat selingkuh dari aku," ujar Luna yang berusaha buat mengubah suasana. Namun Darrel tak bisa mengubah moodnya seketika.
Lelaki itu memeluk Luna dan terus mengelus kepala Istrinya. Dia bersyukur memiliki Luna yang percaya padanya, bahkan wanita itu tak mengeluh sedikitpun, dia hanya memikirkan tentang anak mereka. Padahal Darrel tahu hati seorang istri pasti terluka melihat suaminya dicium oleh perempuan lain di depan umum.
"Mesra terus, mesra terus." Meski sudah mendengar suara itu, Darrel memilih untuk mengabaikannya dan masih saja memeluk Luna dengan erat, sampai akhirnya Luna sendiri yang memaksa melepaskan pelukan mereka dan menatap anak mereka satu persatu. Namun salah satu anaknya langsung berlalu bahkan tanpa mau menyalimi atau menyapanya.
"Ravi? Kamu gak mau salam sama mama papa dulu?" panggilan itu diabaikan oleh Ravi, anak itu terus berjalan sampai masuk ke dalam kamarnya. Rania yang tadi menggoda Mama Papanya dan Rashi yang ada di belakang Rania tentu menjadi bingung, biasanya lelaki itu sangat ramai, namun kini lelaki itu sangat diam, mencurigakan.
"Kamu bali kke kantor gih, pasti kan banyak kerjaan. Lanjut nanti malam aja kalau udah pulang. Kamu hati – hati, aku mau ketemu Ravi dulu, gak biasanya dia diam kayak gitu," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel. Luna langsung berjalan ke arah kamar Ravi sementara suaminya langsung kembali lagi ke kantor.
"Ravi, boleh mama masuk?" tanya Luna di depan pintu. Saat dia tak mendengar apapun, dia langsung masuk ke dalam kamar Ravi dan melihat anaknya itu ada di balkon. Luna mendekati anak itu dan ternyata di tangannya sudah ada ponsel dengan berita yang terpampang nyata. Pantas saja lelaki itu diam saja, rupanya dia sudah tahu masalah ini.
"Mama udah tahu masalah ini kah? Atau mama belum tahu? Mama, Mama tinggalin Papa aja, Ravi bakal ikut sama Mama, Ravi bakal jagain Mama dan gak akan biarin Mama terluka. Ravi sayang sama Mama, Ravi gak mau Mama dijahatin sama Papa," ujar Ravi yang sudah meneteskan air matanya.
"Mama kaget loh lihat kamu kayak gini. Biasanya kan kamu seenaknya sendiri, gak pernah sedih, ramai, Mama gak biasa lihat kamu diam kayak gini. Sepi deh rumah kalau tiap hari kamu kayak gini, ah seandainya kamu kayak gitu dari dulu," ujar Luna yang membuat Ravi berdecak.
"Mama.."
"Mama tahu kamu khawatir, kamu terlalu sayang sama Mama. Tapi kamu juga gak boleh benci atau berprasangka buruk sama Papa. Papa kamu bukan orang jahat dan Papa kamu gak pernah ada niat buat sakitin Mama, Mama juga gak pernah ngerasa sakit kok. Papa udah kasih tahu Mama dan Mama percaya Papa bakal selesaikan semua. Ini Cuma salah paham kok."
"Sejak dulu, papa kamu itu populer, jadi mama udah terbiasa sama fansnya Papamu. Kamu percaya sama Papa ya? Kamu percaya kalau Papa bakal selesaikan semua. Jangan pernah berpikir untuk membujuk Mama pisah dari Papa. Kamu gak mau kan hidup sama papa Muda yang ganteng?" tanya Luna dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Ravi jadi makin sayang sama Mama. Mama bisa bohong ke semua orang kalau mama baik – baik aja, tapi mama sakit kan ma? Mama terluka kan ma? Mama juga nangis kan ma? Mama yang kuat aja ya ma, Ravi bakal selalu ada buat mama," ujar Ravi dengan wajah yang serius.
"Kamu memang anak mama yang paling baik. Kamu jangan cerita masalah ini ke Rashi sama ke Rania ya? Mama gak mau mereka kepikiran dan malah buat papa kalian makin kepikiran dan sedih. Beban Papa itu udah besar, kita harus dukung dia biar semua segera selesai."
Luna mengelus kepala Ravi dengan lembut. Luna tahu Ravi bukanlah anak yang tidak bisa diatur. Lelaki itu hanya suka bertindak bebas, namun anak itu sangat mencintai Luna sebagai Ibunya. Lelaki itu akan marah atau sedih jika terjadi sesuatu pada Luna. Bahkan di antara ketiga anaknya, Ravilah yang paling peka dan cerdas terhadap keadaan, namun lelaki itu menyikapinya dengan santai dan penuh canda.
"Ya udah, kamu sekarang mandi terus makan. Kamu ingat pesan Mama ya? Keluarga kita bakal terus menjadi keluarga yang bahagia. Mama, Papa, Rashi, Kamu dan Rania. Selamanya bakal dengan formasi itu, gak akan berubah sama sekali.
*
*
*
*
Jangan Lupa Like, Comment dan favoritkan novel ini. biar author makin semangat updatenya.
See You