
"Lo bertengkar sama Papa ya? Mama bilang ke Gue." Suara itu tak membuat Ravi menoleh, bahkan dia enggan untuk menjawabnya. Dia sedang berada dalam fase lelah dan kesal karna bahkan papanya tak mau percaya padanya. Apakah memang begitu cara papanya memandangnya? Toh sejak lahir, papanya memang lebih menyayangi Rania dibanding yang lain.
"Lo harusnya tahu, papa kayak gitu karna dia peduli. Lagian Lo ngapain pakai bolos segala? Udah gitu ketangkap polisi pas lagi tawuran pula. Gue tahu Lo gak mungkin tawuran, gak mungkin berani Lo mah," ujar Rashi yang masih tak dijawab oleh Ravi. Namun Rashi tak menyerah, dia akan mengeluarkan semua kemampuan bicara yang dia miliki.
"Padahal di antara kami, Lo yang paling pintar. Lo bahkan bantuin Gue buat ngehancurin orang yang udah teror keluarga kita. Tapi kenapa Gue harus sembunyikan semua dari Mama Papa? Padahal mereka bakal bangga banget kalau tahu Lo seberbakat ini. Lo gak harus belajar buat jadi pintar, bahkan lo selalu pilih nilai Lo waktu ujian."
"Karna Gue bukan lo yang mau dilihat sebagai anak yang pintar sama Mama Papa. Langit gak pernah ngomong kalau dirinya tinggi, dan orang gak pernah tahu seberapa dalam bumi. Lo gak harus jadi orang yang terlihat pintar, tapi Lo harus jadi orang yang pintar."
"Kalau Lo orang yang pintar, kenapa waktu ujian negara Lo gak buat semua nilai Lo seratus? Gue yakin Lo bisa kan? Lo sengaja salahin jawabannya kan waktu itu? Kenapa?" tanya Rashi yang membuat Ravi tersenyum miring. Dia kira Rashi anak yang cerdas, namun ternyata lelaki itu hanya pintar dalam bidang pelajaran saja.
"Terus kalau Gue bisa dapat nilai sempurna, apa yang Gue dapat setelah itu? hadiah dari Papa? Terus apa? Gue dipaksa masuk ke sekolah yang bagus biar otak Gue gak sia – sia, Gue dipaksa melakukan sesuatu yang gak Gue suka. Menurut Lo gue mau? Maaf aja, Gue gak minat."
"Terus Lo brsembunyi dengan nunjukin kalau Lo itu anak nakal? Lo bikin Papa kecewa dengan tahu Lo ditangkap polisi? Apa menurut Lo itu tindakan yang benar? Gue masih gak bisa ngerti jalan pikiran Lo," ujar Rashi yang makin meninggikan nada bicaranya, dia tak suka dengan sikap Ravi yang membuat Papanya menjadi marah.
"Lo tahu apa? Selama ini Lo Cuma anak kesayangan Papa Mama yang terkenal bertanggung jawab dan bisa jaga adik – adik Lo. Mau Gue ngomong sampai mulut Gue berbusa pun Lo gak akan mau percaya dan cari hal lain yang bisa jatuhin Gue. Mending Lo keluar dari kamar Gue."
"Ravi, Mama mau ngomong boleh?" tanya Luna yang tiba – tiba sudah ada di belakang mereka. Rashi langsung keluar dari kamar itu dan Luna berdiri di sebelah Ravi sambil mengelus pundak anaknya yang bahkan jauh lebih tinggi darinya. Padahal anak itu baru berusia lima belas tahun.
"Kamu mau dimasakin atau dibuatin sesuatu gak? Kamu belum makan dari tadi pulang sekolah. Mama bawain makanan mau?" tanya Luna dengan halus. Ravi langsung menunduk, dan dia menggelengkan kepalanya. Luna tahu lelaki itu menahan tangisnya dan tak mau menangis di depan Luna. Luna memilih tak memaksa anaknya untuk makan.
"Mama percaya kamu bukan kayak yang Papa bilang atau pun polisi itu bilang. Mama tahu kamu punya alasan buat itu. Kamu mau gak percaya sama Mama dan cerita alasan kamu melakukan semua itu? Apapun yang kamu ceritakan, Mama pasti percaya sama kamu. Ada yang mau kamu ceritakan gak?" taanya Luna yang membuat Ravi menatap ke arah Luna.
"Maaf, Ravi capek Ma, Ravi mau istirahat, Mama nanti kalau keluar pintunya di tutup lagi ya," ujar Ravi yang langsung pergi dari hadapan Luna dan merebahkan dirinya di kasur. Luna mengikuti Ravi dan duduk ke sakur itu, bahkan Luna mengangkat kepala Ravi dan menidurkan lelaki itu di kakinya. Kali ini tanpa penolakan dari Ravi.
"Mama gak marah kamu bolos dari sekolah, dan mama tahu kamu gak melakukan sesuatu yang membuat kamu pantas ditangkap sama pak Polisinya. kamu tahu gak kenapa Om Jordan gak kaget dan langsung nebus kamu? Karna dulu dia lebih parah dari kamu, dia sering banget bolos dan suka banget berkelahi."
"Om Jordan? Mana mungkin Ma?" tanya Ravi yang terpancing dengan cerita Luna. Luna mengangaggukkan kepalanya antusias dan mengelus rambut Ravi yang sangat halus.Luna melanjutkan ceritanya dengan membongkar semua yang menjadi aib abangnya, meski dalam hati dia meminta maaf pada abangnya karna hal ini.
"Tapi kamu lihat kan sekarang Om Jordan seperti apa? Dia sangat cerdas dan memimpin banyak perusahaan besar di sana. Dia bahkan bisa nyusun strategi dengan sangat baik, dan yang paling penting, dia bisa melindungi keluarganya dengan baik, kamu tahu? Kamu mirip sekali sama Kakak Mama itu, dan mama percaya, pada waktunya nanti kamu bakal bisa seperti Om Jordan."
"Mama sangat menyadari kalau kamu, Rania dan Rashi itu sangat berbeda. Rashi itu seperti Papa kamu, dia mau yang terbaik dan selalu berjuang keras sejak muda. Papa kamu dulu punya restoran walau umurnya masih 16 tahun loh, hebat kan?"
"Rania itu seperti Mama yang manja, dan cenderung gak bisa apa – apa walau sebenarnya pintar. Di dukung papa kamu yang terlalu khawatir sama kondisi dia, tapi bukan berarti papa gak peduli sama kalian, Papa hanya memperhatikan Rania lebih hati – hati karna Rania memiliki kelaninan jantung, bahkan dia sudah dioperasi tiga kali dalam hidupnya."
"Terakhir, kamu, kamu itu lengkap, campuran antara Papa, Mama, dan Om Jordan. kamu cerdas, tapi kamu gak bisa diatur, kamu melakukan semua hal dengan cara kamu dan kamu bertanggung jawab untuk hal itu. itu sebabnya Mama selalu mengiyakan apapun yang ingin kamu lakukan, karna Mama tahu, kamu bukan anak yang sudah bertindak sembarangan."
"Percuma kalau Cuma mama yang merasa begitu, tapi papa gak bisa percaya sama Ravi, Papa bahkan sebut Ravi berandalan."
"Ravi, Papa kamu gak pernah ada niat untuk berbicara seperti itu. papa kamu mengatakannya karna dia khawatir dan dia kecewa karna kamu gak menelpon Papa kamu di saat kamu kesusahan, kamu malah menelpon orang lain. Semua yang kami lakukan itu karna kami sayang sama kalian. Kalian berbeda kan? Jadi rasa sayang yang kami tunjukkan jua berbeda."
"Mama harap, kamu bisa cukup bijaksana buat minta maaf ke Papa, bagaimana pun Papa juga Papa kamu dan kamu harus menghormatinya. Percaya sama Mama, Papa bukan orang jahat, dan Papa sayang sekali sama kalian," ujar Luna yang diangguki oleh Ravi.
*
*
*
"Ini lagi rapat DPR atau gimana, ini Cuma perasaan Rania atau kalian lagi marahan satu sama lain? Kenapa sih? Kemarin masih gak papa kok," ujar Rania yang heboh untuk memecah keheningan. Rashi langsung mencubit pelan lengan gadis itu agar dia diam.
"Aww, Papa, lihat bang Rashi tuh, masak Rania Cuma ngomong aja dicubit sih? Papa! Eh, kalian lagi serius ya? Maaf, Rania bakal diam aja deh, kalian selamat makan, Rania gak bisa makan di suasana kayak gini," ujar Rania yang tiba – tiba saja bangkit dari dudukny dan pergi dari tempat itu. Rania bahkan tak mendengarkan saat Luna memanggilnya.
"Rashi, ikut sama mama. Kalian, Mama gak mau tahu, kalian harus selesaikan masalah kalian malam ini juga atau kalian semua tidur di kamar mandi. Mama harus ketinggalan dua episodenya Oppa Soo hyun dan sekarang Mama juga gak bisa nontong dengan tenang. Rashi, ayo," ujar Luna dengan kesal.
Darrel mengangkat sebelah alisnya dan melihat Luna yang menggeret Rashi untuk pergi dari sana. Luna memasukkan Rashi ke dalam tangan dengan paksa dan menutup pintunya. Luna menyuruh seorang pelayan untuk membawakan makanan pada Rashi dan Rania, entah mengapa dia tak bisa sabar lagi melihat kedua orang yang dia kasihi membuat perang dingin di keluarga ini.
Sementara itu Darrel mencoba untuk bertindak seakan tak terjadi sesuatu dan mengambil sendoknya. Namun tidak dengan Ravi, anak itu masih merasa canggung dan tak berselera untuk makan. Lelaki itu menghela napasnya berkali – kali sampai akhirnya dia berdiri dari tempatnya. Darrel sudah pasrah dan hanya menghela napas saat tahu anaknya sangat marah padanya.
"Papa, Ravi minta maaf. Untuk semua yang Ravi lakukan, mmembuat Papa marah, Ravi minta maaf." Darrel langsung mendongak dan melihat anak itu. Darrel tersenyum dan ikut berdiri, lalu memeluk anaknya dengan hangat. Saat itu juga, tangis Ravi pecah.
"Ravi takut Papa benci sama Ravi, maaf karna Ravi belum bisa jadi anak yang terbaik buat Papa. Tapi Ravi bukan berandalan. Ravi emang membolos, tapi Ravi gak ikut tawuran dan bahkan kejadian ditangkap polisi itu Cuma salah paham. Ravi bukn anak yang jahat Pa."
"Papa tahu semua itu. Papa minta maaf udah ngomong kasar ke kamu. Papa sadar harusnya Papa gak melakukan itu. kamu tetap anak Papa yang hebat, kalian bertiga hebat, Papa selalu bangga sama kalian. Maafin Papa, Papa Cuma kaget lihat kamu bisa sampai ditangkap polisi, dan papa sedikit kecewa." Darrel melihat ke arah Ravi dan anak itu menatapnya dengan sedih.
"Papa kecewa karna bukan Papa yang kamu percaya buat bantu kamu. Kamu itu anak Papa, Papa bakal lakukan apapun untuk melindungi kamu. Papa mau di masa depan, kamu hanya emngandalkan Papa sama Mama buat masalah kamu, kamu mau janji?" tanya Darrel yang diangguki oleh Ravi.
"Ya, Ravi janji," jawab anak itu dengan yakin dan lantang.
"Nah, gitu dong, kalau gini kan enak, rumah rasanya gak kayak lagi di medan perang, tegang semua. Waktunya nonton Oppa tampan dan roti sobeknya," ujar Luna berjalan ke arah ruang TV, padahal di kamarnya juga ada televisi.
"Mama Luna, Papa Darrel punya suatu hal untuk dibicarakan. Ayo bicara," ujar Darrel yang berkedip ke arah anaknya dan langsung berjalan cepat untuk menghampiri Luna.
Ravi terkekeh melihat Darrel yang mengejar Luna dan langsung menggendong Mamanya itu, sebelum masuk ke dalam kamar, Ravi berteriak cukup keras.
"Ravi mau request adiknya perempuan, tapi yang mirip Papa aja biar Bule. Kembar tiga lagi juga boleh! Papa Semangat! Ravi yakin Papa Bisa!"
Luna memukul – mukul pundak Darrel pelan sementara Darrel terkekeh dan mengacungkan jempolnya ke arah Ravi yang memberinya semangat.
"Siap bertempur semalaman nyonya Muda? Aku cukup merasa pusing beberapa hari ini dan membutuhkan sedikit pelepasan." Luna bersemu mendengar hal itu. Luna mengalungkan lengannya ke leher Darrel dan berbisik.
"Jika tuan memaksa, tak ada yang bisa saya lakukan."
"Mereka menggelikan. Bagaimana bisa melakukan itu di hadapan anak di bawah umur?"ujar Ravi sambil menggelengkan kepalanya karna terasa geli. Yah, keluarganya yang gila akhirnya sudah kembali.