Dear Happiness

Dear Happiness
Chapter 24



Rania sedang memainkan ponselnya sambil duduk di kursi depan rumahnya. Dia merasa bosan dan akhirnya berjalan ke arah ayunan lalu memainkan ayunan itu. sudah lama sekali dia tak bermain di sana. Dia terlalu sibuk ingin menjadi dewasa, namun kini dia sedikit merindukan masa kecilnya. Dulu Darrel dan Luna sangat dekat dengannya, namun kini mereka sudah cukup sibuk.


Gadis itu menengok ke arah gerbang dimana terjadi keributan. Biasanya jika tamu Darrel, orang itu akan menemui Darrel di perusahanya dan jika itu tamu Luna, orang itu akan langsung masuk tanpa membuat keributan. Benar saja, seseorang yang bertugas menjaga gerbang sedikit berlari ke arahnya dan langsung berdiri di hadapannya.


"Nona Muda, di depan ada seorang wanita mencari pak Darrel, kami sudah mengatakan untuk pergi ke perusahaan, namun dia menolak dan malah ingin menunggu di rumah ini. maafkan atas keributan yang terjadi, saya akan mengusir wanita ini," ujar satpam itu yang membuat Rania kembali melihat ke arah gerbang dan turun dari ayunan.


"Jangan langsung diusir pak, siapa tahu memang tamu pentingnya papa, atau saudara jauhnya papa mama. Rania lihat dulu aja," ujar Rania yang diangguki oleh satpam itu. Rania menghampiri keributan di gerbangnya, membuat wanita yang ngotot itu langsung terdiam dan melihat ke arah Rania, memandang gadis itu dari atas sampai bawah.


"Ada yang bisa saya bantu tante? Tante cari siapa ya?" tanya Rania dengan sopan saat melihat dandanan wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu berdandan menor dengan lipstick merah menyala, bahkan rambutnya sudah dibuat kaku oleh hairspray, wajar kan Rania menyebutnya tante? Namun sepertinya wanita itu tak suka dipanggil begitu.


"Tante? Kamu pikir saya pernah nikah sama Om kamu? Saya ini masih muda, masih cantik. Kamu siapa sih? Masih muda udah tengil begini? Pembantu ya?" Rania tersentak mendengar ketidak sopanan tamu ini. Dia bahkan lebih mirip penagih hutang dibanding tamu. Apa papanya memiliki hutang pada wanita aneh ini?


"Kamu yang sopan! Yang ada di hadapan kamu ini nona muda keluarga Atmaja. Kamu kalau Cuma mau bikin ribut lebih baik pergi! Atau saya akan panggil polisi!" ujar satpam yang membuat wanita itu kembali memandang Raniadari atas sampai bawah, lalu timbulnya senyum licik yang menghiasi wajah tak cantik itu.


"Kamu nona Atmaja? Kok nona keluarga Atmaja gak ada cantik –cantiknya? Gak ada mewah – mewahnya? Kamu anak pungut ya? Ah, atau kamu pasti keturunan Ibu kamu ya? Saya jadi tahu Ibu kamu pasti jelek sekali," ujar wanita itu yang membuat Rania mendadak kesal. Dia sudah cukup merasa aneh dengan kehadiran wanita ini, namun kini dia benar – benar kesal.


"Maaf, saya gak ada waktu untuk orang aneh seperti anda. Silakan anda pergi dari sini," ujar Rania dengan dingin dan langsung berbalik. Orang itu langsung memutar otaknya. Dia seakan tak mau pergi begitu saja sebelum mencapai apa yang dia inginkan, entah apa yang diinginkan oleh wanita itu.


"Eh! Tunggu dulu, Darrel gak ada di dalam rumah ya? Dia lagi kerja? Duh, pacar Gue emang pekerja keras. Oh ya, saya ke sini Cuma mau kasih bunga nih buat dia. Karna dia gak ada di rumah, kamu aja yang kasihin ke dia ya?" teriak wanita itu yang membuat Rania berbalik cepat dan langsung menghampiri wanita yang ada di hadapannya.


~plaak


"Saya udah cukup sabar karna saya sadar saya lebih muda. Tapi saya gak segan untuk bertindak tegas untuk wnaita tidak tahu malu seperti anda. Anda jangan bicara sembarangan. Papa saya bukan orang yang seperti itu," ujar Rania yang membuat wanita itu kaget bukan main, tak mengira akan ditampar oleh 'anak kecil' di hadapannya.


"Jadi begini cara mama kamu ngedidik kamu? Pantas aja papa kamu nyeleweng! Ya udah kalau kakmu gak percaya! Kamu kasih aja bunga ini buat papa kamu dan lihat wajahnya. Giovan Darrel Atmaja gak akan mungkin lupa sama Natasha Elora. Jangan sampai lupa!" wanita itu langsung pergi setelah memberikan bunga yang dia bawa pada satpam.


Rania memegang dadanya yang tiba – tiba terasa sakit. Dia bahkan sampai tumbang dan harus berjongkok untuk menekan rasa sakit itu. satpam yang ada di sana langsung panik dan memegang pudak Rania, sampai Rania memberitahu dia baik – baik saja, dan bangun dengan sempoyongan sambil menatap mobil yang sudah berada di ujung gang lalu berbelok.


"Bunganya dimana pak? Biar saya buang aja. Cewek gila," ujar Rania yang mengambil alih bunga itu dan langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dia hendak membuang bunga itu, namun entah mengapa perasaan mengganjal langsung menghampirinya. Wanita gila itu sama sekali tak takut saat mengatakan hal aneh seperti tadi.


"Gak mungkin kan papa ada apa – apa sama cewek tadi? Gak mungkin kan Papa suka sama cewek model begitu? Gak tahu malu sekali. Ah, aku gak boleh ragu, aku harus percaya sama papa," ujar Rania yang hendak membuang kembali bunga itu tanpa melihat pesan yang ada di sana.


"Rara, itu apa?" tanya Luna yang tiba -tiba muncul entah dari mana. Reflek Rania langsung menyembunyikan bung aitu di belakang tubuhnya. Namun ternyata Luna sudah melihatnya dan langsung tersenyum melihat Rania. Wanita itu berjalan dengan senyum yang aneh, membuat Rania makin terasa aneh.


"Bukan apa – apa Ma, ini Rara juga mau buang kok. Mama dari mana deh? Kok tiba – tiba muncul kayak film horor?" tanya Rania yang membuat Luna langsung kehilangan senyumnya. Wanita itu menatap Rania dengan ekspresi yang tak bisa dibaca.


"Ah, coba mana lihat? Anak mama belum 17 tahun, masak udah punya pacar? Nanti sekolahnya keganggu loh. Coba sini, lihat bunganya? Wangi gak?" tanya Luna yang berusaha merebut bunga itu, namun Rania menghindar dan tak membiarkan Luna mengambil bunga ini. bisa gawat jika mamanya tahu bunga ini dari wanita yang mengaku pacar papanya.


"Rara ke kamar dulu ya Ma," ujar Rania yang langsung berlari dan menyembunyikan bunga itu di dadanya saat membelakangi Luna. Luna terkekeh melihat anaknya, dia jadi teringat saat dulu baru pertama kali berpacaran dengan Darrel, mereka sangat kaku dan tak berpengalaman. Namun siapa sangka mereka kini benar – benar terikat dan bahagia.


Luna hendak berjalan kembali ke kamarnya. Namun matanya menangkap sebuah kertas yang ada di lantai. Wanita itu terkekeh dan mengambil kertas itu, dia yakin kertas itu bagian dari bunga yag dibawa oleh Rania. Denegan iseng dia membaca isi surat itu agar bisa menggoda Rania nanti. Namun saat membacanya, ekspresi wajah Luna berubah.


"Kalau itu Cuma aku, aku bakal diam, aku bakal kasih waktu dan kesempatan buat suamiku selesaikan semua. Tapi kalau sampai anak – anakku yang kena, aku gak bis adiam aja." Luna langsung berjalan ke arah kamarnya dan mengambil tas. Dia menggenggam kertas itu dengan erat dan pergi dari rumahnya segera.


Luna langsung menuju kantor suaminya. Tempat yang sama sekali tak dia kunjungi selama beberapa tahun ini karna dia selalu berpendapat urusan kerja suaminya bukanlah lingkupnya, dia tidak akan menganggu dan datang jika bukan Darrel yang memintanya untuk datang. Namun kali ini dia tak bisa untuk menunggu Darrel sampai pulang.


Beberapa staff yang mengenal Luna langsung berdiri dan memberi hormat pada Luna, Luna membalas salam itu dengan senyum singkat. Dia tak bisa menyembunyikan kemarahannya kali ini. bahkan dia juga tak ingat kapan terakhir kali dia marah. Kini dia sangat terluka, bahkan dia kecewa pada suaminya sendiri.


"Apa Pak Darrel ada di dalam?" tanya Luna yang dijawab anggukan oleh asisten yang ada di depan ruangan Darrel. Asisten itu tampak ragu, namun Luna tak bisa melihat raut itu, Luna langsung masuk ke dalam ruangan. Sekali lagi, Luna mendapat kejutan dari suaminya.


"Luna? Kamu ngapain ke sini?" tanya Darrel dengan kaget. Di hadapan Darrel ada wanita yang membelakangi Luna, wanita itu menatap Darrel dengan senyumnya dan dengan kurang ajarnya wanita itu memegang kedua sisi pundak Darrel dengan tangannya. Hal itu dilihat semua oleh Luna, namun Darrel dengan cepat menyingkirkan tangan itu.


"Lo gak usah kurang ajar! Gue udah usir Lo berkali – kali, kenapa Lo bebal sih? Lo mau kerja sama kan? Ya udah, Gue bakal acc semua dan kasih suntikan dana, tapi stop ganggu keluarga Gue." Darrel mendorong pelan wanita itu dan langsung menghampiri Luna. Luna memandang Darrel tanpa ekspresi, bahkan wanita itu tak menangis sama sekali.


"Jadi kamu? Kamu yang ngirim bunga ke rumah kami dan kamu yang kirim surat sampah kayak gini? Maunya apa?" tanya Luna yang langsung menyingkirkan Darrel yang menghalanginya. Luna meremas kertas yang ada di hadapannya dan melempar kertas itu tepat di depan wajah wanita yang ada di hadapannya.


"Bagus kalau kamu udah tahu, sebenarnya aku ini pacar Darrel dan kami menunggu waktu untuk menikah. Kalau kami udah menikah, dia gak perlu nyuntikin dana lagi, karna perusahaan kami akan bergabung." Luna mendekat ke arah wanita itu, memandang wanita itu dari atas sampai bawah, lalu melihat ke arah suaminya yang menggelengkan kepalanya terus menerus.


"Kamu ngurus jalaang kayak dia aja gak bisa cepat? Dia punya power yang besar? Atau gimana? Aku selama ini diam karna aku percaya kamu bis acepat menyelesaikannya. Tapi tolong, jangan sampai anak – anak aku, anak – anak kita tahu keberadaan iblis kayak dia."


Wanita yang ada di hadapan Luna tampak tak terima dengan perkataan Luna. Dia hendak menampar Luna, namun Luna tak menghindar, takut bahkan berkedip. Jika bukan Darrel yang menangkap tangan itu, tangan itu pasti sudah menempel ke pipi Luna dan membuat bekas di sana. Darrel menepis tangan itu sampai wanita itu terjungkal.


"Kamu, kamu bakal menyesal udah bikin aku malu di hadapan cewek jelek ini." wanita itu langsung bangun dan pergi dari sana. Luna mengangkat sebelah alisnya sampai wanita itu pergi dari sana. Kini Luna memandang suaminya yang tampak kacau, banyak sekali yang dipikirkan oleh suaminya dan Luna tahu itu. melihat itu, tentu saja Luna jadi tak tega dan mengurungkan niatnya untuk mengamuk.


"Berat banget ya? Kenapa gak langsung diselesaikan? Kenapa dia sampai masuk ke kehidupan anak – anak kita?" tanya Luna yang kini bernada sedih. Luna memegang pipi suaminya yang baru dia sadari makin tirus. Lelaki itu menanggung banyak beban dan bahkan tak cukup tidur belakangan ini.


"Anak – anak? Anak – anak tahu masalah ini? maaf, maafin aku karna gak bisa jaga kamu dan anak – anak kita. Aku gak becus buat urus masalah ini dengan cepat. Aku gak bisa sembarangan, data penting perusahaan ada di tangan mereka, aku gak bisa anggap enteng mereka sayang."


Luna kini mengerti, dia tak bisa menyalahkan suaminya untuk masalah ini. Lebih penting mereka menyelesaikan masalah dibanding menambah masalah dengan saling menyalahkan. Luna sudah belajar banyak hal dengan hidup belasan tahun bersama Darrel. Lelaki itu selalu memberikan energi positif untuk rumah mereka sehingga Luna bisa tumbuh menjadi Ibu dan Istri seperti sekarang ini.


" Ravi sama Rania udah tahu, kalau Rashi aku gak yakin. Untuk anak – ank, kamu percaya aja sama aku. tapi jangan terlalu lama, aku gak bisa juga Cuma tenangin anak – anak, mereka juga udah besar, mereka pasti udah ngerti. Tapi aku yakin mereka juga percaya sama kamu."


Darrel mengangguk dan memeluk Luna, setidaknya dia bisa sedikit ebrnapas lega dengan dorongan dan semangat yang Luna berikan. Dia tidak mau keluarganya terluka, dia akan segera menyelesaikan masalah ini, bagaimanapun caranya. Darrel melepaskan pelukan Luna dan menatap tepat di manik mata wanita itu, perlahan Darrel mendekat ke arah Luna dan membuat Luna menutup matanya.


"Pak! Saya ada berita penting dan ini sangat bagus." Darrel dan Luna langsung menjauhkan diri dan bertindak canggung. Mereka lupa jika mereka sedang berada di tempat umum dimana kapanpun orang lain bisa masuk ke ruangan ini. Orang itu juga tampak kaget karna sudah mengganggu Luna dan Darrel, bahkan hendak menutup pintu kembali.


"Ada apa? Kenapa? Enak saja kamu langsung pergi setelah menganggu kami. Jika beritamu tak penting dan tak bagus, aku akan memeganggal kepalamu saat ini juga. Aku akan mengurungmu di dalam lemari dan akan aku keluarkan jika aku ingin." Luna hampir saja terkekeh mendengar hal itu, namun dia melihat suaminya sangat serius dengan hal ini.


"Perusahaan Natasha, sahamnya anjlok, sangat anjlok. Anda bisa melihat sendiri," ujar Asisten itu yang memberikan tab kepada Darrel. Darrel dan Luna langsung melihat ke arah tab itu dan berpandangan. Mereka masih tak menyangka hal seperti ini terjadi di waktu yang sangat tepat.


"Bagaimana bisa pas sekali?" tanya Darrel pelan pada dirinya sendiri sambil menggulir layar ke bawah untuk melihat detailnya.