
"Gue nanti sore bakal ketemu orang orang itu, lo kalau mau ya nongol, kalau enggak ya gak usah, takutnya lo yang dihajar sama mereka. Tapi kayaknya mereka gak berani macam macam di lingkungan sekolah pas ramai, pasti nanti mereka kena hukum, jadi kemungkinan mereka bakal ngajak kita pergi ke tempat sepi, baru deh di situ gue kasih uangnya."
"Lo mau kasih uangnya? Ke orang kayak mereka? Astaga, sia sia dong gue copet mereka kalau akhirnya lo kasih juga duitnya ke mereka," keluh gadis itu yang membuat Ravi memutar bola matanya. Apakah gadis di sebelahnya ini sangat bangga jadi pencopet? Kenapa dia selalu mengatakan dengan keras jika dia adalah pencopet?
"Ya gue kasih lah, kan gue udah janji. Lo nanti lihat aja gimana, lo juga bakal puas," ujar Ravi yang membuat Gadis itu menjadi bingung. Entah apa yang akan Ravi lakukan kepada mereka, namun dia juga ingin melihatnya, jadi mungkin dia akan pergi bersama Ravi ke tempat itu.
"Lo bawa pengawal kan? Karna gue benar benar gak berani ngadepin mereka kalau mereka pakai senjata, gue masih waras njir, gak mau wajah gue yang lumayan cakep ini, gak mau gue," ujar gadis itu yang membuat Ravi menghela napas. Dia sangat berisik bagi Ravi, padahal dia harusnya tahu jumlah pengawal sebanyak itu tidak akan membiarkan Ravi terluka, dan orang yang bersama Ravi juga akan mendapat perlakuan yang sama.
Tak lama berselang, makanan yang mereka pesan pun sampai, mereka memang harus Antre dengan yang lain, jadi meskipun pesanan mereka mudah, mereka akan mendapatkan makanan sesuai urutan. Mereka sudah tahu dan biasa dengan hal itu, jadi tidak ada yang protes atau merasa keberatan dengan aturannya. Begitu juga dengan Ravi dan Gadis itu, mereka banyak mengobrol sampai tak sadar makanan mereka sudah selesai disiapkan.
"Lo doyan makanan begini kan? Gak bakal sakit perut kayak anak kaya yang manja di film film itu kan?" Tanya gadis itu yang tidak dijawab oleh Ravi, dia memilih memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya untuk menjawab gadis itu. Ravi mencoba sayuran yang ada di sana dan ternyata enak. Dia tidak menyangka di kantin yang terpencil ini malah ada makanan uanh seenak ini.
"Ini tuh kantin yang jarang dikunjungi, padahal makanannya enak enak, karna yah yang masuk ke kantin ini cuma anak anak begajulan yang udah siap buat bolos. Ada kesiswaan sering mondar mandir juga sebenarnya, tapi hari ini ada acara, jadi bebas tuh pada ngerokok atau minum bir, biasanya gak separah ini, kalau diawasin."
Gadis itu menjelaskan tanpa ditanya karna tahu
Ravi penasaran kenapa kantin ini tidak pernah terekspose. Padahal makanannya enak dan masih ada di area sekolah. Yah, orang juga pasti mikir berkali kali untuk mau makan di tempat uang isinya anak bermasalah semua, mereka pasti takut akan dilibatkan atau malah dikerjai oleh anak anak nakal ini.
Padahal bagi Gadis itu dan anak anak di sini, mereka tidak akan menganggu orang yang tidak menganggu mereka. Mereka memang suka bolos, tapi mereka tak pernah berkelahi atau melakukan sesuatu yang tak pantas, mereka hanya melakukannya karna jenuh di sekolah, itulun mereka hanya pergi ke tempat tongkrongan karna jika pulang akan dimarahi orang tua mereka.
"Kalau gue sih bodo amat, yang penting enak. Thanks udah bawa gue ke sin,i dari kantin yang lain, iji paling enak," ujar Ravi yang kembali memasukkan makanan ke mulutnya. Dia melihat ke arah gadis yang juga ikut makan itu, dia satu satunya perempuan jika penjual tidak dihitung, namun dia tak takut ataupun malu, mungkin karna yang ada di sini semua adalah temannya.
"Kalau kata lo orang orang itu malakin anak yang namanya Robby karna Robby cupu, emang kalian nerima orang yang cupu di geng ini?" Tanya Ravi yang tentu membuat gadis itu mengerutkan keningnya. Memang apa maksudnya?
"Kami terutama gue gak pernah pilih pilih teman berdasarkan itu woi, kami cuma nyari orang uang gak cepu sama guru apapun yang kami lakukan ke sini, makanya tadi mereka lihatin lo, karna lo kelihatan anak baik baik, takutnya lo cuma mau cepuin apa yang lo lakukan di sini, lalau udah ya udah, lihat, gak ada yang jahat sama lo kan?" Tanya gadis itu yang diangguki oleh Ravi.
"Sistem pertemanan yang unik menurut gue. Karna biasanya yang pintar kumpul sama yang pintar, cupu ketemu cupu, sangar ketemu sangar, dan yang kayak lo gini, ya ketemunya yang gitu gitu aja," ujar Ravi yang membuat gadis itu tertawa. Sepertinya Ravi salah menilainya.
"Nama gue Arthea, lo bisa lihat di papan mading dan lo akan tahu siapa gue. Dan itu Aldo, dia cowok famous yang disukain banyak cewdk karna smart dan ganteng, tapi ya karna dia begajulan, jadilah dia di sini, walau alasan utamanya karna cewek cewek itu gak berani ke sini, jadi dia bisa tenang."
"Tujuan gue bilang ini ke Lo cuma biar lo tahu, di sini tuh bukan tempat anak anak nakal, yah, maksudnya gak semua. Tapi di sini tuh tenang, bahkan sangat rapi gak kayak di depan sana. Lo lihat aja, apa mereka ngantre sabar? Mereka saling teriak, saling srobot buat makanan mereka tapi lo lihat, apa di sini ada yang teriak teriak nanya makanannya mana?"
Ravi baru menyadari hal itu, dia baru sadar orang orang di sini tidak ada yang berteriak sama sekali. Ravi langsung mengubah pandangannya dan menilai orang di sini adalah orang orang uang baik, namun karna mereka sudah terlanjur di cap nakal, mereka tidak bisa mengubahnya lgi, jadi mereka bertindak seperti biasa dengan mengabaikan pikiran orang tentang mereka, yang penting mereka juga bahagia dengan apa yang mereka lakukan.
"Gak usah takjub begitu, kami juga biasa aja di sini, jadi ya kalau lo mau gabung, lo bisa tetap ke sini, sering sering gak masalah, tapi ya itu tadi, jangan cepu. Karna ada banyak hal yang akan terjadi di sini, ini sih mereka masih biasa aja, nanti kalau udah luar biasa, lo juga kaget sih mungkin," ujar gadis itu yang diangguki oleh Ravi, dia tak merasa akan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
"Oh ya, nama gue Arthea, tadi gue udah bilang. Nama lo siapa?" Tanya Gadis itu yang baru ingat mereka tak pernah berkenalan. Ravi langsung mengulurkan tangannya dan dijabat oleh gadis yang mengaku pacarnya beberapa jam yang lalu itu. Dia tersenyum manis sambil menunggu Ravi mengucapkan namanya, namun Ravi malah terpesona demgan senyum itu, membuatnya jadi salah fokus, gadis yang urakan memiliki senyum yang manis.
"Ah, ya, sorry, gue ngelamun. Nama gue Ravi, Ravindra," ujar Ravi yang membuat gadis itu mengangguk. Mereka melanjutkan makan sampai selesai, lalu memilih untuk nongkrong di luar warung karna ada beberapa orang yang merokok, Ravi takut badannya akan ikut bau rokok dan Luna akan mengintrograsinya sampai besok pagi, dia tak mau menerima resiko itu, jadi lebih baik dia keluar dari warung itu.
"Gue harus minta maaf lagi dengan benar karna tadi pagi gue udah ngaku jadi pacar lo bahkan cium pipi lo begitu aja. Gue juga geli sendiri sebenarnya, tapi ya gimana, gue harus bikin mereka dengar dan percaya kalau pacaran sama gue, barulah mereka bakal nagih ke lo."
"Dan menurut gue, lo kasih tahu dulu cewek lo tentang ini, karna pasti bakal ada beritanya dan kalau cewek lo tahu, dia bisa salah paham, mending dikasih tahu sekarang," ujar Thea yang tentu membuat Ravi terkejut. Apakah berita itu akan sampai ke telinga Alena? Padahal Alena tidak bersekolah di sini. Jadi tidak mungkin kan?
"Ah, iya, pasti dia cewek yang baik dan cantik, makanya bisa dapat lo," ujar Thea dengan canggung karna tidak tahu Ravi sudah punya kekasih dan bahkan membanggakannya di depan Thea. Dia awalnya hanya ingin tahu Ravi sudah punya kekasih atau belum, rupanya lelaki itu sudah punya kekasih yang sah.
"Ya, dia baik, cantik, dan benar benar tipe gue. Eh tapi gak usah bahas dia, ntar lo sama gue jadi canggung. Besok deh kalau ada waktu, gue kenalkan lo ke dia," ujar Ravi yang diangguki oleh Thea karna dia tak tahu harus menjawab apa lagi, apakah lelaki itu ingin menuang minyak dalam api dengan mengenalkan teman wanita ke kekasihnya?
"Ya udah, gue mau balik ke kelas, nanti pas pulang sekolah kalau lo mau lihat, ya lihat aja, santai," ujar Ravi yang diangguki oleh Thea, dia hendak mengantar namun Ravi menolak, dia akan pergi ke kelasnya sendiri saja.
Setelah jam pelajaran berakhir, mereka semua berhamburan ke luar kelas, kecuali Ravi yang meminta kepala pengawal nya untuk mengamankan lokasi sebelum dia melakukan transaksi pada orang itu, dia tidak mau mengambil resiko orang lain akan melihat mereka dan salah paham, jadi mereka bisa melakukannya dengan tenang jika lokasi dipastikan aman.
"Wah, gue kira lo gak berani datang ke sini, lo pasti punya duit yang banyak ya? Ya udah, mana supir lo, gue mau ambil duitnya terus urusan kita selesai. Tapi gue gak punya banyak waktu, lo cepat serahkan duit gue," ujar orang itu yang membuat Ravi mendesis.
"Masih ramai, lo mau ketahuan orang terus viral kalau lo malakin gue? Lo lihat tuh banyak ciwi ciwi yang naksir gue, mereka bakal laporin kalian ke guru, jadi mending jangan di sini," ujar Ravi yang tentu tidak membuat mereka percaya. Namun Ravi berhasil meyakinkan mereka dan membawa mereka pergi dari sana.
Ravi berdiri di hadapan orang itu dan meminta salah satu pengawalnya untuk maju, lalu memberkan bungkusan berisi uang satu juga rupiah. Mereka tak langsung memberikannya dan malah banyak pengawal turun menangkal 3 orang anak buah serta tangannya dan mengamankan pisau yang ada di sana.
"Gue akan kasih semua ke lo, di sini ada 3 juta. Tapi apa yang akan dimainkan, lo akan tahu dari dia. Kalau lo mau, lo ambil duitnya, kalau lo gak mau, ya udah, gue pergi dan lo bisa lihat, pengawal gue banyak, lo gak akan bisa macam macam sama gue," ujar Ravi yang membuat orang itu meneguk salivanya susah payah.
"Oke, kasih tahu permainannya dan kalau memungkinkan, gue akan mainkan, kalau enggak, gue akan minta langsung duit 1 juta yang udah lo mau kasih ke gue," ujar orang itu yang membuat Ravi terkekeh. Dia meminta pengawal menjelaskan permainan dan dia menonton dari jauh bersama dengan Thea yang sudah ada di sana entah sejak kapan.
"Oke, pemainannya, saya akan memberikan satu lembar yang 50 ribuan ini untuk kamu, kalau kamu mau saya tampar untuk setiap lembarnya. Tenang saya, hanya tampar, bukan tonjokan atau yang lain," ujar pengawal Ravi yang membuat anak itu berpikir. Mungkin tidak apa apa jika ditampar sedikit, toh dia akan mendapatkan uang yang banyak sebagai upah.
"Oke, tampar ya, kalau sampai tonjok, lo juga yang akan gue tonjok sebagai balasannya," ujar anak itu yang membuat pengawal tertawa. Dia langsung memberikan pipinya pada pengawal dan pengawal langsung bersiap untuk menampar, pengawal itu memberikan terlebih dahulu 1 lembar berwarna biru, lalu memberiksn tamparan. Begitu sampai dia mendapat 400 ribu.
"Kalau kau mau, kau bisa menginvestasikan tonjokan dengan beberapa tonjokan. Maksudnya begini, kau bisa mengambil 10 lembar 50 ribuan itu, lalu saya akan menampar anda setara dengan kekuatan 10 kali, jadi anda hanya perlu ditampar sekali. Bagaimana?" Tanya pengawal yang tentu membuat orang itu tertarik.
Dia menerima tawaran itu karna merasa tamparan orang ini tak terasa, jadi dia tidak akan merasa kesakitan meski 10 kali lipat. Dia sengaja menerima agar dia bisa segera pulang dengan membawa uang yang banyak juga.
Pengawal memberikan 20 lembar 50 ribuan, lalu bersiap untuk menampar orang itu dengan 10 kali kekuatan yang dia miliki.
Plaaakkkkk
Suaranya sangat keras, bahkan anak itu sampai terjatuh dan pingsan seketika mendapat tamparan itu.
"Pertunjukan selesai," ujar Radith yang langsung pergi dari sana, namun Arthea masih tampak bingung dan merasa Radith melupakan sesuatu yang penting.
"Uangnya gak lo ambil dulu?" Tanya Thea yang dijawab gelengan kepala oleh Radith, jadi membuat Thea semakin bingung karna itu bukan uang yang sedikit.
"Anggap aja gue ajak lo dan para pengawal buat nonton sirkus. Tiketnya sesuai lah, kan orangnya banyak. Gak usah lo pikirin, dia udah melakukan permainan dengan baik, ya itu hadiah dia."
Thea merasa kagum dengan sikap Ravi yang tetap sportif meski dia dalam kondisi rugi saat ini.