
Musik berdentum di rumah Adlan yang ditinggal oleh kedua orang tuanya. Wlaau mengundang banyak orang, rumah ini masih cukup untuk menampung semua, dan kebetulan sekali jarak antar rumah cukup jauh, jadi dia tidak perlu khawatir akan mengganggu tetangganya. Di pesta ini, Adlan hanya memberi syarat tidak boleh ada alkohol di sana, jadi Rashi hanya menyiapkan minuman bersoda yang 0 alkohol.
"Lihat Rania gak?" Tanya Rashi pada Adlan yang memakan camilan di sana. Adlan menggelengkan kepalanya, sedari tadi tidak menyapa atau melihat siapa saja yang datang, makanan di sini terlalu enak, padahal dia sudah pernah berjanji tidak akan makan banyak lagi mengingat tubuhnya pernah seperti daging buntal yang tidak enak dipandang.
"Mungkin belum datang, dia kan bilang mau datang sama Alena, mungkin masih nunggu Alena atau gimana," ujar Adlan yang diangguki oleh Rashi. Dia tidak merasa Rania baik di tempat seperti ini, jantung Rania yang lemah mungkin akan dalam bahaya jika memaksa untuk berdetak mengikuti tempo musik yang cepat, Rashi saja merasa dadanya cukup sakit karna tidak pernah berpesta begini.
"Kalau lo lihat dia, langsung ngomong aja suruh ke atas ya, kamar nyokap bokap udah lu kunci kan? Gue mau pinjam ruang atas buat istirahat, pusing banget kepala gue," ujar Rashi yang diangguki oleh Adlan. Padahal Rashi yang meminta pesta, Rashi juga yang merasa tak nyaman di sini, anak yang aneh.
"Oke, nanti kalau gue lihat dia, langsung gue suruh ke atas ketemu lo," ujar Adlan yang langsung berbaur dengan teman temannya. Ini pertama kalinya dia mengadakan pesta di rumahnya, pesta sungguhan, biasanya dia hanys bbq atau makan makan di rumah ini, tidak pernah samoai ada dentuman musik ataupun makanan yang sangat banyak dan tak sehat ini.
Untung saja Rashi berjanji akan membuat rumahnya beres seperti sebelumnya dalam waktu semalam, karna lusa orang tuanya sudah sampai di rumah dan akan menjadi bencana jika Bunda dan ayahnya tahu rumah mereka dijadikan tempat berpesta. Sekadar informasi, orang tua Adlan cukup agamis dan kaku untuk hal seperti ini.
Radhi sangat mengagumkan karna anak itu bahkan bisa membuat pesta yang makanannya tak akan habis, dia menyewa jasa yang akan terus menyetok makanan jika habis, dengan menu yang baru juga. Dia juga menyiapkan orang yang bertugas untuk beres beres agar tidak ada piring atau gelas yang pecah. Entah berapa rupiah yang dia keluarkan, dia memang membuktikan keluarga Wilkinson sangatlah kaya.
Sepuluh menit kemudian, Adlan melihat Rania, Alena dan Ravi sampai, dia langsung menghampiri mereka, takjub dengan Alena yang sangat cantik malam ini, namun tetap saja, di hatinya hanya ada Rania. Dia menyampaikan pada Rania apa yang dipesankan oleh Rashi, lalu Rania mengajak Ravi untuk menemaninya.
Yah, untuk berjaga jaga jika ada yang iseng, ada orang yang membantunya. Karna di situasi ramai begini, bisa saja orang iseng itu menyiapkan suatu rencana dan menjebaknya untuk melakukan sesuatu yang tak baik, dia tak bisa berteriak karna suasana yang ramai, dan dia nanti ...
"Gak usah berkhayal, hidup kamu gak sedramatis kisah novel. Noh Rashi lagi tiduran di sofa dan gak ada siapa siapa lagi di sini," ujar Ravi yang membuyarkan lamunan dan imajinasi Rania. Lelaki itu tahu Rania pasti memikirkan sesuatu yang aneh, karna memang Rania anak yang lebih menggunakan otak kanan, imajinatif.
Berbeda dengannya yang seimbang, dan Rashi yang cenderung menggunakan otak kiri, realistis. Ravi merasa bosan di atas situ dan langsung turun ke pesta. Yah, saat dia sekolah di STM, tidak ada pemandangan yang enak untuk dilihat lama karna mayoritas pria, namun kini dia bisa melihat banyak gadis di sana, bahkan banyak yang berpakaian kurang bahan.
"Hai cantik, kamu cantik banget hari ini," ujar Ravi yang mulai menggoda anak cantik di sana. Dia tahu anak itu pasti teman Rashi, ah, atau mungkin teman Alena. Ravi tidak bisa bertanya karna jika ini adalah teman Rashi, dia akan dicurigai, tidak mengenal temannya sendiri. Ya betul, Ravi memang sengaja menyamar sebagai Rashi dan menggoda mereka. Toh mereka pasti tidak tahu Ravi dan Rashi adalah kembar identik.
"Lo Rashi kan? Anak baru dari kelas X? Wow, lo ganteng banget ya ternyata kalau dari dekat begini. Anyway, selamat, gue dengar kalau lo lolos ke babak berikutnya, gue gak ngira udah lama sekolah kita gak lolos, akhirnya lolos juga," ujar anak itu yang diangguki oleh Ravi, dia tahu harus menjaga lisannya agar orang orang ini tidak curiga.
"Oh ya, ke sini diajak siapa?" Tanya Ravi yang membuat orang itu tersenyum senang, saat di sekolah Rashi selalu bersikap dingin dan tidak berperasaan, namun rupanya Rashi anak yang ramah (yah, orang itu kan mengira Ravi adalah Rashi) saat di luar sekolah, pasti akan mengagumkan banyak orang karna sikapnya.
"Ah, Alena, anak cupu itu bilang ada pesta di rumah Adlan karna lolos lomba. Gue ke sini cuma karna dia bilang lo juga datang, coba kalau enggak, males banget gue ngeiyain ajakan anak cupu itu, ya gak?" Tanyanya pada teman temannya yang diangguki oleh mereka. Ravi tertawa walau agak canggung, mereka tak tahu saja Alena sangat cantik malam ini.
"Well, karna udah di sini, lo gak mau gitu having fun sama gue?" Tanya orang itu yang menurunkan bahunya, menampakkan pemandangan yang indah di sana. Ravi meneguk salivanya, namun dia tak mau bersikap norak dan ketahuan tidak pernah melihat benda itu. Dia tertawa dan mengiyakan apa yang gadis itu katakan.
Gadis itu menggandeng tangan Ravi ke tengah pesta dan mulai menari di sana. Ravi juga mencoba untuk berbaur, dia menggerakkan tubuhnya sesuai naluri, dia menatap gadis yang ada di depannya, makin liar dan menggoda. Bahkan dia berani melepas kancing kemeja yang Ravi kenakan. Ravi tahu ini bukan anak yang benar, namun kapan lagi dia mendapat keuntungan dengan modal 0?
Gadis itu mulai menempel nempelkan tubuhnya, bahkan di sela sela dia menari dan melonjak, tanpa malu gadis itu memegang dua kembar miliknya dengan tangannya sendiri. Saat itulah Ravi mulai geli, dia tidak bisa pergi dari sana, namun dia juga tak tahan dengan apa yang dilakukan gadis itu.
Tak cukup sampai di sana, gadis itu mengambil tangan Ravi dan meletakkannya ke dua gundukan itu. Ravi langsung menarik tangannya, nakun ternyata orang itu cukup keras menarik tangannya sehingga dia tetap menyentuh dua benda kenyal itu, ah, apa ini? Kenapa tubuhnya jadi terasa aneh?
Saat itulah seseorang langsung menarik tangannya menjauh. Alena! Gadis itu menyelamatkan Ravi dari anak yang tidak benar, membuat Ravi selamat dari godaan setan dan baru saja dia akan membuat malu keluarganya, untung saja Alena melihat dan menariknya.
"Gue gak ajak dia, dia mau ikut sendiri dan yah, sebagai anak cupu di sekolah, gue harus mengiyakan apa yang dia minta, atau dia gak akan berhenti gangguin gue. Gue kira dia gak akan berulah, siqpa sangka dia bakal sebinal itu sama lo," ujar Alena panjang lebar yang membuat Ravi mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Wow, gue gak nyangka bakal lihat lo ngomong sepanjang itu sama gue secara langsung. Padahal pas itu aja lo gak berani natap gue, lo juga gak mau ngomong. Salut lah gue sama perkembangan ini," ujar Ravi yang membuat Alena malu, dia tidak menjawab lagi. Ravi melihat orang itu mulai mendekat, Ravi panik dan langsung menarik pundak Alena untuk mendekat ke arahnya.
"Lo diam dan percaya sama gue," ujar Ravi yang langsung mendekat ke arah Alena, membuat dari pandangan gadis itu, Ravi sedang mencium Alena, padahal tidak. Dia mempertahankan posisi itu sampai beberapa saat dan langsung menjauh, untung saja cara itu berhasil mengusir kuntilanak ganas yang siap menerkamnya.
"Sorry, gue gak bermaksud kurang ajar, tapi cuma itu cara biar dia atau mereka gak mendekat. Mungkin setelah ini mereka bakal iri sama lo udah bisa ciuman sama Rashi, anak baru yang hits dan idaman kakak kelas," ujar Ravi yang tidak ditanggapi oleh Alena karna gadis itu masih terfokus pada pikirannya sendiri.
"Hei? Lo gak papa? Lo marah ya? Maaf karna gue gak ijin dulu, gue tadi panik banget makanya gue minta lo diam aja, tadi gak kena juga kan? Lo gak merasa dilecehkan sama gue kan? Please maafin gue, gue gak maksud bikin lo merasa direndahkan atau bahkan trauma," ujar Ravi panjang lebar karna Alena hanya diam, membuatnya merqsa bersalah.
"Gak papa, toh udah kejadian, gak bisa diapa apakan. Gue cuma kaget aja," ujar Alena yang diangguki oleh Ravi, dia lega karna Alena tidak marah atau takut padanya. Setelah mengobrol beberapa saat, Ravi merasa harus mengecek kondisi Rania. Walau Rashi pandai berkelahi, dia tetap akan kalah jika diadu dengan Ravi. Jadi untuk menjaga Rania, Ravi lebih percaya diri dibanding Rashi.
"Eh, kak Ravi gak ambilin Rania makan atau minum? Rania gak dibolehkan sama kak Rashi buat turun, katanya musikhya keras dan bahaya buat jantung Rania, padahal Rania udah dandan cantik, eh malah gak bisa ketemu orang orang, sedih banget," ujar Rania yang membuat Ravi terkekeh. Dia setuju dengan Rashi untuk hal ini, musik yang keras tak baik untuk jantung Rania yang berbeda dari orang pada umumnya.
"Ya udah, tuh biar Rashi aja yang ambil, gantian. Aku capek kalau harus naik turun. Shi, ambil gih," ujar Ravi yang membuat Rashi berdecak. Anak itu tidak mau bangkit karna kepalanya yang masih pusing. Dia tidak tahu kenapa dia selemas dan sepusing itu, namun percuma juga bicara, karna Ravi akan menganggapnya beralibi.
"Yah, oke deh kalau gak mau, Rania ambil sendiri aja," ujar Rania yang langsung berdiri. Tentu dia tidak keberatan, dia juga jadi bisa mengikuti pesta yang ada, pasti sangat seru. Dia ingin sesekali bisa berada di tempat itu, menari dan kenikmati musik yang keras, meluapkan stres yang ada di kepalanya. Namun baru saja dia melangkah, Rashi dan Ravi langsung memegang tangannya.
"Aku yang turun, kamu di sini," ujar Rashi yang langsug membuat Ravi tersenyum, yah, kelemahan mereka masih sama, yaitu Rania. Walau mereka kembar, Ravi dan Rashi selalu merasa Rania adalah anak kecil yang sangat perlu mereka jaga, jadi tidak akan membuat Rania dalam bahaya.
"Semoga aja Rashi gak dapat masalah pas di bawah nanti, bisa bisa aku yang diamuk kalau dia dapat masalah," ujar Ravi yang membuat Rania bingung, namun dia tidak bertanya karna tahu Ravi tidak akan pernah memberitahunya jawaban yang benar, jadi percuma saja, buang buang waktu, buang buang napas dan buang buang tenaga.
Sementara itu Rashi turun dengan lemas untuk mencari makanan yang paling tidak boleh dimakan oleh Rania. Dia mengambil beberapa makanan, namun tiba tiba saja seseorang menarik tangannya, membuat beberapa makanan itu terjatuh. Saat itu, Rashi langsung tersulut emosi karna tidak suka membuang makanan dan orang orang bodoh itu membuatnya melakukan hal yang dia benci.
"Ayo kita dancing lagi, lo enak dan asyik banget tadi ngedancenya. Sekalian mau ngerasain yang lain? Boleh aja," ujar orang itu yang menurunkan bajunya sedikit. Rashi menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi tak suka. Sungguh, dia tidak mengerti kenapa seorang gadis yang seharusnya berharga, malah menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Sorry Lin, Rashi sama gue," ujar Alena yang menyahut dari arah lain dan langsung mengajak Rashi pergi dari sana. Barulah Rashi menyadari Alena sangat cantik. Dia bahkan tampak lebih cerah, bajunya juga sangat cantik, ah, ini baju Rania, Rashi mengenalinya, ternyata baju Rania sangat cocok dan cantik jika dipakai oleh Rashi.
"Tadi Ravi main main sama mereka, tapi dia gak bilang dan mereka gak tahu kalau kalian kembar, jadi mereka ngira itu Rashi, dan yah begitulah," ujar Alena yang membuat Rashi juga takjub, namun dia pandai menyembunyikan ekspresinya, dia tetao datar dan seolah tak terkesan.
"Udah gue duga sih, tuh anak emang gak bisa gak bikin masalah," ujar Rashi yang membuat Alena tertawa tipis, ah, gadis itu sangat cantik, jauh lebih cantik saat tersenyum begitu. Itulah yang dipikirkan oleh Rashi, namun tentu tidak dia ungkapkan, tidak mau ada hubungan spesial dengan gadis yang dia anggap aneh.
"Gue mau naik, bawa makanan buat Rania sama Ravi. Lo mau ikut naik atau di sini aja?" Tawar Rashi karna melihat Alena sendirian saja, rasanya kasihan jika harus sendiri di tengah pesta seperti ini.
"Ikut," ujar Alena singkat karna merasa pilihan itu jauh lebih baik. Akhirnya Alena dan Rashi membawa banyak makanan untuk teman ngobrol di lantai 2 nanti.