
Setelah semua orang pulang, Rashi memanggil orang untuk membereskan rumah Adlan seperti semula, sementara mereka pergi ke halaman belakang untuk barbeque. Untung saja baik orang tua Adlan maupun si kembar, keduanya sedang ada di luar kota, jadi mereka bebas untuk berkumpul dan bermain di rumah ini, selagi ada pengawal tak kasat mata yang menjaga mereka, semua akan baik baik saja.
“Alena, kamu gak papa kalau pulang sampai malam? Kamu gak dicari?” tanya Rania yang baru sadar akan hal itu dan mengkhawatirkan Alena. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tidak baik bagi anak perempuan asing ada di sekumpulan anak lelaki (yah, berbeda dengan Rania, dua dari tiga lelaki ini adalah kakak kembarnya, jadi dia pasti aman.
“Aku tinggal sendiri di rumah sih, jadi gak papa, di sini juga sru, aku punya teman baru,” ujar Alena yang membuat Rania dan yang lain lega. Mereka duduk berhadapan di udara yang dingin. Rania dan Alena memakai gaun, jadi mereka pasti kedinginan. Rashi masuk ke dalam rumah Adlan dan mengambil jas yang dia bawa, yah, dia hanya membawa 1 jas di sini.
“Ran, pakai jas aku, kamu kedinginan,” ujar Rashi yang membuat Rania tersenyum dan menerima jas itu. Dia menatap ke arah Alena yang juga kedinginan, membuatnya jadi tak tega, namun tak mau membuat suasana menjadi canggung, dia menatap ke arah Adlan dan membiarkan Adlan membaca sorot matanya. Untung saja Adlan mengerti dan dia masuk ke dalam rumahnya. Dia keluar dengan membawa selimut, ah, lelaki itu punya cara berpikir yang unik.
“Kamu masih kedinginan kan, pakai selimut ini aja, Jasnya kembalikan ke Rashi,” ujar Adlan yang sebenarnya tidak sesuai dengan rencana Rania, dia hanya ingin Adlan memberikan selimut itu pada Alena bukan untuknya. Namun karna terlanjur, akhirnya Rania menerima juga selimut itu dan memberikan jas yang dia pakai pada Rashi. Rashi tentu bingung harus diapakan jas itu.
Rashi melihat ke arah Alena yang juga kedinginan, namun berusaha menutupinya. Dia akhirnya mengerti kenapa Rania dan Adlan melakukan ini, dia memberikan jas itu pada Alena agar gadis itu tidak kedinginan. Alena tentu menerima dengan senang hati dan memakainya, cukup menghangatkan tubuhnya dari udara yang dingin. Yah, mereka seperti dua pasang orang yang sedang berkencan.
“Ya, dan gue Cuma tukang daging yang dibayar buat Barbeque hari ini. Jangan pedulikan gue, anggap gue patung batu yang tampan,” celetuk Ravi yang membuat Rashi menjadi canggung. Ravi sudah biasa meledeknya, namun karna dia tidak kenal dengan Alena, tentu saja rasanya sedikit berbeda. Begitu juga Rania dan Adlan. Meski mereka teman masa kecil, mereka tidak dekat, jadi rasanya canggung.
“Gue ambil sosis dulu, sekalian ambil pisau daging, mau ngepocel daging segar di sini,” ujar Rashi tajam pada Ravi yang sengaja membuat suasana menjadi canggung bagi mereka. Yah, Ravi tentu saja tidak takut dan tetap membakar daging daging itu dengan tenang. Toh Rashi tidak akan mungkin berani dan tega membacoknya hany untuk hal seperti ini.
Mereka menghabiskan waktu dnegan mengobrol dan tertawa, seperti yang diharapkan, Adlan dan Ravi adalah penghangat suasana di sini. Mereka mengeluarkan banyak lelucon dan menyerang satu sama lain hanya untuk bergurau. Sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tidak baik semakin lama berada di luar, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
“Shi, Lo antar Alena pulang aja, Gue pulang sama Rania, kasihan dia pulang sendirian tengah malam begini. Mobil dia biar di rumah aja, besok lo jemput dia lagi dan pulangnya bareng aja ke rumah buat ambil mobil dia. Udah tengah malam, bahaya kalau dia pulang sendiri,” ujar Ravi yang tak berhenti iseng pada Rashi, namun dengan wajah yang serius, jadi Rashi tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh Ravi.
“Iya benar, Rania sama kak Ravi aja, kak Rashi antar kak Alena, terus besok kita berangkat pulang bareng, kan bisa tuh, gak tega juga kalau kak Alena harus pulang sendiri,” ujar Rania yang membuat Rashi menghela mapas. Jika Ravi yang meminta, dia bisa menolak, namun jika itu Rania, dia merasa harus mengikutinya dan tak bisa menolak lagi. Akhirnya mereka pergi sesuai dengan rencana Ravi dan berpisah dari rumah Adlan.
Meski masih berusia 16 tahun, Rashi dan Ravi sudah diperbolehkan oleh Darrel mengendarai mobil mereka sendiri, dengan syarat mereka akan tetap diikuti oleh orang orang dari papanya dan tentu tidak dalam jarak yang jauh. Ah, satu hal yang lebih penting, jika mereka ditilang, mereka hrus mengurus semua sendiri, termasuk membayar denda dengan uang saku mereka, jadi mereka bisa memikirkan harus menyetir sendiri atau bersama dengan supir.
“Maaf udah ngerepotin, sebenarnya gak papa sih gue anik mobil sendiri, daripada begini,” ujar Alena disela keheningan yang ada di dalam mobil, dia ingin bersikap tidak canggung, namun sepertinya Rashi tidak sedang dalam mood yang baik, karna anak itu hanya diam untuk beberapa malu. Tentu saja hal itu membuat Alena menjadi malu dan semakin canggung di dalam sini, jika bisa, dia akan meminta Rashi menurunkannya dan dia berjalan saja, tapi itu terlalu drama untuknya.
“Gak akan ada kali kedua, gue juga ada beban moral kalau gak antar sampai rumah karna gue yang udah ajak. Jangan ngerasa istimewa, ini Cuma karna tanggung jawab dan sopan santun aja,” ujar Rashi yang sangat dingin, jauh lebih dingin dari suasana mobil berAC ini. Alena tidak berani berusara lagi, dia hanya diam dan menunggu saja untuk Rashi mengatakan sesuatu. Namun nyatanya Rashi tak bicara sampai dia menyadari jalan ini tidak menuju ke rumahnya.
“Ini kita mau kemana?” tanya Alena bingung.
“Pulang ke rumah lo lah,” ujar Rashi tanpa dosa, tentu saja Rania makin bingung karnanya.
“Rumah Gue gak ke arah sini,” sahut Rania polos. Rashi hanya mengedikkan bahunya.
“Ya mana gue tahu, Gue juga gak pernah ke rumah Lo,” ujar Rashi yang membuat Alena melongo, jadi kenapa Rashi tidak bertanya? Apakah mereka akan berputar putar sampai pagi jika Alena tidak bertanya? Dia merasa Rashi sangat membuat kesal, namun bahkan dia tidak bisa marah pada lelaki yang ada di sebelahnya ini.
“Nih,” ujar Alena yang menyodorkan peta melalui aplikasi yang menuju ke rumahnya. Rashi melihat peta itu sekilas dna langsung mengembalikan ponsel Alena, lalu fokus pada mobil lagi. Alena merasa Rashi hanya melihatnya sekilas, jadi pasti tidak mengerti. Dia berjaga jaga dengan tetap membuka peta itu, sewaktu-waktu Rashi membutuhkannya lagi.
Namun ternyata, Rashi bisa menemukan rumah Alena tanpa melihat ke arah peta dua kali. Ah, lelaki itu memang jenius. Alena melepaskan sabuk pengaman dan bersiap turun setelah mengucapkan terima kasih, namun Rashi menahan tangannya, membuatnyya kembali melihat ke arah lelaki itu dan terdiam.
“Jas, gak usah lo bawa, gak perlu dicuci,” ujar Rashi yang kembali membuat Alena merasa malu, dia segera mengembalikan jas yang dibawa olehnya kepada Rashi, dia hendak keluar dari mobil, namun Rashi kembali menahan tangannya, membuatnya dengan kesal menengok ke arah Rashi dan memberikan tatapan kesalnya.
“Maaf, tapi gue bukan mau kasih ponsel, itu, tulis nomor ponsel lo karna besok pagi gue harus jemput lo, biar gampang dihubungi,” ujar Rashi yang membuat Alena mengembalikan ponsel Rashi dengan nomor yang sudah dia tuliskan. Dia meras kesal dan malu dengan apa yang dilakukan Rashi, dia sampai harus terjatuh di pangkuan lelaki itu, sungguh memalukan, dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain.
“Kalau mau sesuatu atau apa, ngomong yang baik, ngomong yang jelas. Gak semua orang ngerti bahasa telepati dan gak semua orang harus ngertiin lo aja,” ujar Alena yang kali ini bisa keluar dari mobil Rashi tanpa gangguan. Dia segera masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Rashi yang terdiam karna dimaki oleh Alena. Meski apa yang dikatakan Rashi benar, entah kenapa dia tetap merasa tidak terima.
“Gue? Selalu minta dimengerti? Mendengar itu dari orang tidak populer, aneh dan nolep, astaga, dia gak ngerti apa yang dia bilang,” ujar Rashi yang mencoba untuk tenang, dia menyalakan mobilnya dan pergi dari sana, namun sepanjang jalan dia hanya memikirkan perkataan Alena yang membuatnya terusik. Dia tidak pernah merasa jadi orang yang egois, namun Alena berhasil membuatnya merasa seperti itu, tentu saja itu tidak benar dan tidak perlu diperdebatkan lagi.
“S1alan. Dia gak kenal sama gue, tapi berani kasih pernyataan kayak gitu, apa dia bosan sama hidupnya?” tanya Rashi pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin memikirkannya lagi. Dia memilih untuk menyalakan musik dalam mobil dan ikut bernyanyi, paling tidak pikirannya bisa teralihkan dan tidak terganggu lagi dengan apa yang Alena katakan dan pikirkan tentangnya.
Sesampainya di rumah, dia langsung menghampiri kamar Ravi, entah kenapa dia ingin menemui kembarannya itu jika suasana hatinya sedang kesal. Meski Ravi hanya mengejeknya atau bahkan hanya diam, entah kenapa itu membuat suasana hatinya jadi lebih baik. Mungkin karna sejak janin, dia berada di satu tempat dan bahkan satu kantong yang sama, jadi dia merasa dekat dan nyaman dengan kehadiran Ravi.
Saat masuk ke kamar anak itu, Ravi rupanya belum tidur dan malah memainkan consol game. Rashi tidak berminat bergabung, jadi dia hanya tidur di sebelah Ravi, membuat anak itu menjadi tak nyaman dan berusaha mengusir Rashi tanpa suara, namun Rashi bahkan tak mau bergeser sedikit saja. Dia malah makin mendekat, hal itu saja sudah membuat Ravi paham, saudaranya sedang ada dalam masalah. Namun dia tidak mau repot bertanya jika memang Rashi tak mau cerita.
“Emang gue orang yang egois ya Vi?” tanya Rashi yang akhirnya merasa tak nyaman sendiri. Ravi menjeda permainannya dan menatap ke arah Rashi dengan takjub. Dia bahkan sampai menepuk tangan tanpa suara, hal itu tentu membuat Rashi makin tak nyaman dan bingung.
“Setelah 16 tahun, lo baru sadar? Setelah lo antar Alena pulang? Wah, gue harus sungkem sama dia nih buat berterima kasih,” ujar Ravi yang tentu tidak memuaskan Rashi, dia berharap Ravi akan membelanya atau paling tidak memberinya masukan, yah, dia tidak merasa egois, dan seharusnya Ravi juga berpikir seperti itu.
“Tanpa lo sadari, entah lo atau gue, atau bahkan Rania. Kita ini egois, bedanya, gue sadar, lo sama Rania enggak. Pernah gak lo terima sama kritikan orang lain? Pernah gak lo ngerasa kalau sesuatu yang terjadi itu salah lo? Jangan dijawab, biar jawaban itu ada sama hati dan otak lo aja,” ujar Ravi yang membuat Rashi terdiam.
“Kalau gue egois, Gue gak akan mau natar Alena sampai ke rumahnya. Padahal kan gue bisa aja ngotot minta pulang sama Rania dan lo yang antar dia. Apa itu masih termasuk egois? Kayaknya definisi egois yang lo punya aneh deh,” ujar Rashi yang membuat Ravi menghela napas.
“Ini nih, lo bahakn gak terima sama apa yang gue bilang. Gini ya, lo mau antar Alena pulang ya karna lo mau, bukan karna gue atau Rania yang minta. Itu loh, lo selalu melakukan apa yang lo mau, walau lo bilang aslinya gak mau pun, dalam hati itu lo mau, kalau lo udah gak mau, ya gak akan lo lakuin. Contoh kecil aja, lo gak akan mau ngomong kalau lo gak mau ngomong walau diamnya lo bikin rugi orang lain.”
Rashi terdiam. Apa yang disebutkan Ravi persis sama dengan kejadian malam ini. Dia memang tidak mau bicara dengan Alena meski dia tidak tahu dimana rumah gadis itu. Mungkin hal itu yang membuat Alena merasa kesal dan malas dengan Rashi, lalu meledak saat dia jatuh di kaki Rashi. Ah, mungkin memang Rashi keterlaluan.
“Kalau misal nih, lo bersikap keterlaluan, lo bakal minta maaf gak sama orang itu?” tanya Rashi yang membuat Ravi menaikkan sebelah alisnya. Dia langsung menunjuk Rashi dengan curiga, dan bahkan mulut yang terbuka.
“Jangan bilang lo udah ngapa ngapain Alena ya tadi waktu di jalan? Makanya lo gelisah begini? Lo nge raping dia? Makanya lo aneh banget malam ini? Terus dia marah dan anggap lo egois?” tanya Ravi yang membuat Rashi kesal dan mengetuk kepala Ravi cukup keras. Jika memang akan begitu, kemungkinan Ravi yang melakukan jauh lebih besar darinya. Ravi terlalu mudah untu mneggoda gadis gadis nakal di luar sana.
“Dari apa yang gue tebak, berapa persen benar?” tanya Ravi penasaran.
“40? Atau mungkin 50? Yang jelas gue gak ngeraping siapapun. Itu mulut yang benar aja, kalau lo keceplosan begitu di depan Mama, bisa panik sampai satu bulan dan nikahin gue sama tuh anak,” ujar Rashi yang membuat Ravi tertawa geli.
“Ah tunggu dulu, jadi benar semua ini karna Alena? Waw, baru sehari dan dia udah bisa bikin lo gusar begini, salut banget gue,” ujar Ravi yang membuat Rashi makin kesal, mengtahui itu, Ravi pun menjadi serius dan ingin memberikan saran yang baik untuk saudara kembarnya.
“Kalau dirasa lo menyakiti dia, ya lo minta maaf aja, kalau misal gengsi atau malu, paling gak ya Lo tunjukkan kalau lo menyesal, ada lah effortnya. Sikap lo yang dingin itu bikin orang geregetan, dan banyak yang salah paham. Gue gak minta lo ganti karakter, tapi coba deh ada rasa gimana ya, aduh. Malah gue yang bingung. Pokoknya gini deh, lo coba bersikap baik ke orang lain, jangan terlalu bodo amat, gitu aja.”
“Hmm, gue akan pertimbangkan, makasih sarannya, gue balik,” ujar Rashi yang keluar dari kamar Ravi, namun lupa tidak menutup pintunya.
“Setan!! Tutup pintunya lah anj1ngg!!” teriak Ravi penuh emosi karna sudah merasa lengket dengan kasur ini