
"Gini, kalau lo mau makan enak, di sini nih, ini enak banget dan murah. Ya warung biasa sih, tapi enak banget, kalau lo mau, gue bawa lo ke sana."
"Emang seenak itu? Jadi penasaran juga. Bokeh deh makan siang ini aja kita ke sana, lo gak papa kah antar gue ke sana?"
"Ya gak papa dong, apa juga yang gak buat lo, lo mau minta pergi ke Singapura sekarang juga nih buat makan siang, pasti gue kasih dah."
"Kalian brisik banget sih, kalau mu pacaran di luar aja sana loh, gue tuh lagi sakit, jangan berisik," ujar Rashi yang tak tahan karna sedari tadi Alena dan Ravi terus mengobrol seolah kamar ini hanya milik mereka berdua, padahal ada Rashi yang kesakitan di sini, namun mereka tak peduli.
Ah, mereka ada di sini untuk bergantian menjaga Rashi, karna Luna dan Rania harus pulang ke rumah dan mandi serta istirahat sebentar. Memang Darrel meminta mereka yang bergantian di dalam, karna dia tak mau Rashi kesepian jika dijaga oleh pengawal di dalam, meski di depan sudah banyak pengawal juga sih untuk memastikan keamanannya.
Namun berbeda dengan Ravi dan Alena, mereka malah sibuk berdua dengan niat memberi Rashi udara dan celah untuk beristirahat, namun rupanya lelaki itu malah terganggu karna mereka tidak mengajak Rashi mengobrol, padahal biasanya lelaki itu memang tak begitu suka mengobrol.
"Lagian lo kok masih di sini sih Vi? Lo gak sekolah apa?" Tanya Rashi dengan kesal. Dia ingin mengusir Ravi dari sini, karna Alena tidak akan berisik jika tak ada Ravi di sini dan Alena memang masih mendapatkan stock libur setelah olimpiade, jadi gadis itu sah sah saja berada di tempat ini.
"Lah? STM gue bos. Sekolah Tinggal Masuk. Ya udah, gue masuk doang juga udah dapat nilai. Lagian lo kenapa sih peduli banget sama sekolah gue? Gue aja gak peduli kok," ujar Ravi yang membuat Alena menaikkan alisnya, namun Ravi memberi isyarat bagi Alena untuk diam, agar Rashi merespon apa yang dia katakan.
"Ya tetap aja lo harus masuk, sana pergi, gue bilang ke Papa sama Mama nih kalau lo bolos. Nyebelin banget, sana sih pergi jauh jauh dari sini," ujar Rashi yang tak digrubris oleh Ravi, dia tetap duduk di posisinya dan memainkan ponselnya, membuat Rashi menegurnyw sekali lagi dan membuatnya menengok ke arah Rashi.
"Gak mau, gue gak mau pergi ke sekolah. Mau apa lo? Ngadu sama mama? Ya udah sono ngadu," tantang Ravi yang membuat Rashi semakin kesal. Tak lama berselang, Luna rupanya sudah datang lagi dan masuk ke ruangan itu, membuat Rashi merasa berada di atas angin untuk saat ini.
"Mama, tuh Ravi tadi bilang gak mau sekolah. Rashi udah paksa buat dia berangkat, tapi dia tetap gak mau dan ngebantah. Katanya sekolahnya cuma tinggal berangkat aja. Terus dia gak takut waktu Rashi mau ngadu ke mama."
Luna mendengar hal itu dengan seksama dan menatap ke arah Ravi, namun anak itu tak tampak takut sama sekali, apalagi setelah mendapati ekspresi bingung Luna, jelas mamanya tak marah dengan apa yang dia lakukan dan mamanya memang tak perlu untuk melakukan itu.
"Nak, kamu masih agak mimpi? Atau kamu merasa pusing atau gimana? Udah, biarin aja Ravi di sini, dia ke sekolah juga percuma, mending dia di sini," ujar Luna yang malah ada di pihak Ravi, membuat Rashi menjadi tercengang, biasanya Luna tidak menyukai anak anaknya melakukan hal yang menyimpang seperti ini.
"Mama kok gitu? Kalau nanti Ravi kebiasaan gimana? Kalau nanti Papa tahu dan marah ke Ravi? Kalau papa sih gak mungkin deh marah ke mama, tapi nanti pasti marah ke Ravi," ujar anak itu yang membuat Lira menggelengkan kepalanya. Hal itu tentu membuat Rashi menjadi semakin bingung.
"Papa kamu juga pasti setuju sama mami, udah biarin aja Ravi di sini temenin kamu, daripada di sekolah gak ngapa ngapain juga," ujar Luna yang tentu membuat Rashi tak terima. Dia tidak mau Ravi hanya beralasan untuk menemaninya, padahal niatnya untuk menjadi dekat dengan Alena yang memang ada di sini untuk membantu Luna dalam menjaga Rashi.
"Kok gitu sih Ma? Kalau gitu mulai besok pas udah sembuh, Rashi mau seenaknya aja deh buat ke sekolah, terserah lah Rashi mau masuk kapan juga, gak akan dimarahin sama mama dan papa juga. Kalau kalian marah kan berarti gak adil juga," ujar Rashi yang membuat Luna terkekeh, sepertinya anak lelakinya sungguh tidak tahu kenapa Luna membiarkan Ravi untuk di sini hari ini.
"Shi, ini hari minggu. Ngapain juga Ravi ke sekolah? Di sana dia gak bakal ngapa ngapain, gak ketemu siapa siapa, ya jadi daripada dia nganggur di rumah, mending kan dia di sini temenin kamu, gimana sih kamu?" Tanya Luna yang membuat Rashi terdiam, dia sungguh malu karna sudah ngotot, ternyata hanya kesalahannya sendiri.
"Ya udah, kalau lo mau gue pergi, gue pergi deh gak papa. Udah ada Mama juga di sini. Len, ayo pergi aja sekarang," ajak Ravi yang membuat Rashi menengok tajam dan cepat, dia melihat wajah Ravi tampak senang mengajak Alena untuk pergi dari sana.
"Mama mau titip apa? Alena sama Ravi mau makan di warteg yang enak menurut Ravi, jadi kalau mama mau, kan bisa Ravi belikan juga," tawar Ravi yang ditolak oleh Luna karna dia sedang tidak lapar dan tadi sebelum kemari, dia sudah memakan saparan yang dibuatkan oleh koki pribadi mereka.
"Kalian pergi berdua? Atau pakai sopir?" Tanya Rashi yang membuat Ravi mengeluarkan kunci dalam sakunya, ternyata lelaki itu mengeluarkan kunci motor dan menunjukkannya pada Rashi, membuat lelaki itu kembali berdecak tak puas melihat hal itu. Rasanya sangat menyebalkan melihat Ravi bertindak seenaknya.
"Siang panas, lo pakai mobil aja disupirin. Alena mana mau diajak panas panasan begitu? Yang ada kulit berskincare itu langsung rusak terkena sinar matahari dan debu," cibir Rashi seolah dia tahu jika Alena tak akan menyukai ide itu, padahal Alena yang sudah bilang pada Ravi jika itu tak apa.
"Gak paap lah naik motor, udah cepat, gak macet, gak lama, lebih dekat, lebih ah, banyak lebihnya pokoknya," ujar Alena sambil terkekeh dan langsung keluar dari kamar inap Darrel.
Selayaknya hubungan kembar, Rashi dan Ravi memang sering bertengkar, namun mereka sama sama peduli dan tidak mau yang lain terluka. Termasuk Ravi, dia ingin memastikan saudaranya baik baik saja meski lelaki itu sudah mengusirnya tadi.
"Saya menemukan ada benjolan di bagian kepala belakang. Setelah memeriksa hasilnya, rupanya itu sebuah tumor, yang membuat Rashi menjadi sakit kepala bukan hanya karna stres tapi jugs karna tumor ini. Kalau Keluarga berkenan, secepatnya harus diambil tindakan operasi karna meski tak ganas, tumor ini bisa membuat Rashi sangat tersiksa dan bahkan tumor ini juga bisa menyebar ke area lain.
"Ya Tuhan, apa separah itu kondisi Rashi dok? Apakah operasi jalan satu satunya? Tapi itu kan di kepala, apa tidak apa apa melakukan operasi di sana?" Tanya Luna gugup. Dokter menenangkan Luna dan mengatakan Rashi akan baik baik saja setelah operasi, dan memang operasi itu harus dilakukan agar Rashi tidak merasa salit lagi.
"Mama, gak papa, cuma operasi begini, gak akan Rashi kenapa napa atau bahkan meninggal, Rashi janji, Rashi akan baik baik aja. Toh banyak yang sayang sama Rashi dan menunggu Rashi buat pulih kayak yang lagi nonton sekarang nih," ujar Rashi yang diangguki oleh Luna, dia segera menghubungi Darrel dan memintanya kemadi agar bisa berdiskusi dengan lebih baik dan nyaman.
"Lo kok bisa sih malah sakitnya gitu? Gak asik banget lo ah, kalau sakit yang bagus atau yang gampang aja gitu loh kayak pilek kek, batuk kek, atau panu malah gak papa, masak sakitnya begini sih?" Tanya Ravi dengan khawatir. Luna tahu jika itu cara Ravi mengungkapkan rasa khawatir, jadi Luna mengabaikan dan tidak menegurnya.
"Biasalah penyakitnya orang kaya. Kalau gak kecelakaan, kanker, ya tumor, udah muter di situ aja. Lagian ya udah lah, orang dokter bilang setelah operqsi bakal normal kok, kenapa takut sih? Santai saja," ujar Rashi yang tak membuat Ravi puas. Dia tidak akan bisa santai saat tahu separuh dari hidupnya sedang tidak baik baik saja, bahkan penyakit yang dia derita bukan penyakit yang ringan.
"Kami tunggu segera konfirmasinya, kami akan langsung mengambil tindakan operasi setelah pihak keluarga mengurus administrasi dan surat pernyataan mengijinkan kami para dokter untuk melakukan operasi," ujar dokter yang diangguki oleh Luna. Dia ingin segera berbicara pada Darrel, namun lelaki itu tak mau mengangkat panggian darinya sehingga dia bisa segera meminta persetujuan Darrel untuk anak mereka.
"Apa dia lagi meeting ya? Tadi dia datangnya juga pagi banget. Pasti lagi meeting sih ini," ujar Luna yang langsung mengirim pesan untuk lelaki itu, ternyata Darrel langsung membacanya, namun lelaki itu tidak merespon untuk beberapa saat, membuat Luna makin khawatir dan memikirkan hal yang tidak tidak. Untungnya tak lama berselang, Darrel yang menelpon Luna untuk menanyakan maksud pesan istrinya itu.
"Rashi butuh dioperasi, pihak rumah sakit minta urus semua berkasnya termasuk biaya operasi, kalau kamu mau tahu jelasnya mending kamu ke sini dulu, aku bingung mau jelasin gimana dan dari mana, mending ke sini dulu," ujar Luna yang lirih di bagian akhir. Darrel langsung menuju rumah sakit dan bersiap untuk menerima penjelasan yang lebih jelas.
"Lo pergi dulu aja sama Alena, ntar di sini makon rame kalau papa nyampe, malah jadinya sumpek di sini, gak papa lo pergi aja, ntar kan juga daoat kabarnya gimana," ujar Rashi yang diangguki oleh Ravi, dia pamit pada mamanya agar bisa pergi saja dari sana karna Ravi juga merasa tak bisa membantu apa apa.
Selama di jalan, Ravi hanya duduk diam dengan Alena di sebelahnya. Dia akhirnya memakai mobil dan supir karna pikirannya cukup kacau sehingva dia takut tidak akan konsen saat menyetir dan malah akan membahayakan bagi Alena juga.
"Udah gak papa, Rashi pasti sembuh kok, itu kan di operasi ntar tuh daging yang jadi tumornya, terus baru deh tuh dia sembuh, gak papa, dia pasti bisa lewatin semua dengan tetap sehat juga," ujar Alena yang berusaha menghibur Ravi, lelaki itu mengangguk lemas sebagai jawaban.
"Walau gue sering kesal sama tingkah dia yang superior dan gak ada toleransi, gue tetap anggap dia abang gue, gue tetap hormatin dia. Walau gue pinter banget juga, banyak hal yang gak bisa gue putuskan dan selalu minta dia buat putuskan. Walau kami lahir di jam yang sama, dia jauh lebih bisa mengayomi," lirih Ravi yang membuat Alena ikut sedih mendengarnya.
"Gue bakal percaya sama yang lo bilang, Rashi akan baik baik aja karna dia bilang kalau dia akan baik baik saja. Dia gak akan bohong ke gue kan? Mau sebrengsek gue juga dia sayang kok sama gue sebagai adiknya," ujar Ravi yang masih tak menyangka Rashi mengidap tumor di kepalanya yang baginya itu sangat berbahaya.
"Kalau lo emang merasa khawatir, kita gak udah pergi makan aja Vi, kita balik ke rumah sakit aja, gue gak mau lo khawatir kayak gini. Gue juga khawatir, tapi kan lo saudara seperutnya, pasti lo yang lebih lebih rasa khawatirnya," ujar Alena yang dijawab gelengan kepala oleh Ravi.
"Gue mau makan sama lo, mengenalkan lo ke tempat yang gue suka, makanan yang gue suka. Karna lo orang yang gue suka, suka banget malah. Semua tentang lo gue suka. Lo yang sederhana, lo yang cantik natural, lo yang pintar, gue suka semua itu," ujar Ravi yang membuat Alena terdiam saja.
"Gue tahu ini bukan waktu yang tepat, kalau tadi Rashi gak sakit, gue udah ajak lo ke suati temoat buat ngomong ini, tapi yah, gak tahu lah, emang takdirnya gue harus ngomong dengan keadaan begini."
"Ah, ini gue bukan nembak lo, ini gue cuma kasih tahu aja kalau gue suka sama lo dan yah, gue bakal nembak lo, tapi gak sekarang, gue bakal siapkan hal dan moment yang tepat, jadi lo gak perlu bingung karna gue cuma kasih pemberitahuan aja, biar lo tahu," ujar Ravi yang masih membuat Alena terdiam.
"Alena, gue suka sama lo. Tapi gak sekarang lo jadi pacar gue, nanti pas gue udah nembak, baru deh lo bilang kalau lo itu pacar gue. Hehe, siapin hati lo ya, tapi gue mau lo jujur, kalau lo suka gue, ya lo terima. Kalau enggak ya tolak aja gak papa," ujar Ravi dengan santai.
Alena masih terdiam, jantungnya berpacu sangat cepat dan mendadak perutnya terasa mulas karna pemberitahuan yang mendadak itu.
"Demi apa, gue bahagia, Ravi suka sama gue?" tanyamya dalam hati karna tak percaya.