Dear Happiness

Dear Happiness
Chapt 43



Setelah makan dan istirahat, mereka kembali masuk ke ruangan lomba, sebentar lagi mereka akan berjuang untuk mendapatkan gelar juara yang sesungguhnya. Bahkan jika mereka berhasil menang, mereka akan mewakili Indonesia ke tingkat Asia Tenggara, begitu seterusnya sampai nanti tingkat Internasional. Rashi ingin sekali mendapat kesempatan itu, dia ingin pergi ke luar negeri dengan tujuan mewakili Indonesia untuk meraih prestasi.


“Menurut lo, soalnya bakal gampang gak sih? Gue agak pesimis karna ini. Tapi setelah kita menang tadi, gue lumayan naik nih percaya dirinya. Menurut lo gimana Shi?” tanya Adlan yang membuat Rashi menengok. Dia hanya mengedikkan bahu, tidak mau berkomentar banyak dan memilih untuk fokus dengan apa yang mereka akan kerjakan dibanding memikirkan hal yang tak pasti.


“Fokus dan berani ambil resiko. Gak usah mikir yang aneh-aneh,” ujar Rashi yang membuar Adlan sedikit tenang. Dia ingin memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk mereka. Mereka memilih untuk membaca ulang kisi kisi soal yang akan dikuiskan.


“Eh, lo tadi keren banget loh berani bertaruh 500 gitu, kalau gue sih gak bakal berani ya,” ujar Adlan yang membuat Alena terkekeh. Rashi juga menatap ke arah Alena, dia tidak menyangka Alena bisa seberani itu bahkan tanpa bertanya pendapat Adlan dan Rashi. Benar kata Adlan, jika itu dia, dia tidak akan melakukannya.


“Karna kita posisi kalah dan kalau ini soal susah atau gampang, kita tetap kalah kan? Ya udah, kalau udah gak ada yang ditaktukan, ya bet banyak aja, eh ternyata soalnya gampang, walau pas gue nunggu soal rasanya deg deg an banget sih,” ujar Alena yang membuat Adlan semakin kagum, dia tidak pernah mau mengambil resiko dan hidup dalam zona nyaman, namun Alena bisa mengambil keputusan itu di situasi seperti ini.


“Gue salut sih sama lo, yah semoga keberuntungan kita dan keberanian lo ini bisa bawa kita jadi juara. Karna percuma juga jika menang ini, dapat 9 juta tapi kita gak menang,” ujar Adlan yang membuat mereka sama sama mengangguk. Akhirnya tim A masuk ke ruangan itu dan memandang mereka dengan sinis, Rashi tak memberikan tatapan emosi apapun, hanya memandang mereka tanpa ekspresi.


“Selamat untuk 9 juta kalian. Tapi mungkin keberuntungan kalian di tahun ini sudah diambil satu, jadi tidak ada keberuntungan lagi. Hati – hati ya,” ujar orang itu yang membuat Rashi tersenyum, namun jelas itu bukan senyum yang ramah atau ingin mengajak mereka berteman. Sebaliknya, Rashi berdiri dari tempatnya dan menatap orang yang ternyata lebih pendek darinya.


“Terima kasih, selamat berjuang,” ujar Rashi yang langsung pergi ke podium karna orang-orang termasuk pembawa acara sudah masuk ke ruangan mereka. Suasana bertambah tegang karna ini adalah sesi terakhir dan penentuan. Rashi berusaha untuk fokus, namun isi kepalanya tak bisa fokus saat ini, membuatnya jadi frustasi dan memaki dirinya sendiri.


“Tenang, kalem,” ujar Alena yang tahu Rashi sedang gelisah. Rashi menghembuskan napasnya sebagai jawaban, dia mengangguk dan mencoba untuk tenang, sampai akhirnya pembawa acara berdiri di samping podium dan mereka akan segera memulai acara. Pembawa acara memulai dengan menyapa seperti biasanya. Dia memeriahkan suasana dan sorakan yang ada di sana semakin meriah.


“Oke, untuk babak final kali ini, ini akan menentukan siapa yang akan mewakili Indonesia untuk lomba cerdas cermat tingkat asia tenggara. Pemenangnya juga akan mendapat tunjangan beasiswa serta hadiah lain, jadi kalian harus berjuang untuk memperebutkan posisi satu untuk kali ini. Tim b, jangan bersenang diri dulu karna sudah menang di babak sebelumnya dan mendapatkan hadiah total 9 juta rupiah, karna perjuangan kalian yang sesungguhnya baru akan dimulai.”


“untuk Tim A janganberkecil hati, karna kita akan mereset semua point menjadi 0, jadi peluang kalian menang sama besarnya dalam hal ini. Kalian akan berusaha untuk merebut posisi satu itu. semangat untuk kalian semua,” ujar pembawa acara itu sebelum membacakan peraturan ‘permainan’ kali ini.


“Peraturannya mudah dan sudah ada di babak babak sebelumnya. Kalian akan berebut untuk menjawab soal, dan jika kalian bisa menjawab dengan benar, kalian akan mendapat point, namun jika salah, soal akan dilempar ke tim lawan, dan tim lawan memiliki waktu 20 detik untuk menjawab, jika lebih, soal akan hangus dan kita menjawab soal yang lain.”


“Tidak ada pengurangan point, kalian hanya perlu bergerak lebih cepat dari tim lain, apakah ada pertanyaan?” tanya orang itu yang dijawab gelengan kepala oleh Rashi, Alena dan Adlan. Soal kali ini akan lebih sulit dan mungkin menggunakan banyak rumus karna memang tujuannya untuk mencari perwakilan, jadi mereka harus menjawab soal yang mungkin akan keluar di ajang itu.


Persaingan berlangsung sengit, point mereka saling menyusul dan mengejar. Sampai akhirnya Rashi merasa tertekan dan tidak menjawab meski itu adalah soal yang dia bidangi. Hal itu membuat Alena memegang tangan Rashi dan memandang lelaki itu lekat, namun Rashi hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, kepalanya sudah sakit dan buntu.


“Kita berjuang sampai akhir, lo bisa,” ujar Alena yang membuat Rashi menghela napas panjang. Dia merasa bersalah karna membuat point timnya tertinggal, namun dia juga tidak bisa menolong karna kepalanya sudah sangat sakit. Dia tak bisa menahannya lagi.


Rashi bahkan sudah tidak bisa mendengar apa yang pembawa acara itu sampaikan. Alena juga jadi tidak fokus karna melihat Rashi yang sebentar lagi tumbang, namun mereka tak bisa pergi dari sana. Akhirnya di pertanyaan terakhir, Tim A menekan Bel dan memberikan jawaban dengan yakin. Alena berharap jawaban mereka salah jadi Tim B masih bisa merebut point.


“JAWABANNYA BENAR!!!!!! SELAMAT UNTUK TIM A! KALIAN BERHASIL MEMENANGKAN LOMBA CERDAS CERMAT DAN AKAN MEWAKILI INDONESIA UNTUK MAJU KE TINGKAT ASIA TENGGARA”


Saat pengumuman itu disampaikan, Rashi merasa kepalanya sangat sakit, dia juga bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Alena langsung kaget saat melihatnya dan meminta waktu untuk membawa Rashi pergi dari sana. Namun saat berjalan sedikit, Rashi langsung tumbang, untung saja ada Radith yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan terbentur lantai.


Ravi langsung berlari dari kursi penonton ke arah Rashi, meminta pengawalnya dan pengawal Rashi membawa anak itu ke UKS untuk di tangani. Darrel dan Luna juga ikut panik melihat Rashi yang tak sadarkan diri. Darrel langsung memutuskan membawanya ke rumah sakit dibanding UKS yang tidak banyak perlengkapannya.


Di rumah sakit, Alena menunggu dengan khawatir, mereka sudah tidak memikirkan masalah lomba lagi, yah, mereka juga sudah kalah, jadi tidak perlu pusing memikirkannya. Mereka hanya fokus pada kesehatan Rashi, ingin memastikan bahwa lelaki itu baik baik saja.


"Tenang aja, Rashi itu kuat kok. Dia gak tumbang dengan mudah, jadi lo tenang aja, dia akan baik baik aja," ujar Ravi yang merasa kasihan melihat Alena khawatir. Mereka menunggu dokter memeriksa keadaan Rashi, lalu tak lama berselang, dokter keluar dengan suster yang membawanya untuk masuk ke ruang inap yang sudah dipesan oleh Darrel, agar anak itu bisa beristirahat dengan baik.


"Kondisinya baik baik saja dan cukup stabil. Namun kami harus memeriksa bagian otak, dan itu bisa dilakukan jika pasien alam kondisi sadar, karna takut jika ternyata ada sesuatu di otaknya sampai membuatnya seperti ini. Jadi kita harus memastikannya."


"Bisa ceritakan kronologi kejadian sampai dia pingsan?" Tanya dokter yang membuat Luna dan Darrel menengok ke arah Alena karna gadis itu dan Adlan yang paling dekat dengan Rashi saat itu, mereka mungkin tahu apa yang dilakukan Rashi samoai jadi seperti itu.


"Sejak pertama di babak terakhir, dia memang udah tegang tante, om, saya coba bilang ke dia buat rileks aja, tapi gak tahu kenapa dia sangat tegang. Bahkan pas lagi ngitung rumus kimia, tangannya udah sampai tremor, dan jawaban dia juga benar sih. Nah terus tadi di pertanyaan hampir terakhir gitu, dia kayak udah nunduk dan gak kuat karna posisunya kami tertinggal."


"Terus di pertanyaan kedua terakhir, sebenarnya kami bisa aja menyamakan kedudukan, tapi soalnya fisika, dan masalah fisika dan Kima, itu cuma Rashi yang bisa mengerjakan tante, tapi dia malah minta maaf karna dia udah gak kuat mikir lagi, saya berusaha menenangkan dia, tapi gak bisa. Akhirnya pertanyaan terakhir pun terlewat, kami kalah. Terus saya ngelihat dia mimisan, jadi saya mau bawa dia ke UKS, tapi ternyata malah udah pingsan duluan."


"Kemungkinan karna stres berat yang pasien rasakan, tekanan di mentalnya dan dia juga memaksa otaknya untuk terus berpikir dan bekerja, itu sangat berpengaruh sebagai alasan dia pingsan dan mimisan. Apalagi jika belakangan hari ini dia jarang tidur, jarang makan atau beristirahat, memperburuk kondisinya."


"Tapi yah, untuk memastikan, kita harus memeriksa bagian dalam otaknya. Saya takut memang ada cidera yang membuat dia sangat kesakitan, karna hal itu pula dia jadi mimisan, ada banyak kemungkinan, kita tidak bisa memastikan dan memberi jawaban sebelum ada tes dan hasil yang pasti," ujar Dokter yang membuat Darrel merasa sedih.


"Dia gak papa kan dok? Apa sekarang, kondisinya baik baik aja?" Tanya Darrel yang diangguki oleh Dokter, Rashi hanya perlu beristirahat san memastikan kondisinya pulih sebelum pulang ke rumahnya. Darrel langsung mengucapkan terima kasih dan meminta Lira untuk masuk ke kamar itu menemui Rashi yang masih pingsan.


"Kalau aku tahu dia bakal stres sampai seperti ini, aku gak akan pernah ijinkan dia ikut olimpiade. Aku gak mau dia sampai sakit begitu, aku, aku gak tega sama dia," ujar Luna yang membuat Darrel memeluknya erat. Tidak ada yang ingin hal seperti ini terjadi, namun mereka harus tetap memastikan Rashi dalam kondisi yang baik. Cukup saja mereka hancur setelah mendengar kondisi Rania saat itu, mereka tak mau hancur kedua kalinya jika ternyata anak itu tidak baik baik saja.


Tak lama kemudian, Rashi membuka matanya dan merasakan bau menyengat menusuk hidungnya, dia melihat semua orang ada di sini, membuatnya ingat jika dia mimisan dan pingsan. Dia memandanh satu persatu wajah khawatir yang ada di sana, mereka langsung menyerbu Rashi dengan khawatir, membuat lelaki itu merasa lebih pusing dari sebelumnya.


"Kalian malah bikin Rashi merasa sesak. Rashi gak papa, munduran dikit," ujar anak itu yang langsung dituruti oleh mereka. Mereka masih menatap Rashi dengan khawatir, namun lelaki itu malah menghela napasnya dan menatap ke arah Alena dan Adlan yang juga menatapnya, dia merasa bersalah pada teman temannya saat ini.


"Maaf, karna gue, kita jadi gagal. Harusnya kita bisa rebut point itu, tapi kepala gue tiba tiba pusing banget, gue gak bisa mikir dan malah jadi ngerepotin karna dua soal terakhir semuanya bidang gue. Harusnya kita bisa menang karna kesempatan kita sama besar, tapi gue bikin kita kalah," ujar Rashi yang dijawab gelengan kepala oleh Alena dan Adlan.


"Kita udah sejauh ini aja udah keren kok. Lo udah kasih yang terbaik, gue dan Adlan juga. Kalau emang kita kalah, ya berarti bukan rejeki, karna kan kita udah usaha maksimal. Kalau memang kalah, ya berarti memang mereka lebih baik, dan mereka layak buat lanjut ke babak berikutnya. Bukan berarti kita gak bagus, cuma mereka emang lebih bagus."


"Udah lah, lagian kita udah dapat hadiah 9 juta, dan hadiah per orang itu 10 juta buat juara 2, jadi ya gak masalah sih buat gue, udah dapat 19 juta haha. Gak usah lo pikirin, yang penting sekarang lo sehat dulu, itu lebih utama."


Rashi mengangguk lega karna teman temannya membelanya, padahal jika itu dia, dia akan sangat marah dan menyalahkan orang itu. Mungkin Rashi harus mengingat hari ini seumur hidupnya agar dia bisa belajar memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain, juga agar dia tidak semena mena dengan orang lain seperti yang dilakukan Adlan Alena kepadanya.


"Selamat karna sudah menjadi juara 2, karna kalian sudah hebat dan baik, Tante dan Mama akan traktir kalian semua untuk makan malam, terserah kalian mau dimana, mau di resto mahal yang mewah gitu juga gak masalah, asal ada Om Darrel hahaha."


Luna mencoba untuk menaikkan suasana dan mereka jadi ceria setelah itu. Namun Rashi kembali merasakan sakit di kepalanya, dia yakin ini bukan hanya karna stres, seban dia sudah tidal berpikir dan stres saat ini, namun kepalanya tetap merasa sakit.


"Setelah ini kita coba cek isi kepala kamu ya, mama takut kalau ada sesuatu di sana, semakin cepat kita tahu, akan semakin baik. Sakit banget ya nak?" Tanya Luna yang diangguki oleh Rashi, dia tak mau berbohong dengan mengatakan dia baik baik saja karna kepalanya sungguh sakit.


"Tante, makan malamnya ditunda aja, lebih baik kita fokus sama kondisi Rashi, makan malam kan bisa kapan aja," usul Alena karna merasa sedih melihat Rashi.


"Iya tante, lagian Adlan udah punya 19 juta, bisa buat makan malam enak. Jadi makannya besok besok aja kalau uang Adlan udah jadi DP rumah atau beli motor, haha," ujar Adlan yang membuat mereka tertawa, termasuk Rashi yang tertawa sambil menahan sakit.


"Terima kasih ya kalian sudah jadi teman yang sangat baik buat Rashi, tante beruntung kalian bisa ketemu dan berteman dengan anak tante," ujar Luna tersenyum hangat.


Suasana jadi haru dan mereka memilih untuk mengobrol ringan setelah itu, sambil memberi semangat karna mereka tidak tahu apa yang akan dialami Rashi setelah pemeriksaan ini.