
Setelah mengetahui Rashi lolos ke babak Final, Luna membebaskan anak-anaknya untuk pergi berwisata kemanapun dan dia akan membayar semuanya. Dia memang selalu over kasih sayang pada anak anaknya dan tak ragu untuk membayar mahal demi melihat mereka bahagia. Sifat itu sudah dia miliki sejak dulu, dan semakin besar saat dia sudah memiliki anak.
"Mama, tapi mama gak usah ikut kan? Ravi mau ajak Rashi sama Rania ke Dufan, mau naik yang ngeri ngeri, kalau sama Mama, takutnya malah jadi heboh," ujar Ravi yang membuat Luna berdecih, namun dia memang tidak ingin ikut, lebih baik dia berdua dengan suaminya atau hanys menonton drama korea di rumahnya, dia tidak berminat untuk ikut campur urusan anak anaknya apalagi hanya sekadar bermain seperti itu.
"Kamu kalau mau main begitu, jangan ajak Rania, jantung dia bahaya, kalau nanti dia kenapa napa, kamu yang mama sunat lagi," ujar Luna yang dijawab ringisan ngeri dari Ravi, membayangkan miliknya akan dipotong lagi, ah, dia tidak sanggup, dia tidak berencana untuk membuat hal itu menjadi kenyataan, lagipula dia juga tidak berencana untuk memaksa Rania karna tahu anak itu sudah mengalami kelainan jantung sejak lahir.
"Mama tenang aja, Ravi gak akan mau Rania terluka juga. Tapi Ma, Ravi boleh gak ajak Alena? Yang temannya Rania itu, Ravi mau ajak dia," ujar Ravi yang menbuat Luna meliriknya dengan iseng. Dia menoel noel pipi anaknya dengan gemas, membuat Ravi menjadi risih, namun tidak bisa menolak diperlakukan seperti anak kecil oleh mamanya sendiri.
"Anak mama udah besar ya ternyata, udah bisa suka sukaan sama cewek. Ya udah, boleh, asal dijagain ya ceweknya. Kan ada 2 cewek tuh, kamu harus ekstra, karna kalau Rashi, mama gak yakin dia peduli. Anak itu, lebih mirip seperti kakekmu daripada Papamu," ujar Luna yang hanya dilirik oleh Rashi. Meski Luna berkata begitu, dia tidak pernah memikirkannya, toh bagaimanapun Rashi tetap anak Luna juga.
"Ya udah Ma, Ravi mau ajak Alena dulu," ujar Ravi yang langsung menghampiri Rashi, membuat anak itu memandangnya dengan alis yang terangkat. Ravi mengulurkan tangannya, meminta Ponsel Rashi agar dia bisa menghubungi Alena karna dia masih belum punya nomor ponsel gadis itu. Namun sepertinya Rashi tak mau menelpon Alena dengan nomornya, dia tidak merespon Ravi sama sekali.
"Ya kalau Lo gak mau kasih nomor dia, sini telpon pakai ponsel lo aja. Pelit banget sih, katanya gak suka sama dia? Kok gak mau gue dekat sama dia?" Tanya Ravi yang membuat Rashi terganggu, dia langsung memberikan ponselnya agar Ravi bisa menyalin nomor Alena dan menelpon sendiri. Namun Ravi dengan isengnya malah menelpon Alena dengan ponsel Rashi, membuat anak itu mencak-mencak, namun Ravi berhasil berlindung di sebelah Luna.
"Halo, Alena? Ini Ravi pakai ponselnya Rashi. Besok minggu gue ajak lo buat main ke dufan ya, lo siap siap aja, nanti gue jemput. Gak usah dandan cantik cantik karna lo udah cantik. Oke? See you sunday," ujar Ravi yang langsung mematikan langgilan dan mengembalikan ponselnya ke Ravi, membuat anak itu jadi kesal dan menatap Ravi dengan tatapan yang tajam.
"Alena itu sebenarnya pacar kamu atau Rashi sih? Kok malah Rashi yang punya nomornya? Kamu malah gak punya?" Tanya Luna penasaran. Jika Alena adalah kekasih Ravi, dia biasa saja dan akan mendukung anaknya, namun jika Alena kekasih Rashi, dia akan syukuran dengan satu komplek karna akhirnya Rashi menyukai seseorang dan berpacaran.
"Ravi yang suka sama Dia, Alena bukan pacar siapa siapa, tapi Ravi suka sama dia, Ma. Nah, tapi yang punya nomornya itu Rashi karna saat itu dia yang nganter Alena pulang ke rumahnya, dan mobil Alena di rumah ini, udah malam gitu Ma, jadi Rashi yang antar dia pulang, kasihan kalau malam-malam pulang sendiri," ujar Ravi tak sadar dengan apa yang dia ucapkan. Rashi menatapnya dengan tajam, seolah mengutuk anak itu dengan matanya.
"Ngapain Rashi mengantar Alena sampai pulang? Kenapa Alena main ke rumah ini sampai malam? Kapan itu? Kok mama gak tahu?" Tanya Luna yang saat itu juga membuat Ravi sadar jika dia sudah membocorkan rahasia mereka ke Luna. Rashi memutar bola matanya dengan malas, Ravi memang tidak pernah bisa diandalkan jika masalah rahasia, dia selalu saja membocorkan Rahasia mereka entah sengaja atau tidak, menyebalkan.
"Gak tahu juga sih Ma, waktu itu Ravi gak tanya. Coba tanya ke Rashi ngapain Alena sampai malam di sini?" Tanya Ravi yang malah menjebak Rashi, anak itu memang terkadang keterlaluan. Rashi tidak tahu harus menjawab apa, dia tampak berpikir walau matanya tak acuh, sampai akhirnya Luna bertanya juga padanya, yang mau tidak mau dia harus berbohong.
"Rashi sama dia kan satu Tim cerdas cermat, jadi dia ke sini buat belajar bareng dan karna banyak yang perlu dibahas, dia sampai pulang malam, Ravi minta Rashi buat antar dia sebagai bentuk tanggung jawab, udah gitu aja sih," ujar Rashi yang membuat Luna memicingkan matanya. Dia berdehem dan menunjukkan wajah kecewa, membuat Rashi dan Ravi langsung merasa tegang entah karna apa. Apakah Luna tahu mereka berbohong?
"Istimewanya kalian itu, kalian gak bisa bohong sama Mama. Kamu Vi, kalau kamu bohong, kamu gak berani natap mata mama, jadi mama tahu kalau kamu bohong. Dan kamu Shi, kamu sadar gak kalau kamu bohong itu tangan kamu gelisah dan jadi melinting baju gitu? Tuh lihat baju kamu sampai kayak gitu," ujar Luna menunjuk ke baju Rashi yang sudah kusut, membuktikan jika anaknya itu memang berbohong.
"Maaf Ma, Rashi emang bohong. Sebenarnya seminggu lalu, Rashi bikin pesta di rumah Adlan buat merayakan kemenangan tahap pertama. Nah, Rashi gak mau cerita ke mama karna nanti mama pasti ajak mereka ke sini, sedangkan Rashi gak mau ketahuan kalau Rashi anak dari Darrel Atmaja dan cucu dari Smith Wilkinson," ujar Rashi pelan dan tampak menyesal.
"Padahal loh di luar sana banyak yang suka ngaku ngaku tuh biar jadi cucu dari smith Wilkinson, kamu malah gak mau," ujar Luna yang membuat Rashi tersenyum. Dia lega karna Luna tak marah meski dia sudah berbohong, yah, seperti yang Luna bilang, dia tahu jika Mereka bertiga berbohong. Luna menggendong mereka selama 9 bulan, bahkan merawat mereka dari bayi, dia pasti tahu jika mereka berbohong.
"Ya udah, paling gak kamu tanggung jawab udah antar dia pulang dengan selamat sampai rumah. Tapi mama gak suka kalian bohong ya, kalau kalian jujur, mama juga akan mengerti dan bantu kalian, jadi ya kalian gak usah repot buat bohong sama mama, toh mama tahu, jadi kalian malah capek menjelaskan dua kali," ujar Luna yang diangguki oleh Rashi dan Ravi. Mereka kembali fokus pada televisi yang sedang mereka tonton.
Kenapa mereka harus susah payah dan lelah dalam menyetir mobil jika ada supir yang siap untuk mengantar mereka kemana pun dan kapan pun? Mereka hanya perlu duduk manis dan bisa sampai ke tempat tujuan dengan aman dan lancar. Baik Rashi maupun Ravi sepakat akan hal itu, jadi mereka tak keberatan meski dilarang oleh Luna.
"Ya udah, kalian masuk gih, besok masih sekolah, terutama kamu Vi, kamu sekolahnya ngapain kok gak pernah ngerjain tugas sama sekali? Gak kayak Rania tuh jam segini ada di kamarnya, belajar, kalian mbo ya seperti Rania gitu lih, ada kesibukan," ujar Luna yang tentu tidak disetujui oleh Ravi dan Rashi.
"Loh Mama, sekolah untuk belajar, rumah untuk beristirahat, kalau Ravi mengerjakan tugas sekolah di rumah, nanti Ravi harus beristirahat di sekolah. Memang Mama mau anak mama tidur di sekolah?" Tanya Ravi yang diangguki oleh Rashi, jika urusan begini, mereka memang sangat kompak satu sama lain, sampai Luna sendiri tak bisa membantah ataupun menolak apa yang mereka katakan. Dia hanya tertawa melihat anak anaknya yang tak berubah meski sudah lebih dewasa sekarang.
"Kalau begini aja kompak ya kalian. Ya udah, yang penting kalian tetap bertanggung jawab sama apa yang kalian kerjakan. Jangan kayak mama, habis lulus udah lupa 3 tahun mama belajar apa, sedih juga kalau dipikir sekolah 3 tahun dapat capek aja," ujar Luna yang setengah curhat mengingat jaman dulu dia harus melewati hari hari sulit selama sekolah, namun banyak kenangan yang terjadi selama sekolah itu, kenangan yang mendewasakan dirinya.
"Yah, ini yang mau Ravi bilang Ma, kalau Ravi pindah sekolah boleh gak ya Ma? Ravi mau satu sekolah sama Rashi," ujar Ravi yang tentu membuat Luna kaget, dia tidak pernah melihat Ravi yang menyesali keputusannya, apalagi jika itu masalah pendidikan, dan sekolah Rashi terkenal bagus, kenapa Ravi ingin masuk ke sekolah yang bagus?
"Tumben? Kamu kan gak suka belajar, gak suka bersaing dan gak suka mikir. Masak kamu tiba tiba mau aja diajak mikir tentang ini? Yakin kamu? Kok mama gak yakin sama kamu? Apa alasannya?" Tanya Luna yang membuat Ravi berpikir, dia tidak bisa melihat ke arah Luna, dengan itu saja Luna sudah tahu Ravi akan berbohong padanya.
"Dia mau satu sekolah sama Alena Ma, terus ambil akselerasi biar pas kelas 12 dia bisa sama Alena satu kelas. Jangan boleh Ma, dia sekolah bukan buat ilmunya tapi buat perempuan aja. Masak mama bolehkan anak mama seperti itu? Kan gak baik ma, ayo ma, mama harus tegas sebagai Ibu dan jangan biarkan Ravi bertindak seenaknya," ujar Rashi yang tak ingin Ravi pindah ke sekolahnya.
"Enggak cuma itu kok Ma, Ravi kan akan bertanggung jawab, Ravi kan pintar, Ravi bisa Akselerasi dan kejar semua materi yang ketinggalan, kalau Ravi bisa kan harusnya gak masalah tah ma?" Tanya Ravi yang ingin memberi alasan pendukung, dia ingin pindah dari STM yang ternyata sulit menemukan gadis yang dia suka, kisah Mamanya ternyata berbanding jauh dengan kisah yang dia alami di sini.
"Coba mama bayangkan, kalau alasan Ravi itu, terus nanti dia gak suka lagi sama Alena, masak Mama mau dia pindah sekolah buat cewek lain lagi? Dia gak tanggung jawab dong ma, dia kan udah pilih mau sekolah sana, ya dia harus jalani dong ma, iya kan ma? Mama sendiri yang ajarin kami tentang itu," ujar Rashi yang masih saja menjadi kompor. Ravi tidak menjawab, dia hanya berharap Luna akan mengijinkan dia dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi anak yang pintar.
"Benar kata Rashi, kalau kamu memang pintar, ya kamu coba aja jadi yang terbaik di sekolah kamu sekarang. Jangan cuma main main aja, tapi buktikan nilai dan praktek kamu bagus. Dan mama gak mau kamu pindah sekolah, kan kamu yang pilih sendiri sekolahnya, mama dan papa gak mengarahkan atau perintah atau melarang kalian kan? Nah, kalau itu gak sesuai ekspetasi kamu, ya itu resiko yang harus kamu ambil," ujar Luna yang membuat Ravi merengut.
"Masak gak bisa sama sekali Ma? Ravi janji kok bakal jadi anak yang baik, anak yang nurut, anak yang mama mau kayak apa, terserah deh, yang penting Ravi bisa pindah ke sekolah Rashi, ya ma? Ah, kalau mama mau, Ravi bisa kok jadi juara 1 se angkatan kalau mau, jadi nanti Ravi bakal lakukan itu kalau boleh, ya Ma ya?" Tanya Ravi yang tidak membuat Lhna terpengaruh, dia tetap pada cara berpikirnya bahwa tidak baik membiarkan anak anaknya bertindak semaunya.
"Kalau alasan kamu karna guru atau teman yajg tidak support pendidikan kamu, mama akan dengarkan dan pindahkan kamu. Tapi ini kan alasannya karna kamu mau sama Alena, ya jelas mama larang. Udah, kamu sekolah yang benar, nanti kalau lulus baru deh tuh sama Alena," ujar Luna yang sudah final dan langsung pergi dari sana, menyisakan Ravi dan Rashi yang masih saling pandang.
"Lo suka ya sama Alena? Lo sengaja kan bikin mama begitu? Padahal mama bakal ijinkan gue kalau lo gak kompor. Lo gak mau kah gue dekat sama Alena makanya lo begitu? Lo suka kan sama dia?" Tuduh Ravi yang tentu membuat Rashi tak nyaman, dia segera berdiri dari tempatnya semula.
"Lo mau sama Alena, atau siapapun, terserah. Gue kan cuma ngomong yang seharusnya dan mama sendiri yang bilang kalau kita gak boleh pindah sekolah untuk masalah sepele karna kita yang pilih sekolah itu, gue cuma mau bantu lo jadi anak yang konsisten, seharusnya lo makasih sama gue," ujar Rashi yang membuat Ravi menghela napas dan meringis terpaksa.
"Makasih," ujar Ravi yang dimanis maniskan dengan sengaja agar Rashi risih, namun nyatanya lelaki itu baik baik saja.
"Sama sama," ujarnya cuek dan kembali menonton televisi, menyisakan Ravi yang masih kesal dengan apa yang dia lakukan.