
Hari demi hari berganti, suasana ramai menyelimuti sebuah ruangan studio yang berisi banyak orang duduk di sana. Adlan, Rashi dan Alena duduk di tempat yang sama dan bersebelahan. Mereka harus menjawab soal secara mandiri saat ini, untuk penambahan skor yang akan diakumulasikan dari ketiganya, point itu akan menentukan lanjut tidaknya mereka ke babak berikutnya.
Rashi, meski dia sudah menguasahi banyak mata pelajaran dan materi yang akan diujikan, dia tetap merasa tegang. Namun dia berusaha untuk tenang agar bisa membantu teman temannya, paling tidak jika dia bisa menyumbang banyak di mata pelajaran IPA, mereka masih punya kesempatan besar untuk memenangkan lomba ini.
"Shi, gue bakal fokus ke matematika sama pelajaran lain, tapi kalau IPA, gue gak yakin ya, gue bakal bantu benar benar sebisa gue," ujar Adlan pelan yang diangguki oleh Rashi. Mereka kembali fokus pada pembawa acara dan sambutan sambutan singkat untuk menyemangati mereka. Akhirnya mulai di acara pertama, dimana mereka harus menjawab soal pilihan ganda yang diberikan.
Dari 60 soal yang diberikan, 20 merupakan soal Bahasa, 20 soal Matematika dan 20 lagi soal IPA, jadi setiap dari peserta di sini memiliki kesempatan yang sama untuk meraih point sempurna dari mata pelajaran yang mereka kuasai. Panitia akan memulai pertanyaannya yang pertama setekah bel berbunyi. Setiap pertanyaan hanya memiliki waktu satu menit, setelah itu mereka harus langsung mengangkat jawaban mereka. Siapapun yang ketahuan curang akan langsung didiskualifikasi dan sekolahnya akan mendapat sanksi tegas.
Soal pertama adalah soal bahasa. Rashi dengan fokus mencoba untuk membaca soal dan mencari jawabannya. Astaga, soal bahasa begitu sulit, bahkan jika kalian tidak teliti, semua jawaban seperti benar. Kalian cocok cocok saja saat memasukkan jawaban itu ke dalam soal. Ah sial, Rashi kehilangan fokusnya dan langsung menuliskan huruf B, mengangkat papan tulisnya dan memejamkan mata untuk kembali fokus. Dia tidak bisa jika nanti harus kehilangan point berturut karna tidak konsentrasi.
Setelah satu menit, semua anak mengangkat jawaban mereka. Rashi merasa jantungnya berdebar, dia tidak berani melihat jawaban Alena yang kemungkinan benarnya lebih besar. Dia tidak mau mentalnya jatuh. Jadi dia memilih untuk menyorot lurus ke arah panitia dan menunggu jawaban yang benar.
"Yak! Jawabannya B. Tunggu sampai 5 detik, point kalian akan disimpan di server," ujar panitia itu yang membuat Rashi menghembuskan napasnya lega. Dia senang sekali karna bisa menjawab soal itu dengan cukup baik. Padahal dia hanya mengarang bebas, namun ternyata benar. Tapi Rashi sadar, tidak bisa memaksakan dirinya untuk terus beruntung. Dia harus bisa menjawab soal dengan benar setelah ini.
Pertanyaan demi pertanyaan bergulir. Rashi menjawab banyak soal dengan salah karna dia tidak mengerti rumus matematika dari soal yang dia kerjakan, ataupun jawaban dari soal bahasa yang kelewat panjang. walau ada beberapa yang pointnya dia dapat dengan keberuntungan saja, yah, paling tidak dia bisa menyumbang point untuk kelompoknya.
"Baiklah, karna kalian sudah menjawab semua soal, jawaban kalian juga sudah direkam. Setelah istirahat, kami akan umumkan hasilnya dan mengabari kalian. Kalian silakan beristirahat dan nanti kita berkumpul lagi di sini," ujar panitia itu yang membuat mereka membubarkan diri. Adlan, Rashi dan Alena sudah pergi dari sana dan berkumpul lagi.
"Gue gila sama soal IPAnya, lo kok bisa tahan sih sama soal begitu, gila banget gila," ujar Adlan dengan heboh, membuat Rashi menutup telinganya dengan malas. Dia hendak pergi ke kantin, namun perasaannya tak enak, dia langsung menengok dan melihat Ravi, Rania, Mama dan Papanya ada di sana. Dia membuka mulutnya lebar lebar, tidak menyangka mama papanya akan datang sampai ke tempat ini.
"Anak mama yang paling tampan, kamu keren banget loh tadi jawabnya langsung set set set, apa kamu gak bingung sama sekali? Mama aja gak ngerti loh itu apaan," ujar Luna yang membuat Rashi menghela napasnya. Dia tahu mamanya akan seheboh ini, dia hanya tak menyangka mereka sekeluarga akan datang di babak penyisihan pertama, tidak ada seru serunya untuk ditonton.
"Anak mama yang paling ganteng udah jadi Rashi sekarang? Kemarin masih Ravi loh. Emang Ravi gak ganteng? Ran? Gue gak ganteng ya?" Tanya Ravi dengan heboh. Rania mengedikkan bahunya dan bertindak tidak mendengar apapun setelah itu. Ravi menatap ke arah mamanya, namun Luna tak tampak peduli, dia menatap ke arah teman teman Rashi yang tampak canggung dengan mereka.
"Ah, kalian, ayo sama tante, kita makan enak sama sama. Kalian mau makan apa? Kalian bisa minta apapun, nanti tante yang belikan. Ayo kita pergi dari sini, kalian mau makan apa? Pasti tante belikan deh, kalian mau makan daging, pizza, mie, atau masakan barat, masakan china, terserah, ayo kita makan enak buat merayakan," ujar Luna yang tentu saja membuat mereka semua bingung. Apa yang perlu dirayakan? Bahkan pemenangnya yang lolos pun belum diumumkan.
"Tante, tapi kan pengumumannya masih nanti, memang mau merayakan apa? Kalau nanti udah dirayakan terus gak lolos? Malu dong?" Tanya Adlan yang membuat Rania melotot ke arahnya. Harusnya mereka biarkan Luna berbicara apapun yang dia mau, karna jika ditanggapi, Luna akan semakin menjadi dan percakapan akan menjadi lebih lebar, ketiganya tidak begitu menyukainya, yah, karna mereka kan sedang ada di tempat umum dan dilihat banyak orang, rasanya malu saja.
"Siapa yang bilang mau merayakan lolosnya kalian? Kalau nanti kalian lolos ya kita rayakan lagi. Sekarang kita rayakan dulu karna kalian bisa menyelesaikan tes dengan baik. Nanti kalau kalian lolos, kita akan rayakan dengan sangat meriah, kalau nanti kalian gak lolos, kita rayakan lebih meriah lagi untuk kalian yang sudah bekerja keras. Intinya kita harus berpesta, menghabiskan uang Papa yang tidak ada habisnya," ujar Luna yang seperti orang mabuk, namun pemandangan itu udah biasa di kalangan mereka.
"Sayang, kamu mabuk apa gimana? Perasaan kamu gak minum alhokol? Apa kamu masuk pas naik mobil kerasa pusing sampai kesini? Iya? Mau ke rumah sakit, mumpung dekat, kalau iya, kita ke rumah sakit aja biar anak anak makan sendiri," ujar Darrel penuh arti. Luna mengerti dia langsung menganggukkan kepalanya dan mengikuti Darrel yang sudah pergi dari sana, entah Darrel menghindar dari apa, dia akan tetap mengikuti Darrel. Mereka akan membiarkan kelima anak itu berdiri dengan bingung satu sama lain. Rashi pendiam, Ravi tidak suka bicara dengan asing dan Rania yang tidak pernah mau berkenalan dengan orang.
"Ravi, Mama udah tranfer uang ke rekening kamu, nanti makannya pakai uang kamu itu ya. Jangan pelit loh, kalau Mama tahu kamu korupsi uangnya, kamu gak akan Mama kasih uang makan selama satu tahun, biar bawa bekal dari rumah," ancam Luna yang diangguki saja oleh Ravi, toh makanan rumahnya tak kalah dengan restoran bintang 5, kenapa dia harus takut jika harus membawa bekal?
"Mau makan dimana? Kalian istirahat berapa menit?" Tanya Ravi yang mau tidak mau bicara agar mereka bisa segera mencari tempat untuk makan. Pengawal Ravi tiba tiba saja mendekat, lalu memberikan rekomendasi restoran berkelas yang aman dan dekat dari ini. Meskipun malas, dia tetap menuruti pengawal itu, karna pasti papanya yang meminta orang ini untuk memberikan rekomendasi.
"Istirahat satu jam tadi katanya, entah deh kenapa, padahal score kan harusnya cepat ya ngitungnya. Tapi ya udah deh, paling juga karna MCnya kecapekan," ujar Adlan yang diangguki oleh Ravi. Mereka keluar dari sana dan menuju restoran itu. Paling tidak masih ada cukup waktu, jika istirahatnya hanya sebentar, mereka hanya bisa makan di warung padang yang penyajiannys cepat.
"Eeumm, kita belum kenalan secara formal kan? Aku Ravi, kembarannya Rashi tapi lebih ganteng aja. Kamu siapa?" Tanya Ravi yang tidak pernah bertemu dengan Alena sebelumnya. Alena tidak berani mendongak, membuat Ravi menjadi gemas dan mendekat, sangat dekat dan langsung mengangkat wajah Alena, membuat mata mereka bertemu di jarak sedekat itu.
"Nah, kalau gini cantik, jangan kebanyakan nunduk, ntar kamu jadi bungkuk. Atau lebih parah lagi, ntar lehermu tumbuhnya ke bawah. Jadi begini aja," ujar Ravi yang memegang dahu Alena sehingga tatapan Alena bisa lurus ke depan. Gadis itu tampak salah tingkah dengan apa yang Ravi lakukan, sementara Rashi hanya bisa menutup wajahnya karna ikut malu dengan apa yang Ravi lakukan.
"Udah sih ah, lo jangan begitu. Kasihan tuh sampai merah wajahnya, lo emang kalau iseng keterlaluan," tegur Rashi yang langsung memukul tangan Ravi agar anak itu kembali duduk. Ravi mengedikkan bahunya, tidak merasa yang dia lakukan salah. Gadis di hadapannya memang cantik, hanya saja terlalu pendiam, dan terlalu banyak menunduk, jadi orang lain sudah tidak minat bicara dengannya hanya saat melihat gestur itu.
"Alena," ujar gadis itu yang sedikit terlambat, Ravi mendongak dan mata mereka kembali bertemu. Ravi tersenyum senang melihat Alena yang mau bicara meski hanya satu kata. Ravi mengangguk senang, dia juga menyebutkan namanya pada gadis itu, untuk Adlan, ah, dia tidak perlu karna Adlan lelaki, tidak bisa dia jadikan kekasih, jadi untuk apa berkenalan?
Tapi meski wajah Rashi dan Ravi sama persis, Ravi memiliki sikap seperti Rania, sangat berbeda dengan Rashi yang tenang. Namun dia bahkan tidak bisa protes dengan itu, karna hanya dia yang berbeda, dia tidak akan mendapat pembelaan dari siapapun jika bersuara mengenai hal ini.
"Ah Alena, benar loh kata Ravi, kamu cantik, jadi jangan banyak menunduk, kamu harus lebih percaya diri kalau kamu cantik. Kalau kamu mau, aku bisa ajak kamu ke rumah aku, aku bisa make over kamu biar kamu bisa lebih percaya diri, mau? Kalau mau, kamu ke rumah aku saat nanti acara selesai, gimana?" Tanya Rania yang membuat Alena ragu, Alena menatap ke arah Rashi, entah karna apa.
"Gak usah lihat Rashi ih, kan aku yang ajak. Kamu gak butuh persetujuan dia, kecuali kalau dia pacar kamu. Emang kalian pacaran?" Tanya Rania asal. Tentu saja Rashi kaget juga meski pertanyaan itu tidak ditujukan untuknya, dan sesuai dugaan, Alena menggelengkan kepalanya cepat, menyangkal tuduhan itu secepat Rania memberi tuduhan.
"Nah ya udah, ayo main ke rumah aku, aku yang ajak. Mama pasti senang karna aku punya teman baru yang bisa aku ajak ke rumah," ujar Rania yang akhirnya diangguki oleh Alena. Baru pertama kali Alena diajak pergi bersama oleh orang lain, dan baru kali ini ada orang lain yang memanggilnya 'teman'.
"Ya udah, sekarang kita makan, langsung balik, takutnya telat sampai di sana," ujar Ravi yang menutup pembicaraan mereka. Mereka makan dengan tenang tanpa mengobrol sama sekali, menghabiskan makanan mereka dan bersiap untuk kembali ke arena lomba tahap pertama.
Banyak orang sudah mulai berkumpul, Rashi melihat waktu di tangannya, sudah kurang 5 menit lagi mereka akan mengumumkan siapa yang lolos ke babak berikutnya. Rashi cukup tegang, karna dia tahu, dia juga menyumbang banyak kesalahan di tahap ini, dia takut jika nanti dialah yang menyebabkan timnya gagal.
"Saya akan membacakan urutannya secara acak, jadi yang saya sebutkan adalah 10 teratas, tapi bukan berarti yang pertama saya sebut adalah peringkat 10 atau peringkat 1. Jadi tanpa buang buang waktu lagi, saya akan segera membacakannya."
"Yang pertama lolos adalah SMA Tunas Jaya!"
"Yang selanjutnya, SMA Satu Nusa!"
"Lalu kita ada, SMA Gangsawelas!"
"SMA Garuda! SMA Semesta! SMA Loyala! SMA Tunas Bangsa! SMA Negeri 16! SMA Saint Loius!"
Rashi memejamkan matanya erat, hanya tersisa satu slot terakhir. Jika nama sekolahnya tidak disebut, dia berjanji dalam hati akan membuat orang itu berada dalam masalah, dia akan membujuk papanya untuk membuat orang itu menderita. Biar saja! Salah sendiri membuat Rashi kesal.
"Dan yang terakhir, SMA SANJAYA!!!!" Rashi langsung membuka mata dengan syok, dia melakukan tos dengan teman temannya, lalu memeluk Rania saking senangnya. Akhirnya ketakutannya tidak menjadi nyata, dia sangat benci kegagalan, jadi dia akan berusaha mendapat apa yang dia mau.
"Untuk yang belum lolos, saya ucapkan semangat, semoga di lain kesempatan kalian bisa lolos dan maju ke babak berikutnya, tetap semangat dan jangan langsung menyerah."
"Dan untuk 10 sekolah yang sudah saya sebutkan, Minggu depan kalian akan menghadapi tes essay, untuk teknis lomba akan dibicarakan nanti, akan kami beritahu terpisah. Selamat belajar, semoga mendapat hasil terbaik dari apa yang kalian pelajari."
"Hasil point kalian akan kami beritahukan beserta dengan syarat, ketentuan, materi dan teknis tahap selanjutnya. Jadi silakan ditunggu, sekarang acara sudah selesai, kalian bisa pulang dan beristirahat. Jaga kesehatan, dan sampai jumpa di tahap selanjutnya minggu depan," ujar pembawa acara itu yang disambut tepuk tangan meriah oleh peserta.
"Kita pulang dan pesta, ajak semua teman kelas kalian. Gue yang bayarin semua," ujar Rashi yang membuat Ravi dan Rania melongo. Tentu saja mereka tidak percaya Rashi akan mengajak untuk berpesta, anak itu yang paling tidak suka keramaian di antara mereka bertiga.
"Lo yakin nih? Kalau iya, gue bakal ajak beneran nih teman kelas gue, walau gak kenal juga mereka siapa," ujar Adlan semangat, Rashi menganggukkan kepalanya, dia sangat senang karna lolos ke babak berikutnya, jadi dia ingin mereka sedikit merefresh otak sekaligus berkenalan dengan teman temannya.
"Lo juga ya kak, ajakin aja teman kelasnya. Bilang gue bakal bikin party di taman kompleks perumahan A, malam minggu nanti," ujar Rashi yang membuat Alena ragu, namun dia mengangguk untuk menyanggupinya.
"Lo yakin? Yakin Mama Papa bakal bolehin Lo party?" Tanya Ravi yang masih ragu.
"Tenang aja. Kalau lo mau ajak teman kelas lo juga gak papa, kamu juga Ran, ajak aja. Urusan mama papa, aku yang ngomong," ujar Rashi dengan tenang.