
Rashi yang duduk di ranjangnya merasa ada yang janggal, dia merasa tak tenang dan terus memikirkan dua saudaranya. Dia melihat Luna dan Darrel yang sibuk berbicara dengan pengawal mereka untuk mengurus semua pekerluan Rashi untuk operasi ini, namun tidak ada yang mengkhawatirkan Rania dan Ravi, padahal mereka belum ke sini sedari tadi.
"Ma, Pa, gak dapat kabar dari Rania dan Ravi kah? Ini udah 3 jam Ravi pergi, dia belum balik ke sini loh," ujar Rashi yang membuat Luna dan Darrel menggelengkan kepalanya, namun memang tak biasanya Ravi mengabari mereka setiap saat, lelaki itu hanya menganari jika ada sesuatu yang gawat, Rania pun sama, gadis itu ada di rumah, jadi pasti semua baik baik saja, namun Rashi tampak tak tenang mendengar jawaban itu.
"Kamu khawatir Ya Rashi pergi sama Alena gak pulang pulang? Kamu takut ya kalau Ravi kenapa napa sama Alena? Anak mama suka sama Alena ya? Kenapa kamu bersikap dingin kalau suka sama dia?" Tanya Luna yang membuat Rashi kesal, karna dia tak suka dengan gadis itu dan bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu karna dia benar benar khawatir dengan Ravi dan Rania. Dia tak pernah mendapat fisarat buruk, namun kali ini hatinya merasa tak tenang.
Rashi mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Rania, namun tidak ada jawaban di sana. Dia mencoba berkali kali, namun gadis itu tak menjawab, tidak biasanya Rania mengabaikan panggilannya. Namun Luna berkata mungkin Rania sedang tidur, membuat Rashi berhenti menelpon gadis itu dan berganti dengan menelpon Ravi. Panggilan terhubung, namun Ravi tak langsung menjawabnya, saat panggilan kedua, barulah lelaki itu mengangkat.
"Lo lagi dimana?" Tanya Rashi yang tidak dijawab oleh Ravi, lelaki itu membuat Rashi menjadi semakin panik, dia langsung menanyai Ravi berulang ulang, namun yang dia dengar hanya suara ringikan kesakitan, entah apa yang sedang dilakukan oleh Ravi. Apakah ringikan itu dari... Alena? Astaga! Ravi tak mungkin melakukan hal sekotor itu, walau Ravi adalah anak yang nakal dan suka bermain perempuan, dia tak pernah melecehkan mereka baik verbal maupun fisik.
"Lo, lo ngapain di sana weh? Lo kenapa sih?" Tanya Rashi yang tidak dijawab oleh Ravi, panggilan langsung ditutup saat itu, membuat Rashi jadi overthinking. Dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh adik adiknya itu. Dia merasa bertanggung jawab atas mereka dan akan merasa stres serta sedih jika mereka kenapa napa, namun Ravi sangat mengganggu pikirkannya.
"Ma, Rashi minta tolong, tolong banget telpon pengawalnya Ravi, dia lagi dimana dan kenapa, entah kenapa Rashi khawatir Ma. Sama minta tolong juga buat pengawal Rania. Dia kan bukan anak yang sehat bugar, Rashi takut dia kenapa napa," ujar Rashi yang membuat Luna menghela napasnya. Dia langsung menuruti permintaan anaknya dan memanggil pengawal Rania untuk ditelpon oleh Rashi.
Luna memberikan ponselnya pada Rashi dan anak itu menunggu panggilan di angkat. Dia menanyakan kondisi Rania, namun pengawal itu tampak gugup, membuat Rashi membentaknya karna kesal, barulah pengawal itu mengatakan jika Rania jatuh pingsan di dalam kamar dan saat ini ada di rumah sakit. Mereka tak berani menelpon karna takut dianggap sebagai kelalaian mereka dan Darrel akan menghukum mereka sebagai gantinya.
Mendengar itu tentu saja Rashi syok dan langsung menutup panggilan itu, menatap ke arah Luna yang menunggu namun Raut wajahnya sudah berganti dari yang biasa saja jadi khawatir. Dia masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rashi, namun lelaki itu hanya memberikan ponselnya dan tampak kebingungan sendiri, membuat Luna memegang pundaknya dan memintanya untuk tenang lalu mengatakan apa yang dia dengar.
"Rania, dia pingsan, dia pingsan di kamarnya dan sekarang ada di rumah sakit. Rashi harus ke sana Ma, Rashi, Rashi harus ke sana." Anak itu berusaha untuk bangun. Namun Luna menahannya. Dia meminta Rashi tidak pergi kemanapun. Luna langsung keluar dari kamar Rashi untuk mencari Darrel agar lelaki itu pergi ke rumah sakit tempat Rania di rawat dan memindahkan gadis itu ke kamar ini agar lebih mudah menjaganya.
"Rel, Rania, Rania kambuh, aku, aku gak bisa, aku, aku," Luna tampak bingung persis seperti Rashi. Untung saja Darrel langsung mengerti dan meminta Luna untuk tetap di kamar Rashi, agar dia saja yang pergi ke sana, dia tak mau Luna makin bingung dan malah membuat semuanya jadi tambah rumit. Luna mengerti yang dikatakan oleh Darrel bahkan menyetujuinya. Dia duduk di sofa yang ada di sana sambil berdoa semoga Rania baik baik saja.
"Mama, telpon pengawal Ravi ma, telpon pengawal Ravi," ujar Rashi setelah tahu Keadaan Rania memburuk, dia tahu, apa yang dia rasakan bukan hanya kekhawatiran, tapi juga hubungan persaudaraan yang erat membuat dia merasakan fisarat jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada saudara saudaranya. Luna mengangguk dengan lemas, namun tetap melakukan yang Rashi minta. Dia menelpon pengawal Ravi, namun pengawal itu masih tak mengangkatnya.
Luna mencoba berkali kali, barulah panggilannya diangkat dan dia mendengar suara Ravi berteriak kencang di sana. Luna langsung merasa lemas, seolah semua tulang dalam tubuhnya copot tak bersisa. Dia masih mencoba bertanya apa yang terjadi dengan anak anaknya, namun penjelasan orang itu membuat Luna semakin lemas, bahkan ponselnya jatuh dari tangannya dan wajahnya sayu.
"Mama, mama kenapa? Mama, Ravi kenapa? Apa terjadi sesuatu sama Ravi Ma?" Tanya Rashi khawatir. Luna menatap Rashi dengan wajah yang pucat. Bagaimana bisa dia mendapatkan 3 kabar buruk dalam satu hari dan semua menimpa anak anaknya secara terpisah? Rashi menunggu Luna menjawab dengan sabar, namun juga sangat penasaran.
"Ravi kecelakaan dan kondisinya parah. Sekarang dia lagi diobatin, dan butuh banyak kantong darah. Kamu kalau di sini sendirian gak papa kah? Mama mau ke tempat Ravi, mama mau lihat keadaan dia," ujar Luna yang tentu saja diangguki oleh Rashi, keaadan Ravi jauh lebih penting saat ini, dia tak bisa membiarkan saudaranya terluka. Dia harus mendengar kabar baik, dia berdoa semoga kedua saudaranya bisa diselamatkan dalam kondisi seperti itu.
"Ya Tuhan, Rashi tahu kami kembar jadi kami punya ikatan yang kuat, tapi tolong, kalau boleh Rashi minta, kalau Rashi sakit, jangan yang dua ikutan dibuat sakit biar kompak, gak papa biar Rashi sendiri aja yang sakit. Sembuhkan kami semua ya Tuhan," lirih Rashi yang merasa aneh karna dia dan saudaranya bisa sakit di saat yang bersamaan. Dia menghela napasnya dengan sedih, dan masih tetap berdoa agar Ravi baik baik saja.
Setengah jam berlalu, dia masih belum mendapat kabar. Tiba tiba pintu kamar inapnya terbuka dan muncullah Alena yang masuk ke kamarnya dengan sorot khawatir. Rashi tentu saja heran karna dia baru saja kemari tadi pagi, dan bahkan dia masih pergi bersama Ravi, namun dia kembali lagi ke sini dan Ravi entah ada di mana sedang kesakitan karna kecelakaan, apakah lelaki itu kecelakaan tidak bersama Alena?
"Gue juga gak tahu keadaan Ravi. Dia berarti kecelakaan pas mau balik ke sini. Pantas aja pas gue telpon kdia kayak kesakitan yang ditahan, gue kira dia sama lo, ternyata enggak. Semoga aja dia gak kenapa napa, gue merasa bersalah banget gak bisa jagain dia di sana," ujar Rashi pelan. Dia merasa punya tanggung jawab sebagai kakak untuk terus ada di samping adik adiknya saat mereka butuh, namun saat ini kondisinya saja sedang membutuhkan pertolongan orang lain.
"Ravi cowok yang kuat, dia pasti gak papa, lo gak usah khawatir tentang dia. Ah, lo bahkan kenal dia selama kalian hidup, jadi harusnya lo tahu akan hal itu, dia bisa survive, karna dia udah janji sama gue bakal melakukan sesuatu, dia akan sembuh buat tepatin janji itu," ujar Alena yang sebenarnya berbicara sendiri sambil menatap ke langit langit rumah sakit ini.
"Maksud Lo apa?" Tanya Rashi tak paham. Jawaban itu barulah membuat Alena tersadar jika dia sedang berada di dalam kamar Rashi. Dia tampak bingung harus menjawab apa, namun karna Rashi sudah curiga padanya, dia memutuskan untuk jujur dan menceritakan apa yang Ravi katakan padanya saat tadi mereka makan bersama. Rashi tampak diam setelah tahu cerita itu.
"Ravi nembak lo saat tadi kalian keluar? Dia? Nembak lo langsung Len? Pas gue lagi kayak gini?" Tanya Rashi heran. Alena langsung menggelengkan kepalanya cepat untuk klarifikasi Ravi hanya mengatakan dia menyukai Alena, namun tidak mengatakan jika Ravi menembak Alena. Hal itu saja sudah membuat Rashi terdiam seribu bahasa. Dia kira Ravi bergurau saat mengatakan dia suka dengan Alena.
"Bukan gue jahat atau mau menjelek jelekan saidara gue sendiri. Tapi gue tahu Ravi, dia gak pernah serius sama cewek dan dia langsung tinggalin orang itu saat dia bosan. Kalau lo mau jadi pacar dia, lo harus siap dengan resiko itu, dan gue udah kasih tahu lo, jadi jangan kaget aja pas nanti dia tiba tiba pergi bahkan tanpa memutuskan hubungan kalian," ujar Rashi yang membuat Alena terkejut, dia tak menyangka Rashi akan mengatakan hal itu.
"Emang Ravi begitu ya orangnya? Dia baik kok, dia bahkan cowok yang memuji gue pas gue masih cupu cupunya, cuma dia, semua orang menghujat dan menjauh, lo juga kan. Tapi dia bisa bilang gue cantik, dan itu buat gue cukup meyakinkan kalau dia suka sama gue tulus, dan gue juga suka sama dia," ujar Alena yang tak ingin menutupi hal itu lagi. Tentu saja Rashi merasa kasihan pada Alena yang begitu naif dan polosnya. Dia tidak mau gadia itu terlalu kecewa nantinya.
"Dia memang begitu sama semua orang Len, ya kalau lo gak percaya itu hak lo juga. Kalau lo bucin ke dia ya itu urusan lo, yang jelas gue udah kasih tahu di awal apa yang nantinya akan terjadi, jadi lo gak usah kaget seandainya dia langsung membuang lo tanpa kaish penjelasan apa apa," ujar Rashi yang membuat Alena terdiam. Dia masih tak percaya Ravi akan melakukan hal itu padanya, Ravi bahkan tak pernah bersikap buruk selama ini, tak mungkin lelaki itu akan menyakitinya sampai seperti itu.
"Gak usah lo pikir sekarang, kalau sekarang emang gak akan ada rasanya, gak akan nyampe apa yang gue bilang. Tapi ya udah, tunggu aja dia nembak, kalian jadian, tunggu setahun, ah enggak, beberapa bulan aja deh, dia bakal punya cewek lain yang dia suka," ujar Rashi yang biasa saja saat menyampaikan berita mengejutkan itu. Sontak saja membuat Alena jadi minder dan terus memikirkan apa yang Rashi katakan. Bagaimana jika memang Ravi hanya pensaran padanya?
"Tapi kenapa lo malah jelek jelekin saudara lo sendiri? Bukannya malah support dia? Lo bukan mau menjatuhkan dia di depan gue kan? Atau lo sengaja bikin nama dia jelek di depan gue?" Tanya Alena curiga karna memang dia merasa aneh, seharusnya Rashi tak membuka semua aib Ravi seperti itu, namun lelaki itu mengatakannya dengan santai dan tanpa beban.
"Ya biasanya gue gak peduli walaupun dia nyakitin orang juga. Tapi gue kasihan sama lo, lo kelihatan naif, dan bucin banget sama dia. Gue juga Mempertimbangkan kita masih rekan satu tim di kelas olimpiade, jadi ya gue kasihan aja kalau lo jadi patah hati sama dia. Setelah ini lo mau sama dia dan membuktikan sendiri, itu juga sah sah aja, gak ada yang larang juga," ujar Rashi yang membuat Alena makin terdiam, namun tampaknya lelaki itu belum selesai.
"Dan lagi, lo bilang gue mau menjatuhkan dia di depan lo? Buat apa? Biar gue daoat perhatian dari lo kah? Atau lo kira gue suka sama lo gitu kah? Apa menurut lo mungkin? Gue? Suka sama lo? Yakin?" Tanya Rashi yang tentu langsung membuat Alena merasa down dan menyadari jika semua itu tak mungkin. Tak mungkin seorang Rashi yang kelas atas menyukainya, pasti lelaki itu memiliki selera yang tinggi juga.
"Udah lah, gak usah gibahin Ravi lagi, kasihan dia lagi sakit masih ditambah banyak gibahan yang bikin kupingnya geli. Makasih udah kasih peringatan, tapi gue akan buktikan sendiri hal itu, gue gak bisa percaya karna selama ini yang gue lihat berbeda. Dia gak kayak gitu, tapi karna lo bilang gini, yah, gue bakal siap siap dan hati hati aja," ujar Alena yang diangguki oleh Rashi.
"Seperti yang gue bilang, itu hak lo, keputusan lo, hidup lo juga," ujar Rashi singkat yang menutup pembicaraan mereka. Diaxkembali teringat dengan kondisi Rania yang masih belum diketahui. Dia mencoba menghubungi papanya untuk mengetahui kondisi Rania. Untung saja gadis itu baik baik saja, meski dibawa sedikit terlambat. Namun nyawanya bisa diselamatkan.
Rania harus menginap di rumah sakit untuk beberapa waktu, memastikan kondisi jantungnya membaik, atau dia harus kembali memasang cincin di jantungnya itu. Ah, jika Rashi bisa, dia ingin menyumbangkan jantungnya untuk Rania daripada melihat Rania kesakitan seperti itu. Namun dia cukup lega setelah mendwngar kabar jika Rania tinggal menunggu pemulihan.
Rashi ingin menelpon Mamanya untuk bertanya kondisi Ravi, namun dia melihat ke arah Alena yang duduk di sofa sambil terdiam, sepertinya sedang memikirkan apa yang tadi Rashi katakan. Melihat itu entah kenapa membuat Rashi membatalkan niatnya untuk menelpon Luna, dia meletakkan ponselnya dan menatap Alena yang tampak mempertimbangkan banyak hal.
"Gue kasih tahu ke lo, masuk ke keluarga Wilkinson gak akan semudah dan seenak yang lo pikir," lirih lelaki itu tanpa diketahui oleh Alena.